
Saat Andini dan David sudah masuk ke dalam hotel, Hansen pun langsung berjalan menuju pintu masuk.
Akan tetapi keempat pria yang berjaga di depan pintu melarangnya masuk dan bertanya, "Siapa kau? Kenapa kau datang kemari?"
"Ada kenalanku yang berada di dalam hotel, dan aku datang untuk menemuinya," jawab Hansen asal.
"Kenalanmu?" tanya salah satu pria itu.
"Iya, errr… sepupu perempuanku dari kota sebelah sedang menginap di sini.”
Setelah mendengar jawaban Hansen, salah satu pria berjas hitam itu pun bersiul cukup kencang.
Satu per satu orang orang suruhan David muncul dari berbagai penjuru. Dan langsung mengepung Hansen dengan tangan yang memegang sebuah tongkat besi.
Tap tap tap!
"Hei hei, apa-apaan ini? Kenapa kalian mengepungku?" tanya Hansen sambil mengangkat tangannya.
"Aku tak tahu siapa kau, tapi kami telah dibayar untuk menghajar siapapun yang mencoba untuk masuk. Karena kau adalah orang pertama yang mencoba masuk maka terima saja nasibmu!" ucap pria itu sambil menatap tajam mata Hansen.
Hansen menghela napasnya. “Ah, nasibku memang selalu buruk.”
Hansen meregangkan tangan serta kepalanya sambil bergumam, "Padahal baru kemarin malam aku melanggar janjiku agar tak berkelahi lagi. Tapi karena situasinya seperti ini…"
Hansen memasang kuda-kuda, "Baiklah, maju sini kalian!"
Serentak para pria berjas hitam pun menyerang Hansen secara bersamaan.
Mereka menendang, memukul dengan tangan, memukul dengan tongkat. Tapi semua serangan itu bisa dihindari dengan mudah oleh Hansen yang lincah.
Bahkan tak hanya itu, Hansen juga melancarkan serangan balasan. Dia mendaratkan pukulan telak tepat di perut pria-pria itu satu demi satu. Setiap pukulan terasa begitu berat hingga membuat pria-pria berjas hitam itu terpental jauh dan tak sanggup untuk bangkit lagi.
__ADS_1
“Segini saja?” ledek Hansen, “David harusnya menyewa orang lebih banyak.”
Setelah membereskan orang-orang yang berjaga di luar, Hansen melangkah ke dalam hotel. Tentunya saat berada di dalam hotel, orang-orang lain yang merupakan orang suruhan David bertebaran di mana-mana.
“Oh, ternyata dia memang menyewa lebih banyak orang,” gumam Hansen. Dia pun kembali berkelahi dengan orang-orang itu.
Dari kejauhan Hansen dapat melihat David dan Andini di lantai dua. Keduanya tengah berjalan masuk ke dalam kamar hotel secara bersamaan.
Hansen pun berteriak sambil memperingatkan Andini agar tak masuk ke dalam kamar, akan tetapi meski Andini melirik ke arahnya, dia tak menghiraukan peringatan Hansen dan berjalan masuk begitu saja sambil tersenyum.
Tentunya Hansen dibuat kesal sekaligus bingung akan hal itu.
"Sebenarnya apa yang direncanakan oleh wanita itu?” gumam Hansen sambil menghindari serangan demi serangan.
“Kenapa dia malah masuk setelah melihatku? Apa dia menyuruhku kemari dengan sengaja agar aku bisa melihatnya bermain dengan pria lain? Tapi untuk apa?" gumam Hansen sambil terus berkelahi. Dia melancarkan beberapa serangan balik hingga membuat pria-pria yang mengeroyoknya terjatuh tak sadarkan diri.
Tiba-tiba, terdengarlah sebuah jeritan Andini dari dalam kamar tersebut. "Tolong aku, Hansen!"
Di saat baru terpikirkan untuk membiarkan Andini, suara teriakannya pun kembali terdengar.
Hansen menggeram kesal.
Rasa iba sekaligus tak tega dalam hati Hansen muncul. Dengan napas yang sudah terengah-engah, Hansen berlari menuju kamar di mana Andini berada.
Wooshh!
"Lepaskan aku David, jika tidak…!" seru Andini sambil meronta-ronta. Pergelangan tangannya dipegang erat oleh David.
"Jika tidak apa? Kau ingin membatalkan perjanjiannya?" ledek David.
"Batalkan saja jika kau mau, lagipula perusahaanmu yang akan dirugikan. Aku ingatkan bahwa perusahaanmu harus mengirimkan ratusan ribu unit perhiasan dengan mutiara kelas atas terhadap perusahaan ayahku. Jika tidak, maka perusahaanmu wajib mengganti rugi karena melanggar kontraknya.
__ADS_1
"Seperti yang kau ketahui, aku memiliki surat kontraknya dan bisa menghapusnya jika aku mau. Oh iya, aku juga memiliki hubungan dengan perusahaan lain yang memasok mutiara kelas atas yang belum dijadikan sebagai perhiasan.”
David menggenggam erat dagu Andini dan berkata tepat di depan wajah wanita itu.
“Kau tinggal memilih untuk memintaku menghapus kontraknya atau meminta bantuanku untuk memberi pasokan mutiara. Tentunya kau harus membayarnya dengan tubuhmu, bagaimana menurutmu?"
"Cuih!" Andini meludahi wajah David.
"Dasar tak tahu diuntung, beraninya kau meludahiku!"
“Terus terang saja, aku tidak ada niat untuk menuruti perjanjian ini sejak awal!” seru Andini, “Aku hanya akan merebut kontrakmu ketika kau sedang lengah!”
"Preteli pakaiannya!" teriak David sambil mengusap ludah Andini dari wajahnya.
"Baik boss!" ucap para pria berjas hitam sambil berjalan mendekati Andini. Dua orang memegangi lengan kiri dan kanan Andini.
“Tidak, hentikan!” seru Andini ketika tangan-tangan besar pria berjas hitam lainnya mulai menyentuhnya.
Bruakk!!
Pintu didobrak paksa tepat di saat pakaian Andini hampir dirobek.
"Apa kau baik-baik saja, Andini?" tanya Hansen dengan napas terengah-engah.
“Kau bodoh, ya? Apa aku terlihat seperti baik-baik saja!?” seru Andini kesal.
"Mustahil… Kau mengalahkan semua tentara bayaran yang aku sewa?" ucap David tak percaya. Tanpa sadar, rasa takutnya membuat dia melangkah mundur.
"Oh, yang tadi itu tentara bayaran?" tanya Hansen sambil melangkah mendekat, “Lain kali, sewalah tentara bayaran yang lebih profesional.”
"Ce-cepat habisi dia!" ucap David panik sambil menunjuk ke arah Hansen.
__ADS_1