
Mr W berlari kencang saat mendapat kabar bahwa Law Breaker mulai bergerak menuju stadion dan diperkirakan sedang mengincar Demon Eagle. Sayangnya saat dia hendak keluar dari stadion, para anggota Holder berkumpul dan bekerja sama untuk mencegahnya keluar.
"Apa kau ingin membahayakan negara ini, Mr W?" tanya Number One yang masih menggunakan wajah palsunya.
"Aku tahu bahwa kau sangat kuat, Jenderal Katrina!"
"Tapi ... apa kau yakin bisa menghalangiku seorang diri?" Mr W memasang kuda kuda dengan mata yang masih tertutupi kacamata hitamnya. Dia masih berusaha menahan diri karena tak ingin rahasia mengenai perubahan matanya sejak kembali dari perjalanan bisnis terungkap.
"Jenderal Katrina tak seorang diri!" ucap pria berbaret Kostrad yang didominasi warna hijau lumut dan lambang cakra sapta agni. Jenderal besar yang memegang penuh kendali atas komando Kostrad. Terkenal akan sikap nasionalisme yang teramat tinggi. Meski hanya seorang jenderal bintang empat, kemampuannya tidak dapat diremehkan. Disamping itu, turut campurnya ke dua belas Holder lain yang mana juga merupakan anggota Number semakin mendesak Mr W. Mereka semua nampak memiliki warna baret dan lambang yang berbeda, namun begitu kompak dan berhasil menyudutkan sang Holder nomor satu hingga hampir membuatnya berhenti menahan diri.
Krakkk!!!! kacamata hitam Mr W perlahan retak.
"Jangan terlalu gegabah, W!" Adi Wijaya berjalan mendekat ditemani empat perwira bintang empat dengan seragam biru muda dan celana hitam mereka. Termasuk Adi Wijaya yang nampak memakai pakaian resmi dan topi hitam berbordir emas dengan lambang angkatan udara di bagian tengah topi. Lambang itu berwujud burung garuda yang sedang merentangkan kedua sayapnya, dan mencengkram lima buah anak panah di atas perisai yang berlukiskan peta Indonesia.
Adi Wijaya berjalan agak depan dan berada di tengah tengah ke empat perwira bintang empat yang memegang komando atas pasukan mereka. Dengan seragam yang kurang lebih sama seperti mereka, Adi Wijaya melangkah maju menuntun seluruh anggota angkatan udara yang waktu itu hadir. Berbeda dengan para perwira, anggota angkatan udara yang berada di belakang kelima perwira berseragam biru langit loreng dengan baret biru tua mereka.
"Apa kau juga ingin menghalangiku?" Mr W bertanya dengan nada kesal.
"Law Breaker telah pergi, lebih baik kau bantu kami membereskan kekacauan yang telah mereka buat di tempat parkir. Oh iya, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi ... menurut orang yang meretas layar drone Law Breaker, Demon Eagle lenyap entah bagaimana dan tak lama setelah itu ada sesuatu yang menghancurkan semua drone hingga membuat orang orangku sulit untuk memastikannya. Jadi ... ," Adi Wijaya ingin meneruskan tapi W yang sudah berhasil mengendalikan emosinya segera memotong ucapan Adi Wijaya dengan berkata, "Orang orangmu?"
"Cih .... " Mr W mendecih sinis karena tahu bahwa ada rahasia dibalik kata kata Adi Wijaya. Dan orang orang yang dia anggap miliknya, kemungkinan besar ialah orang orang Weapon Eagle yang kemampuannya dapat disandingkan dengan orang orang didikan Hacking Eagle. Ahli senjata yang bisa memajukan teknologi, Weapon Eagle.
"Maaf W, aku belum bisa mengabulkan permohonanmu waktu itu," Adi Wijaya menyinggung perdebatan saat di parkiran sebelumnya. Perdebatan yang berakhir dengan adu tinju dan kembali ke dalam stadion untuk mengurus keperluan masing masing.
"Anda tak apa, Laksamana!" seorang perwira berseragam angkatan Laut dengan lambang jangkar yang mengarah ke kanan mendekati Mr W ditemani oleh seluruh bawahannya.
__ADS_1
"Mana yang lain?" tanya Mr W untuk mengalihkan pembicaraan.
"Anda kan mengirim mereka untuk membawa pergi bawahan Marsekal Leo untuk diintrogasi," jawab sang perwira angkatan laut bagian timur.
"Ah ... , maaf pikiranku agak kacau tadi. Jika kau ingin membantuku, tolong sebarkan bawahanmu untuk mencari lokasi Demon Eagle saat ini!" ucap Mr W setelah menghela napas cukup panjang.
"Baik pak!" jawab Laksamana Ali sembari memberi hormat.
"Bisakah kalian minggir untuk sekarang?" Adi Wijaya tersenyum sembari menatap para Holder yang masih menghalangi pintu keluar. Meski awalnya masih bersikap siaga, setelah Number One memutuskan untuk pergi, semuanya turut bubar mengikuti.
"Cih! ingat jangan terlalu terlibat dengan mereka sebelum waktunya!" gumam Number One sembari mendecih pergi.
"Akan kuingat nasehatmu itu, Nona Katrina," Adi Wijaya tersenyum dingin.
"Berhenti memanggilnya dengan sebutan Nona!" Number Two yang menggunakan baret hijau lumut dengan lambang cakra sapta agni menatap dingin Adi Wijaya, lalu pergi dengan raut wajah penuh kekesalan.
'Z , sialan! Apa yang dia lakukan hingga bisa membuat mereka bergabung dengan Number!' Adi Wijaya terkekeh pelan sembari bergumam di dalam hati.
Kring kring!!! suara ponsel di celana Zafar perlahan berbunyi.
"Halo?"
"Apa kami bisa kesana sekarang?" tanya Zafar yang sedang berjalan melintasi kota yang cukup jauh dari lokasi stadion. Setelah berbincang dengan nada pelan, Theo yang penasaran akan dibawa kemana segera menarik tangan Zafar.
"Dengan siapa kau menelepon?"
__ADS_1
"Dan kemana kau ingin membawaku pergi?" tanya Theo sembari berjalan mengikuti.
"Tempat ini sudah tak aman lagi untukmu, dan ... ah ... berikan lencana Holdermu!" Zafar menyodorkan tangan dengan wajah yang tersentak.
"Kenapa?" tanya Theo bingung.
"Ada pelacak di lencana itu, bodoh!" bentak Zafar sembari merebut paksa lencana Theo.
"Kalau memang ada pelacaknya, kenapa mereka tak dapat menemukanku tadi?" tanya Theo tak percaya.
"Aku juga tak tahu kenapa, sepertinya ada orang yang diam diam mengacaukan fungsi semua peralatan Holder. Jika tebakanku benar, orang yang bisa membuat benda sejenis itu, hanya Weapon Eagle." Zafar meneruskan ocehannya hingga sampai ke sebuah gang sempit yang menuntun mereka ke sebuah pintu masuk sebuah gedung pencakar langit. Gedung peninggalan keluarga Arista yang telah hancur tak terurus hingga banyak retakan dan tumbuhan liar di mana mana.
"Untuk apa kita kemari?" tanya Theo bingung.
"Tentu saja mengambil kendaraan pulang!" Zafar menuntun Theo hingga naik ke atap gedung. Di atas gedung, Theo dikejutkan oleh sebuah pesawat tempur yang memiliki simbol tengkorak dengan topi viking di sekitar pintu masuknya.
"Ini ... kau bergabung dengan perompak!?" Theo terkejut saat melihat lambang perompak yang pernah Mr W tunjukkan saat masih di dalam Shelter di masa lalu. Karena keduanya sama sama subjek penelitian, Mr W dan Theo sudah berbagi banyak cerita hingga menjadi dekat dalam waktu singkat.
"Kau juga harus menjadi anggota kami!" Zafar meneruskan dengan pandangan serius.
"Mustahil! Aku tak mau menjadi musuh negara lagi!" Theo menolak keras, tapi Zafar berhasil meyakinkannya dengan berkata, "Law Breaker sedang menargetkanmu, jika kau menetap disini maka ... negara dan orang orang disekitarmu akan .... " Theo berpikir sejenak dan perlahan setuju karena memang tak ada pilihan lain.
"Cih, Baiklah! Aku akan mengikutimu!" Theo nampak terpaksa.
"Yuhu!"
__ADS_1
"Orang itu, pasti akan senang akan kedatanganmu!" Zafar mengangkat kedua tangannya dengan gembira.
"Orang itu?" tanya Theo penasaran. Zafar tersenyum pelan lalu berkata, "Tactic Eagle!"