
....
Setelah kondisi Dion sudah cukup stabil, Amelia dan yang lainnya dipersilahkan untuk menjenguk. Tentunya Amelia langsung masuk tanpa menunda, sedangkan Hansen tetap diam dan berkata, "Tolong temani Amelia," Dia menatap Zaskia dengan tampang hawatir.
"Bagaimana denganmu?" Zaskia bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Aku hanya ingin memastikan keselamatan adik dan ayahku, besar kemungkinan mereka juga akan mengalami hal seperti Amelia dan kekasihnya," Hansen menjawab dengan tampak khawatir.
"Sebenarnya siapa dirimu?"
"Kenapa orang orang jahat itu mengincar Amelia dan keluargamu?"
"Dan mungkinkah, aku juga termasuk target mereka?" Zaskia tak dapat membendung rasa penasarannya lagi, hingga mengungkapkan segala pertanyaan yang menghantui pikirannya selama ini.
"Huft," Hansen menghela napas begitu panjang, menguatkan tekadnya dan berpikir secara matang.
Sembari memegang kedua pundak Zaskia dia pun berkata, "Identitasku terlalu rumit, tapi kau bisa menganggapku sebagai orang pemerintahan yang diakui oleh presiden. Alasan mereka mengincar keluarga dan orang orang terdekatku adalah karena mereka menyimpan dendam kepadaku."
"Jika memang itu masalahnya, kenapa harus sekarang?" Zaskia bertanya sembari menatap Hansen dengan khawatir.
"Selama ini semuanya terasa aman karena tak ada yang mengenali identitas asliku," Hansen menjawab dengan tegas dan tanpa keraguan.
"Lalu, siapa yang membocorkan identitasmu?"
"Mungkinkah itu pihak pemerintah?" Zaskia kembali bertanya karena sudah tak dapat membendung rasa ingin tahunya.
Hansen menggelengkan kepala, lalu berkata,
"Pendiri sekaligus pemimpin dari kelompok Number, Zero!"
Zaskia seketika tersentak, karena mengenal nama itu. Nama yang sudah lama menggemparkan dunia hingga sekarang. Kelompok ******* yang tak henti hentinya membuat kekacauan dimanapun mereka muncul. "Number!?"
Kelompok Scorpion mungkin tak setenar Number, hingga tidak dikenal oleh orang yang acuh seperti Amelia, namun kelompok Number berbeda. Namanya sudah terukir di hati semua orang, karena sering menebar kekacauan dimana mana.
"..." Zaskia nampak panik dan diam seribu bahasa. Dia tak menduga kalau orang terkasihnya terlibat permusuhan dengan musuh utama negara. Meski begitu, rasa takutnya tak dapat mengurangi rasa sayang serta perasaan cintanya terhadap Hansen. Alih alih memilih untuk mencari aman dan memutuskan hubungan dengannya, Zakia malah menggenggam tangannya dan berkata, "Kumohon jaga dirimu," caranya berbicara penuh dengan perasaan tulus dan dihiasi oleh tangis kekhawatiran.
"Kau juga," Hansen membalas ucapan Zaskia, lalu menghubungi Jenderal Besar Hanan setelah Zaskia masuk menemani Amelia.
....
"Halo?" Jenderal besar Hanan mengangkat telepon dengan nada pelan.
"Bagaimana kabar adik dan ayahku, Jenderal?" Hansen mengatakan maksudnya menelepon seperti biasa. Tanpa formalitas maupun kata tak penting yang keluar dari mulutnya.
"Ah, ternyata itu kau tuan X!? Jenderal Besar Hanan tersentak dan segera merubah cara bicaranya.
"Maaf atas kekasaranku sebelumnya, ini tak akan terjadi kalau anda menghubungiku lewat ponsel dan bukannya telepon kantor,"
__ADS_1
Hansen nampak geram, dan Jenderal Besar Hanan merasakan kegeraman Hansen meski hanya melalui telepon.
"Bisakah kau jawab langsung pertanyaanku, Jenderal?" nada bicara Hansen terdengar ketus, hingga membuat Jenderal Besar Hanan menyadari kekesalan Hansen.
"Ah ... maaf karena membuang waktu anda!"
Jenderal besar Hanan tersentak panik, lalu bekata, "Adik dan ayahmu sudah dipindahkan ketempat aman, dan para elit sudah menjaganya bersama Jenderal Fahar."
"Oh iya ngomong ngomong, kenapa kau begitu emosian hari ini?" Jenderal Besar Hanan bertanya dengan heran.
"Scorpion!"
"Mereka sudah mulai mengincar orang terdekatku, dan korban pertamanya adalah adik iparku!" Hansen menjawab kesal.
"..." Jenderal besar Hanan terdiam sejenak, lalu berkata, "Ini aneh ... ,"
"Kenapa kelompok scorpion saat ini menjadi semakin melenceng?"
"Apa maksudmu?" Hansen dibuat bingung oleh pernyataan sang Jenderal Besar.
Kelompok pembunuh bayaran Scorpion,
merupakan kelompok pembunuh yang muncul setahun sejak Hansen berhenti dari militer. Dengan kata lain, kelompok tersebut sudah berdiri selama tiga tahun ini.
Mereka memang pembunuh hebat dan berdarah dingin, namun tak pernah membunuh orang tak bersalah dan hanya mengincar target mereka. Sedangkan kebanyakan target yang mereka terima, hanyalah orang orang korup dan penjahat keji yang dilindungi oleh hukum. Karena itu, bagi sebagian besar orang, mereka bagaikan seorang kelompok pahlawan yang menjaga keadilan.
"Itulah yang membuatku bingung, selama lima bulan ini mereka berubah tanpa sebab. Tak hanya membunuh target saja, kali ini mereka juga membunuh setiap petugas hukum maupun warga sipil yang mencoba melindungi target mereka."
"Karena itu, militer mulai mengambil tindakan pemusnahan terhadap kelompok itu."
"Namun, bukannya berhasil, malah pihak kamilah yang terbantai." Jenderal Besar Hanan menjelaskan dengan penuh penyesalan.
"Apakah ini ada hubungannya dengan kebangkitan kelompok Number?" Hansen memotong ucapan dengan penuh kecurigaan.
"Sepertinya begitu," Jenderal Besar Hanan, menjawab dengan nada tak yakin.
Saat ingin melanjutkan percakapan dengan sang Jenderal, Hansen dikejutkan oleh tepukan halus seseorang tepat di belakang pundak.
Hansen pun menoleh untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya.
"Amelia?"
"Ada apa?" Hansen bertanya dengan terkejut, karena tak menyadari kedatangan Amelia. 'Sejak kapan dia dibelakangku?'
'Mungkinkah dia sudah mendengar semuanya?' Hansen bertanya tanya di dalam hati.
"Dion ingin berbicara denganmu," Amelia menanggapi pertanyaan Hansen dengan biasa.
__ADS_1
"..." Hansen segera masuk ke dalam kamar dimana Dion dirawat, ditemani Amelia yang berjalan di sampingnya.
"Tuan X?" Dion mengeluarkan kata kata pertamanya setelah bertatapan langsung dengan Hansen. Ucapannya masih dihiasi keraguan hingga tak terdengar tegas.
Hansen yang awalnya bersikap biasa, segera merubah ekspresinya menjadi begitu serius.
"Bagaimana kau bisa mengenal nama itu?"
'Mata tajam, dan aura yang mendominasi ini ... ,'
'Tak salah lagi, dia adalah tuan X,' Dion meneteskan air mata serta ditemani senyum bahagia.
"Kenapa kau menatapku dengan ekspresi seperti itu?" Hansen menjadi semakin kebingungan.
"Sang penembak jitu nomor satu di kelompok Red Eagle, komandan kelompok satu, tuan Old Eagle."
"Dia adalah mentorku," Dion menjawab tanpa keraguan.
"Murid Old Eagle?"
"Tunggu dulu!" Hansen tersentak kaget. "Mungkinkah kau ... , Dion Raharja!?"
Dion tersenyum sembari mengiyakan pertanyaan Hansen.
"Rambut pendek dan pirangmu benar benar membuatku hampir tak mengenalimu," Hansen merespon dengan antusias. Sembari membayangkan gambaran Dion saat masih berada di bawah komando Old Eagle.
"Berambut abu abu dan memakai topeng kulit agar terlihat tua. Itu adalah syarat awal bergabung dengan tuan Old Eagle."
"Dengan topeng pria tua dan cat rambut itu, bagaimana bisa anda mengenaliku," Dion menanggapi sembari menghela napasnya.
'Bawahanku, tak boleh terlihat lebih muda dariku!' ucapan Old Eagle terlintas sekilas dipikiran Hansen. "Ah ... , benar juga. Dia benar benar pria yang aneh," Hansen menghela napasnya.
"Jujur saja, saat itu aku masih ragu akan identitas Anda, namun sejak mendengar penjelasan Amelia tentang caramu menyelamatkan kami, aku jadi ingin bertemu langsung dan memastikannya lagi." Dion menjawab tanpa ragu.
"Lalu kapan kau akan menikahi adik iparku?" Hansen menatap Dion dengan aura yang mendominasi.
"Hiiikkk!"
"Tu ... tunggu!"
"Aku benar benar tidak tahu kalau urusan itu!"
"Sejak dulu aku sudah melamar Amelia, tapi dia selalu meminta untuk menunda pernikahan kami karena belum merasa siap!" Dion nampak panik bercampur rasa takut saat itu.
Sedangkan Hansen menoleh ke arah Amelia dan berkata, "Benarkah itu?"
Amelia mengangguk tanpa ragu, namun Hansen tak menurunkan rasa kesalnya dan berkata, "Meski begitu, aku tak membenarkan tindakanmu waktu itu!"
__ADS_1
"A ... aku berjanji tak akan meminta Amelia melakukannya lagi!" Dion nampak panik hingga berkeringat dingin begitu banyak.