
Laksamana Besar Wisnu memasuki pintu markas terlebih dulu dan bersikap seakan berada di markas sendiri. Dia berjalan ke sana kemari sembari menengok ke kanan dan kiri untuk mencari tahu hal ganjil di dalam markas.
Koridor yang terhubung langsung dengan pintu masuk markas, nampak di dominasi warna merah hitam dan putih. Langit langit koridor terlihat putih polos dengan lampu putih panjang yang tersembunyi dibalik kaca di tiap jengkal langit langit sebagai penerangan. Cctv dan sensor pengenal wajah pun tertimbun bagian luar langit langit dan hanya menunjukkan lensa serta titik lampu sensor berwarna merah.
Tembok disamping kanan dan kiri dihiasi simbol Red Eagle yang berderet jelas dengan jarak beberapa langkah antar simbolnya.
Seperti namanya, lambang Red Eagle didasari oleh Elang Merah yang merupakan hewan langka di eropa. Bentuknya cukup elegan, dengan dominasi warna merah kecoklatan dari ujung bagian perut hingga sepertiga bagian dalam sayap paling atas dan terdekat dengan ujung dada. Sementara dari leher hingga ujung kepala, didominasi warna putih ke abu abuan. Sebagian besar sayapnya didominasi warna hitam dan terdapat seperempat warna putih yang terapit warna hitam di bagian dalam sayapnya. Sama halnya dengan bagian dalam sayap yang terdapat corak putih, bagian dalam ekor juga terdapat corak bulu berwarna putih, bedanya di bagian ekor burung elang merah warna putihnya sedikit agak kemerahan. Sementara warna mata, cakar serta paruhnya didominasi warna kuning cerah.
Sayapnya yang lebar nampak melambung tinggi seperti sedang terbang, cakarnya yang tajam nampak sedang mencengkeram leher serta ekor ular kobra. Latar belakang gambaran elang merah terbang yang mencengkram ular kobra tersebut merupakan bulan merah semerah darah.
"Elang merah yang langka, menggambarkan jenius di kelompok Red Eagle yang tak mudah ditemukan. Ular kobra yang dicengkaram menggambarkan musuh kuat yang mematikan seperti negara lain atau bahkan musuh di dalam negeri," gumam Mr W sembari mengamati salah satu lambang Red Eagle yang paling dekat dengan pintu masuk markas.
"Banyak hewan kuat yang bisa dibuat menjadi simbol musuh yang mematikan, kenapa mereka harus memilih ular?" tanya Rosa Riyadi yang sedang menggenggam lengan Mr W.
"Karena ular identik dengan pemakan tikus!" sambung Mr W dengan serius.
"Apa maksudnya itu?" tanya Rosa Riyadi penasaran.
Saat Mr W hendak menjawab pertanyaan istrinya, Hansen menyela dari kejauhan. Dia menjawab pertanyaan ibu mertuanya sembari berjalan diikuti oleh Jenderal Besar Hanan.
"Tikus melambangkan koruptor atau musuh dalam negeri, karena itulah lambang ular sangat cocok disematkan untuk menggambarkan visi misi dari Red Eagle. Meskipun faktanya kami tak pernah berurusan langsung dengan musuh dalam negeri selain para penyebar teror seperti Number, dan organisasi kriminal lainnya." Hansen menjelaskan dengan rinci, sementara jenderal Besar Hanan menunggu Hansen menyelesaikan kalimatnya lalu berkata,
"Untuk orang luar yang tak pernah terlibat langsung dalam urusan militer sejak pergantian presiden, kau benar benar mengetahui hal hal tentang Red Eagle dengan baik ya, Mr W!"
"Aku sudah mengerti arti dari ularnya, tapi apa maksud bulan merah di belakangnya?" ucap Rosa Riyadi penasaran.
"Aku tak tahu kalau ibu mertua setertarik itu dengan lambang sebuah kelompok militer, apakah ada arti khusus dibalik pertanyaan pertanyaanmu?" tanya Hansen sembari tersenyum.
"Aku bertanya karena lambang ini ada hubungannya dengan menantuku, bukankah wajar bagi seorang ibu mertua memiliki rasa ingin tahu akan semua yang berhubungan dengan menantunya!?" jawab Rosa Riyadi dengan agak kesal.
"Bulan merah melambangkan perjalanan Red Eagle yang terlibat dengan pertumpahan darah. Bulan itu juga melambangkan identitas anggota Red Eagle yang sulit diketahui banyak orang. Sesuai dengan fenomena bulan darah yang langka, serta aksi elang merah yang terbang menutupinya sembari mencengkeram ular yang juga termasuk rentetan kejadian yang sangat langka. Selain kelangkaan yang menggambarkan perlindungan berlapis terhadap identitas Red Eagle, fakta bahwa Bulan hanya bersinar ketika malam juga mengartikan makna lain. Makna yang menggambarkan bahwa Red Eagle dapat bersinar terang meskipun sedang berada dalam kegelapan."
"Apakah semua itu menjawab pertanyaanmu, istriku?" tanya Mr W lembut.
"Tentu!" jawab Rosa Riyadi sembari tersenyum tulus.
Hansen yang tak terbiasa dengan suasana tersebut hanya bisa menelan ludah sembari membayangkan bagaimana keadaan mereka ketika pernikahan Andini dan dirinya berlangsung. Keduanya nampak jauh karena memiliki pendapat berbeda dengan pernikahan tersebut. Ditambah lagi hilangnya Mr W setelah pesta pernikahan selesai, dengan alasan ingin mengurusi bisnis keluarga di luar kota. Sejak saat itu, Mr W tak pernah menunjukkan batang hidungnya, dan sepenuhnya menghilang tanpa jejak. Hansen pernah penasaran mencari tahu keberadaan ayah mertuanya dengan memanfaatkan koneksinya di masa lalu, namun tak menemukan hasil apapun hingga membuatnya menganggap bahwa ayah mertuanya merupakan seseorang yang cukup misterius. Satu satunya yang dia ketahui ialah, Mr W yang cukup dekat dengan Andini dan bersikap manis saat mengetahui Andini bersedia menikahi Hansen, hingga sikap acuh tak acuhnya terhadap istrinya saat momen pernikahan Hansen.
__ADS_1
'Mereka sama sekali tak terlihat seperti sepasang kekasih yang pernah bertengkar. Keduanya nampak begitu harmonis, kapan ya aku bisa dekat dengan Andini ... ,' pikir Hansen sembari mengingat pertemuannya dengan Andini yang selalu berakhir rancu, bahkan pernah terucap kata cerai di kedua belah pihak. Hansen nampak sedikit lesu, karena teringat bahwa dia sudah menyiapkan surat cerai dengan Andini. Semua itu dia lakukan ketika melihat Andini mabuk mabukan bersama Herry Wijaya di rumahnya tanpa merasa bersalah dan bahkan merendahkan dirinya. Meskipun saat itu Andini dalam keadaan mabuk, Hansen tetap terluka cukup dalam hingga berpikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Andini. Apalagi ada Zaskia yang sempat terlibat hubungan badan dengannya saat dalam keadaan mabuk berat. Meskipun fakta bahwa dia dan Zaskia menjadi dekat selama ini, hanyalah pelampiasan semata bagi Hansen. Semua karena dia masih memiliki perasaan yang cukup dalam kepada Andini.
"Apakah kau baik baik saja, Tuan X?" tanya Jenderal Besar Hanan sembari menepuk pundak Hansen yang nampak lesu dan larut dalam lamunannya.
"Ah ... tak ada apa apa."
"Aku hanya sedikit teringat masa lalu," jawab Hansen sembari tersenyum palsu.
"Lupakan soal itu!"
"Ada hal penting yang harus kusampaikan padamu, untuk itu, cepat pinjamkan telingamu!" bisik Jenderal Besar Hanan.
Saat Hansen mendekatkan telinganya, Jenderal Besar Hanan pun kembali berbisik,
"Meski mereka mertuamu, rahasia tetaplah rahasia, kau tahu kan?"
"Bisakah kau minta mereka menggunakan penutup mata seperti halnya orang luar?"
"Ah ... , tentu!" Hansen melangkah maju, lalu mengeluarkan sepasang kain hitam yang sudah dia siapkan di dalam kantung celananya. Sembari menatap kedua mertuanya yang berdiri agak jauh, Hansen pun berkata, "Bisakah kalian menggunakan penutup mata sebentar"
"Ah ... baiklah kalau begitu!" jawab Rosa Riyadi sembari mengijinkan Jenderal besar Hanan mengikatkan kain hitam yang dia bawa untuk menutupi matanya. Sementara itu, Hansen menunggu persetujuan ayah mertuanya sebelum memasangkan kain hitam miliknya.
Dengan perasaan agak ragu, Hansen pun bertanya, "Bisakah anda singkirkan kaca mata hitam itu terlebih dahulu agar aku mudah mengikatkan kain hitamnya?"
Seketika suasana menjadi tegang, baik Jenderal Besar Hanan maupun Rosa Riyadi tersentak kaget mendengar pertanyaan Hansen. Keduanya begitu terkejut karena tahu seberapa protektifnya Mr W terhadap kacamata hitam tersebut. Saat ada orang yang meminta dia membuka kacamata, maka dia akan menghabisi orang tersebut apabila terus menyudutkannya melakukan hal itu. Karena itulah, selain istri dan putrinya tak ada yang pernah melihat Mr W membuka kacamatanya dengan sukarela.
'Apa dia ingin mati!!' pikir Jenderal Besar Hanan dengan panik. Matanya tertuju pada Hansen namun tubuhnya gemetar karena mungkin tak dapat melindunginya dari amukan seorang Monster seperti Mr W.
"T ... tolong jang ... " Rosa Riyadi berniat menahan emosi suaminya yang mungkin akan bergejolak, namun segera berhenti setelah Mr W berkata, "Baiklah!"
"Eh ...!?" Rosa Riyadi dan Jenderal Besar Hanan terkejut akan respon Mr W.
'Mustahil!'
'Kenapa dia setuju semudah itu!?'
'Tapi ini juga hal baik bagiku!'
__ADS_1
'Dengan begini aku bisa menghilangkan salah satu dari tiga rasa penasaran yang masih menghantuiku hingga saat ini!'
'Pemandagan dibalik kaca mata hitam sang Monster angkatan laut!' pikir Jenderal Besar Hanan dengan mata yang terfokus pada kacamata Mr W.
Jenderal Besar Hanan nampak penasaran seperti halnya Hansen, sayangnya rasa penasaran tersebut harus dia tahan kembali karena Mr W tak mengijinkannya untuk melihat.
"Apa yang sedang kau lakukan!?"
"Cepat berbalik jika kau tak mau kuhabisi!" Mr W membentak jenderal besar Hanan dengan aura yang mendominasi.
"Ba ... baiklah!" Jenderal besar Hanan segera berbalik dan tak berani berpaling dari posisinya. Rasa penasarannya yang tinggi masih kalah akan rasa takutnya terhadap amukan Mr W.
Tak lama setelah Jenderal Besar Hanan berbalik, Mr W pun membuka kacamatanya. Dan penampilan dibalik kacamata tersebut pun terlihat dengan jelas.
Mata kanan yang berwarna merah dan mata kiri yang berwarna biru. Kedua matanya nampak cantik bak permata. Mengejutkan Hansen yang sempat terpikir bahwa Mr W sedang menyembunyikan luka di balik kacamatanya.
"Berhenti memandang mataku, dan cepat gunakan penutup matamu!"
"Aku memperlihatkan mata ini kepadamu karena kau telah menjadi menantuku, meski begitu tolong jangan ceritakan hal ini pada orang lain. Aku sangat tak menyukai mata tak normal ini!" ucap Mr W dengan tampang kesal dan tangan yang terkepal.
"Meskipun itu terlihat cantik?" tanya Hansen dengan penasaran.
'Ca ... cantik!?'
'Jadi bukan luka yang mengerikan di sekitar lingkaran mata!?'
'Memangnya secantik apa mata monster itu!?' Jenderal Besar Hanan berusaha menahan diri agar tak berbalik karena rasa penasarannya. Batinnya memberontak dan terus dibimbangkan untuk memilih rasa takut atau rasa penasaran. Setelah perdebatan batin yang cukup intens, Jenderal Besar Hanan pun memaksa berbalik dan mengutamakan rasa penasarannya. Sayangnya saat itu mata Mr W sudah tertutup oleh kain hitam.
'Sialan!'
'Aku terlambat berbalik!' pikir Jenderal Besar Hanan dengan tampang kecewa.
"Apa yang salah denganmu?"
"Ayo bantu aku membawa mereka ke dalam Shelter!" Hansen melirik Jenderal Besar Hanan dengan bingung.
"Baiklah," jawab Jenderal Besar Hanan dengan kecewa.
__ADS_1