Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 46 : Emosi yang tak terbendung


__ADS_3

Hansen melangkah mendekati mobil tahanan milik angkatan udara. Mobil itu terlihat kokoh dengan kurungan belakang yang berlapiskan besi. Sisi kanan dan kirinya begitu rapat tanpa lubang sedikitpun, sedangkan sisi belakangnya nampak jendela kecil berlapis jeruji besi sebagai jalan masuknya udara. Di bawah jendela jeruji besi kecil itu, terdapat dua buah gagang pintu yang terkunci rapat oleh sebuah kunci ganda dengan gembok dan kunci kombinasi putar layaknya sebuah brankas.


"Buka pintunya!" Hansen berdiri tepat di hadapan pintu belakang mobil, dan menyuruh kedua prajurit angkatan udara yang berdiri tepat di samping pintu tersebut.


Satu orang prajurit mengubah kombinasi nomor di gembok, dan satunya lagi merubah kombinasi pintu yang berbentuk memutar layaknya brangkas. Dan tentunya dengan kunci yang tertancap di tempat masing masing.


Ceklak! Ceklak! kedua kunci berhasil diputar setelah di atur ke kombinasi yang tepat. Gembok dan kunci pintu pun mulai tersingkirkan, hingga pintu mobil dapat ditarik terpisah.


Kreakkk!! pintu dibuka secara perlahan. Mengekspos tampilan ruang gelap yang perlahan bersinar terkena cahaya mentari. Satu demi satu tahanan pun mulai terekspos. Mereka semua dirantai dan di borgol layaknya seorang budak, baik tangan kaki maupun leher. Semuanya terikat borgol dan rantai yang menyatu dengan dinding mobil. Lima di antara mereka bisa menengok ke sumber cahaya, sedangkan sisanya hanya bisa melirik tanpa bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Tubuh mereka semua nampak penuh luka dan tak berdaya. Meskipun ini adalah kali pertamanya mereka melihat Hansen tanpa masker, semua tahanan itu langsung dapat mengenalinya. Hidup dalam kegelapan dan penuh penyiksaan, membuat insting mereka jauh lebih tajam.


Seraya menangis dan melirik ke arah Hansen, semua orang bergumam di hati mereka, "Syukurlah," tampang lega akan gambaran selesainya penyiksaan mereka pun tak dapat disembunyikan lagi. Awalnya sepanjang perjalanan, mereka begitu putus asa karena tak tahu akan dibawa kemana. Marsekal Leo sengaja tak menceritakan hal tersebut karena ingin memperlama perasaan putus asa itu selagi belum terbebaskan. Rasa dengki akan pencapaian kelompok Red Eagle, sudah menutupi hati nuraninya sejak lama.


"Lepaskan belenggu mereka!"


"Dan bawa ke tempat perawatan!" Hansen mengepal erat kedua lengannya sembari menahan amarah yang menggebu gebu. Ingin rasanya dia menghabisi Marsekal Leo saat itu juga, namun rasa khawatir akan keadaan bawahan teman temannya jauh lebih besar akan amarah itu.


Prajurit Angkatan udara yang datang bersama Marsekal Leo, nampak tak senang dengan kondisi tersebut. Semua nampak jelas dari cara mereka mendecih dan memperlambat proses pelepasan. Bagaimanapun, bawahan menggambarkan sifat pimpinanannya.


Singkat cerita satu demi satu orang yang nampak masih sanggup berjalan, melangkah maju dengan tubuh yang terbebas dari belenggu rantai maupun borgol yang mengganggu. Meski begitu, bekas lebam akibat belenggu borgol yang cukup kencang membekas begitu tebal di kelima anggota tubuh mereka. Baik kedua tangan, kaki maupun leher, semuanya memiliki bekas tekanan belenggu.


"Maaf karena tak menyadari derita kalian lebih awal," Hansen menepuk perlahan pundak tahanan pertama yang baru keluar dari mobil. Matanya nampak berkaca kaca, dengan tangan yang gemetar dan gigi yang menggertak. Nampak jelas bahwa Hansen merasakan begitu banyak emosi yang hampir tak terbendung lagi.


"..." tahanan itu hanya bisa tersenyum dengan wajah yang dibasahi bekas aliran air mata, yang perlahan kembali terbasahi lagi oleh tangis kebahagiaan. Hal yang sama juga terlukis di wajah empat orang lainnya. Semuanya nampak ingin mengangkat suara, namun terlihat tak mampu. Apalagi kelima orang sisanya yang nampak di angkut dengan tandu karena tak sanggup bergerak sama sekali.


'Hanya karena dia seorang Holder yang diijinkan menghukum pelanggar aturan negara, beraninya dia melakukan ini!'


'Ini benar benar kejam!'


'Padahal kesalahan mereka hanya berhenti dari militer, dia malah menyiksa mereka seperti mainan!' Hansen mengepal erat kedua lengannya sembari melirik sang Marsekal besar. Tatapannya nampak penuh kebencian, dan bagi semua orang Hansen nampak sedang ingin mengungkapkan maksud tatapan tajamnya itu.


'Akan kubunuh kau!' itulah kata yang terlintas di pikiran Marsekal Leo saat melihat tatapan keji Hansen. Tapi kata kata ini bukanlah kata katanya, melainkan perkiraan kata yang sedang dipikirkan Hansen. Meski pernah bermusuhan di masa lalu, ini adalah kali pertamanya sang Marsekal merasakan niat membunuh Hansen yang menggebu gebu dengan dirinya sebagai incaran. Niatnya begitu tajam hingga menusuk ke dalam hati melebihi kemarahannya di masa lalu. Rasanya perasaan benci dan haus darah Hansen saat ini, sudah menyamai perasaan benci saat dimana dia mendapati kebenaran tentang ibunya yang tiada.


'Amarah itu ... , sudah lama aku tak merasakannya semarah ini selain kepada Zero. Sepertinya Marsekal Leo tak akan bertahan lama,' Jenderal Besar Hanan hanya terdiam dan mengamati keduanya.


'Aku sangat yakin kalau lima orang itu dalam keadaan terbaiknya sebelum dimasukkan ke dalam mobil tahanan!'

__ADS_1


'Siapa yang menyiksa mereka hingga babak belur begitu!' Marsekal Leo hanya bisa gemetar ketakutan sembari menerka nerka apa yang terjadi. Semua karena lima tahanan yang masih sanggup berjalan, seharusnya tak memiliki luka separah itu, di tambah lagi semua lukanya nampak begitu baru yang bisa membuat orang berpikir bahwa sang Marsekal atau bawahannya, menyiksa para tahanan tepat sebelum dilepaskan.


Tap tap tap! Hansen melangkah mendekat dan berkata, "Ayo lakukan pertarungan antar Holder!"


"Bu ... bukan aku yang melakukannya sungguh!"


"Hiiiikk!" Marsekal Leo ketakutan saat Hansen mencengram kerahnya. Tubuhnya gemetar begitu kencang begitupun detak jantungnya. Sedangkan matanya yang terbelalak karena ketakutan, terus berkedut bersamaan dengan alisnya.


"Aku tak peduli dengan pembelaanmu!"


"Setujui atau mati!" Hansen menatap tajam sang Marsekal.


"Bu ... bunuh saja aku!"


"Ada CCTV dan banyak saksi disini!"


"Meskipun kau seorang Holder, bukan berarti kau bisa membunuh sembarang orang!"


"Membunuh Holder lain, sama halnya dengan membunuh dirimu sendiri!"


"Bahkan rubah tua itu, tak akan bisa menolongmu lagi!" Marsekal Leo menjawab dengan tubuh gemetar dan pandangan putus asa.


"Dia berkata benar!"


"Kau hanya akan terlibat masalah jika membunuh Holder Lain diluar Holder Combat!"


"Holder Combat?"


"Ah maksudmu pertarungan antar Holder?"


"Memangnya kenapa?"


"Bukankah ini program yang dibuat rubah tua itu?" Hansen melonggarkan cekikannya.


"Memang betul bahwa presiden yang mengesahkan program kebal hukum di negeri ini!"

__ADS_1


"Tapi bukan dia yang memutuskan aturannya!" Jenderal Besar Hanan menjelaskan. Sementara Hansen perlahan melepas cekikannya dan berkata, "Kenapa begitu?" Wajahnya masih nampak begitu emosi, namun berusaha keras menahan diri karena penasaran akan maksud ucapan Jenderal Besar Hanan.


"Karena sebenarnya lencana kebal hukum dan aturan Holder, dikeluarkan oleh PBB sebagai bentuk kesepakatan bersama!"


"Jika kau melanggar salah satu aturannya, Holder negara lain mungkin akan mulai memburumu untuk mencabut otoritas serta nyawamu!"


"Ingatlah, kekuatan negara kita saat ini tak dapat menahan serangan negara lain!" Jenderal Besar Hanan memperingatkan.


"Jika memang begitu, lalu apa yang harus kulakukan terhadap emosiku ini!" Hansen membanting Marsekal Leo hingga menghantam tanah dengan begitu keras. Lalu menginjak injaknya dengan penuh emosi.


"Khuggghhh!!!" Marsekal Leo memuntahkan begitu banyak darah dari mulutnya dan menderita luka lebam beserta luka gores dimana mana.


"Ada aturan yang menjelaskan kalau tantangan dari seorang Holder tak bisa ditolak lebih dari tiga hari. Kau hanya harus mengajukan tantangan di situs resmi dan jangan mencabutnya hingga melebihi batas toleransi. Jika Marsekal Leo tak datang hingga melewati batas tiga hari, maka otoritasnya sebagai pemegang Holder akan dicabut saat itu juga!" Jenderal Besar Hanan menjelaskan dengan serius.


"Dengan kata lain, jika aku mengajukannya saat ini, dia akan kehilangan otoritasnya dalam tiga hari di masa mendatang. Dan aku bisa bebas menghabisinya setelah dia kehilangan otoritasnya sebagai Holder, bukankah begitu, Jenderal?" Hansen menatap jenderal besar Hanan dengan senyum licik penuh amarah. Sedangkan kakinya masih terus menekan nekan tubuh sang Marsekal dengan penuh kekesalan.


'Sialan!'


'Kenapa Hanan malah memberi tahunya hal itu!'


'Dia benar benar sudah gila!'


'Bukankah dia sendiri tahu kalau militer sedang hancur!'


'Jika aku dihabisi, siapa yang akan menggantikan posisiku!' Marsekal Leo melirik Jenderal Besar Hanan dengan begitu kesal.


'Maafkan aku Marsekal Leo, perbuatanmu sudah tak bisa dimaafkan lagi. Hawa membunuh seperti saat hendak menghabisi Zero, sudah ditargetkan kepadamu. Lebih baik aku mengorbankan baj1ng4n sepertimu dari pada harus kehilangan kekuatan besar seperti Tuan X!' Jenderal Besar Hanan menatap sang Marsekal tanpa sebuah rasa penyesalan.


"Kirimkan pengajuan Holder Combatku terhadap Marsekal Leo ke situs resmi, Lakukanlah sekarang juga!" Hansen menatap jenderal besar Hanan, lalu pergi menuju ke ruang mantan anggota red Eagle yang baru saja dibebaskan dan sedang mendapat perawatan luka.


"Baiklah!" Jenderal Besar Hanan mengangguk dan pergi meninggalkan lapangan.


Disaat semua tentara angkatan darat sudah pergi, para bawahan Marsekal Leo segera mendekat dan berkata, "Kau tak apa apa Pak!"


"Bantu angkat aku kembali ke markas!"

__ADS_1


"Dan selidiki dalang dibalik luka kelima tahanan itu!" tegas Marsekal Leo dengan kesal.


"Baik pak!" para prajurit memberi hormat dan segera melaksanakan tugas mereka. Dan diantara prajurit angkatan udara itu, terdapat beberapa prajurit yang bergumam, 'Semuanya demi dunia yang baru!' senyum jahat yang khas terlukiskan di wajah mereka.


__ADS_2