
"Apa kau sudah siap?" ilmuan gila bertanya kepada Hansen sembari menyeringai dengan wajah psikonya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dari luar ruangan operasi. Ketika Rose dan Hansen melirik menuju sumber suara, lima sosok pria botak berseragam hijau seperti seorang asisten dokter yang hendak melakukan operasi, nampak berjalan berurutan dari balik dinding kaca transparan yang terhubung dengan koridor.
Meski seluruh ruangan terbuat dari kaca, hanya bagian yang terhubung langsung dengan koridor saja yang nampak transparan. Saking transparannya, semua orang juga bisa melihat ruang operasi di sebrang ruangan mereka yang juga dalam keadaan transparan.
"Karena ini operasi yang menyangkut seluruh bagian tubuh, semua kain yang menutupinya akan segera aku tanggalkan. Jika kalian masih tetap ingin di sini untuk mengamati, boleh boleh saja. Tapi ... jangan pernah lakukan hal yang bisa mengganggu kesenanganku, mengerti?" tanya ilmuan gila sembari menatap ke arah Rose dan rekan rekannya.
"Ka ... kami akan keluar!" Rose melangkah pergi, diikuti oleh rekan rekannya. Mereka semua melangkah ke luar pintu yang terbuka secara otomatis ketika salah satu dari mereka sudah mendekati pintu.
"Setelah operasinya selesai, bisakah kalian luangkan waktu untuk kami?" tanya salah seorang dari lima orang pria berseragam serba hijau bertanya saat berpapasan dengan Rose dan rekan rekannya.
"Berhentilah bermimpi!" Rose membalas dengan jijik.
"Aku suka itu! Teruslah mencoba untuk menolak kami, aku yakin suatu saat nanti kau akan tunduk di bawah telapak kaki kami," sambung pria di baris ke dua dengan lidah yang menjulur ke luar.
"Jika kalian mengoceh bahkan hanya satu kata lagi saja ... , akan kubuat kalian merasakan sensasi minggu lalu!" Rose menatap dengan amarah yang meluap.
"Gulp!" Para pria yang awalnya menatap para gadis itu dengan mesum, segera menelan ludah mereka kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan dengan secepat yang mereka bisa.
'Apakah di sini tak ada gadis yang normal untuk bisa kami goda!' pikir semua pria berseragam serba hijau dengan panik.
"Ah ... kalian sudah datang ya? Cepat pegangi dia dan bantu aku melakukan operasi lanjutan!" Ilmuan gila memberi perintah dengan senyum psikonya.
"Hehehehe, dengan senang hati!" sambung semua orang dengan senyum psiko mereka.
__ADS_1
'Apa mereka tak memiliki tenaga medis yang normal! Apa apaan dengan ekspresi menggelikan mereka itu!' Hansen tak berdaya karena masih dalam keadaan terikat dan dalam posisi tengkurap.
Suntikan serum penyiksaan kembali disuntikkan ke dalam tubuh Hansen, serum yang mencegahnya untuk tidak sadarkan diri, serta serum yang akan melipat gandakan rasa sakit yang dirasakan oleh pasien.
'Sial lagi lagi serum gila ini!' Hansen kembali merasakan sakit yang luar biasa. Rasa sakit itu berasal dari bekas operasi pembedahan kepala yang belum sembuh sepenuhnya. Sebelumnya hanya seperti digigit semut setiap kali kepalanya bergerak, tapi karena serum penyiksaan yang kembali disuntikkan kepadanya, rasa sakit tersebut berlipat ganda hingga seperti ada yang sedang menyayat kulit kulit di sekitar kepalanya.
"Hei hei hei, kenapa kau sudah menggeliat seheboh ini? Bukankah operasinya bahkan belum dimulai?" tanya ilmuan gila dengan senyum jahatnya.
'Memangnya kau pikir ini salah siapa!' Hansen sangat ingin mengatakan kata kata dengan nada kasar tersebut, tapi berhubung efek serumnya akan menjadi semakin kuat jika dia berteriak, Hansen pun terpaksa untuk menahan diri agar tak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Dasar payah! Kenapa kau tidak berteriak dan menyerah saja sih!? Kalau begini terus kan aku jadi lebih bersemangat untuk menunggu teriakanmu, Hahahaha!" ilmuan gila itu tertawa dengan penuh semangat.
"Berikan dia lebih banyak serum penyiksaan! Aku tak percaya kalau ada orang yang akan sanggup menahan siksaan dariku saat sedang dalam operasi! Aku sangat yakin tak lama lagi, dia pasti akan menjerit kesakitan hingga berharap untuk mati!" Ilmuan gila itu kembali bersemangat untuk menyiksa mainannya.
Detik berganti menit, menit berganti jam, Hansen tak kunjung menyerah dan tetap bertahan dalam siksaan saat tubuhnya sedang di bedah dan diselipkan benda benda asing.
"Bahkan tuan muda ke lima yang keras kepala itu saja tak bisa menahan diri untuk tidak menjerit di saat beberapa menit telah terlewati, bisa bisanya dia melewati enam jam.penuh tanpa mengeluarkan suara sedikitpun! Apa orang ini masih manusia!" gumam semua orang secara bergantian.
Perlahan tapi pasti, efek serum penyiksaan semakin lemah dan menghilang, menjadikan Hansen yang sudah lama dipaksa sadar dan menahan rasa sakit segera pingsan tak sadarkan diri.
"Sepertinya kita telah membangkitkan seorang monster! Tuan besar pasti akan senang meski tuan muda ke lima tidak kembali," Ilmuan gila itu bergumam dengan pandangan serius.
Setelah memandangi Hansen yang tak sadarkan diri sejenak, ilmuan gila itu segera pergi memimpin semua bawahannya untuk pergi meninggalkan ruangan.
"Kalau kaliam ingin memeriksa kondisinya, masuk saja! Tapi jangan terkejut karena aku tak mengurusnya dengan benar!" ucap salah satu asisten dari ilmuan gila ketika bertemu dengan Rose yang berdiri membelakangi pintu ruang operasi.
'A ... apa maksudnya tak mengurus tuan X dengan benar! Jangan bilang kalau dia sudah ... !" Rose segera berbalik untuk melihat Hansen melalui dinding kaca yang nampak transparan. Mukanya segera memerah karena ternyata Hansen kini sedang dalam keadaan telentang dengan kasur yang sengaja dibalik untuk membuat Hansen terlihat seperti sedang berdiri dengan semua anggota badan yang terikat rapih.
__ADS_1
Seketika muka Rose memerah, dan segera berbalik badan sembari mencegah para bawahannya melihat pemandangan tersebut.
"Dasar botak mesum! Akan kuhabisi kau kalau kita ketemu lagi nanti!" Rose berteriak dengan kesal.
Rose sangat tak nyaman dengan kondiso Hansen, tapi kaj3..9s.rz
neertama kalinya bagiku merawat seorang laki laki!' Rose memerah km7.arena merasa canggung sekaligus malu..
Sementara itu di sisi lain, di dalam Shelter, Zaskia dan Amelia nampak sedang mencoba menghibur Andini yang masih dalam keadaan trauma terhadap apa yang dilakukan Herry terhadapnya.
"Pria itu tak pantas kau tangisi, tolong berhentilah merenung kak!" Amelia nampak sangat sedih.
"Andai Hansen di sini, mungkin nona bisa ... ," Zaskia nampak sedih akan kondisi Andini yang pernah menolongnya ketika dalam kondisi yang paling buruk. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak merasa sedih karena panutannya itu dalam kondisi yang begitu terpuruk.
Di sisi lain, semua orang terutama jenderal fahar yang bertugas mengamankan kondisi semua orang orang yang ingin Hansen lindungi, sedang dibuat bingung karena satu dari orang yang harus dia lindungi sedang menghilang tanpa kabar entah kemana. Terlebih orang yang hilang tersebut merupakan orang terpenting yang tak boleh dia abaikan. Dia merupakan ayah dari Hansen yang dia pikir adalah orang tua kandung terakhir yang Hansen miliki.
'Beberapa tahun lalu, aku berhenti karena gagal melindungi ibunya, jangan sampai aku gagal lagi kali ini! Aku tak boleh membuat tuan X menjadi yatim piatu!' pikir jenderal Fahar dengan begitu frustrasi.
"Maaf pak! kami benar benar tak menemukan jejak pak Hendra Pratama! Seakan akan dia telah lenyap ditelan bumi, bisa jadi seseorang telah menculiknya atau dia sudah .... ," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, prajurit itu di bentak oleh jendral fahar, "Jangan berpikiran macam macam! Jangan lupa kalau dia juga mantan seorang veteran perang! Bahkan meski menderita luka dalam sekalipun, dia bukanlah target yang mudah untuk diculik!"
"Terus cari hingga ke seluruh pelosok negri!" Jenderal Fahar membentak dengan emosi.
"Ba ... baik pak!" jawab sang prajurit sembari memberi hormat.
Dia memiliki banyak bawahan yang dibagi menjadi beberapa kelompok dengan kode nama unit 1, unit 2 dan seterusnya. Selain melaui laporan langsung seperti tadi, laporan melalui earpiece juga dia terima setiap menitnya. Dan semuanya berisi laporan nihil yang diungkapkan oleh semua unit.
"Di mana sebenarnya anda berada saat ini, pak!" Jenderal Fahar nampak begitu cemas.
__ADS_1