
Sejak asap dari hasil ledakan misil yang mengenai tubuh Adi Wijaya menyelimuti seluruh Medan perang, Mr W kehilangan momentumnya hingga terluka cukup parah akibat serangan bertubi tubi Adi Wijaya yang tak mengenal kata ampun.
Karena tak dapat menghindari semua serangan, Mr W pun mengalami kekalahan telak hingga berakhir terkapar tak berdaya.
Tepat setelah debu serta asap yang menyelimuti seluruh Medan peperangan berangsur lenyap, Mr W sempat melihat Adi Wijaya berniat untuk menjatuhkan tinju berkekuatan penuh untuk di arahkan ke arahnya.
""Ah ... sepertinya perjalananku hanya berakhir di sini ya?" Dalam keadaan yang tak berdaya, Mr W hanya bisa menutup mata dengan pasrah.
Duarr!!! Pukulan Adi Wijaya yang memiliki fisik yang perlahan menua begitu kuat dan berbahaya hingga sanggup menciptakan suara benturan yang cukup keras.
Karena kerasnya suara benturan pukulan terakhir Adi Wijaya, seluruh Medan peperangan dihujani kerikil kerikil aspal serta debu yang menutupi mata semua orang.
Mata yang berkedut sembari terbelalak ke arah sumber suara, yang diselimuti oleh wajah panik dan khawatir, terlukis jelas di wajah seluruh bawahan Mr W kala itu. Saking syoknya mereka, tak ada satupun yang bergerak atau bersuara sedikitpun sebelum mereka benar benar memastikan keadaan atasan mereka.
"A ... Kau ... ," Mr W kembali membuka matanya secara reflek di kala Pukulan Adi Wijaya berhasil mengenai targetnya. Matanya seketika melirik ke arah kanan di mana sumber suara tersebut berada, diikuti oleh ekspresi terkejut di kala melirik kembali ke arah Adi Wijaya yang masih membiarkan tangan kanannya menyentuh daratan beton yang kini telah berubah menjadi lembah yang cukup dalam.
Fisik yang telah semakin menua, disertai senyum tipis yang tak menunjukkan penyesalan akan tindakannya, terlihat jelas di wajah layu Adi Wijaya.
"Kenapa kau tak jadi menghabisiku? Apa kau sedang mengasihaniku!? Aku berencana untuk merenggut nyawa putra kesayanganmu loh!" Mr W bertanya dengan tatapan bingung.
"Janjimu waktu itu .... kau tak akan mengingkarinya kan?" Adi Wijaya bertanya dengan wajah dan tubuh yang menua secara perlahan.
"Janji? Janji apa?" tanya Mr W bingung.
__ADS_1
"Aku tahu sangat mustahil bagimu untuk memaafkan perbuatan putraku. Karena itu, aku tak akan meminta terlalu berlebihan, tolong biarkan putraku hidup lebih lama," Adi Wijaya menjatuhkan tubuhnya hingga menindih tubuh Mr W yang kala itu masih dalam keadaan terkapar tak berdaya.
Wajah tua Adi Wijaya segera menghantam daratan beton yang telah berubah menjadi lembah besar entah bagaimana, mengejutkan Mr W yang segera melirik ke kiri untuk menatap kondisi mantan kawan lamanya itu.
"Tanpa perlu menunggu ribuan tahun, akhirnya aku bisa membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu," Adi Wijaya berbisik pelan menggunakan tenaga yang tersisa, tepat sebelum dia kehilangan kesadarannya.
'Terlalu cepat ribuan tahun, bagimu untuk melawanku!' Laksamana besar Wisnu, ketika masih berusia enam tahun, nampak sedang menjatuhkan tinju terakhirnya ke samping kanan wajah Adi Wijaya yang juga masih dalam usia yang sama.
Berbeda dengan Wisnu kecil yang berpakaian compang - camping serta dihiasi kotoran, Adi Wijaya kecil memiliki setelan pakaian mewah karena memang berasal dari keluarga berada.
'Kenapa kau tak menghabisiku saja dengan tinjumu? Bukankah kau sangat membenci anak orang kaya yang sombong dan semena mena sepertiku? Aku bisa saja menyuruh semua body guardku untuk mengincarmu sekarang juga loh! Kau bahkan bisa dibuat tiada oleh mereka yang diminta untuk tak ikut campur!' Adi Wijaya kecil memperingatkan Wisnu kecil yang menjadi orang pertama yang berhasil mengalahkannya dalam pertarungan tangan kosong.
'Jika kau ingin melakukannya, lakukan saja, memangnya aku bisa apa?' Wisnu kecil menghela napas setelah melirik ke arah puluhan. body guard yang terpaksa untuk menonton karena perintah tuan muda mereka.
'Jangan khawatir, meski aku suka berkelahi, mencari keributan serta membeli banyak anak lemah, aku bukanlah tipe orang yang suka memanfaatkan kekuatan orang lain untuk melukai targetku!' Adi Wijaya kecil tersenyum tulus.
'Tu ... tunggu! Bisakah ku tahu nama dan tempat tinggalmu?' tanya Adi Wijaya kecil sembari menatap punggung Wisnu kecil.
'Panggil aku Wisnu, dan jalanan adalah rumahku' Wisnu kecil melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
'Hei anak udik! Maksudku Wisnu! Persiapkanlah dirimu mulai sekarang!
Karena kau kini telah menjadi targetku!
__ADS_1
Akan ku pastikan bahwa kau akan menjadi orangku! Asal kau tahu saja, aku tak akan pernah berhenti sebelum keinginanku ini terpenuhi!' Adi Wijaya kecil yang memiliki ketetarikan untuk menundukkan banyak orang kuat untuk dijadikan bawahannya berteriak dengan penuh semangat.
'Sebenarnya aku tak suka menjadi bawahan seseorang. Tapi karena aku sedikit menyukai sifatmu, biarkan aku memberimu satu buah dorongan. Lampaui aku dan kalahkan aku, jika kau bisa, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mengabulkan permintaan semacam apapun darimu. Termasuk permintaan untuk menjadikanku bawahanmu!' Wisnu kecil melangkah pergi.
Bayangan masa lalu terbersit sejenak di kala Adi Wijaya mengungkapkan kata kata terakhirnya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku hanya akan mempertimbangkan permintaan apapun darimu?"
"Itu hanya mempertimbangkan, bukannya mengabulkan! Jika permintaannya tak cocok bagiku, aku pasti tetap akan mengabaikannya. Jadi sebelum mendengar kepastian dariku, bangunlah dasar otak otot!" Mr W membentak kesal dengan air mata yang perlahan mengalir tanpa ia sadari. Dia teringat begitu banyak kenangan yang pernah dia lewati bersama teman atau kenalan masa kecilnya itu.
Dimulai dari kenangan tentang Adi Wijaya yang terus kembali menantangnya untuk bertarung meski terus kalah telak dan berakhir babak belur, keduanya perlahan akrab sampai beranjak dewasa. Jika bukan karena campur tangan keluarga Wijaya yang enggan anak mereka berhubungan dengan anak miskin, maka keduanya mungkin akan terus akur hingga sekarang.
"Bisa bisanya kau masih mengingat janji itu ... ,"
"Kupikir kau sudah melupakannya sejak perpisahan pertama kita sebagai seorang teman masa kecil," Mr W perlahan bangun, setelah tenaganya pulih, dan menjadi terlihat begitu sentimentil saat menyadari bahwa teman masa kecilnya itu sudah tak menunjukkan tanda tanda kehidupan lagi.
Dengan pandangan tertunduk disertai air mata yang tak bisa dia tahan, Mr W berkata, "Semuanya! Hentikan serangan kalian! Marsekal besar, kini sudah tak bernyawa lagi!"
"Berhenti berperang sekarang juga!" Mr W berteriak cukup keras dengan air mata yang tak bisa dia tahan.
"Ini ... ," Semua bawahan Adi Wijaya menjatuhkan senjata mereka di saat menyadari bahwa junjungan mereka telah benar benar meninggalkan dunia yang keras ini.
Air mata yang membasahi pipi yang di sertai perasaan terpukul, terlukis jelas di wajah setiap pasukan angkatan udara.
__ADS_1
"Marsekal besar!"
Semua pasukan angkatan udara berlari menuju Adi Wijaya yang sudah dalam keadaan tergeletak di samping Mr W yang sudah bisa duduk dan telah memastikan bahwa tak ada tanda tanda kehidupan sama sekali.