
"Jangan ikut campur! Biar aku yang menangani Mr W!" Hendra Pratama menekankan perintahnya.
"Kalau panglima sudah mengatakan seperti itu, mau bagaimana lagi. Ayo kita bereskan para cecunguk itu!" Blonde Dragon menunjukkan dominasinya.
"Shuiiitt!" Zero bersiul dengan ekpresi serius. Tak lama setelah itu, para petinggi dan pasukan elit Number bermunculan bersamaan. Ditemani oleh sebagian besar sandra yang telah mereka jadikan bagian dari mereka.
"Urus mereka!" Zero menunjuk ke arah para mantan veteran perang kelompok naga emas.
"Meriah sekali ya, sambutannya!" Blonde Dragon mengamuk sembari menebas setiap musuh yang mencoba untuk melukainya.
"Menyingkirlah kalian!" Number four, pria berambut warna warni dengan angka empat di pipi kanannya dan beberapa orang yang dibawanya, menggunakan bazooka untuk melukai Blonde Dragon dan rekan rekannya.
Ledakan besar pun terjadi, menimbulkan getaran dahsyat serta butiran debu yang mempersempit jarak pandang mata semua orang.
"Hahahah, rasakan itu! Tak peduli sekuat apap ... " belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Number Four menerima tendangan telak dari Dragon Beard.
Diikuti oleh para petinggi dan elit elit lain yang juga kesulitan mendeteksi keberadaan para kelompok naga emas. Semua terjadi karena debu yang mengurangi jarak pandang mereka.
Berbeda dengan yang lainnya, Dragon Beard beserta sembilan rekannya dapat melihat semua area tanpa perlu membuka mata. Semua berkat mata hijau mereka yang memiliki fungsi sensor jika sedang dalam keadaan aktif.
"Kalian pikir mainan kecil itu bisa melukai tubuh Cyborg kami!" Bentak Blonde Dragon sembari menendang satu demi satu orang orang di bawah pimpinan Number.
Dalam sekejap, ketika debu akibat ledakan bazooka menghilang, pasukan Number selain para Rank-er tergeletak tak berdaya di tangan Dragon Blonde dan rekan rekannya.
"Menyebalkan sekali! Bisa bisanya pasukan berrompi dan bersenjata lengkap seperti kalian dikalahkan oleh sepuluh pria tua yang hanya menggunakan sandal jepit!" Zero nampak geram.
"Pak ... apa anda yakin kalau mereka hanya pria tua biasa! Lihatlah otot otot itu! Mereka lebih layak disebut sebagai monster!" Number Four yang nampak menerima dampak serangan di sekitar perutnya menyela ucapan Zero sembari menunjuk ke arah musuh musuhnya.
__ADS_1
"Pak! Musuh terlalu sulit dikalahkan dengan kondisi kami yang sekarang. Mohon ijin untuk menggunakan itu!" Number Five, wanita yang nampak berseragam militer lengkap dengan nomor lima di sekitar lehernya menyela dengan penuh harap.
"Tcih! Baiklah lakukan saja sesuka kalian!" Sepuluh Ranked Number dari angka 3 sampai 12 mengeluarkan pil hitam dari saku mereka. Menelannya secara bersamaan, dan tak lama setelah itu ... mata mereka pun menghitam layaknya mata Mr W.
'Padahal obat itu kami siapkan untuk berurusan dengan Law Breaker, satu pil saja perlu waktu berbulan bulan untuk menjadi sempurna. Bisa bisanya kita menggunakan lebih dari sepuluh obat langka itu secepat ini!' Zero terlihat begitu kesal.
Sementara itu di sisi lain, Hansen yang telah sampai di tempat para perompak terlibat situasi yang membuatnya terpaksa untuk menunjukkan kemampuannya.
Tactic Eagle memang langsung setuju untuk memberi bantuan kepada Hansen, tapi tidak dengan para perompak yang baru baru ini mengakui kepemimpinan Tactic Eagle.
"Meski ketua baru memilih untuk mengikutimu, bukan berarti bahwa kami juga akan setuju!" Para perompak tak mau membantu Hansen karena mereka berpikir bahwa melawan Number yang memiliki musuh yang sama dengan mereka hanyalah sia sia. Karena itu, bukannya mwndapat persetujuan mereka, Hansen malah menjadi incaran para perompak yang tidak puas dengan keputusan sepihak Tactic Eagle.
"Musuh dari musuh kami adalah teman kami, kalau kalian berencana mengacaukan mereka, jangan harap bisa pergi dari sini secara utuh! Ini juga berlaku untukmu, Tuan Tactic Eagle!" Ancam wakil pemimpin dari para perompak yang berada di dalam kapal yang sama dengan Tactic Eagle. Meski hanya seorang wakil pemimpin, otoritasnya terhadap para kru sangatlah tinggi, semua karena dia merupakan salah satu dari anggota aliansi perompak yang pernah berstatus sebagai kapten kapal.
"Habisi mereka!" teriak wakil kapten tanpa ragu.
"Maaf saja, bukan cuma kau yang memiliki mata itu!" Wakil kapten Diego dan orang orang yang sependapat dengannya menunjukkan mata merah mereka.
"Tcih! Dasar keras kepala!" Tactic Eagle mendecih kesal.
"Nampaknya pertarungan memang sudah tak terhindarkan," Hansen menyela sembari menghela napas.
"Yah ... karena situasiny sudah begini, hajar saja mereka!" Old Eagle mengeluarkan pistolnya.
"Sudah lama juga aku tak mengamuk, ku harap mereka layak untuk dijadikan samsak!" Theo menyeringai geram.
"Dasar maniac bertarung! Ingat jangan bunuh mereka! Karena bagaimana pun juga mereka bukanlah musuh yang sebenarnya!" Danger Eagle menyela.
__ADS_1
"Yah ... itu tergantung seberapa tahannya mereka!" Demon Eagle melesat maju terlebih dulu. Menghujani setiap targetnya dengan serangan telak yang sulit untuk dihindari.
"Oi oi oi, beraninya kau mengambil targetku!" Old Eagle menyela kesal.
"Apa perlu kau menggunakan pistol untuk melawan sekutumu!" Danger Eagle nampak panik.
"Jangan khawatir, ini cuma peluru karet kok!" Old Eagle meledakkan salah satu targetnya dengan santai.
"Oi, sejak kapan peluru karet bisa meledak!" Danger Eagle berteriak kesal.
"Dasar cerewet! Mereka semua subjek tes tahu, tubuh mereka tak serapuh itu!" Old Eagle menunjuk ke arah targetnya yang telah tumbang tak berdaya. Nampak jelas kalau korbannya masih dalam keadaan bernapas dan tak ada luka yang begitu serius.
"Singkirkan gadis itu dulu!" ucap Diego sembari menunjuk ke arah Danger Eagle.
"Ga ... dis .... ? Aku ini seorang pria tahu!" Danger Eagle mengeluarkan gelombang emosi sembari menatap kesal ke arah Diego.
"Kau pikir aku tak tahu kemampuanmu hah!" Diego menoleh ke arah lain, tapi malah berakhir bertatap muka dengan Danger Eagle yang mendadak muncul di lokasi yang berlawanan.
"Menghipnotis dengan mata bukan satu satunya keahlianku!" ucap Danger Eagle dengan nada kesal.
"Ka ... kau bisa berpindah tempat dengan cepat!" Diego segera tumbang karena tak sengaja bertatapan langaung dengan mata Danger Eagle.
"Ada alasan kenapa aku dipanggil Danger Eagle, dan salah satunya ialah kemampuanku untuk muncul di manapun mataku bisa menjangkau!" Danger Eagle menyeringai remeh.
"Wakil kapten telah tumbang! Haruskah kita lanjut?" tanya Theo meledek.
"Hanya karena dia tumbang, bukan berarti tak akan ada yang bisa mengambil komando! Semuanya terus tahan mereka!" seorang perompak meninggikan suaranya sembari menyalakan kembang api yang menjadi penanda situasi darurat. Kembang api tersebut diluncurkan ke atas langit kemudian tak lama setelah itu, percikannya menyebar membentuk wujud tengkorak manusia.
__ADS_1
"Dasar keras kepala! Bisa bisanya kau menyalakan sinyal darurat!" Tactic Eagle nampak sangat geram. Sementara para perompak terus menyeringai membayangkan keberhasilan mereka dalam menahan pengacau keinginan mereka.