Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 48 : Shelter 2


__ADS_3

Setelah bertukar tinju dengan Jenderal besar Hanan, Hansen melatih semua pasukan yang bertugas di tempatnya berlatih. Tentunya latihan tersebut terasa cukup keras bagi mereka yang bukan merupakan anggota red Eagle. Saking lelahnya mereka, semua orang terkapar tak berdaya seperti halnya jenderal besar Hanan sebelumnya.


"Pantas saja negara melemah, ternyata kalian bermalas malasan ya selama ini!" Hansen mendecih sembari menatap para pasukan yang terkapar lemas.


Sementara prajurit yang bertugas mengatur tingkattekanan gaya gravitasi segera mengembalikan tingkat tekanannya ke tingkat normal dengan menekan tombol anak panah yang menurun.


Tempat latihan tersebut berbentuk seperti lapangan gladiator dengan sentuhan futuristik. Lapangannya membentuk lingkaran dengan dinding baja setinggi empat meter. Di balik dinding dinding tersebut terdapat delapan pintu tersembunyi yang otomatis terbuka setiap kali tekanan gravitasi di lapangan latihan diturunkan ke angka satu.


Karena latihan telah selesai, delapan buah sekat ruangan yang tersebar di dinding baja pun mulai terlihat. Dibalik sekat ruangan ruangan itu, nampak jelas sebuah anak tangga yang mengarah menuju tempat pengamat yang dipenuhi kursi seperti halnya kursi penonton di colossium gladiator.


Setelah selesai berlatih, Hansen berjalan masuk melalui salah satu sekat ruangan dan menaiki anak tangga di dalamnya. Ruangannya nampak diselimuti cahaya redup, dan jumlah anak tangga tidak terlalu banyak karena hanya berjarak empat meter dari lapangan latihan.


Di ujung anak tangga, nampak langit langit yang menyatu dengan dinding tangga. Terlihat begitu rapat hingga bagaikan jalan buntu. Untuk menyingkirkan langit langit yang merupakan jalan keluar rahasia tersebut, tentu saja memerlukan akses khusus berupa sensor khusus yang akan muncul disaat seseorang menginjakkan kaki di anak tangga ke sepuluh dari atas langit langit.


Sinar merah bagai laser pun menghujani tubuh Hansen kala itu. Dan selang beberapa detik, langit langit yang menghalangi jalan keluar pun tergeser secara otomatis. Cahaya terang di balik langit langit tersebut pun terekspos.


Tap tap tap! Hansen melangkah keluar dan menginjakkan kakinya di atas karpet merah yang memanjang membatasi jajaran kursi pengamat. Saat itu posisinya berada di karpet merah yang mengarah ke arah barat. Karpetnya menanjak seperti halnya kursi kursi pengamat yang sengaja dibuat menanjak agar dapat menonton prajurit yang berlatih. Saat itu dari sekian banyaknya kursi, hanya jenderal besar Hanan dan tim medis yang sedang duduk dan mengamati tepat disebelah kanan posisi Hansen. Sedangkan di ujung karpet merah terdapat seorang prajurit yang sedang menjaga pintu utama lantai Shelter tersebut.


Jauh di kursi terujung di sebelah utara, nampak jelas seorang prajurit yang bertugas menjaga dan mengatur kontrol gravitasi. disebelah kiri prajurit tersebut tertutup tembok baja yang terhubung hingga melingkari sebagian besar tempat terujung kursi pengamat. Tembok baja tersebut berfungsi sebagai pemisah sekaligus pembatas ruang gerak penyusup. Dimana tembok itu melingkar cukup dominan hingga kursi pengamat di bagian paling selatan.


"Apakah kau ini masih seorang manusia!?"

__ADS_1


"Aku saja yang sudah istirahat setelah bertukar gerakan denganmu masih selelah ini. Bagaimana bisa kau masih memiliki tenaga untuk berjalan bahkan setelah berlatih dengan mereka semua!?" Jenderal Besar Hanan mengoceh dengan terengah engah.


"Berlatihlah yang benar mulai sekarang!?"


"Kau pasti akan menyentuh levelku suatu hari nanti!" Hansen melirik sebentar saat menghentikan langkahnya. Lalu berjalan kembali menuju ujung karpet merah.


"Apakah kau ingin langsung beristirahat di asrama?" Jenderal besar Hanan menoleh ke arah punggung Hansen.


"Apa aku perlu memberi tahumu?" Hansen mengancam dengan tatapan tajam. Jenderal besar Hanan yang memiliki rasa takut terhadap Hansen pun segera menciut dan terdiam kaku. Hansen yang melihat reaksi sang jenderal hanya bisa menawan tawa dan kembali melanjutkan langkahnya. "Pfft!"


"Aku akan menemui ayahku hari ini, hubungi saja aku lewat ponsel atau earpiece jika ada hal penting!" Hansen terus melangkah sembari melambaikan tangannya.


Singkat cerita, earpice yang merupakan alat bantu komunikasi yang ditempatkan ditelinga pun terpasang di telinga Hansen. Sedangkan ponselnya , langsung segera dia kantongi.


"Apa ada kabar penting mengenai kondisi orang orangku?" tanya Hansen.


"Selain nona Andini yang tertangkap basah berusaha kabur, tak ada berita lain," jawab prajurit itu.


"Mencoba kabur lagi!?" Hansen menepuk dahinya dengan pelan dan penuh rasa jengkel. "Ya sudah, aku pergi dulu ke lantai bawah untuk melihat kondisinya secara langsung." Hansen berjalan menuju menuju ke arah selatan. Yang menunjukkan sebuah koridor berbataskan dinding baja yang menyentuh langit langit. Karena terbuat dari baja, kursi pengamat yang berada di balik dinding tersebut pun tak dapat dilihat. Seperti halnya kursi pengamat, jalanan di koridor tersebut sengaja dibuat melingkar dan cukup panjang. Untungnya penerangan disana cukup bagus sehingga Hansen dapat melihat ujung koridor dengan jelas. Meskipun tinggi ruangan hanyalah dua setengah meter, jarak antar dinding baja cukuplah luas karena mencapai angka lima meter. Sedangkan jarak menuju ujung koridor yaitu sepanjang sepuluh meter.


Dinding baja yang dilewati Hansen dipenuhi oleh tulisan keep out yang artinya tetap menjauh. Hal tersebut menjelaskan bahwa jalan itu akan menuju ke tempat terlarang yang tidak dapat diakses oleh sembarang orang. Di ujung koridor pun terdapat sepasang pintu besar yang dijaga ketat oleh dua orang elit. Di permukaan pintu tersebut pun tertulis kata 'Keep Out!'

__ADS_1


Setelah melihat kedatangan Hansen, tentunya kedua elit tersebut segera memberi hormat kepada Hansen dan membiarkannya lewat begitu saja.


Setelah pintu Keep Out terbuka, koridor lain yang masih nampak luas pun kembali terlihat. Bedanya kali ini terlihat dua pasang pintu bertuliskan Exit.


Pintu pintu itu dijaga oleh empat orang elit yang masing masing berjaga di tiap sisi kanan dan kiri pintu.


Setelah melihat kehadiran Hansen, tentunya para elit tersebut segera memberi hormat. Sedangkan Hansen terus melanjutkan langkahnya dan menempelkan sidik jari yang terpampang jelas disisi kanan pintu. Saat itu, Hansen membuka pintu keluar di sebelah kiri. Karena dibalik pintu kanan hanya berhiaskan tangga yang harus dilewati secara manual.


Titt.... Pintu lift terbuka, dan Hansen pun melangkah masuk.


Klakk! pintu lift tertutup otomatis.


"Menuju lantai enam!" ucap Hansen sambil menempelkan sidik jarinya ke tempat scan sidik jari yang menempel disamping kanan tombol tombol bersimbol angka.


"Perintah diterima!" suara sistem terdengar dari speaker di langit langit lift tersebut.


Titt ... , singkat cerita lift pun terbuka kembali, dan Hansen langsung melangkah keluar. Empat elit yang berjaga di balik pintu tersebut pun berfokus pada lift dan segera memberi hormat setelah diketahui Hansen yang datang.


"Selamat datang di lantai enam Shelter, tuan X!" para elit memberi hormat.


"Lanjutkan tugas kalian!" Hansen membalas hormat mereka lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2