Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 49 : Shelter 3


__ADS_3

Shelter, tempat berlindung sekaligus berlatih para prajurit yang dirancang dan di buat oleh kolaborasi ahli senjata dan ahli teknologi. Theo pramudya sang Demon/ Hacking Eagle, dan Tristan kama sang Weapon master.


Lokasi Shelter berada tepat dibawah tanah markas rahasia pasukan khusus. Tepatnya di daerah jakarta timur, dengan akses masuk yang sangat rahasia dan keamanan yang berlapis lapis.


Keamanan dalam shelter berupa tangga darurat yang terhubung dengan lantai lainnya namun perlu akses khusus berupa sensor untuk menyingkirkan langit langit baja, elit penjaga pintu yang berjaga di bagian luar tiap pintu, serta penjaga di pintu terdepan koridor yang tak mengijinkan sembarang orang lewat tanpa ijin khusus.


Selain keamanan yang berlapis lapis, Shelter rancangan kedua veteran pasukan khusus red Eagle ini juga merupakan satu satunya shelter berteknologi paling tinggi dengan fasilitas latihan terbaik di setiap lantainya. Dengan total sebanyak enam lantai, dan perlu akses khusus untuk berpindah lantai demi lantai.


Tak hanya kemanan dan fasilitas latihan yang terjamin di tiap lantainya, di dalam shelter juga terdapat pintu utama yang dijaga oleh dua orang elit di bagian samping luar pintu serta bagian samping dalam pintu. Tugas empat orang elit itu ialah menjaga agar tak ada prajurit atau tamu negara yang berkeliaran diluar pintu sesukanya.


Meski terkesan dikurung dengan penjagaan ketat, fasilitas di dalam pintu utama di tiap lantai tidaklah main main. Dari ternak, kebun, lapangan hijau hingga sumber air dapat diakses oleh semua semua orang. Meski tidak seluas di atas daratan, namun tiap ruang utama shelter sanggup menampung ratusan orang tanpa kekurangan pangan.


Disebrang pintu utama terdapat lima buah bangunan besar dengan satu pasang pintu disetiap bagian terdepannya. Bangunan yang paling tengah ialah tempat komandan pasukan beserta tamu penting negara. Bangunan di sebelah kanan secara berurutan merupakan tempat menginap tamu serta ruang medis untuk tamu yang sakit. Bangunan di sebelah kiri, secara berurutan merupakan tempat menginap prajurit dan ruang medis prajurit.


Selain bangunan khusus yang nampak disebrang pintu utama, fasilitas lain yang menunjang kebutuhan pangan prajurit juga dapat ditemui di dalam pintu utama yang terlihat persis urutannya baik di ujung selatan maupun di ujung utara. Dengan kata lain, orang orang hanya perlu berjalan memutar ke kanan atau ke kiri untuk melihat secara langsung.


Jalannya yang sengaja dibuat memutar mengikuti tembok baja pintu utama, menambah keunikan ruangan tersebut. Langit langit yang cukup tinggi dengan matahari buatan yang dapat diatur suhunya pun menjadi daya tarik tersendiri.


Sumber air berisi beragam jenis ikan dengan jembatan beton yang melintas memotong kolam air jernih tersebut, dapat ditemui pertama kali saat berbelok lurus ke kiri atau ke kanan dari pintu utama. Setelah melewati jembatan, mata tiap orang akan dimanjakan oleh kebun buah dan sayuran yang cukup luas. Sedangkan diujung kebun tersebut terdapat hewan ternak seperti ayam, dan sapi yang menunjang kebutuhan pangan para prajurit. Tentunya meski semua orang diijinkan berkeliling didalam pintu utama, beberapa elit tetap ditempatkan disekitar untuk berpatroli sembari mengawasi serta menjaga kualitas air, kebun dan ternak.


Meski semuanya masih nampak sama, Hansen tetap merasakan perbedaan di dalam Shelter. Dan perbedaan tersebut ialah prajurit yang bertugas yang bukan merupakan seorang anggota lama red Eagle. Sejauh mata memandang, dia hanya berpapasan dengan prajurit asing yang ditugaskan negara untuk mengelola serta memanfaatkan fasilitas Shelter.


"Salam tuan X!"


"Apakah anda kemari untuk melihat nona Andini dan yang lainnya?" seorang prajurit memberi hormat.


"Ehm!" Hansen hanya berdehem sembari membalas penghormatan para prajurit.

__ADS_1


"Kembali ke pos kalian!" tegas Hansen.


Tap tap tap! langkah kaki Hansen terdengar pelan dan tegas saat melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di ruang fasilitas medis tamu, Hansen segera disambut oleh Zaskia yang nampak sedang duduk di koridor. Dia nampak bosan karena tak memiliki lawan bicara yang dapat diajak mengobrol santai. Cara bicara para pelayan yang berlatar belakang prajurit amatlah tegang dan begitu formal hingga membuatnya kesulitan bergaul. Sebagian besar dari mereka terlalu fokus pada tugas dan tak mengenal kata santai.


"Hansen!?" Zaskia berlari dan hendak merangkul pria idamannya, namun segera mengurungkan niatnya setelah mengingat status Hansen yang masih seorang suami Andini.


"Zaskia!?"


"Kenapa kau ada disini?"


"Apakah kamarmu tidak cukup nyaman?" Hansen nampak khawatir.


"Ah ... ekspresi itu, akhirnya aku dapat melihatnya juga!" Zaskia menghela napasnya.


"Ya, Ekspresi!"


"Orang orang disini terlalu berwajah datar bagai tanpa emosi, cara bicaranya pun terlalu formal hingga membuatku kurang nyaman. Jika kau tak kunjung datang juga, aku bisa gila!" keluh Zaskia sembari menepuk dahinya.


Setelah mendengar ucapan Zaskia, barulah Hansen mengerti dan menyadari betapa kakunya ekspresi para prajurit elit di dalam Shelter.


'Ah ... , sekarang aku paham alasab mengapa Andini bersi keras meminta ponsel dan berusaha kabur.'


"Dimana Amelia?" Hansen kembali bertanya.


"Dia sedang berduaan dengan Dion seperti biasa." Jawab Zaskia pelan.

__ADS_1


"Kalau ayah dan adikku?" tanya Hansen memastikan.


"Mereka disini!?" Zaskia nampak bingung karena tak tahu bahwa ayah serta adik Hansen dirawat di ruangan yang berbeda dengan Dion. Semua karena Cindy yang merupakan adik Hansen, sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam ruang medis di lantai enam Shelter jauh hari sebelum Dion dan yang lainnya dipindahkan.


"Tentu saja!"


"Mereka tak memberi tahumu ya!?" Hansen menatap para prajurit.


"Kami hanya memberitahukan hal yang ditanyakan," jawab salah satu prajurit dengan senyum palsunya.


"Ah ... begitu ya," Hansen menghela napas sejenak, lalu berjalan pergi.


"Aku akan mengunjungi ayah dan adikku, apakah kau mau ikut?" tanya Hansen memastikan.


"Ah, tidak perlu. Aku hanya ingin teman mengobrol dan kepastian tentang kapan aku boleh pergi," jawab Zaskia.


"Untuk pergi dari sini, aku belum bisa memastikan tentang kapannya. Oh iya tentang orang tua dan teman teman terdekatmu mereka sudah dikabari kan?" tanya Hansen memastikan.


"A .. aku tak memiliki orang tua ... ," Zaskia tertunduk sedih.


"Ah ... , maaf," Hansen merasa bersalah, lalu melangkah mendekati salah satu prajurit. Dia membisikkan sesuatu, dan tak lama setelah itu, prajurit tersebut memberikan ponsel Zaskia yang sempat disita.


"Aku tak bisa membiarkanmu pergi dalam waktu dekat, tapi jika itu tentang ponsel, aku bisa mengembalikannya kepadamu. Tolong rahasiakan ini dari yang lainnya, dan jangan sebarkan lokasimu saat ini." Hansen menyodorkan ponsel Zaskia dengan tampang tak enak hati.


"Terima kasih, dengan begini setidaknya aku bisa mengobrol dengan teman temanku," Zaskia tersenyum.


"Ka ... kalau begitu, aku pergi dulu," Hansen berbalik pergi dengan wajah yang sedikit tersipu.

__ADS_1


__ADS_2