
"Andini!?" Hansen berpapasan dengan Andini saat keluar dari ruang Cindy dirawat. Wajahnya nampak bingung karena hal pertama yang Andini lakukan saat bertemu dengannya ialah menarik kerah dengan penuh emosi.
"Aku tak peduli seberapa berpengaruh dan kuatnya dirimu!"
"Tapi tolong jangan mengurungku dengan dalih untuk melindungiku!!" Andini nampak begitu kesal hingga meninggikan suaranya.
"Aku benar benar tak bermaksud mengurungmu sungguh!!"
"Tolong percaya padaku, aku melakukan ini karena kemungkinan nyawamu akan terancam apabila berkeliaran di luar sana dalam situasi saat ini!" Hansen mencoba membuat Andini mengerti, namun Andini yang sudah dibutakan oleh rasa khawatir terhadap keadaan ibunya mengabaikan ucapan Hansen hingga berkata,
"Bagaimana mungkin aku mempercayai ucapan seorang pembohong sepertimu!"
"Aku sungguh terkejut saat mendapati fakta betapa tingginya statusmu di negara ini. Mungkinkah selama ini kau hanya bermain main denganku!?" Andini menatap Hansen dengan penuh kekecewanan.
"A ... aku tak bermaksud menyembunyikan statusku ... , sungguh!"
"Aku tak pernah berpura pura tak berdaya, dan tak memiliki niat untuk kembali ke dunia militer!"
"Jika bukan karena orang itu, aku mungkin akan ... ," Hansen nampak ragu menjelaskan bahwa alasan dia kembali adalah karena dendam dan rasa was was akan keselamatan keluarganya. Andini yang sadar bahwa Hansen menyembunyikan fakta lain, semakin merasa kesal dan menarik kesimpulannya sendiri.
"Cih!"
"Berhenti memasang wajah tak berdaya itu!"
"Kembalikan saja ponselku dan biarkan aku keluar dari sini!!" Andini mendorong mundur Hansen dengan penuh emosi.
"Itu ... ," Hansen nampak ragu.
"Cepat lakukan saja permintaanku!"
"Kemungkinan Ibuku sedang dalam bahaya saat ini!" Andini berteriak kesal.
"Kau hanyalah orang biasa yang tak memiliki koneksi dengan intel serta ahli informasi!"
"Memangnya apa yang bisa kau dapatkan dengan menggunakan ponselmu!?" Hansen mencoba membuat Andini menyadari ketidak mampuannya.
"Biarkan aku saja yang mengurus segalanya. Kau cukup diam disini hingga aku menemukan ibumu!" Hansen menepuk pundak Andini dengan pelan.
__ADS_1
"Memangnya kau tahu apa tentangku!!" Andini berteriak kesal sembari menampik tangan Hansen dari pundaknya.
"Aku bukanlah seorang tanpa hati nurani sepertimu!" Andini sangat kesal karena mengira Hansen berusaha menutupi statusnya sebagai orang penting negara hanya demi mendapatkan perhatian dia dan ayahnya, hingga dapat menjalin pernikahan kontrak dengannya meski mengorbankan keselamatan adiknya yang sakit keras dan memerlukan penanganan khusus. Dia juga berpikir bahwa Hansen ialah pria kaya yang memanfaatkan adiknya yang sakit parah untuk dijadikan alasan memerlukan banyak uang yang darinya.
"Apa maksudmu!?" Hansen nampak bingung dengan pernyataan Andini.
"Menjijikan!"
"Berhenti berpura pura tak tahu!"
"Bukankah kau tipe orang yang rela mengorbankan keluarga sendiri demi memuaskan hasratmu!?" Balas Andini kesal.
"Maaf!?" Hansen semakin bingung akan maksud ucapan Andini.
"Cih!"
"Kau benar benar pria yang terburuk!" Andini menyambar ponsel Hansen yang teelihat jelas di kantung pakaiannya.
"Apa yang kau!?" Hansen mencoba merebut kembali ponselnya, namun segera menghentikan aksinya setelah melihat Andini menyambar pisau yang sebelumnya disarungkan di kaki salah seorang prajurit yang mengawalnya menemui Hansen. Sembari mengancam akan menebas lehernya sendiri apabila Hansen berani mendekat, Andini berhasil mendapat ijin menggunakan ponselnya. "Jika kau tak mau mengembalikan ponselku, maka biarkan aku memakai ponselmu!!"
"Jika kau tetap melarangku, maka aku akan menghabisi diriku sendiri!"
"Tidak baik bermain main dengan nyawa!" Hansen nampak panik dan berusaha mendekat, namun dia segera berhenti saat mendapati andini benar benar mendekatkan pisaunya ke leher sendiri hingga membuat lehernya perlahan tergores. Karena tak dapat melawan ego Andini lagi, Hansen pun memutuskan untuk mundur.
Ketika Hansen sudah melangkah mundur dan tak menunjukkan tanda tanda akan merebut kembali ponselnya, Andini segera menyingkirkan pisau dari lehernya, dan langsung menghubungi seseorang melalui ponsel Hansen.
'Siapa yang ingin dia hubungi dalam keadaan semendesak ini!?' batin Hansen penasaran.
"Halo, ayah!?"
"Apakah berita itu benar!?"
"Apakah benar jika ibu diculik!?" Andini nampak begitu panik.
'Dia menghubungi ayah mertua!?'
'Padahal nomornya sangat sulit dihubungi selama ini. Mungkinkah dia memanggil menggunakan nomor lain yang hanya diketahui olehnya!?' Batin Hansen penasaran.
__ADS_1
Tak lama setelah melontarkan pertanyaan, ekspresi Andini segera berubah. Wajahnya nampak lega seakan mendengar kabar yang sangat baik. Sambil menghela napasnya di awal, Andini pun berkata, "Syukurlah jika memang Ibu berada di dekat ayah, kupikir aku akan kehilangan ibu."
'Sudah kuduga hilangnya jejak ibu mertua ada sangkut pautnya dengan ayah mertua!'
'Benar benar orang yang misterius!' pikir Hansen dengan wajah penuh rasa penasaran. 'Sebenarnya siapa identitas asli ayah mertua!?'
'Bagaimana bisa dia menghilangkan jejak keberadaan ibu mertua dengan begitu sempurna!'
Saat Hansen sedang larut dalam pikirannya, Andini tiba tiba saja tersentak seakan menerima kabar yang mengejutkan. Dengan senyum penuh semangat di wajah cantiknya, Andini pun berkata,
"Ayah akan datang kemari!?"
"Apakah ayah serius!?"
"Memangnya ayah tahu dimana aku sekarang?"
"Aku saja tidak begitu yakin ... , semua karena orang yang membawaku kemari, mencampurkan obat tidur dalam minumanku dan membawaku kemari tanpa persetujuanku!"
Wajah Andini perlahan lesu setelah menyadari ketidak tahuannya. Dia berpikir bahwa ayahnya mungkin tak bisa datang menjemputnya. Namun setelah mendengarkan balasan ayahnya, Andini seketika kembali bersemangat dan berkata.
"Sungguh!?"
"Ya!"
"Aku sangat percaya padamu ayah!"
"Kau memang yang terbaik!" untuk pertama kalinya bagi Hansen melihat Andini bersikap layaknya anak kecil saat menelpon ayahnya. Sikapnya berbanding terbalik dengan apa yang terlihat selama ini. Dia bahkan nampak begitu sempurna saat ayahnya berada di sisinya diwaktu pernikahannya dengan Hansen.
Sikap manja dan kekanak kanakan Andini tak terlalu mengganggu pikiran Hansen. Satu satunya yang membuatnya bingung saat ini ialah fakta bahwa ayah mertuanya akan datang berkunjung meski Andini berkata bahwa dia tak tahu lokasinya. Seakan akan dia benar benar paham dimana tepatnya Andini saat ini. Meskipun Hansen dan yang lainnya tak dapat mendengar apa yang dikatakan ayah mertuanya karena Andini menelepon tanpa menyalakan speaker, Hansen percaya bahwa pria misterius yang menjadi ayah mertuanya itu bukanlah orang biasa. Hal itu diperkuat dengan caranya melindungi sembari melenyapkan jejak keberadaan ibu Andini yang merupakan istri sahnya.
"Ambil ini!" Andini melemparkan ponsel Hansen dan membiarkan Hansen menangkapnya. "Kau juga!" Andini mengembalikan pisau milik kepala pelayan yang merupakan salah seorang prajurit elit.
Setelah pisau sang kepala pelayan dikembalikan ketempatnya, Andini tersenyum dan berkata, "Siapkan makanan enak dan desert mewah untukku!"
"Aku akan menunggunya di kamar!" Andini tersenyum senang lalu berjalan pergi mendahului kepala pelayan.
"Tunggu apa lagi!?"
__ADS_1
"Ikuti aku dan kabarkan apa yang aku minta tadi kepada orang dapur!" Andini menghentikan langkah dan menoleh sejenak karena kepala pelayan belum pindah dari tempatnya berdiri.
"Baik Nona!" jawab kepala pelayan dengan wajah datarnya.