
....
"Sayang?" Amelia menutup mulutnya saat melihat kekasihnya dalam keadaan mengenaskan. Air mata penuh duka pun mulai mengalir deras di wajahnya.
"Dia sudah tak tertolong," Letnan Daffin dan Zaskia menatap Dion dengan penuh simpati.
"Tidak, dia pasti masih hidup!"
"Cepat bawa dia ke rumah sakit untukku!"
"Kumohon!" Amelia menatap Letnan Daffin dengan penuh harap.
"Lukanya terlalu parah nona, dan nampak jelas kalau dia sudah kehabisan begitu banyak darah," Letnan Daffin menjawab dengan penuh penyesalan.
"..." Amelia nampak terpukul saat itu. Hatinya begitu hancur dan mengharapkan sebuah keajaiban.
Hansen yang tak membawa peralatan P3K, langsung melepas seragamnya, lalu merobek kaos yang masih dia pakai untuk menghentikan pendarahan.
"Berhenti mengoceh dan bantu aku membawanya ke rumah sakit!" Hansen menggendong Dion tanpa ragu.
"Tapi pak ... ," Letnan Daffin ragu karena letak rumah sakit sangat jauh dari lokasi mereka.
"Lakukan saja!" bentak Hansen, sembari menggendong tubuh Dion.
"Ba ... baik pak!" Letnan Dion segera membuka pintu belakang mobil untuk mempermudah Hansen meletakkan tubuh Dion.
Hansen yang sudah siap, segera menyuruh Amelia masuk terlebih dulu dan membiarkan Dion terbaring di pangkuannya.
Ceklak.
Setelah menutup pintu mobil, Hansen meminta Zaskia masuk ke pintu depan sebelah kiri, lalu menyodorkan tangannya dan berkata, "Berikan kuncinya!"
Tanpa banyak bertanya, Letnan Daffin memberikan kunci mobilnya kepada Hansen.
__ADS_1
Ceklak
Hansen masuk menduduki kursi pengemudi, lalu segera menutup pintu dan membuka sedikit kaca mobilnya.
"Ambil ini!" Hansen melemparkan dua pistol laras panjang milik Letnan Daffin setelah mengisi ulang amunisinya.
"Untuk apa?" Letnan Daffin terlihat heran.
"Mobilnya tak cukup untuk menampung kita semua, jadi silahkan cari kendaraan lain untuk menyusul," Hansen menutup kaca mobilnya, lalu segera menginjak pedal gas hingga membuat mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.
"..." Letnan Daffin terdiam dan sejenak, lalu menghela napas dan berkata, "Merepotkan," Meskipun ditendang keluar dari mobilnya sendiri, Letnan Daffin tak mempermasalahkan hal tersebut, dia masih tampak tenang hingga akhirnya menyadari bahwa ponselnya tak berada di dalam saku celana. 'Kalau begini, bagaimana caraku pulang?' Letnan Daffin nampak frustasi.
.....
tap tap tap tap
Hansen menggendong tubuh Dion menuju ruang UGD lalu berkata, "Tolong selamatkan pria ini!"
"..." Amelia duduk termenung sembari berharap akan keselamatan kekasihnya. Sedangkan Zaskia hanya bisa terdiam karena tak tahu harus berkata apa.
"Tak ada peluru yang mengenai organ vital, meskipun kecil kemungkinan dia selamat, namun bukan berarti tidak mungkin," Hansen mencoba menghibur Amelia, karena merasa tak enak dengan ucan Letnan Daffin padanya. Meskipun Amelia tak mengatakan apapun, nampak jelas bahwa dia sedang memikirkan ucapan sang Letnan.
"Terimakasih," Amelia merespon tanpa merubah ekspresinya.
"..." Hansen mulai merasa simpati terhadap Amelia, cara pandangnya terhadap Dion pun mulai berubah. Hanya satu hal yang membuatnya bingung hingga sekarang, yaitu alasan dibalik diamnya Dion saat pertemuan pertama mereka.
Berani melawan sekelompok pembunuh bersenjatakan pistol saja dapat menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang pengecut, lalu mengapa Dion hanya diam saja saat kepergok melakukan hal kotor bersama Amelia Wisnu.
Hansen bertanya tanya, mengenai alasan mengapa Dion terlihat begitu gemetar saat itu hingga membiarkan Amelia yang berbicara.
Hansen sangat ingin menanyakan hal hal yang berkaitan dengan Dion, namun keadaan Amelia saat ini terlalu menghawatirkan. Sehingga dia mengurungkan niatnya, dan berusaha menghibur dengan membiarkan Amelia Wisnu bersandar di bahunya. "Jangan khawatir, kekasihmu akan baik baik saja. Bukankah dia pria yang sangat kuat?"
"Kenapa?" Amelia bertanya dengan haru. "Kenapa kau begitu baik padaku?"
__ADS_1
"Padahal selama ini, aku ... ," Amelia mengingat masa masa buruknya ketika berbuat kasar terhadap Hansen. "Aku ..., aku selalu menghinamu dan seluruh keluargamu. Aku bahkan sempat merencanakan berbagai macam cara, hanya untuk memisahkan kau dengan kakakku."
"Entah kau sudah tahu atau belum, tapi gadis yang kau coba hibur ini adalah gadis yang telah mencoba menjebakmu di hotel permata dengan berpura pura sebagai kakakku!"
Hansen tersentak kaget saat mendengar Amelia mengakui perbuatannya. Rasa kesal sekaligus rasa bersalah mulai menghantuinya lagi. 'Jadi Andini benar benar tak melakukannya?'
'Lagi lagi aku telah salah paham terhadapnya.'
'Tapi apa gunanya semua itu sekarang, pernikahan kami sudah tak tertolong,' Hansen mengingat kembali saat dimana Andini mempermalukannya dengan membongkar segalanya di hadapan semua orang, dan menghinanya habis habisan. Meskipun itu dilakukan ketika sedang mabuk berat. Harga diri Hansen sudah benar benar terluka sejak saat itu.
"Yang lalu biarlah berlalu, aku sudah tak mempermasalahkan pesan singkat berisi ancaman itu lagi."
"Toh pernikahan kami sudah tidak tertolong lagi," Hansen mengepal erat kedua lengannya, dan berpura pura tegar. Dia menyembunyikan luka besar dihati, dengan melukiskan senyum palsu di wajahnya.
Amelia hanya diam tak menanggapi, namun jauh dilubuk hatinya, dia merasakan penyesalan yang teramat dalam karena sudah membuat Hansen mengatakan hal yang tak mungkin dia katakan di masa lalu. Meskipun sebenarnya dia masih bertanya tanya tentang siapa Hansen sebenarnya, hingga bisa menggunakan senjata dan bersikap begitu akrab dengan seorang Letnan ternama.
'Kakak iparku tak seburuk pikiranku, meskipun dia tak sebaik kak Herry dalam hal karir, tapi sikapnya tak sesampah itu,' Amelia mengingat sikap Herry yang suka bermain dengan sembarang wanita.
Ceklak
Dokter berseragam lengkap dengan masker di wajahnya keluar dari ruang operasi. Hansen beserta yang lainnya, menatap fokus ke arah Dokter itu secara bersamaan. Wajah mereka terlihat sedih dan penuh harap, namun berubah menjadi lega setelah sang dokter mengangguk sembari mengedipkan kedua matanya.
Amelia yang awalnya diam seribu bahasa, mulai mengeluarkan tangis dengan penuh rasa syukur.
"Syukurlah," Zaskia menetes haru saat melihat tangisan lega Amelia. Dia juga merasa bahagia, saat melihat Hansen dan Amelia sudah terlihat dekat hingga mau berpelukan seperti layaknya seorang saudara yang membagi duka.
"Berhentilah menangis, semuanya sudah baik baik saja sekarang," Hansen mendekap Amelia dengan penuh simpati. Sembari memeluk dan mengelus kepala Amelia, Hansen teringat akan Cindy yang suka merengek dipelukannya setiap kali berbagi kesedihan. Dan kenangan terakhir yang dia ingat mengenai adiknya ialah saat dia menangisi kepergian ibunya.
"Terima kasih, karena sudah mau mengabulkan permintaan egoisku untuk menolong Dion, aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu ini, kak Hansen," Amelia memanggil Hansen dengan sebutan Kak dengan reflek dan tanpa paksaan. Cara Amelia memanggil sama persis seperti cara Cindy memanggilnya, hingga membuat Hansen semakin merindukan kehadiran adiknya dan tak sadar meneteskan sedikit air mata. "Menangislah sepuasmu, adikku!" Hansen mengucapkan itu karena melihat bayangan Cindy pada diri Amelia, sedangkan Amelia menganggapnya dengan pikiran yang berbeda. Dia beranggapan bahwa kata katanya itu merupakan pengakuan bahwa Hansen masih memiliki rasa terhadap kakaknya, hingga enggan menyebutnya dengan panggilan lain.
"..." Zaskia hanya bisa melihat kedekatan mereka sembari berdoa mengenai kebahagiaan Hansen. Meskipun itu bukan bersamanya, asalkan Hansen bahagia, Zaskia rela melepaskan cintanya itu.
'Kuharap nona Andini bisa luluh seperti halnya nona Amelia,' Zaskia mengharapkan hal tersebut, karena paham betul, bahwa Hansen masih memiliki hati terhadap Andini, sedangkan kedekatannya dengan Hansen hanya karena sebuah rasa tanggung jawabnya saja. Meski begitu dia tetap merasa bahagia, karena baginya berdekatan dengan Hansen saja sudah merupakan sebuah anugrah dan kebahagiaan Hansen adalah surga baginya.
__ADS_1