
"Tolong gantikan aku membawa tubuh menantuku!" tanya Mr W sembari menatap jenderal Besar Hanan yang saat itu berada tepat di hadapannya.
"Anda mau kemana?" Jenderal besar Hanan bergantian menggendong Hansen dengan pandangan penasaran. Sementara Mr yang baru saja menitipkan Hansen kepada Jenderal Besar Hanan, hanya menjawab bahwa ada urusan yang harus dia selesaikan.
Di sisi lain, Theo nampak was was terhadap ribuan Drone yang tak kunjung bubar meski Battle Holder telah selesai. Terlebih saat mata mata itu terfokus ke arahnya. Sadar akan ada hal yang tak beres, Theo memutuskan untuk pergi ke tempat yang tak terkena sorotan para Drone.
Tap tap tap ... Mr W mengikuti Adi Wijaya yang keluar tanpa ditemani oleh para bawahannya. Dia terus mengekorinya hingga sampai ke sisi lain stadion yang dipenuhi oleh mobil mobil kosong.
Dari kejauhan, Mr W melihat Adi Wijaya berjalan santai menuju orang asing yang nampak sendiri dan sedang menunjukkan punggung yang terbalut jas abu abu. Mr W yang sangat penasaran akan siapa yang Adi Wijaya temui, memutuskan untuk mendekat sembari bersembunyi di balik mobil mobil yang terparkir, tetapi ....
"Nampaknya kita mempunyai teman yang tak diundang ya, A?" terdengar suara yang cukup akrab di telinga Mr W. Suara yang pernah menemaninya di masa sulit saat terkurung hingga melarikan diri.
'Z?' Mr W menunjukkan diri dan langsung menatap punggung pria itu karena penasaran. "Kau kah itu?"
"Ya, W!"
"Ini aku, Z!" Zero membalikkan badan dan menunjukkan wajahnya. Bersamaan dengan itu, dia juga mengelupas topeng wajah yang selama ini dia gunakan untuk menutupi identitas lamanya. Wajah yang penuh dengan bekas luka bakar dengan luka sayatan di sekitar matanya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Bukankah negara asalmu di Rusia?" tanya Mr W secara reflek.
"Negaraku ... telah dihancurkan!"
"Selain diriku ... tak ada lagi yang tersisa disana," Zero menjawab dengan dingin. Dia sudah melupakan caranya menangis, dan hanya diselimuti oleh dendam. Setelah menunjukkan wajah aslinya, Zero kembali mengenakan topeng wajah yang sengaja dibuat seakan memiliki bekas sayatan di sekitar matanya. Luka yang pernah ditinggalkan Hansen di masa lalu dimana dia belum benar benar bangkit saat itu.
"Bagaimana dengan subjek lain yang memutuskab ikut denganmu!?" tanya Mr W penasaran.
__ADS_1
"Mereka masih bersamaku ... , lebih tepatnya dalam bendera Number!" Zero meneruskan.
"Jadi kau ... ?" Mr W terdiam sejenak sembari menerka nerka, sementara Zero segera memotong dengan berkata, "Ya! Aku adalah Zero! Buronan nomor satu negaramu!"
"Apa kau ada masalah dengan itu!?"
"A ... , kenapa kau diam saja!"
"Aktifitas Zero terlalu bahaya bagi kedamaian negara kita!"
"Jika begini terus, Law Breaker akan ... ," Mr W menatap punggung Adi Wijaya yang sejak tadi terdiam.
"Jangan khawatir, kau mengikutiku karena takut akan tersebarnya pertarungan tadi kan?"
"Selama ada benda ini, rekaman langsung tak akan sampai ke mata para Law Breaker. Orang orangku akan memfilter gambarnya terlebih dulu agar tak terjadi hal yang buruk, hanya saja ... ,"
'Ah ... aku lupa kalau benda ini memiliki lambang bodoh miliknya. Karena sudah terlanjur ketahuan maka ....' Adi Wijaya terdiam sejenak dalam lamunannya. Kemudian berbalik dan berkata,
"Ya! Dia ada padaku!"
"Apa kau memiliki masalah dengan itu, W?" tanya Adi Wijaya dengan tatapan dingin.
"Bebaskan dia, dan kembalikan pada Red Eagle!" Mr W meneruskan sembari melepas kacamata hitamnya. Matanya bersinar layaknya api yang ingin melahap benda di sekitarnya. Tentunya Adi Wijaya yang selama ini hidup mewah dan aman dibawah pengaruh senjata canggih buatan Weapon Eagle tak dapat menerima begitu saja hingga menarik keluar rokok di sekitar mulutnya, lalu berkata, "Jika aku menolak!?" Kedua matanya memerah dan terlihat lebih terang dari mata Hansen ataupun Theo. Zero yang takut akan kekacauan yang mungkin terjadi saat keduanya bertarung secara serius, segera menahan kedua tinju mereka dengan berdiri di tengah tengah keduanya.
Tap tap!!! tangan kanan Mr W dan Adi Wijaya yang hampir bertabrakan, digenggam erat oleh Zero yang telah mengaktifkan mata biru redupnya.
Kretakk!!! kedua tangan Zero retak secara serempak, namun tangan yang digunakan untuk menahan pukulan Mr W jauh lebih parah dari yang satunya. Jika Adi Wijaya hanya meretakkan telapak tangannya, maka Mr W berhasil meretakkan seluruh lengannya.
__ADS_1
"Kenapa kau menghalangiku, Z!" Adi Wijaya terlihat kesal, begitupun Mr W yang memiliki ketidak sukaan terhadap tindakan keduanya.
"Jangan lupa, drone Law Breaker masih berkeliaran di langit Stadion!" Zero nampak kewalahan.
"Cih!" Mr W dan Adi Wijaya menarik kembali tinju mereka, sementara Zero terpaksa untuk mundur karena luka di kedua tangannya.
"Kekuatanmu benar benar tak bisa diremehkan ya, W?" Zero melompat pergi menaiki mobil bak yang sedari tadi terdiam di parkiran. Tak lama setelah itu, mobil tersebut membawanya pergi karena ternyata ada supir yang sedari tadi bersembunyi di dalamnya. "Kuharap di pertemuan selanjutnya, kita bisa bekerja sama, W!"
"Berhentilah bermimpi!" Mr W berbalik pergi meninggalkan tempat parkir karena saat melirik ke arah kiri, Adi Wijaya telah pergi entah kemana.
"Cih, dasar pengecut! kau pikir aku akan membiarkan ini begitu saja!"
Jenderal besar Hanan membawa Hansen ke dalam ruang perawatan di sekitar Stadion. Andini yang memiliki sedikit rasa bersalah juga turut menemaninya bersama Zaskia dan Hendra Pratama. Saat tenaga medis keluar dari ruang perawatan, semuanya dikejutkan oleh ucapan dokter yang menjelaskan bahwa Hansen retakan pada tulang tulang Hansen terlalu mustahil untuk dipulihkan. Dia mungkin akan lumpuh total saat tersadar nanti, dan jika tidak sadar juga, Hansen beresiko kehilangan nyawa karena trauma fisik akibat pukulan benda keras di sekitar kepalanya. Hendra Pratama dan yang lainnya tentu saja berusaha keras membantah diagnosis dokter, sementara Andini yang sudah dihantui rasa bersalah, segera lari menuju tempat dimana Hansen dirawat. Tetapi ...
"Han ... sen!" Andini dikejutkan oleh sosok Hansen yang nampak berdiri tegak layaknya tak pernah terluka. Meski begitu, tubuh dan pakaiannya masih bersimbah darah karena belum semoat dibersihkan. Andini yang awalnya khawatir segera memeluk Hansen dengan tangisan yang dipenuhi perasaan bersalah.
"Syukurlah ... syukurlah ... ternyata diagnosis dokter salah. Kupikir kau akan tiada karenaku ... maaf karena telah membuatmu seperti ini." Andini memeluk Hansen begitu erat tanpa sadar, sementara Hansen yang baru kali ini merasakan pelukan tulus dari Andini hanya bisa tersenyum sembari berkata, "Dasar bodoh! yang melukaiku kan Marsekal Leo, kenapa kau yang meminta maaf?"
Hansen membalas pelukan Andini sembari mengelus lembut kepalanya, tapi Andini yang baru sadar akan apa yang sedang terjadi segera mendorong mundur Hansen dan berkata, "Se ... sebaiknya kita belajar untuk menjaga jarak, aku takut kau tak bisa melupakanku kalau terus begini ...." Andini masih merasakan perasaan kuat terhadap Herry karena dialah cinta pertama dan yang terdalamnya hingga saat ini. Cinta tulus yanh tak bisa dia hilangkan begitu saja karena pernah menghabiskan masa muda bersamanya.
Hansen memang tahu akan fakta itu, namun hatinya tetap terasa sakit entah mengapa. Bagaimanapun juga, sama seperti Andini yang sudah jatuh terlalu dalam kepada Harry, Hansen yang saat ini sudah terlanjur jatuh terlalu dalam kepada istrinya itu. Entah sejak kapan, yang jelas cinta itu timbul karena sering bersama. Sementara perasaannya terhadap Zaskia, tak lebih dari perasaan bersalah karena tak sengaja melampiaskan kemarahannya terhadap kelakuan Andini waktu itu.
"Apa kau sama sekali tak bisa melupakan Herry?" tanya Hansen pelan. 'Dia hanya bermain main denganmu!' ingin rasanya Hansen mengatakan itu. Tapi tak berani karena mungkin Andini akan kembali membencinya. Bagaimanapun juga, terkadang saat jatuh cinta, seseorang bisa begitu buta hingga menutup mata dan mulut mereka dari ucapan atau pandangan orang lain terhadap pasangannya. Termasuk Andini yang sudah terlanjur jatuh terlalu dalam terhadap Herry. Tak peduli seburuk apapun hal yang Herry lakukan, tak akan mudah Andini percayai sebelum dia melihat kenyataannya sendiri.
"..." Andini menggelengkan kepala. "Aku tak bermaksud menyakitimu, tapi Herry adalah masa lalu dan masa depan yang kuinginkan. Jika dia tak dipaksa ke luar negri, dan ayah tak memaksaku untuk segera menikah, maka kami pasti masih bersama hingga sekarang." Ucapan Andini memanglah sebuah fakta, karena Herry memang pernah tulus mencintainya. Dan perlahan berubah sejak mengetahui Andini menikah dengan Hansen. Cintanya yang tulus berubah menjadi rasa tak percaya, dan perlahan berubah menjadi kebencian hingga ingin menghancurkan balik hatinya.
Hansen sudah mengetahui sebagian cerita tentang Herry dari Mr W dan menarik sebuah kesimpulan dalam pikirannya, bahwa apa yang awalnya dipikir cinta yang tulus itu tidak lebih dari sekedar obsesi. Cinta dan Obsesi memang terkadang bersebrangan, saat kita membiarkan cinta kita memutuskan apa yang membuatnya bahagia meski dengan orang lain maka itulah cinta sejati, sementara obsesi terkadang mengarah ke hal buruk. Di mana orang tersebut akan melakukan apapun untuk memiliki kekasihnya lagi meski itu perlu melanggar hukum sekalipun, atau bahkan ada kasus terburuk yang mana bisa meregang nyawa atau merusak mental pasangan yang menjadi target obsesinya. Dan biasanya kasus ini terjadi karena perasaan terhianati. Hansen hanya berharap, Herry tak membahayakan Andini terlalu parah dan berusaha melindunginya dari jauh hingga dia menemukan kebahagiaannya kembali, meskipun itu bukan dengan dirinya.
__ADS_1