Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 58 : Kembalinya Hacking Eagle


__ADS_3

Setelah mendapat persetujuan Hansen, Mr W keluar dari dalam gedung komando, lalu melangkah masuk ke dalam gedung putih di sebelah kiri pintu keluar.


Koridor panjang yang didominasi warna putih dan ornamen silver yang memanjakan mata, membuat Mr W makin betah disana. Di jajaran koridor tersebut, terlihat pintu pintu kamar yang saling berjauhan jika dilihat secara menyamping. Dan jika dilihat secara bersebrangan, jarak antar kamar yang bersebrangan memang tak sejauh itu. Sementara kamar yang di sampingnya berjarak beberapa meter ke depan. Semua karena luas tiap kamar tamu cukup luas untuk menampung puluhan orang. Dan difasilitasi oleh springbed empuk yang cukup luas, sofa dan tempat berkumpul untuk menonton tv, kamar mandi dlm ruangan, dan masih banyak lagi.


Sejak masuk ke dalam gedung, seorang prajurit yang tadinya berjaga di luar pintu karena sedang menunggu kedatangan Mr W membimbingnya ke kamar yang terdekat dengan pintu keluar. Serta bersebrangan dengan kamar Amelia.


Sebelum diijinkan masuk ke kamar tersebut, Mr W diminta untuk menempelkan sidik jarinya ke sensor di samping pegangan pintu. Guna mendaftarkan sidik jari Mr W ke sistem keamanan. Dengan begitu, tanpa persetujuan pihak terkait, Mr W tak dapat menerobos masuk pintu kamar yang tertutup kecuali kamar yang disiapkan khusus untuknya.


"Terimakasih karena telah mau bekerja sama, dengan ini sidik jari anda sudah terdaftar. Anda dan istri anda dapat masuk ke kamar ini hanya dengan menempelkan jari anda ke dalam sensor. Jika jari anda bermasalah, pintu kamar juga bisa dibuka menggunakan wajah serta suara anda." Prajurit itu menjelaskan.


"Lalu, kenapa kau tak meminta rekaman suaraku dan membiarkan sensor mengenali wajahku?" tanya Mr W memastikan.


"Baik suara maupun wajah anda sudah terdaftar sejak pertama kali masuk melewati pintu lift Shelter. Karena itu, kami hanya memerlukan sidik jari anda saja. Karena saat di lift kami belum mendapat data sidik jari sama sekali," prajurit itu tersenyum palsu lalu meminta ijin untuk pergi setelah selesai memberikan penjelasan. Sementara Mr W langsung masuk ke kamarnya dan segera disuguhkan oleh istrinya yang nampak sedang duduk di sofa sembari menonton tv.


'Ruang keluarga di dekat pintu, dua sekat pembatas yang terhubung dengan ruangan lain. Sebelah kanan kamar tidur, dan sebelah kiri bersimbolkan tangga Exit menuju ke lantai dua gedung. Selain itu, untuk ukuran ruang keluarga, bukankah ini terlalu luas!?' Mr W menatap ke kanan dan ke kiri sembari mengagumi detail seni yang indah dengan silver serta dominasi warna putih yang memanjakan mata. 'Berapa banyak waktu dan biaya yang digunakan Red Eagle dalam membangun tempat semewah ini!?'


'Belum lagi katanya ini hanya lantai enam yang merupakan ruangan khusus milik Hansen sejak dulu. Sementara lantai shelter lain diatur sesuai selera masing masing elit komando Red Eagle. Karena setahuku, tiap shelter dikomandoi oleh satu unit komando pasukan khusus.'


"Benar benar gila!?" Mr W terkagum kagum. Saking kagumnya, kata terakhir itu, dia teriakkan cukup lantang, hingga mengejutkan istrinya yang nampak sedang asyik menonton televisi.


"Suamiku!?"


"Kapan kau kembali?" Rosa Riyadi yang masih memakai gaun putih mewahnya segera bangkit dan menoleh ke arah Mr W.


"..." Mr W yang sedang dalam keadaan takjub, semakin tertegun saat menatap kecantikan istrinya dalam gaun putih seputih salju. Rambutnya yang tergerai panjang pun semakin membuat Mr W terpesona hingga melepas kacamatanya tanpa harus diminta. Sembari berjalan mendekat dan mengeluarkan sebuah botol dari balik jasnya dia pun berkata, "Mau kah kau, meminum ini bersamaku!?"


Rosa Riyadi yang awalnya terpesona saat melihat keindahan mata Mr W, segera tersadar dan bertanya tanya tentang apa yang Mr W bawa hingga harus dia tanyakan untuk diminum bersama. Dengan wajah yang penasaran, dia pun mengambil botol tersebut dari Mr W secara perlahan. Tak lama setelah itu, dia pun membacanya dan dikejutkan oleh fungsi obat tersebut. Obat yang dapat menambah gairah dan sensasi panas saat berhubungan badan.


"Kenapa kau memintaku meminum obat seperti ini!?"


"Dosisnya terlalu keras, jika kita meminumnya aku takut kita menjadi ganas dan tak sadar. Meskipun disini tertulis dapat membuat hubungan panas bertahan lama, aku tak suka jika harus bergantung oada obat ini!" Rosa Riyadi tak suka obat tersebut karena tahu bahwa kemungkinan mereka akan kehilangan kendali dan dikendalikan oleh napsu. Meskipun itu memang tak terlalu buruk, namun dalam botol tersebut juga terdapat sebuah efek samping yang mungkin akan menghapus sebagian ingatan saat obatnya bekerja. "Meski prosesnya nikmat, jika tidak dapat diingat adalah hal percuma!" ucap Rosa Riyadi sembari mengembalikan obatnya.

__ADS_1


"Tapi itu kan hanya efek samping yang mungkin terjadi ... ," Mr W agak terlihat kecewa, namun kembali bersemangat saat Rosa Riyadi berinisiatif menggodanya terlebih dahulu. "Apakah tuan tampanku ini sudah kehilangan kejantanannya?"


Satu demi satu kancing dibuka Rosa Riyadi sembari sesekali melakukan sentuhan yang menggoda.


"Aku memang sudah lama tak melakukannya denganmu, tapi aku masih yakin akan kejantananku," Mr W menyeret resleting belakang gaun Rosa Riyadi dengan wajah yang memerah.


Keduanya nampak begitu panas karena sudah menahan diri dalam waktu cukup lama. Dengan wajah masing masing yang memerah, serta pakaian yang sudah hampir menunjukkan semua bagian dari lekukan tubuh mereka, keduanya saling mendekatkan bibir mereka hingga akhirnya suara kecupan pun terdengar. Tangan mereka menelusuri punggung kekasihnya, dan terus merambat ke bagian yang lebih sensitif. Sayangnya saat hal hal sudah hampir tak terkendali, terdengar suara deheman Amelia dari arah pintu masuk.


Sontak Rosa Riyadi yang saat itu menghadap ke arah pintu tersentak kaget hingga membuka kedua matanya. Barulah sejak itu, keduanya menyadari bahwa pintu kamar belum mereka tutup rapat rapat hingga Amelia yang dari kamar sebrang, dapat masuk tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


Wajah Amelia nampak merah karena habis melihat adegan panas kedua orang tuanya, sementara Rosa Riyadi yang terciduk anaknya sendiri tak kuasa menahan malu hingga berteriak dengan cukup kencang. "Tu ... tutup pintunya dan jangan mengintip sebelum kami minta berbalik!"


"Ba ... baik bu!" Amelia menutup pintu dan tak membalikkan badannya saat dalam posisi menghadap pintu. Setelah kedua orang tuanya sudah siap dan berpakaian rapih, barulah Amelia diijinkan untuk berbalik, meskioun sejak awal hanya Rosa Riyadi yang sanggup mengeluarkan suaranya. Tak seperti Mr W yang mati kutu karena rasa malu karena telah terciduk putrinya sendiri.


"Sejak kapan kau di sana?" tanya Rosa Riyadi dengan pipi yang memerah.


"Se ... sejak ayah berjalan mendekati ibu ... ," Amelia nampak merah dan panas. Semwntara Rosa Riyadi dan Mr W semakin salah tingkah karena Amelia mendengar dan melihat semua kelakuan mereka. Keduanya nampak kacau bahkan Rosa Riyadi yang awalnya dapat berbicara jelas dengan putrinya kini nampak frustasi dan tertelan oleh rasa malu. Disisi lain, Mr W yang sudah lama tidak begitu dekat dengan Amelia mulai mengumpulkan rasa percaya dirinya dan berkata,


Namun Amelia tak mengiyakan permintaan ayahnya dengan begitu saja. Dia meminta obat yang sebelumnya Mr W tawarkan kepada istrinya, dan menceritakan maksud dibalik alasan mengapa dia membutuhkan obat tersebut. Yakni untuk mengobati kakak dan kakak iparnya yang nampak tak memiliki perkembangan apapun dalam hal hubungan percintaan.


Mr W yang juga berencana mendekatkan keduanya pun segera menyetujui hal tersebut, sembari membuat alasan bahwa dia tak bisa pergi dari shelter besok, dan akan pulang setelah tujuh hari terlewati. Amelia yang awalnya merasa khawatir tak memiliki waktu lagi untuk mendekatkan kedua kakaknya pun segera tenang dan menyetujui keputusan ayahnya.


Sementara itu di pengadilan publik pemerintahan. Dimana para kelompok Scorpion yang ditangkap nampak sedang diadili dan dicambuk di tengah tengah kerumunan penonton yang nampaknya berkoalisi dengan marsekal Leo dan Holder Holder yang merasa terusik.


Suasana lapangan nampak seperti stadion olahraga, begitu ramai dan terisi penuh oleh penonton. Sementara para orang yang mereka anggap kriminal di letakkan ditengah lapangan sembari dipecut sesekali dalam keadaan terikat.


"Bunuh bunuh bunuh!" teriak para penonton dengan penuh semangat.


Di dalam suasana yang nampak ramai tersebut, barisan layar yang berderet panjang menyelimuti bagian belakang kursi penonton, berubah tampilan secara seketika. Dari tampilan wajah pemimpin penyiksaan, yaitu marsekal Leo, menjadi tampilan Theo yang nampak sedang menggunakan sebuah kacamata putih dengan masker hitam yang menutupi mulut serta hidungnya.


Bersamaan dengan itu, suara hembusan angin dari helikopter yang beterbangan di atas lapangan pun terdengar semakin kencang.

__ADS_1


Daarr!! Daarrr!! Darrr! hujan senapan menjatuhi para penyiksa dan beberapa penonton yang menginginkan eksekusi kelompok scorpion terjadi.


Seketika suasana ramai yang membara berubah menjadi suasana ricuh karena para penonton yang mencoba kabur meninggalkan tempat itu. Sayangnya tempat tersebut sudah terkepung oleh anggota Scorpion yang sudah bertebaran mengepung stadion pengadilan publik.


"Pertarungan antar Holder akan dilakukan dalam tujuh hari lagi, bukankah kau tahu bahwa kelompok scorpion dibawah naungan Red Eagle!"


"Marsekal Leo!?" suara Theo menggema di setiap layar ditemani suara tembakan yang tiada henti ke arah penonton yang tak lain adalah anggota pemuja Holder. Sebagian besar mereka memiliki catatan kriminal yang tidak dapat termaafkan seperti layaknya pemerkosaan dan pembunuhan berantai.


"Pantas saja Tuan X dan tuan presiden bersi keras membela kelompok sampah ini, ternyata kau ada dibalik mereka?"


"Hacking Eagle!?" Marsekal Leo.


"Sejak tuanku pergi dari militer, dan kebusukan militer terkuak di mata publik, aku sudah berjanji agar tak akan mau menyentuh hubungan dalam dunia militer lagi. Tapi berkatmu, aku jadi terpaksa muncul dan harus mendeklarasikan ini!"


"Bagi siapa yang keberatan dengan gerakan kelompok scorpion, berhentilah memojokkan dan menyiksa bawahanku!?"


"Jika berani, terimalah tantanganku!"


"Aku mengajukan Battle Holder saat ini juga!?" suara Theo menggema di seluruh stadion. Saat itu hanya ada tiga orang Holder yang berdiam disana, yaitu presiden yang nampak tersudut karena keputusan mayoritas Holder, Marsekal Leo yang sudah semakin berani menunjukkan taringnya terhadap pemerintah, serta seorang jenderal kepolisian yang nampak tenang di sisi kanan Marsekal Leo.


"Battle Holder hanya bisa diajukan seorang Holder ke Holder lainnya, siapa kau hingga berani mengatakan itu!?"


"Apakah kau lupa, menantang holder tanpa otoritas sama saja dengan menantang organisasi besar dunia!?" Jenderal besar kepolisian nampak tegas dan mengancam. Dan tak lama itu, bermunculan banyak assasin tepat disamping para kelompok scorpion yang berada di hawah helikopter. Sedangkan di atas helikopter helikopter itu, terdapat mobil terbang yang berisi unit tempur kepolisian.


Tak lama setelah itu, Theo nampak sedang menekan sesuatu. Dan ledakan nuklir skala kecil pun mulai berjatuhan menghujani mobil mobil terbang kepolisian.


"Pers3tan dengan itu!"


"Meski aku bukan seorang Holder saat ini, dengan lencana sementara ini aku diijinkan untuk mengajukan battle dan merebut otoritas holdermu!"


"Meskipun syarat agar lencana ini diakui dan sah secara publik memang cukup menyebalkan, bukan begitu, rubah tua!?" tanya Theo sembari menunjukkan lencana yang sempat dia dapatkan melalui presiden saat diam diam melakukan pertemuan sebelum muncul melakukan pemberontakan. Dengan wajah tersenyum, presiden pun berkata, "Selamat datang kembali ke dalam lingkungan militer negara, tuan Hacking Eagle!"

__ADS_1


__ADS_2