Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 33 : Hansen dan masa lalunya


__ADS_3

"..." Andini nampak gelisah karena Amelia tak kunjung datang membawa barang titipannya.


Rasa gelisahnya tumbuh semakin besar, sejak mencoba menelponnya, namun tak dapat terhubung sama sekali.


'Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, Cobalah beberapa saat lagi. Atau tekan satu, untuk meninggalkan pesan!' suara operator terus terdengar di telinga Andini setiap kali mencoba menguhubungi Amelia, dan yang menjadikannya semakin gelisah, hal yang sama juga terjadi saat menelepon Dion.


"Sebenarnya mereka ini kenapa sih?"


"Kok susah banget dihubungin!" Andini berjalan mondar mandir di ruang tamu rumahnya, dengan tampang yang gelisah.


Kring kring! nada dering ponsel mulai terdengar, Andini yang sedang khawatir langsung menjawab panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Halo?"


"Amelia?"


"Kapan kau akan sampai?"


"Kenapa kau lama sekali sih?" Andini bertanya tanpa menunda nunda.


"Ma ... maaf Bu!"


"Ini bukan nona Amelia, saya adalah sherly resepsionis di hotel permata," suara gadis muda terdengar di telinga Andini dan kembali merusak moodnya.


"Ahh ... ternyata itu kamu. Kenapa menelepon di jam jam seperti ini?" Andini menghela napas dan kembali nampak khawatir.


"Begini ... , ada seorang klien yang memiliki janji bertemu dengan nona Zaskia. Tapi saat ini, Nona Zaskia tak ada di tempat dan susah dihubungi. Karena tak ada yang dapat menenangkan emosi sang klien, saya hanya bisa meminta bantuan Nona," Sherly menjawab dengan nada lemas dan frustasi.


"Tumben sekali Zaskia meninggalkan pekerjaannya, memangnya kemana dia?" bentak Andini kesal.


"A ... anu ... , dia dibawa pergi suami Anda." Sherly menjawab dengan perasaan tak enak karena takut akan dimarahi.


"Maksudmu Hansen!?" Andini tersentak kaget.


"I ...iya, Nona!" Sherly menjawab dengan panik.


'Kenapa dia pergi menjemput Zaskia?'


'Apakah mereka diam diam berhubungan?'


'Cih!' Andini terdiam sejenak dalam lamunannya dan berkata, "Baiklah, nanti aku akan kesana!" Andini mengakhiri panggilannya dengan nada ketus dan mood yang semakin hancur.


"Jelas jelas dia berkata kalau sikapku tak benar karena berkencan dengan pria lain!"


"Nyatanya dia malah bermain dengan wanita lain!" Andini berteriak kesal, sembari mengumpat soal sikap Hansen.


kring kring! nada dering ponsel Andini kembali berbunyi. Dan Dia pun mengangkatnya dalam keadaan emosi. "Bukankah sudah kubilang kalau akan segera kesana!"


"Tunggu saja baik baik!"


Tut ... tut tut ... Andini menutup ponselnya dengan emosi. Dia tak tahu, kalau telepon itu berasal dari Herry Wijaya yang terikat janji kencan hari ini dengannya.


"Ada apa sih dengannya?"


"Kok tiba tiba menjadi segalak itu?" Herry Wijaya bergumam bingung saat Andini membentak dirinya. Saat itu posisinya sedang berada di dalam sebuah ruang karaoke, sembari ditemani dua gadis cantik berpakaian mini. 'Padahal aku mau membicarakan soal kencan yang mungkin tak bisa aku hadiri, jika dia bersi keras untuk datang ya sudahlah. biarkan saja dia menunggu seperti gadis bodoh,' Herry Wijaya tersenyum licik sembari mendekap dua gadis cantik yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Apakah dia pacarmu?"


"Kok galak banget sih?" tanya salah satu gadis.


"Lebih baik kau buang saja dia," gadis yang lain ikut menanggapi sembari mencoba merayu.


"Tenang saja nona nona, sejak awal aku memang tak serius dengannya. Karena aku paling tak suka dengan barang bekas," Herry Wijaya menjawab sinis. "Karena itu, aku hanya menyukai gadis perawan seperti kalian," Herry Wijaya mencium gadis gadisnya secara bergantian.


"Ah, kau ini bisa saja tuan," kedua gadis itu tersipu malu.


"Ingat jangan pernah berani bermain dengan pria lain, jika kalian ketahuan melakukannya, maka kalian akan bernasib sama seperti Aurelia dan wanita yang baru saja ku telepon!" Herry Wijaya mengancam dengan tegas.


"Jangan khawatir tuanku, itu tak akan pernah terjadi," kedua gadis itu mencium pipi Herry secara bersamaan.


"Berenti memanggilku tuan, mulai sekarang kalian adalah gadis gadisku!"


"Panggil aku dengan sebutan yang lebih intim!" Herry Wijawa menyentuh bagian sensitif kedua gadisnya tanpa rasa ragu.


"Ba ... baik sayangku," kedua gadis itu mendesah secara bersamaan.


#####


Setelah berbincang dengan Dion, Hansen segera menelepon Jenderal Besar Hanan untuk meminta bantuan. Namun niatnya sudah bisa ditebak oleh sang Jenderal hingga beberapa pasukan elitnya datang menghadap saat baru menelepon.


Hansen menatap wajah salah satu anggota militer yang dia kenal, melalui kaca kecil yang menempel di tengah pintu ruangan.


'Letnan Eliza?' Hansen terdiam sejenak dalam lamunannya.


"Halo?" Jenderal Besar Hanan bertanya karena telepon mereka sudah terhubung.


Tap tap tap, dia melangkah menuju pintu keluar namun Zaskia meraih tangannya dan berkata, "Kau mau kemana?" Kekhawatiran terlukis jelas di wajahnya.


"Menemui seseorang," Hansen melirik ke arah kaca kecil di pintu keluar.


"Ah ... , apa wanita itu juga seorang anggota militer?" Zaskia bertanya tanpa ragu.


"Ya," Hansen tersenyum sejenak, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.


....


"Salam pak!" Letnan Eliza beserta dua puluh orang prajurit pria yang berpangkat jenderal bintang dua memberi hormat secara bersamaan.


"Apakah Jenderal Besar yang mengirim kalian kemari?" Hansen mencoba memastikan.


"Benar pak!" semua orang menjawab tanpa menurunkan posisi hormat mereka.


"Kalau begitu, tolong jaga mereka baik baik untukku!"


"Jika aku mendapati mereka terluka bahkan hanya tergores saja, maka aku bersumpah akan meminta presiden menurunkan pangkat kalian!"


"Dan tentunya kalian juga akan menerima hukuman disipliner dariku!" Hansen mengancam dengan serius.


Semua orang nampak tegang, karena sempat mendengar rumor kekejaman Tuan X setiap kali menghukum bawahannya jika melalaikan misi.


Dengan keringat dingin dan nampak tegang, semua orang tetap memberi hormat dan berkata, "Siap pak!"

__ADS_1


"Bagus, kalian boleh berhenti bersikap formal sekarang." Hansen menanggapi dengan senyuman, bersamaan dengan itu semua orang menurunkan lengan mereka.


"Kalau begitu, aku pergi dulu!" Hansen melangkah pergi dan menyerahkan sisanya kepada Letnan Eliza beserta bawahannya.


"Selamat jalan pak!" semua orang membungkuk menghadap pundak Hansen yang sudah melangkah pergi.


Zaskia yang mendapati kepergian Hansen, segera keluar dari ruangan, lalu berlari mengejarnya dengan tampang khawatir dan langsung meraih tangan Hansen. "Tetaplah disini ..."


"Maaf, aku tak bisa. Sangat penting bagiku untuk pergi dari sini."


"Jika tidak, situasi buruk ini akan terus terjadi," Hansen menghela napas dan nampak tak enak hati.


Zaskia yang mengerti akan posisi Hansen, segera melepas genggaman tangannya dan berkata, "Tolong kembalilah dengan selamat,"


"Tentu," Hansen tersenyum tulus dan segera pergi melanjutkan langkahnya. 'Kumohon berhenti menghindariku, Oliver!' Hansen mengingat wajah Oliver Kama yang merupakan identitas asli dari Old Eagle.


"Aku akan berhenti dari militer, kumohon urus sisanya untukku!" Hansen terlihat putus asa, saat memegangi makam ibunya.


"Jika kau berhenti, maka kami juga akan berhenti dan terus mengikutimu komandan," Oliver Kama menatap punggung Hansen dengan penuh simpati, dan diikuti oleh petinggi Red Eagle yang lainnya.


"Kau adalah segalanya bagiku, Komandan!"


"Kemanapun kau pergi aku akan ... ," Friska Falisha yang menaruh hati terhadap Hansen nampak terpukul hingga tak bisa membendung kesedihannya.


"Cukup Friska!"


"Aku tak mau mendengar alasanmu lagi!"


"Begitu pun kau Theo!" Hansen memotong ucapan Theo tepat sebelum dia mengeluarkan suarannya.


"Berhenti dari militer sama saja dengan berhianat terhadap negara, meskipun kau dekat dengan presiden. Kemungkinan besar semua aset atas nama tuan X akan disita negara, dan kau tak dapat mengklaim kekayaanmu sedikitpun."


"Kecuali jika kau mengakui identitasmu di hadapan publik, tapi itu sama saja dengan menjadikan keluargamu sebagai target yang empuk," Tristan Kama menanggapi dengan serius.


"Aku tahu itu, dan aku tak peduli."


"Bagiku keselamatan keluargaku adalah yang terpenting," Hansen membalas tanggapan Tristan tanpa ragu.


"Aku mengerti maksudmu, Komandan!"


"Tapi bukankah keamanan keluargamu akan lebih terjamin jika kami ada disekitarmu?" Zafar bertanya dengan heran.


"Bagi kami, komandan adalah segalanya. Jika anda merampas hak kami untuk terus mengikuti panutan kami. Lantas apa gunanya kami menetap di dalam lingkungan militer?" Theo mengungkapkan kesedihannya. Para petinggi yang lain pun ikut meneteskan air mata sembari menundukkan wajah mereka.


"Maaf jika aku menyakiti hati kalian, tapi aku yang sekarang ... , sudah tak layak untuk dijadikan seorang panutan."


"Maaf saja, bukannya aku ingin merampas hak kalian untuk mengikutiku. Tapi kalau boleh jujur, kehadiran kalian, hanya akan membuatku mengingat ketidak mampuanku dalam melindungi ibuku."


"Jadi, jika kalian memang menghormati serta masih menganggapku sebagai seorang komandan. Tolong jauhi diriku dan jangan menunjukkan wajah kalian lagi. Kumohon!" Hansen mengucapkan rasa penyesalan serta keputus asaannya hingga menggetarkan hati semua orang. Hujan deras beserta suara petir yang menggelegar pun turut menghiasi kehancuran hati mereka.


"Jika memang itu keputusanmu, maka kami akan menurutinya. Tapi tolong jangan sesali ini dikemudian hari Komandan," Friska Falisha menanggapi dengan tangis di wajahnya. 'Karena melarangku menemuimu, sama saja dengan menyuruhku menuju kegelapan."


"Kuharap kau mencari kami suatu hari nanti, Komandan!" para petinggi mengungkapkan kalimat terakhir mereka secara bersamaan.


"..." Hansen hanya diam tak menanggapi, hingga semua petinggi Red Eagle pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Huaaaa!" Hansen berteriak dengan penuh keputus asaan.


__ADS_2