
Kring kring! ponsel Hansen berbunyi, saat dia melihat nomor yang menghubunginya, Hansen langsung merubah ekspresi tenangnya, dan pergi keluar kamar dalam keadaan pakaian yang sudah rapih.
"Apakah nona Andini menghubunginya?" Zaskia yang tidak tahu menahu soal latar belakang Hansen hanya bisa menebak alasan dibalik tindakan Hansen mengangkat telepon di luar kamar apartemennya. Nampak jelas bahwa dia tak ingin Zaskia Arista mendengar apa yang dia bicarakan dengan penelepon tersebut.
....
"Kenapa kau memanggilku lagi?"
"Bukankah sudah kubilang ini bukan waktu yang tepat?"
"Aku akan menghubungimu sendiri jika memang sudah siap kembali," Hansen bicara begitu pelan agar tak ada yang dapat mendengarnya.
"Tapi, kami sangat membutuhkanmu saat ini pak!"
Pria itu terdengar panik saat mendengar jawaban Hansen. "Kenapa kau terdengar begitu gelisah?"
"Apakah pasukan khusus sudah kehilangan talentanya saat ini?" Hansen berbisik pelan.
"Aku benci mengakuinya, tapi memang itulah yang terjadi. Jika saja anda masih ada disini, mungkin komandan Arnold dan jenny tidak ... ,"
Daaarrrr!! suara senjata api terdengar begitu jelas.
Bersamaan dengan terdengarnya suara senapan tersebut, sang penelepon seketika terdiam dan tak menjawab. "Ronald?" "Apakah kau baik baik saja!?"
"Kenapa ada suara senapan disana!?" Hansen nampak begitu panik.
'Hosh hosh hosh!' suara napas Ronald terdengar cukup jelas.
"Ce ... cepatlah kembali, dan ambil alih komando semua pasukan. Kami semua membutuhkanmu pak!"
tut tut tut ... suara telepon terputus mengakhiri pembicaraan mereka. Hansen mencoba kembali meneleponnya, namun tak berhasil tersambung. Meski begitu, dia tak menyerah begitu saja dan akhirnya seseorang menjawab panggilannya, namun bukan Ronald yang menjawab. Melainkan seseorang yang juga tak terdengar asing bagi dirinya.
"Halo!"
__ADS_1
"Ronald!"
"Kau tak apa?"
"Kenapa kau menutup panggilannya secara mendadak dan tak langsung menjawab telepon dariku!?" Hansen terdengar panik.
"Letnan Ronald sudah tiada, dan yang menghabisinya adalah aku."
"Apakah kau masih mengingat suaraku, tuan X?" pria asing itu menjawab ucapan Hansen.
"Zero!?" Hansen terbelalak kaget.
"Bukankah aku sudah menghabisimu di tepi jurang waktu itu!?"
"Bagaimana bisa kau ... !?"
Tut tut tut .... Zero menutup panggilan secara mendadak, dan menghancurkan ponsel Ronald dengan senyum jahat diwajahnya.
Lalu menelepon seseorang dan berkata, "Aku akan kembali."
"Senang mendengarmu kembali, tuan X," suara seorang pria paruh baya terdengar jelas di speaker ponsel Hansen.
.....
Setelah selesai menelepon di luar kamar apartemen Zaskia Arista, Hansen kembali masuk dan pergi mandi secara bergantian lalu bersiap untuk pergi.
"Dimana kunci mobilku?" Hansen bertanya kepada Zaskia.
"Aku sudah mengirimkannya ke kepala departemenmu sejak semalam." Zaskia menjawab tanpa ragu.
"Kenapa kau mengirimkannya ke perusahaan tanpa bertanya padaku?" tanya Hansen bingung.
"Saat itu, mobilmu terparkir di sebuah bar, sedangkan aku sudah membawa mobilku sendiri. Karena resiko mobil hilang bisa terjadi jika kita meninggalkannya begitu saja, jadi kuserahkan saja kunci itu pada pihak perusahaan," jelas Zaskia Arista sembari memutar mutar kedua telunjuknya. "Lagipula, tempat bekerja kita cukup berdekatan, jadi biarkan aku saja yang mengantarmu kesana,"
__ADS_1
"Begitu ya?" Hansen menghela napasnya sejenak, lalu menatap Zaskia dengan begitu serius dalam jangka waktu yang cukup lama. Membuat Zaskia salah tingkah dan malu malu hingga wajahnya memerah. "A ... anu ... , jika kau terus menatapku seperti itu, lama lama aku tak bisa menahan diriku."
"Teleponku akan selalu terbuka untukmu, jika sesuatu terjadi panggil saja aku. Apabila memang kejadian semalam membuatmu hamil atau semacamnya, tolong hubungi aku dan jangan menutup nutupinya," Hansen terdengar begitu serius hingga memegang kedua pundak Zaskia tanpa rasa ragu. Zaskia sangat senang melihat Hansen tak memanggilnya dengan sebutan Nona lagi, namun keseriusan serta ucapan Hansen ini seakan mengisyaratkan bahwa dia akan pergi begitu jauh. Karena itu, hatinya menjadi resah dan secara tak sadar berkata, "Kau ingin pergi kemana?"
"Ternyata tak hanya sikap dan perilakumu saja yang mirip dengan adikku, instingmu sama sama tajam dan mengerikan seperti insting adikku," Hansen tersenyum tipis.
"Adik?"
"Kau memiliki seorang adik?" Zaskia terheran.
"Ya, dan kau yang sekarang terlihat persis sepertinya," Hansen mencubit pelan dagu Zaskia hingga membuatnya sedikit malu, kemudian pergi tanpa memberi sebuah penjelasan.
"Ka ... kapan kau akan kembali!?" Zaskia terlihat khawatir.
"Tenanglah, aku tak akan pergi terlalu jauh. Kau bisa menemuiku kapan saja hanya dengan meneleponku." Hansen melangkah pergi dan memperlihatkan punggungnya kepada Zaskia. Bersamaan dengan itu, dia menelepon seseorang dan berkata, "Jemput aku!"
"Baik pak!" suara seorang pria muda menjawab telepon Hansen dengan begitu hormat.
.......
Wooshh, sebuah mobil hitam berplat merah datang menjemput Hansen. Mobil itu berhenti tepat beberapa meter dari hadapannya dan sang supir langsung keluar untuk memberi hormat terhadap Hansen.
"Salam pak!" pria bertubuh kekar, berpakaian rapih dan cukup mewah dan memiliki tampang seram serta kepala botak memberi hormat kepada Hansen.
"Lama tak bertemu, Letnan," Hansen menatap pria itu dengan senyum santainya. Kemudian lanjut berjalan diikuti sang Letnan yang membukakan pintu mobilnya untuk Hansen dengan begitu sopan. "Silahkan masuk pak!"
"Kaku seperti biasa, sungguh pria yang membosankan," Hansen berjalan masuk sembari menghela napas.
Klakk!! sang Letnan menutup pintu mobilnya lalu berjalan pergi untuk masuk ke pintu lainnya.
Wooshh, mobil itu pun dibawa pergi meninggalkan tempat dimana apartemen Zaskia berada. "Kenapa mobil pemerintah menjemput Hansen?"
"Sebenarnya siapa dirinya?" Zaskia terlihat bingung saat melihat kepergian Hansen dari balik kaca apartemennya.
__ADS_1