Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 90 : Menyelamatkan Andini


__ADS_3

"A ... apa yang ingin kalian lakukan!"


"Jauhkan tangan kotor kalian dariku!" Andini berteriak panik saat tersadar di antara kerumunan pria yang hanya mengenakan sebuah celana boxer. Hatinya terasa semakin hancur saat mendapati Herry yang sangat ia cintai, malah menonton dirinya diperlakukan buruk dengan tampang yang teramat senang.


Satu demi satu kain yang menutupi lekuk tubuh Andini disobek oleh para pria hidung belang. Andini terus meneriakkan nama Herry, tapi Herry nampak tak perduli. Alih alih menolongnya, Herry malah memamerkan seberapa dekat dirinya dengan pelayan di sampingnya. Tangannya bermain main diantara belahan dada gadis disampingnya sementara mulutnya menjelajah di sekitar wajah sang gadis.


"Mundur!"


"Jangan ada yang berani mendekat! Atau ayahku akan menghabisi kalian!" Andini mencoba membela diri sembari menutupi bagian privasinya yang kini hanya berlapiskan pakaian dalam. Terdapat begitu banyak memar di sekitar tubuhnya, semua itu membekas dari hasil perlakuan kasar para pria hidung belang saat hendak melucuti pakaiannya.


"Berhenti melawan Andini!"


"Bukankah kau sudah pernah melakukannya sekali?"


"Meskipun itu bukan denganku!" Herry menunjukkan warna aslinya. Meremukkan hati Andini yang sudah kacau sejak Herry meminta orang orang itu bermain dengan tubuhnya.


Andini terus mencoba melarikan diri, hingga tersudut ke pojok ruangan. Membuatnya semakin tak berdaya hingga membuat orang orang itu berhasil meraih kain yang menutupi dadanya.


Demi untuk menutupi bagian tersebut, Andini pun segera berjongkok lalu meringkuk do sudut ruangan. Tubuhnya gemetar tiada henti, air mata pun tak dapat dia bendung lagi. Sembari berharap seseorang akan datang menolongnya, Andini menunduk dan menutup matanya.


Duakkk!!!! Pintu yang menjadi akses keluar masuk semua orang, ditendang hingga terdorong jauh ke dalam ruangan. Menghantam punggung beberapa pria hidung belang yang berbaris tak jauh dari sana demi untuk menikmati tubuh Andini secara bergantian.


"Beraninya kalian bermain dengan istriku!" Hansen menembak para pria hidung belang satu demi satu menggunakan pistol yang dia dapatkan dari dalam mobil rampasan. Memusnahkan semua pria hidung belang yang kala itu sudah melihat dan hampir mengotori kesucian tubuh Andini.


"Beraninya kau membunuh orang orangku!" Herry mengamuk sembari menudingkan jarinya ke arah Hansen. Sementara Hansen yang sudah muak akan tingkah Herry, segera menembak kepalanya karena sudah dikuasai oleh kebencian yang mendalam. Sayangnya ... Herry berhasil menahan pistol itu hanya dengan menggunakan dua buah jari tangannya. Dan langsung melemparkan peluru tersebut untuk menyerang balik Hansen. Awalnya Hansen sedikit bingung akan reaksi Herry, namun setelah melihat matanya yang memerah, barulah dia sadar bahwa ternyata Herry juga telah berubah menjadi seorang subjek.


"Apa yang?" Herry nampak bingung saat baru saja melempar balik peluru Hansen. Seakan akan dia memang tak sadar saat hal tersebut terjadi. Sementara Hansen yang terlanjur kesal, mengabaikan fakta itu hingga berniat meremukkan wajah Herry dengan menggunakan pukulan penuhnya. Akan tetapi ....


Tap! Seorang pria asing yang memiliki mata merah. Muncul tiba tiba setelah menghancurkan atap ruangan. Menahan pukulan Hansen dengan begitu mudahnya hingga membuat Hansen terkejut.


"Biarkan Herry pergi, Kau bisa membawa wanitamu sekarang. Atau ... ," Pria itu menatap Hansen" dengan ancaman.

__ADS_1


"Atau apa!" Hansen membalas dengan tatapan kesal.


"Atau rekan rekanmu akan tiada saat ini juga." Pria asing itu menunjukkan sebuah remot yang mirip seperti alat pengendali tubuh Weapon Eagle dan bawahannya. Hanya saja tombol di remot itu tak menunjukkan angka satupun. Hanya berisikan tombol hukuman yang mungkin akan meledakkan tubuh korban secara acak.


"Remot apa itu?" tanya Hansen penasaran.


"Remot ini dapat melenyapkan Weapon Eagle dan orang orangnya secara acak. Asal aku menekan salah satu tombolnya saja maka ... Booom! tubuh mereka akan meledak! Apa kau ingin mencobanya?" Ancam pria itu sembari tersenyum sinis.


Hansen mulai menarik pukulannya, sembari sesekali melirik ke arah remot kendali untuk menyelamatkan orang orangnya. Tapi rencananya sama sekali tak dapat berjalan dengan lancar, karena pria itu mengucapkan beberapa kata yang cukup membingungkan.


"Coba saja kau rebut remot ini dari tanganku, maka orang yang memegang replikanya akan langsung meledakkan orang orangmu!" Ucapannya terasa seperti gertakan, tapi Hansen tak mau mengambil resiko. Karena itu dia memutuskan untuk melepaskan Herry lalu berjalan menuju Andini.


"Jika tak ada orang ini, kau pasti akan tiada di tanganku Herry!" Hansen melirik tajam saat melewati tubuh Herry. Sementara Herry hanya terdiam karena merasa akrab dengan orang yang datang menolongnya. Dengan perasaan kacau dan agak ragu, Herry pun berkata, "Ayah?"


"Ayah kandungmu telah tiada, ayahmu sekarang hanyalah tuan Adi Wijaya. Camkan hal itu!" pria asing itu menolak untuk menjawab lebih lanjut. Meski Herry terus bertanya dengan yakin. Alih alih mendapat jawaban, dia malah mendapat pertanyaan lain yang berbunyi, "Siapa yang diam diam memberikan cairan subjek kepadamu!"


"A ... aku tak tahu apa maksud Ayah, tapi ... bisakah ayah menghajar pria itu?"


"Pakailah, dan ayo ikut aku. Tidak baik jika kau terus berlama lama disini," Hansen nampak khawatir sekaligus menyesal karena datang terlalu lambat. Dia begitu marah saat melihat kondisi Andini saat ini, dan menjadi begitu marah karena tak bisa melampiaskan emosinya saat itu juga. Sementara Andini yang sudah tenggelam dalam rasa takut, hanya mengangguk dan terus berlindung di belakang punggung Hansen. Dia begitu Syok hingga tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Aku tak akan pernah memaafkan kalian, jika kita bertemu di kemudian hari, akan kuhabisi kalian tanpa terkecuali!" Hansen menggendong keluar Andini yang saat itu, sudah tak sanggup untuk berjalan seorang diri. Meninggalkan Herry dan ayah kandungnya yang mana merupakan subjek yang selama ini terus berada di dekat Adi Wijaya. Dan merupakan orang yang ternyata diam diam memiliki keterikatan dengan seorang petinggi Law Breaker.


"Lakukan saja jika kau bisa!" Pria asing itu menyeringai saat Hansen sudah jauh dari pandangannya.


"Kenapa kau melepaskan dia, Ayah!" Herry nampak kesal, sementara ayahnya malah mengabaikan Herry dan berkata, "Kalau kau seorang pria, kalahkan musuhmu dengan tanganmu sendiri!"


"Baiklah, jika memang itu yang ayah minta!"


"Percuma saja aku memohon padamu!"


"Lagipula kau kan sudah membuangku sedari aku kecil!"

__ADS_1


"Bodohnya aku mengharapkan perlindungan darimu!" Herry melangkah pergi dengan kesal. Sementara pria asing itu hanya bisa menepuk dahinya sambil berkata, "Alex Sialan! Apa dia diam diam memberikan serumnya kepada Herry tanpa sepengetahuanku!"


"Kuharap tubuhnya dapat menahan tekanan dari serum itu," Pria asing itu bergumam dengan khawatir. Dan tak lama setelah itu, sebuah drone milik Law Breaker dengan ukuran nano, melesat mendekat ke arah telinga pria itu. Lalu suara Alex pun tiba tiba saja terdengar.


"Jangan khawatir, DNA dari keturunan seorang subjek bisa dipastikan dapat menekan efek samping dari serum itu. Kecuali kalau dia bukan anak kandungmu. Misalnya ... mantan istrimu memiliki anak dari pria lain?"


"Apa kau ingin mencari keributan denganku!" Pria asing itu nampak begitu kesal hingga memukul keras dinding ruangan.


Brakkk!! Seketika lubang yang cukup besar terekspos. Beruntungnya tak ada pengunjung saat itu, hingga membuat aksinya tak melukai pihak manapun.


"Lawan saja aku jika kau bisa, tanganku sudah lama gatal karena tak dapat memukul orang yang layak," Alex membalas dengan nano drone yang dia kirim. Menaikkan emosi pria itu hingga menghancurkan seluruh isi ruangan. Dia melampiaskan amarahnya yang tak tersampaikan tersebut dengan menghancurkan semua properti termasuk dinding dan seluruh pondasi ruangan. Tentunya dalam hitungan menit, KTV Wijaya Group pun lenyap tak bersisa. Mengubur mayat para pria hidung belang yang telah tewas di tangan Hansen.


....


"Kenapa? Kenapa kau datang menolongku?" Andini bertanya dengan tangis di wajahnya. Saat itu dia masih digendong bak seorang putri, oleh Hansen yang terus melangkah maju dengan wajah kesal.


Sadar bahwa Andini mulai angkat suara terhadapnya, Hansen pun perlahan menurunkan emosinya dan bersikap seakan semuanya sudah baik baik saja.


"Dasar bodoh, apakah salah jika seorang suami menyelamatkan istrinya sendiri?" Hansen tersenyum dengan mata merahnya. Pertanda bahwa saat ini dia masih dalam keadaan emosi, namun berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Mata merahmu, sungguh indah. Terimakasih karena sudah datang, Hansen," Andini perlahan tak sadarkan diri karena telah mengalami hari yang berat. Sementara Hansen yang melihat kondisi malang istrinya, hanya bisa mengumpat sembari mengutuk ketidak berdayaannya dalam meluapkan emosi. "Maaf karena datang terlambat, Andini .... " Tampang Hansen terlihat cemas, hingga sampai di sebuah mobil jeep hijau yang telah dia rampas. Lalu segera menghubungi Mr W saat sudah berhasil membawa pergi Andini.


Kring kring!


"Andini sudah ada di tanganku, meskipun kondisinya cukup buruk. Dia berhasil ku bawa pulang." Hansen segera mengabari saat Mr W mengangkat panggilannya. Lalu menutup panggilan dengan berkata, "Tolong awasi Angkatan udara!"


"Ada kemungkinan mereka akan menjadi musuh yang berbahaya!"


"Tunggu dulu menantu! Bisakah kau jelaskan smuanya dengan .... " Belum selesai mengucapkan apa yang ingin dia katakan, Mr W kehilangan koneksi dengan Hansen karena langsung menutup panggilannya. Dan enggan untuk mengangkat kembali karena sedang mencoba untuk menahan emosi yang meluap luap.


#Note

__ADS_1


Maaf ya Author menghilang lama. Hehe, ada kesibukan duniawi tadinya. Jadi gk sempet update beberpa hari ... eh minggu.😅


__ADS_2