Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 3 : Melamar sebuah pekerjaan


__ADS_3

Hansen hendak beranjak pergi, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dari ruangan adiknya dirawat.


"To-tolong jangan cabut alat bantu pernapasannya, dok! Saya janji akan membayar biayanya nanti!" Hendra memohon sambil menangis.


"Tagihan anda terus menumpuk. Rumah sakit kami bukanlah tempat amal. Maafkan saya pak, tapi saya bisa dipecat jika memaksa untuk menanganinya tanpa persetujuan pemilik rumah sakit," terang si dokter.


Ayah Hansen langsung bersujud dan memohon, “Tolonglah, dok! Beri saya kelonggaran untuk mencicil biayanya!” 


“Saya bukan pemilik rumah sakit ini, pak. Perintah darinya adalah agar jangan memberikan perawatan lagi jika biaya sebelumnya tidak dibayar! Lagipula lihat kondisinya sekarang! Dia kini sedang kritis dan kondisinya kian memburuk setiap hari!”


"Cabut saja! Cabut saja jika kau berani!" seru Hansen yang sudah berada di mulut pintu.


Hansen menunjukkan ponselnya dan memutar ulang rekaman apa yang dikatakan dokter itu sebelumnya. Dia mengancam dokter itu, jika berani memutuskan alat bantu pernapasannya, maka rekaman itu akan disebarkan dan rumah sakit akan dia tuntut.


Tak bisa berkata apa-apa, si dokter menyerah. Dia berkata kalau dia akan menemui pemilik rumah sakit dan menceritakan semuanya untuk meminta kelonggaran bagi keluarga Hansen.


Setelah masa kritis Cindy berhasil terlewati, Hansen langsung berpamitan kepada ayahnya. Tak lupa, dia memberikan semua sisa uangnya untuk mengurus keperluan Cindy.


"Aku harus mendapatkan pekerjaan ini," gumam Hansen sambil terus melangkah. Dia pergi meninggalkan rumah sakit tanpa uang sepeserpun. Hanya bermodalkan kaki dan sebuah kertas koran di tangannya.


Kebetulan lokasi tempat kerja yang dia tuju tidaklah jauh dari rumah sakit. Dalam koran, tertulis bahwa lowongannya berada di sebuah hotel bintang lima yang bernama Hotel Permata.

__ADS_1


Sesuai namanya, hotel tersebut terlihat megah dan mengkilap bagai permata. Dia memasuki hotel tersebut tanpa ragu. Dia langsung melangkah mendekat ke arah resepsionis dan menyatakan tujuannya.


Si gadis resepsionis langsung memanggil kepala keamanan dan bertanya apakah Hansen memenuhi syarat untuk bekerja di sana.


Keluarlah seorang laki-laki berbadan tegap, sang kepala keamanan. Dia melihat Hansen dari ujung kaki ke ujung kepala, menilai fisik pria di depannya.


“Jadi, kamu ingin bekerja sebagai penjaga keamanan di sini?” tanyanya.


“Ya, saya siap untuk menjadi penjaga keamanan di sini!”


“Seberapa hebat kamu dalam berkelahi?”


“Saya yakin dengan kemampuan saya berkelahi. Kalau bapak mau, kita bisa sparring sebentar. Tidak bermaksud sombong, tetapi kalau boleh jujur, saya bisa mengalahkan bapak dengan mudah.”


Pertanyaan tadi hanyalah sebuah tes untuk menilai sifat Hansen. Apakah dia orang yang percaya diri atau tidak dan sebagainya. Lalu, laki-laki itu pun berkata, “Baiklah, kamu diterima kerja di sini. Besok pagi jangan sampai terlambat, ya?”


Hansen hanya bisa terdiam karena merasa tak percaya akan hal itu, "Eh, begitu saja? Saya diterima? Anda tidak sedang bercanda ‘kan pak?"


"Tentu saja tidak! Siapa juga yang sedang bercanda! Jika kau bertanya lagi maka aku akan berubah pikiran," ledek Kepala keamanan.


"Tu ... tunggu! Jangan ubah pikiran anda. Tolong tetap terima saya menjadi penjaga keamanan di sini," ucap Hansen reflek membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Aih, ternyata kau bisa membungkuk juga, ya? Kupikir kau orang yang sombong karena berani berkata seperti tadi."


Hansen tak menyangka kalau percobaan pertamannya untuk mencari pekerjaan berlangsung lancar tanpa hambatan. Namun, dia tak mau ambil pusing akan hal tersebut karena sedang memerlukan uang untuk perawatan adiknya.


Setelah mendapat konfirmasi bahwa dia diterima bekerja, Hansen disuruh untuk kembali esok hari karena seragam penjaga keamanan yang baru belum tersedia.


Hansen pun tak punya pilihan lain selain menunggu hari esok.


Saat itu waktu sudah tepat 12:00 siang. Namun karena tak memiliki uang yang tersisa, dia pun terpaksa menahan laparnya sambil berjalan kembali menuju apartemen.


Di tengah perjalanan, Hansen menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah kafe terkenal. Dia berhenti karena melihat tulisan bahwa kafe tersebut sedang mempromosikan produk terbarunya di mana setiap orang dapat meminum secangkir kopi secara gratis.  Hansen langsung menghampiri kafe tersebut karena tertarik dengan promosinya.


Akan tetapi, di luar dugaan, tepat di saat dia baru meminum seteguk kopinya. Tiba-tiba saja mood-nya menjadi rusak. Dia melihat Andini sedang duduk bersama David yang jelas-jelas pernah memiliki niat buruk terhadap Andini.


Hansen memandang ke arah Andini dengan pandangan hina sekaligus jijik karena hal tersebut. Dia begitu kesal sekaligus jengkel karena melihat Andini diam saja saat David menggesekkan kakinya ke kaki Andini.


Tepat di saat Hansen hendak beranjak pergi, ponselnya tiba tiba saja bergetar.


Hansen langsung melihat ponsel. Dia dikejutkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan Andini. 


125 juta. 

__ADS_1


Itulah yang tertulis dalam pesan singkat tersebut. Dalam pesan tersebut dijelaskan pula bahwa Andini ingin Hansen ikut duduk dengan dirinya dan David dengan imbalan uang sebesar 125 juta.


__ADS_2