Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 111 : Keputusan Hansen


__ADS_3

Pintu ruangan kembali terbuka, Theo melangkah masuk dengan tampang serius. Nampak jelas bahwa dia sudah mendengar semua kondisi Cindy meski tak ikut masuk ke dalam ruangan.


"Jadi, apa keputusanmu sekarang komandan?" tanya Theo dengan serius.


Hansen masih mengepal erat kedua tangannya sembari menatap Cindy yang terbaring tak berdaya.


"Tunjukkan jalan menuju kelompok perompak!" Hansen membalas dengan tegas.


"Tactic Eagle sudah berkata kalau dia tak ingin ikut campur, pengecut itu bilang kalau menyerang di satu titik hanya akan menimbulkan kerugian saja," sambung Theo dengan wajah kesal.


"Apa dia tahu kalau ada seorang anggota five foundation di negara ini?" tanya Hansen memastikan.


"Tidak! Tak ada satupun anggota perompak termasuk diriku yang tahu informasi itu. Dari mana anda mengetahui informasi ini? Apakah itu dapat dipercaya?" Theo mencoba memastikan.


"Dari seorang pria tua yang menyebut dirinya kakekku," Hansen membalas jawaban Theo tanpa berbalik badan menghadapnya.


"Kau punya kakek?" Theo nampak tersentak.


"Lupakan itu! Pimpin saja jalannya!" Hansen berbalik dengan mata yang berubah menghijau sejenak yang kemudian kembali ke warna normal.


'Apa aku salah lihat tadi? Mata komandan sejenak terlihat menghijau!' Theo menyipitkan matanya. Dia meragukan hal yang baru saja dia lihat karena kejadiannya terjadi hanya sekejap mata.


'Sepertinya aku harus mengurangi waktu menatap layar komputer,' pikir Theo sembari menghela napasnya. Sembari berbalik pergi meninggalkan ruangan. Diikuti oleh Hansen yang berdiri tak jauh darinya.


Di luar ruangan, tepatnya di sebuah koridor yang panjang, Hansen dan Theo berpapasan dengan Weapon Eagle. Theo dan Hansen tak menyadari keberadaannya karena terlalu larut dalam pikiran mereka. Hansen tenggelam dalam pikiran karena situasi adik dan ucapan Ron, sementara Theo larut dalam kekhawatirannya terhadap Mr W yang sudah dia anggap sebagai kawan sparring sekaligus rivalnya.


"Kemana kalian mau pergi?"

__ADS_1


"Apa aku, boleh ikut?" tanya Weapon Eagle yang merasa agak kesal karena terabaikan.


"Ah ... , maaf karena tak menyadari keberadaanmu," Hansen segera menghentikan langkahnya ketika suara Weapon Eagle terdengar jelas di telinganya.


"Akan panjang jika diceritakan sekarang, jika kau begitu penasaran, ikuti saja kami," Theo membalas dengan dingin.


"Apa apaan dengan wajah menyebalkan itu! Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Weapon Eagle nampak penasaran. Sementara Theo hanya mengabaikan dan melanjutkan langkahnya, "Tidak bagus bagi kita membuang buang waktu sekarang! Kelompok perompak selalu berpindah pindah lokasi untuk menghindari pembersihan masal! Jika kita terlalu lama aku takut kita akan kehilangan jejak mereka!"


"Apa kalian berencana untuk menarik kembali Tactic Eagle dan yang lain? Kalau begitu ijinkan aku untuk ikut!" Weapon Eagle yang kala itu sedang duduk di kursi koridor langsung berdiri dengan tatapan serius.


"Kau diam saja di sini dan urus perlengkapan damaskus! Siapkan senjata, jirah dan perisai sebanyak mungkin selagi kami pergi! Dalam dua minggu ini, kita akan berperang melawan Number!" Hansen membalas dengan tegas, meninggalkan Weapon Eagle dengan terburu buru.


Sementara itu di lantai dua Shelter, Zaskia yang baru mendapat kabar kembalinya Hansen, bergegas menuju lantai atas Shelter untuk menjumpainya.


"Zaskia?" Hansen melihat Zaskia sejenak saat pintu lift yang dia masuki hendak menutup.


Di sisi lain, Jendral Fahar sedang membahas keadaan militer dengan para bawahannya dan Rosa Riyadi yang memiliki hak untuk mengetahui apa yang menimpa suaminya. Sayangnya percakapan mereka tak sengaja di dengar oleh Amelia yang kala itu sedang berjalan jalan di luar kamar.


"Tidak mungkin!"


"Aku pasti salah dengar kan?" Amelia menutup mulutnya dengan air mata dan tubuh yang gemetar. Sangat wajar baginya begitu terkejut, karena ayah yang baru baru ini dekat dengannya telah ditangkap dan disandra oleh Number, kelompok pemberontak aturan negara yang terkenal tiada ampun terhadap siapapun yang menghalangi rencana mereka.


"Apapun yang kau barusan dengar, tolong jangan ceritakan pada kakakmu!" Rosa Riyadi nampak panik dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Tapi gagal menarik putrinya yang segera pergi menuju ke kamar Andini tak lama setelah mendengar kabar tentang ayahnya.


'Aku harus memastikan cerita ini belum sampai ke telinga kakakku!' Amelia segera berlari menuju kamar Andini karena takut kondisi mentalnya semakin memburuk apabila tak sengaja mendengar fakta mengenai kondisi ayahnya.


Sayangnya, tepat ketika Amelia baru memasuki kamar, Andini sudah melihat kondisi ayahnya yang telah menjadi sandra dan dicuci otaknya oleh Number. Betapa terpukulnya Andini kala itu, karena orang yang mengirimi video mengenai kondisinya ialah Herry Wijaya yang belakangan ini menjadi sosok dibalik rasa frustrasi Andini.

__ADS_1


Ponsel pintar di tangan Andini terlepas begitu saja dan jatuh dalam posisi terbuka, membuat Amelia sanggup melihat isi dari video yang Herry wijaya kirim.


"Hei pak tua, kemana perginya otakmu? Kenapa hanya mengulang kata yang sama terus menerus? Sapalah putrimu meski hanya sekali," ejek Herry melalui video singkatnya.


"Semuanya demi dunia yang baru!" Mr W hanya mengulang kata kata itu ketika ditanya berulang kali. Tatapan matanya nampak begitu kosong, hingga mengiris hati kedua putrinya yang tak sanggup melihat kondisi ayahnya.


"Terkutuk kau, Herry Wijaya!" Amelia berteriak kesal sembari menginjak hp Andini hingga hancur karena kesal dengan isi video yang masih terputar.


Sementara itu di tempat lain, Hendra Pratama memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dengan presiden Gibran. Keduanya sepakat untuk membereskan Number terlebih dahulu, demi memastikan agar Law Breaker tak turut campur atau bahkan menghancurkan negara yang mereka tinggali.


"Apakah anda benar benar akan membiarkan hal ini begitu saja, tuan?" tanya seorang pria bersetelan ilmuan di samping pria beramput pirang.


"Kau tahu kan, kalau aku lebih suka menonton hal seru dari pada membuat keributan tak perlu. Aku hanya perlu menetap disini sembari menonton agar anggota lain tak mengacau kesenanganku. Bukankah ini juga menarik bagimu? Kapan lagi kita melihat dua kekuatan besar bertabrakan karena berbeda pendapat!" pria berambut pirang menjawab dengan senyum jahatnya.


"Dua kekuatan besar yang mana yang anda maksud?" tanya ilmuan di sampingnya.


"Number dan para pensiunan veteran perang yang sudah dianggap sebagai legenda!"


"Kelompok orang berbahaya yang dipimpin oleh mantan tuan muda dari keluarga Jaya Chandra, Kelompok Naga emas!" Pria pirang itu tersenyum girang.


"Apa kau yakin mereka akan kembali!" tanya ilmuan disamping pria pirang dengan penasaran.


"Tentu saja aku sangat yakin! Karena membawanya kembali juga ada dalam rencanaku!" Pria berambut pirang tersenyum girang.


'Jadi semua ini adalah hasil rencananya? Tapi bagaimana dia mengatur semua ini?' pikir ilmuan do samping pria pirang dengan penasaran. Dia mungkin bekerja di bawah pria pirang tersebut, tapi tidak hatinya. Karena sejak awal semua ilmuan yang bertugas untuk melakukan percobaan atas nama Law Breaker ialah orang orang dari keluarga Jaya Chandra.


'Kuharap tuan besar segera menemukan jejak di mana Nyonya besar disembunyikan. Dengan begitu keluarga Jaya Chandra tidak perlu melakukan kegiatan busuk seperti ini terus!' Ilmuan di samping pria pirang nampak larut dalam pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2