
"Kita sudah sampai pak!" Letnan Daffin memarkirkan mobilnya tepat dipintu masuk halaman luar hotel.
"Masuk saja!" Hansen mengucapkan tanpa ragu.
'Apa Tuan X tak takut orang lain tahu identitasnya?' Letnan Daffin nampak terkejut dengan intruksi Hansen. Matanya melirik sejenak ke arah Hansen, namun tak berani mengomentarinya lagi.
'Tak ada gunanya menutupi hal yang sudah diketahui banyak orang, pelan tapi pasti, Zero akan menyebarkan perintah penyerangan orang orang terdekatku, karena dia sangat memahami siapa identitas asliku,' Hansen larut sejenak dalam pikirannya.
'Plat merah!?' Penjaga loket parkir hotel Permata nampak terkejut. Dia membuka palang penghalang jalannya seperti biasa, namun segera menelepon ke telepon resepsionis untuk memberikan informasi. "Waspada akan pemeriksaan hotel!"
"Orang pemerintah datang tanpa pemberitahuan, pastikan agar tak mengecewakannya dan bersihkan pelanggan yang menginap!"
"Kuulangi lagi, pastikan agar tak ada pelanggan yang berbuat kotor dan melanggar hukum!"
Dia segera menutup teleponnya setelah mengabari bagian resepsionis dengan tampang panik.
.....
Ciit!! Letnan Daffin menghentikan mobilnya sejajar pintu masuk hotel. Diluar kaca mobilnya, terlihat jelas beberapa penjaga keamanan beserta pemimpin mereka yang berderet menyamping disepanjang karpet merah. Conrad Hilton, resepsionis dan pemimpin departemen bagian lainnya juga ikut berbaris disepanjang karpet merah itu, bahkan Zaskia Arista yang memiliki jabatan sebagai Supervisor hotel pun ikut berdiri menyambut kedatangannya, bedanya dia berdiri di ujung karpet layaknya letnan Jenderal saat menyambut Hansen di masa lalu.
'Kenapa orang pemerintah harus datang sekarang sih!?' Zaskia Arista tak menyadari bahwa mobil itu adalah mobil yang sama dengan mobil yang pernah dia lihat di depan apartemennya tempo lalu.
"Ada apa dengan penyambutan tak biasa ini?" Hansen terlihat bingung.
"Mungkin mereka berpikir kalau kita adalah petugas inspeksi keamanan hotel pak, bagaimanapun mobil dinas ini begitu mencolok," Jenderal Daffin menjawab tanpa ragu.
'Begitu ya ... '
'Haruskah aku turun dihadapan mereka?' Hansen nampak sedikit ragu.
Ceklek ..
Letnan Daffin keluar dari dalam pintunya, lalu berjalan perlahan menuju pintu Hansen. Kemunculan Letnan Daffin tentu saja mengejutkan semua orang. Apalagi dia tampil bukan untuk berjalan masuk, melainkan untuk membukakan pintu lainnya dengan cara yang begitu hormat.
'Pakaian tentara dengan simbol bintang berjumlah tiga. Kepala mulus dan tampang garang,'
'Bukankah itu Letnan Daffin!'
'Apa yang dilakukan seorang Letnan Jenderal dengan pakaian lengkap disini!?'
'Mungkinkah sosok penting ingin menginap disini!?' Conrad Hilton beserta semua orang kecuali Zaskia nampak terkejut dan panik. Wajah mereka nampak begitu tegang, dengan keringat dingin yang menetes sedikit demi sedikit.
'Orang ini .... ,'
'Bukankah dia yang menjemput Hansen saat itu?'
'Mungkinkah orang yang dia sambut adalah ... ,' Zaskia terfokus ke arah pintu yang terbuka seperti halnya semua orang.
__ADS_1
Tap ... sepatu Hansen menapak tepat di atas karpet merah, semua mata pun tertuju padanya.
'Sepatu pantofel yang terlihat biasa, celana hitam dengan wujud biasa biasa saja, dan ...' semua orang kecuali Zaskia menatap Hansen dimulai dari ujung kakinya dan memiliki pikiran yang sama persis.
"Seragam departemen designated driver hotel Permata!?" Semua orang terkejut bukan main hingga tak sadar bahwa mereka baru saja mengeluarkan suaranya.
"Hansen!?" Semua orang mengucapkan namanya dengan terbelalak tak percaya.
Disaat semua orang masih merasa terkejut, Zaskia Arista berlari kepelukan Hansen untuk melepaskan kerinduannya. "Jadi itu benar benar kau, syukurlah," Zaskia nampak begitu lega dan tersenyum ditemani air mata bahagia.
"Pukul saja aku!"
"Bagaimana bisa hal aneh ini terjadi?"
"Aku pasti sedang bermimpi!" Conrad Hilton memukul wajahnya sendiri untuk memastikan bahwa itu bukanlah sebuah mimpi.
"Maaf karena datang terlambat dan menggunakan pakaian yang kurang pantas," Hansen membalas pelukan Zaskia tanpa ragu.
"Melihatmu kembali saja sudah cukup bagiku,' Zaskia menjawab Hansen dengan lembut dan malu malu. Membuat semua karyawan Hotel temasuk penjaga keamanan dan depertemen lainnya kembali terkejut dan larut dalam pikiran mereka masing masing. 'Nona Zaskia yang terkenal tegas dan kejam saat bekerja, baru saja bersikap feminim!'
"Kalau begitu, maukah kau pergi denganku sebentar?" Hansen bertanya dengan lembut.
"Tentu!" Zaskia menjawab tanpa ragu.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Hansen mencoba memastikan.
.....
Ceklak
Letnan Jenderal Daffin membukakan pintu belakang mobilnya. Hansen mempersilahkan Zaskia masuk lebih dulu dan bergantian masuk ke pintu yang sama.
Ceklak
Letnan Daffin menutup pintunya, lalu masuk ke pintu lain mobil dimana dia biasa menyetir.
Tring!! nada pesan singkat terdengar di ponsel Letnan Daffin.
"..." Dia pun membuka pesan tersebut dan membacanya di dalam hati. 'Apapun yang terjadi lindungilah mereka!' Foto Zaskia dan keluarga Wisnu terlampir di pesan tersebut.
'Siap pak!' Letnan Daffin menjawab pesan singkat Hansen, lalu berkata, "Kemana kita pergi selanjutnya?"
"Villa mahkota Dewa!" Hansen menjawab tanpa ragu.
"Baik pak!" Letnan Daffin menjalankan mobil tanpa rasa ragu.
"Bukankah itu Villa milik presiden?"
__ADS_1
"Kenapa kita kesana?" Zaskia bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Percaya atau tidak, Villa itu kini telah menjadi milikku," Hansen menunjukkan kunci Villanya.
'Kunci emas dengan bandul berlian bersimbol naga?' Zaskia terdiam sejenak, lalu berkata, "Bagaimana kau ... !?" Zaskia nampak penasaran namun berhenti sejenak setelah terpikirkan sesuatu. Sementara Hansen sedang meminum air yang dia dapatkan dari kantong kursi mobil.
"Mungkinkah, kau anak haram tuan presiden!?" Zaskia mengucapkan pikirannya tanpa berpikir terlebih dulu.
Pfttt!!!
Hansen menyemburkan airnya karena terkejut akan ucapan Zaskia.
"Bagaimana bisa kau berpikir begitu!"
"Meskipun aku tiada dan mendapat kesempatan untuk terlahir kembali, aku tak akan sudi untuk lahir sebagai putra rubah tua itu!" Hansen terdengar kesal saat itu.
"Tu ... tutup mulutmu!"
"Apa kau lupa kalau ada orang pemerintahan di depan kita!?" Zaskia nampak panik dan menutup mulut Hansen saat itu juga. Dia mendorong badannya dengan reflek hingga tak sengaja menumpahkan minuman Hansen dan berakhir membasahi pakaiannya.
"Ah, maaf," Zaskia Arista nampak tak enak karena membasahi pakaian Hansen.
"..." Hansen ingin merespon, tapi Letnan Daffin menghentikan mobil secara mendadak.
Ciiitt!!!
"Kenapa kau mendadak berhenti, Letnan?" Hansen nampak heran.
"Bukankah gadis itu orang yang anda minta untuk dilindungi?" Letnan Daffin menunjuk jauh ke arah sebrang jalan dan membuat Hansen terfokus ke arah tersebut.
"Amelia!?" Hansen terkejut saat melihat sekelompok orang bersenjatakan pistol sedang mengejar Amelia Wisnu yang mencoba kabur dengan berlari sembari membawa tas belanja di tangannya.
Saat memperhatikan punggung lengan kanan orang orang itu, terlihat simbol kalajengking berwarna dasar merah.
"Kelompok Scorpion!" Letnan Daffin ingin segera keluar dari mobilnya.
"Tunggu!"
"Berikan senjatamu!" Hansen menepuk pundak Letnan Daffin, lalu berkata, "Dan tetap disini untuk melindungi Zaskia."
"Tapi pak ... ," Letnan Daffin mencoba menolak, namun Hansen tak menunjukkan tanda keraguan sedikitpun.
"Apa kau mempertanyakan kemampuanku?" Hansen menatap tajam Letnan Daffin dengan begitu dingin.
"..." Letnan Daffin tak mampu berkata kata, dan memberikan kedua pistolnya dengan terpaksa.
"Tolong kembalilah dengan selamat, Pak!"
__ADS_1
"Hmm," Hansen tersenyum sejenak, lalu pergi keluar mobil dengan penuh tekad.