Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 78 : Perburuan Demon Eagle


__ADS_3

"Kakak?" Amelia terkejut saat berpapasan dengan Andini yang baru saja keluar dari kamar dimana Hansen dirawat. Matanya nampak sayu seakan habis menangis. Melihat kakak yang biasanya acuh terhadap Hansen menangis, tentu saja membuat Amelia panik bukan main. Dia segera masuk menuju ke tempat Hansen, di ikuti oleh Hendra pratama dan yang lainnya.


"Tolong temani putriku!" Mr W meminta bawahannya saat berpapasan dengan Andini yang pergi entah mau kemana.


"Biarkan aku saja yang menjemput menantu," Hendra Pratama berhutang banyak pada Andini. Dia begitu memujanya karena sempat menjadi penyambung hidup Cindy saat Hansen masih menyembunyikan identitasnya. Dia juga belum mengetahui kerenggangan hubungan antara Hansen dan Andini yang diperjelas dengan hamilnya Zaskia. Semua karena selama ini, dia hanya menghabiskan waktu di sekitar Cindy Pratama yang terus tak sadarkan diri hingga saat ini.


"Bukankah melihat putramu lebih penting dari pada itu?" tanya Mr W heran.


"Aku berhutang banyak pada putri Anda, meski aku tak tahu kisah lengkapnya, yang jelas putri Anda telah menyambung hidup putriku. Matanya terlihat sedih tadi, aku yakin dia khawatir kalau Hansen akan ... ," saat Hendra Pratama belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hansen berjalan keluar hingga mengejutkan Amelia dan yang lainnya.


"Aku akan apa?" tanya Hansen sembari menatap ke arah ayahnya. Mr W, Jenderal Besar Hanan, Dion, Amelia dan bahkan dokter yang memeriksa Hansen beberapa menit yang lalu tersentak kaget saat melihat Hansen berjalan dengan kedua kakinya. Dengan reflek semuanya pun memeluk Hansen, kecuali sang dokter yang masih bingung akan apa yang dia lihat. Dia terlihat linglung hingga perlahan duduk dan berkata, "Aku pasti sedang bermimpi, jelas jelas tadi dia .... " Sang Dokter perlahan mulai meragukan kemampuannya, karena kejadian tersebut hingga berkata, "Nampaknya aku perlu pensiun lebih dini, apakah aku berdelusisaat memeriksanya tadi?"


Saat Sang Dokter sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri, Hansen kebingungan mencari keberadaan Theo yang tak dapat dia lihat saat itu.


"Apa ada yang tahu, dimana Demon Eagle?"


Hendra Pratama yang saat itu sedang memeluk Hansen segera mencubit perutnya sembari berkata, "Dari sekian banyak orang, kenapa kau malah mencari bocah kasar itu!"


"Setidaknya tanya lokasi istrimu dulu!"


"Ah ... , bukan begitu maksudku Ayah!"


"Hanya saja aku sudah bertemu Andini tadi, sementara Demon Eagle .... " Hansen mulai menunjukkan tampang khawatir karena Theo yang kini sudah dekat dengannya, tak mungkin untuk mengabaikan kondisinya saat terluka seperti tadi. Dia merasa ada yang janggal hingga berkata, "Jika tak ada yang tahu, maka akan kucari tahu sendiri!"


"Hei, kau baru saja terluka tadi!"


"Jangan pergi sembarangan!"


"Istirahat saja oke?" Hendra Pratama mencegah kepergian Hansen, sementara Mr W menanggapi dengan berkata, "Biar aku yang mencarinya, lebih baik kau istirahat saja dulu!"

__ADS_1


"Baik, Ayah mertua," jawab Hansen tanpa membantah.


Sementara itu di sisi luar stadion, Theo nampak berusaha bersembunyi dibalik kumpulan mobil mobil yang terparkir. Sementara Drone Drone Law Breaker entah mengapa terus berkeliaran di langit langit parkiran di mana Theo berada.


'Sial!'


'Sepertinya aku sudah ketahuan!'


'Kalau aku terus berada di sekitar pak tua itu, atau bahkan komandan, aku takut mereka akan diincar juga!'


'Sial! Sebenarnya siapa sih yang diam diam menjadikan tubuhku sebagai bahan percobaan!'


'Apa motifnya dan sejak kapan tubuhku diteliti!' Theo bergumam kesal sembari berteriak di dalam hatinya.


Woooshhh ... Langit seketika menjadi gelap, Theo yang sembunyi di bawah kolong mobil menyadari hal itu saat bayangan para Drone yang terkena sinar matahari perlahan lenyap tertutupi kegelapan.


"Sagase!!" ucap H dengan logat bahasa jepang.


'Sial!'


'Mereka benar benar mencariku!' Theo terus meringkuk sembari mengamati kaki kaki anggota Law Breaker yang nampak sedang menyortir mobil demi mobil dengan membalik dan melemparnya hingga menjadi tumpukan rongsokan. Dia terus berguling ke kolong mobil lain apabila mereka mulai mendekat. Hingga akhirnya sampailah dia ke mobil yang terujung.


Tap tap tap!!


"Mitsuketa!" H berjalan pelan menuju mobil yang terakhir, jantung Theo terasa mau copot saat itu hingga akhirnya saat H mengangkat mobil yang terakhir ...


Wooshh!!! Brakkk!!! Mobil terakhir dilemparkan ke tumpukan mobil lainnya. Anehnya ... , Theo tak ada disana.


Tak lama setelah itu, sekumpulan drone berwujud elang menembaki semua drone Law Breaker satu demi satu hingga membuat jengkel H dan yang lainnya. Tak cukup sampai di situ, Drone dalam wujud elang elang merah itu juga menembaki para Yakuza lalu memancing mereka untuk mengikuti.

__ADS_1


H yang tahu bahwa itu jebakan, memutuskan untuk menghubungi satu pilot di salah satu pesawat tempur mereka untuk mengejar dan membasmi drone drone itu. Sementara sisa pilot lainnya diminta untuk menurunkan tali, agar para Yakuza termasuk dirinya dapat naik kembali.


"Kejar!" ucap H dalam bahasa jepang.


Singkat cerita H dan rombongannya keluar, sementara Theo yang sedari tadi terdiam di tempatnya perlahan membuka mata dan dikejutkan oleh wajah yang tak asing. Kawan lama yang selama ini sedang dia cari cari. Meski Wajahnya selalu berubah ubah karena hobi sekali menyamar, cara menyapanya yang khas membuat Theo segera menyadari. Bibir kanan yang sedikit menyeringai, diikuti oleh kedipan mata kanan.


"Zafar!" Theo tersentak hingga sedikit meninggikan suaranya.


"Lama tak bertemu Demon Eagle!" Zafar menyeringai tipis sembari mengedipkan mata kanannya sekali.


"Bagaimana kau bisa disini?"


"Dan kenapa aku tak tertangkap tadi?"


"Padahal jelas jelas aku berada di depannya, dan sekarang pun aku masih di posisi yang sama!" Theo bertanya karena saking paniknya. Kepanikan serta ketakutan Theo sudah membuatnya melupakan keahlian Zafar yang dikenal sebagai seorang pria berbahaya yang mampu menipu mata, sang ilusionis dan pesulap jenius yang sulit untuk ditangkap, atau biasa juga disebut sebagai Danger Eagle!


"Apa kau sudah melupakan keahlianku, kawan lama?"


"Atau rasa takutmu sudah membuatmu melupakan segalanya?" ledek Zafar dengan mata merahnya.


"Kau juga!?" Theo terkejut saat melihat mata Zafar yang tiba tiba saja memerah.


"Ah ... aku masih saja ceroboh dan kesulitan menutupi mata merepotkan ini. Maaf jika mengejutkanmu, kau pasti kaget kan saat melihat mataku tiba tiba bisa sepertimu?" tanya Zafar dengan mata merahnya. "Aku juga kaget waktu di awal, bagaimana bisa mataku tiba tiba saja menjadi mirip dengan versi kasarmu. Oh iya, ngomong ngomong di mana kacamatamu?"


Theo menutup mulut Zafar dengan telapak tangannya. Dengan Wajah yang terlihat sangat kesal, dia pun berkata, "Kebiasaan mengocehmu benar benar tak berubah ya, Danger Eagle!"


"Hei ... singkirkan tangan kotormu dari mulutku!"


"Tanganmu bau Oli tahu!" Danger Eagle menampik tangan Theo dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2