
Tap tap tap! Seorang prajurit berberet merah nampak sedang melarikan diri di sebuah situs bangunan tua. Dia dikejar oleh sekelompok orang berpakaian kasual yang kemudian mengepungnya dari segala arah.
Prajurit malang itu dipukuli hingga tak sadarkan diri, dan para pelaku selalu berkata, "Semuanya demi dunia yang baru."
Daerah minim pejalan kaki, desa terpencil yang terkait dengan pasar gelap, serta semua tempat yang memiliki kaitan dengan informasi jejak mantan elit red Eagle menjadi tempat dimana menghilangnya para pasukan khusus angkatan darat.
Jenderal Besar Hanan yang mana merupakan komando utama dari angkatan darat, dibuat pusing oleh kabar menghilangnya para prajurit angkatan darat satu demi satu. Parahnya kebanyakan prajurit yang hilang kontak memiliki keterkaitan dengan jenderal Besar Hanan. Mereka semua menghilang karena mencoba mencari jejak anggota lama Red Eagle.
"Apa apaan ini!"
"Bagaimana bisa semua orang yang ku kirim menghilang!" Jenderal Besar Hanan nampak bingung dan frustrasi. Hingga akhirnya memanggil 14 perwira bintang empat untuk membahas hal tersebut. Dia terpaksa memanggil mereka, karena sempat mendengar kabar bahwa prajurit dari keempat belas kelompok pasukan khusus itu juga sering dikabarkan menghilang sejak dua tahun yang lalu. Meskipun katanya kebanyakan dari prajurit mereka dikabarkan kembali tanpa mengingat apapun.
"Salam, Jenderal. Apakah benar jika Anda memanggil kami?" Jenderal Katrina memberi hormat bersama ke tiga belas perwira bintang empat angkatan darat yang memakai baret dan lambang kelompok berbeda. Saat itu mereka sedang berdiri saling berhadapan, dengan bawahan jenderal besar Hanan yang melongkari semuanya.
"Maaf jika saya menyita waktu kalian, tapi baru baru ini aku sering mendengar kabar bahwa prajurit kalian sering dinyatakan hilang dan kembali secara bergantian. Apakah itu benar?" tanya Jenderal Besar Hanan dengan penuh kecurigaan.
"Begitulah ... , sampai sekarang pun masih kok. Baru baru ini para prajurit baru kami menghilang satu demi satu," Jenderal bintang empat dengan baret hijau dan lambang cakra sapta agni menjawab dengan dingin.
__ADS_1
"Katanya setiap prajurit kalian yang pernah hilang kontak, berubah drastis pribadinya saat kembali apakah itu benar?" tanya Jenderal Besar Hanan memastikan.
"Bukankah wajar bagi seorang prajurit berubah sikapnya setelah mengalami hal tidak menyenangkan?" tanya jenderal Besar Katrina menyela. Jenderal Julian yang berada tepat disampingnya juga turut angkat bicara dengan berkata, "Kebanyakan dari mereka kesulitan untuk menceritakan siapa dalang dibalik penculikan mereka dan dimana saja mereka disembunyikan selama ini. Bahkan sampai sekarang kami juga belum mendapatkan jawabannya, jika anda tak percaya silahkan temui saja mereka sendiri."
" ... " Jenderal Besar Hanan terdiam tanpa kata, sementara jenderal Katrina meneruskan pembicaraan dengan berkata, "Jika hanya itu yang ingin Anda sampaikan. Maka, apa bisa kami pergi sekarang?" Jenderal Katrina dan ketiga belas perwira yang turut dipanggil bersamanya tak berani pergi sebelum dipersilahkan. Karena bagaimana pun juga, status Jenderal Besar Hanan ialah seorang panglima besar yang mengatur komando pusat angkatan darat.
"Baiklah ... , kalian boleh pergi." Jenderal Besar Hanan menepuk tangannya sekali, kemudian para prajurit yang di bawah komandonya segera bergeser untuk membuka jalan.
"Kalau begitu kami permisi," jenderal Katrina memberi hormat dan pergi. Dia menyeringai tipis sembari bergumam di dalam hati, 'Selangkah lagi, angkatan darat akan sepenuhnya di genggaman kami!'
Sementara itu di sebuah ruang khusus kepresidenan. Presiden nampak sedang berdiskusi dengan seseorang. Seperti layaknya seorang presiden, dia tak diijinkan untuk berbicara empat mata saja. Terdapat puluhan anggota kopassus yang berjejer di sekitar keduanya.
"Aku sudah pensiun sejak 30 tahun yang lalu, dan alasannya tidak lain karena kesehatanku. Jantungku tak sesehat dulu Pak!" pria itu duduk dengan tegap.
"Saat itu kau memang dikabarkan seperti itu ... , tapi ... bukankah selama ini kau bekerja di proyek pembangunan?"
"Jika alasanmu tak ingin membuat keluargamu diincar oleh musuh negara, maka alasan itu sudah tak cocok lagi. Karena putramu, sudah membuka identitasnya terang terangan. Bukan begitu ... Panglima? Ah ... atau haruskah ku panggil anda dengan sebutan ... Jenderal Besar Hendra?" Presiden duduk dengan bersimpuh tangan.
__ADS_1
"Aku sudah terlalu tua untuk ini ... , carilah orang lain untuk menggantikan Hanan apabila dia memang tidak kompeten!" Hendra Pratama terbangun dari kursinya lalu berniat pergi begitu saja. Tapi, saat dia hendak berbalik pergi Presiden mengucapkan kata yang tidak bisa Hendra abaikan. Dan kata itu ialah ... "Apakah anda tak ingin putri anda sembuh, Jenderal?"
"Apa maksudmu?" tanya Hendra Pratama sembari menghentikan langkahnya.
"Kami ... sudah menemukan lokasi Savior Eagle!" Presiden menjawab dengan penuh keyakinan.
Hendra Pratama mungkin tak tahu menahu tentang dunia militer sejak berhenti tiga puluh tahun yang lalu, tapi nama Savior Eagle tak terdengar asing di telinganya. Semua karena nama itu berhubungan dengan Hansen. Nama yang dia dengar dari Jenderal Fahar saat ditanya untuk menjelaskan segala hal tentang Hansen yang waktu itu belum dia ketahui. Mengetahui bahwa jejak Savior Eagle yang mungkin dapat menyadarkan Cindy telah diketahui, menjadi kesan tersendiri bagi Hendra Pratama. Hingga akhirnya dia pun berkata, "Apa yang Anda ingin saya kerjakan, Pak Presiden?"
"Bawa kembali, semua pasukan lamamu ke militer dan ambil alih komando mereka!" Presiden tersenyum tipis.
"Baiklah, akan kulakukan sesuai permintaan Anda!" Hendra Pratama perlahan pergi meninggalkan ruangan.
Disuatu tempat di kedalaman markas bawah tanah. Sekelompok prajurit nampak diikat dan dipaksa untuk menonton sebuah video yang menggambarkan sisi gelap negara. Penindasan, perampokan, pelecehan, perdagangan manusia, hingga pembunuhan besar besaran yang ditutupi oleh otoritas para Holder. Diputar terus menerus di tempat gelap dan kedap udara. Setiap beberapa menit sekali, semuanya disuntikkan cairan putih yang mengandung narkoba dan dipaksa menelan pil putih yang entah apa fungsinya. Yang jelas setiap kali mereka menerima keduanya, para prajurit malang yang terikat di kursi itu tak akan bisa tidur dan mulai kehilangan kewarasan mereka.
"Semuanya, demi dunia yang baru!" para peneliti terus mengulang kata itu, hingga membuat para prajurit perlahan kehilangan kewarasan mereka.
Ruangan pencucian otak itu dikelilingi oleh dinding kaca kedap suara. Sementara di luar kaca tersebut, terlihat Zero yang sedang diperban oleh kelompok medis sembari ditemani para anggota Number bertatokan angka puluhan. Rata rata dimulai dari angka dua puluh ke atas.
__ADS_1
"Habis ini, lakukan juga pada pihak kepolisian!" Zero menatap dingin para bawahannya.
"Siap, Pak!" seorang pria berdarah Rusia, berambut pirang dan iris birunya, memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badannya. Tangannya nampak menunjukkan simbol angka 20.