
"..." para peniru scorpion nampak tegang saat melihat Hansen melangkah keluar melewati gerbang istana merdeka. Nampak jelas bahwa mereka mengenal sosok lain Hansen sebagai Tuan X.
Dalam suasa yang tegang itu, pemimpin dari kelompok peniru tersebut terus menatap Hansen dengan intens sembari menyuruh anak buahnya tetap mengarahkan bazooka ke arahnya.
"Bisakah anda berhenti mengganggu urusan kami, tuan X?" pemimpin kelompok peniru scorpion nampak merubah wajahnya. Perubahannya cukup drastis, dari wajah sangar penuh luka menjadi wajah mulus dan berkarisma.
"Chalis!?" Hansen terbelalak kaget saat mengetahui wujud asli dari pemimpin penyerangan istana merdeka tersebut.
Berdasarkan ingatannya, pria berambut hitam panjang dan berparas rupawan itu ialah murid pertama dari Zafar marva. Sedangkan suaranya terdengar sama persis seperti suara pria misterius yang memimpin penyergapan Dion dan Amelia saat di jalan tol.
Saat Hansen nampak terkejut, Chalis berdehem lalu berkata, "Suara tadi mungkin terdengar tak asing, tapi sepertinya kau lebih mengenal suara ini. Bukan?" Chalis kembali merubah suaranya hingga terdengar persis seperti suara Chalis yang Hansen kenali dulu.
Tentu saja hal itu mengejutkan nurani Hansen, Apalagi seingatnya, Chalis adalah murid pertama sekaligus kesayangan Zafar Marva. Dan paling benci dengan pelanggar hukum layaknya Zafar sendiri.
Hawa haus darah beserta tatapan seorang pembunuh yang terpancar dari matanya, tentu saja membuat Hansen kebingungan dan bertanya tanya.
Apa sebenarnya yang membuat pria patuh hukum itu, melanggar hukum dan membunuh secara membabi buta bahkan melakukan penyerangan besar besaran terhadap negaranya sendiri.
"Kenapa kau melakukan ini!?" tanya Hansen dengan penuh emosi yang tak terkendali.
"..." Chalis menyodorkan tangannya seperti seseorang yang meminta sebuah jabat tangan, lalu berkata, "Aku sangat senang saat mengetahui anda kembali, namun sekarang bukan saatnya kita berhadapan ataupun melakukan sebuah pertarungan."
Bekerjasamalah denganku!
itulah yang Chalis harapkan, namun Hansen yang belum mengetahui apa masalah dibalik penyerangan istana merdeka, tentu saja hanya diam dan mencoba memahaminya.
__ADS_1
Diamnya Hansen membuat Chalis berpikir bahwa ajakannya tak akan diterima, hingga membuatnya sedikit kecewa dan segera menurunkan lengannya.
Sembari menghela napas dia pun berkata, "Sayang sekali ... ,"
"Nampaknya, anda akan tetap berdiri di sisi lain ya," Chalis terdiam sejenak sembari melukiskan wajah kesal penuh dengan kekecewaan.
"Hancurkan dia!"
Wooshhh!!!
Bazooka ditembakkan satu demi satu, mengarah mendekati Hansen dengan kecepatan tinggi.
Hansen yang sudah membulatkan tekadnya pun, segera melaju menantang bazooka bazooka itu dan membelah semua pelurunya satu demi satu.
Ledakan pun tercipta saat peluru yang terbelah telah melewati tubuh Hansen. Mengejutkan semua orang kecuali Chalis hingga pusat perhatian semua orang tertuju pada Hansen yang bersenjatakan katana hitam.
Wooshh!! Hansen mencoba menebas Chalis, namun dia menghilang lagi dan muncul kembali di belakang punggung Hansen.
"Licin seperti belut, bukan begitu?" Chalis tersenyum sembari menepuk pundak Hansen.
"Tanpa baju pelindung tuan Weapon Master, anda benar benar mudah diserang Tuan X,"
"Lalu kenapa kau tak menyerangku?" Hansen mencoba bertanya, sembari mencoba mengalihkan perhatian Chalis. Awalnya Chalis enggan menjawab, namun setelah suara seseorang terdengar dari alat bantu komunikasi di telinganya, sikapnya tiba tiba saja berubah. Dan amarahnya tak semeluap sebelumnya.
"Kuharap di pertemuan kita yang ketiga, jalan kita tak bersebrangan lagi." Chalis nampak kesal dan kecewa, namun amarah meluap luap serta hawa membunuhnya saat ini tak dilampiaskan ke Hansen seperti sebelumnya.
__ADS_1
bersamaan dengan itu, Chalis menyisipkan amplop ke pakaian Hansen secara diam diam. Lalu pergi membawa semua bawahannya layaknya sebuah ilusi.
Tubuh mereka lenyap satu demi satu, dan meninggalkan tas perak bersimbol elang mekanik yang menunjukkan angka 60 dengan warna dasar merah yang merupakan sebuah hitungan mundur.
"Gawat!" Hansen segera berlari memasuki gedung putih, dan ledakan dahsyat pun menyapu bersih semua tubuh kelompok peniru.
Duarrr
Ledakan yang dihasilkan oleh tas tas aneh itu, sangatlah berdampak besar hingga sanggup mendorong jauh tubuh Hansen meski sudah berada cukup jauh dari pusat ledakannya.
Saat ledakan telah lenyap, para peniru pun sudah berhasil menghilangkan jejak identitas mereka. Saat ini, Hanya Hansen yang tahu wajah asli dari salah satu kelompok peniru, namun dia belum berniat membagi informasi tersebut dengan pihak negara. Karena dia tak ingin semua mantan anggota red Eagle tertuduh dan diawasi dengan ketat karena dianggap menjadi penjahatnya.
Selain itu, Hansen tahu betul kehebatan Chalis dalam memanipulasi ilusi. Dimana dia dapat menunjukkan wujud aslinya ke orang lain disaat semua orang masih melihatnya dlm rupa orang lain. Sedangkan fakta bahwa bawahan lain nampak lemah dan asing bagi Hansen, membuatnya yakin bahwa bawahan Chalis adalah orang irang bayaran atau bukan merupakan anggota Red Eagle. Dan satu satunya yang membuat dia yakin, adalah keahlian mereka dalam memanfaatkan senjata.
'Kuharap hanya Chalis yang berada dikelompok itu!'
Hansen mengharapkan hal tersebut, tapi nuraninya berkata lain, karena curiga bahwa Weapon master ataupun bawahan terbaiknya bekerja sama dengan kelompok tersebut.
Sedangkan pria berhoodie beserta pasukan scorpion yang masih berada di dalam helikopter mereka, mundur secara bersamaan mengikuti perintah Theo.
#Note
Besok mulai up normal lagi ya.
Dan sebagai penebusan gk update beberapa hari, akan dilakukan crazy up 2-4 bab mulai besok.
__ADS_1
Maaf karena lama menghilang, author abis kena mental gara gara masalah pribadi di rumah 😅