
Pernyataan perang Mr w terhadap pasukan angkatan udara, telah pecah dan tak bisa dihindari. Kontrolnya terhadap emosi tak dapat terbendung lagi, semua karena nasib buruk yang telah menimpa putrinya.
“Halo? siapa ini?” Mr W mengangkat telepon saat tiba tiba saja ponselnya berbunyi. Kala itu dia sedang duduk di kursi belakang kanan mobil jeepnya, bersama seorang prajurit angkatan laut di sebelah kirinya, dengan dua orang perwira angkatan laut di kursi depannya.
“Ini aku, Pak tua!-” “Theo?” Mr W segera merespon karena mengenali suara seseorang yang baru saja bersuara melalui speaker ponselnya. dia segera mengenali suara tersebut karena hanya Theo lah yang berani bicara dengan kata kasar hingga memanggilnya dengan sebutan pak tua, “Apa kau ingin membahas soal kepergianmu ke sisi perompak?” tanya Mr w meneruskan.
“Bukan soal itu, tapi ... -,” Theo belum menyelesaikankalimatnya, namun Mr W segera memotong, “Jika kau ingin membahas soal permusuhan angkatan laut dan perompak, maka kau tak perlu khawatir. Karena mungkin tak lama lagi, angkatan laut juga dianggap sebagai penghianat negara.”
“Apa alasannya?” Theo terdengar penasaran.
“Aku ... sudah menyatakan perang dengan angkatan udara di hadapan rubah tua itu! Kemudian memaksa untuk pergi, meski dia mencoba menahan dan mengancamku untuk dijadikan musuh negara!” Mr w terdengar kesal saat sedang menjawab pertanyaan tersebut.
“Bagaimana dengan keluargamu? Lalu apa kau tak takut diincar oleh Law Breaker? Jangan lupa, lencana Holder akan bereaksi setiap kali berdekatan dengan lencana lain. Itu akan mulai merekam suara, men-scan wajah dan memanggil ribuan drone apabila salah satu pihak pemegang lencana, tewas di luar battle Holder! Kau juga tak bisa menitipkannya ke orang lain, karena lencana tersebut akan segera bereaksi apabila dipegang lebih dari dua jam di tangan orang lain.” Theo memperingatkan.
“Apa kau punya solusi?”Mr W mulai nampak ragu dengan keputusannya.
“Ada drone elang merah yang sedang terbang di atas mobilmu. Buka jendela mobilnya, lalu berikan lencanamu pada drone drone itu! mereka didesain khusus untuk mengecoh fungsi lencana Holder,” sambung Theo tegas.
“Sialan, sejak kapan kau mematamataiku bocah kasar!” Mr W terdengar kesal. “Kau tak perlu tahu itu,” Theo menutup panggilannya secara tiba tiba. “Hei jangan akhiri dulu panggilannya, aku belum selesai bicara!” MrW nampak kesal namun karena tak dapat menelpon balik.
“Nomor dirahasiakan? dasar bocah kasar, dia pikir aku tak dapat meretas nomornya?” Mr W membuka aplikasi pelacak di ponsel pintarnya, berpikir bahwa dia dapat mengetahui nomor asli dari ponsel yang theo gunakan.
Bip! Nomor tak dikenali!
Bip! Berhenti mencari tahu!
Bip! Ponsel telah diambil alih!
__ADS_1
“Apa yang!?” Mr w tersentak saat melihat layar ponselnya tiba tiba saja dipaksa keluar dari aplikasi, kemiudian memunculkan tampilan layar berupa simbol red eagle dengan tulisan dan pesan suara di bawahnya. “Terimakasih karena mempermudah diriku untuk mengakses data datamu pk tua!” Layar loading dengan tulisan menyalin data segera muncul setelah pesan suara berakhir.
“Sial, aku lupa kalau dia seorang hacker ahli!” Mr W segera mematikan ponselnya untuk mencegah bocornya data data penting yang tersimpan dalam ponselnya.
Tok tok tok tok! lima drone kecil berwujud burung elang merah mematuk jendela mobil jeep di mana Mr w berada.
“Hei Pak tua! kenapa lama sekali membukajendelanya!” Salah satu drone bersuara saat berhasil masuk melewati jendela mobil yang baru dibuka. “Dasar bocah kasar, khirnya aku bisa hentikan peretasanmu terhadap ponselku!” Mr W segera mengamuk setelah mendengar suara Theo lagi.
“Hei hei, jangan pukul drone-nya! Bukankah kau membutuhkan bantuan drone drone ini untuk menjuhkan lencana holdermu!”Theo kembali bersuara sembarimengendalikan drone untuk menghindari pukulan Mr W.
“Cih, ambil ini!” Mr W melemparkan lencana holdernya ke arah salah satu drone, kemudian drone tersebut segera menangkap lalu menelan lencana itu menggunakan paruhnya. Diikuti oleh pen-scan-an seluruh tubuh Mr W dengan sensor merah yang terpancar keluar dari mata drone elang merah.
“Bagaimana dengan keempat perwiramu? bukankah mereka juga memiliki lencana holder?” tanya Theo melanjutkan. “Ehm!” Mr W berdehem, kemudian kedua perwira di kursi depan mobilnya segera melempar lencana holder mereka. Yang memegang kemudi melemparkan lencana emas, sementara satunya melemparkan lencana perak.
Ketika pen-scan-an tubuh kedua perwira selesai, Mr w kembali bersuara, “Bisakah kau kunjungi kedua perwira yang lain? Mereka masih di markas masing masing saat ini!”
“Jangan khawatir, drone drone kami juga ada di sekitar sana!” Theo menjawab sembari menerbangkan pergi drone red eagle-nya.
‘Entah aku harus bersyukur atau kesal. Aku tak menyangka kalau para perompak itu diam diam memata matai seluruh markas angkatan laut tanpa sepengetahuanku, nampak jelas bahwa teknologi yang mereka kenakan jauh lebih canggih dari pada teknologi pelacakan di negara ini,” Mr W bergumam kesal saat masih dalam perjalanan menuju markas pusat angkatan udara.
“Pak, bisakah saya ambil alih kembali mobilnya? rasanyabenar benar tak nyaman saat seorang perwira menyupir untukku, terlebih bukannya menyupir dan mengawal anda adalah satu satunya tugasku?” Seorang prajurit muda yang duduk di samping Mr W nampak tak enak hati.
“Mereka yang sedang menumpang di mobil kita, jadi biasakan saja dirimu untuk saat ini, mengerti?” tanya Mr W dingin.
“Uhm ... ,” prajurit muda disamping Mr W tak punya pilihan selain diam dan mengikutikeputusan atasannya.
“Ponselku sedang tak bisa dipakai sekarang, tolong hubungi pemimpin cabang angkatan laut yang lain! ada hal yang harus aku katakan!” Mr W menatap tajam bawahannya. “Baik pak, akan kuhubungi sekarang juga!” Prajurit muda di samping Mr W segera mengeluarkan ponsel kemudian menelepon mematuhi perintah atasannya.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah villa mewah nomor satu di indonesia, di saat langit malam sudah menyelimuti bintang bintang, Hansen nampak sedang berbicara empat mata dengan presiden Gibran dengansuasana yang cukup serius.
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan ayahku?” tanya Hansen untuk ke sekian kalinya.
“Kami pernah memiliki nama belakang yang sama, berbagi ayah dan ibu angkat yang sama, serta pernah hidup dibawah atap yang sama!” Presiden Gibran menjawab dengan pandangan menunduk sembari mengepal erat kedua tangannya.
“Apakah keluarga Jayachandra-mu merupakan keluarga yang sama dengan keluarga besar penguasa dunia bawah di masa lalu? Keluarga mafia yang pernah menguasai hampir seluruh negara asia kecuali Indonesia?” Hansen terlihat penasaran.
“Ya! itu benar! Dan seperti halnya keluarga mafia yang lain, keluarga besar Jayachandra tak pernah memiliki niat untuk bersatu dengan gangster! Mereka lebih memilih melakukan kejahatan tanpa meninggalkan bukti dan memilih untuk diam kemudian menghilang disaat gangster menguasai seluruh negara! Percaya atau tidak, meski mereka sering melakukan kegiatan ilegal, mereka juga memusuhi Law Breaker sama seperti kita,” jelas Presiden Gibran dengan wajah serius.
“Apa mereka juga menjual belikan wanita?” tanya Hansen memastikan, sementara lawan bicaranya segera merespon dengan anggukan.
“Biar kutebak, alasan ayahku tak menggunakan nama belkang Jayachandra lagi ialah ... -“
“Benar! bisnis itu adalah salah satu alasannya!” Presiden Gibran Jayachandra memotong ucapan Hansen.
“Lantas apa tujuanmu membawaku kemari?” tanya Hansen dengan tampang kesal dan waspada.
“Kepalamu! Aku ingin mengeluarkan chip yang tertanam di sana!”
“Number menanamkan hal itu pada setiap bahan percobaannya!” jawab Presiden Gibran Jayachandra sembari menunjuk ke kepala Hansen.
“Chip? itu tidak mungkin! Semumur hidupku, aku yakin kalau kepalaku tak pernah dibedah oleh seseorang!” Hansen terlihat tak percaya.
“Dia tak berbohong, komandan!” suara lembut yang tak bisa Hansen lupakan, tiba tiba saja terdengar dari lantaidua yang terhubung dengan tangga.Kala itu Hansen berbicara tak jauh dari pintu masuk, namun bisa mendengar dan melihat dengan jelas sosok dibalik pagar pembatas lantai dua villa mewah tersebut.
“Friska!?” Hansen terbelalak tak percaya saat melihat salah satu kawan lamanya kembali. saking terkejutnya, dia langsung memanggil nama aslinya, bukan nama julukan yang biasanya digunakan saat ada orang lain di sekitar mereka.
__ADS_1
“Senang melihatmu kembali, komandan!” Friska Falisha tersenyum haru dengan berlinang air mata saat melihat sosok yang dirindukannya selama beberapa tahun ini.