
Tuut! pintu Lift terbuka, sosok Laksamana Besar pun berjalan terlebih dulu dengan penutup mata yang sudah disingkirkan dan kacamata hitam yang telah terpasang kembali. Rosa Riyadi yang sedang menggenggam erat tangannya pun keluar bersama melewati panjaga pintu yang sedang dalam posisi memberi hormat.
Hingga saat Hansen dan Jenderal Besar Hanan memberi perintah untuk kembali ke pos mereka, para prajurit itu tetap dalam posisi hormat.
"Mereka adalah tamu yang berkunjung untuk sementara, tolong perhatikan kebutuhan mereka dengan baik baik!" Hansen mengucapkan hal tersebut dengan maksud lain yang berarti tolong awasi mereka baik baik.
"Siap dimengerti pak!" jawab para prajurit tegas.
"Kembali ke pos kalian!"
"Dan lakukan prosedur pergantian sif!" Hansen mengucapkan hal tersebut dengan maksud lain yang berarti kabarkan kepada semua orang terkait tamu yang baru saja datang. Sebarkan tampilan wajah yang terekam dalam sensor di dalam lift agar semua orang mengenali target meski sedang menggunakan penyamaran.
"Siap laksanakan!" para prajurit kembali ke pos penjagaan mereka. Lalu segera menyebarkan informasi melalui earpiece dan mengirim file sensor dari dalam lift ke para penjaga pintu di lantai lain melalui lensa futuristik yang nampak bening dan tersembunyi di permukan iris mata mereka. Dalam sudut pandang kedua prajurit tersebut nampak seperti sedang memakai kacamata pengenal wajah yang didesain secara futuristik. Alat canggih inilah yang membuat Andini kesulitan kabur meski menyamar atau bersembunyi di balik meja makanan yang hendak dibawa para prajurit yang bertugas sebagai pelayan. Semua kegiatan berbagi informasi dilakukan hanya dengan berdiri sembari menekan earpiece di telinga mereka. Karena tak mengeluarkan suara sedikitpun, tak pernah ada yang curiga akan aksi para penjaga. Kecuali Mr W yang memiliki intuisi cukup tinggi apabila sedang diawasi. Meskipun dia tak dapat mengungkapkan kecurigaannya karena tak memiliki bukti apapun dan tak mengetahui akan adanya alat komunikasi super canggih yang dipakai para penjaga.
"Kalau begitu, bisakah kau lanjutkan langkahmu dan berhenti memperhatikan para penjaga, ayah mertua." Hansen tersenyum agak mengancam.
"Ah tentu!" Mr W membalikkan badannya, lalu berjalan pergi mengikuti Hansen. Diikuti oleh Jenderal Besar Hanan dan Rosa Riyadi yang berjalan tepat disampingnya.
Saat tiba di pintu besar koridor yang bertuliskan Keep Out, Hansen menempelkan sidik jarinya ke sensor di pegangan pintu. Tak lama setelah itu lampu merah di pegangan pintu berubah menjadi hijau, dan terdengar bunyi, "Selamat datang di lantai 6 Shelter, Tuan X. Silahkan nikmati waktu anda!"
Tuutt!! pintu bergeser ke kanan dan kekiri, memunculkan jalan keluar yang mengarah ke koridor pintu utama dan lapangan latihan.
Tap tap tap! Hansen berjalan memimpin semua orang, dan disambut kedua penjaga pintu di balik pintu Keep Out. Seperti biasa mereka memberi hormat dan kembali ke posisi setelah pintu tertutup. Saat sudah menjauh dari pintu Keep Out, Mr W kembali merasakan perasaan sedang diawasi oleh para penjaga. Dan perasaan tersebut tak kunjung hilang meski sudah menjauh, tergantikan oleh perasaan diawasi melalui cctv serta sensor pendeteksi kehidupan yang tersebar di setiap sudut langit langit.
Ketika sampai di pintu utama, salam penghormatan prajurit penjaga pun kembali terlihat. Baik penjaga di luar pintu utama, maupun penjaga dibalik pintu utama, keempatnya memberi hormat sembari sesekali mengawasi tanpa gerakan yang jelas.
Perasaan diawasi memang cukup mengganggu Mr W, namun setelah mendapati hamparan rumput yang cukup luas serta matahari buatan yang terasa cukup hangat dan angin buatan yang menyejukkan suasana, rasa tak aman Mr W berubah menjadi kekaguman.
"Apakah semua ini dibuat oleh dua veteran Red Eagle!?" Mr W merujuk kepada Hacking Eagle dan Weapon Master.
__ADS_1
"Aku memang pernah mendengar kalau mereka seorang jenius teknologi, meskipun bidang mereka berbeda, aku tak menyangka kalau mereka bekerja sama dapat menciptakan keajaiban seperti ini!" Mr W terdengar takjub. Begitupun Rosa Riyadi yang sedari awal kehabisan kata kata. "Apa ini benar benar dibawah tanah!?" ucap Rosa Riyadi sembari menutup mulutnya.
"Bisakah kita lanjutkan saja langkah kita menuju tempat Andini?"
"Bukankah ayah dan ibu mertua ingin menemuinya?" tanya Hansen sembari tersenyum palsu.
"Kenapa cuman Andini?"
"Amelia juga ada disini kan!?"
"Jangan bilang kalau dia tak ada!?" Rosa Riyadi seketika panik karena rasa khawatirnya.
"Dia juga ada disini kok, jika ibu mertua begitu merindukan mereka bisakah kita lanjut sekarang?" tanya Hansen sembari tersenyum.
"Kurasa itu tak perlu lagi!" Mr W memotong pembicaraan sembari menatap lurus ke ujung hamparan rumput yang luas. "Bukankah itu mereka?" tanya Mr W sembari menunjuk ke arah Andini dan Amelia yang nampak berlari dari kejauhan.
"Ayah!" Andini berlari langsung ke pelukan ayahnya, sementara Amelia langsung berlari ke pelukan ibunya.
'Bukankah itu pakaian seorang laksamana besar!?'
'Jadi ayah seorang anggota militer berpangkat tinggi seperti kakak ipar?'
'Mungkinkah alasannya jarang pulang karena tugas negara?'
'Jika benar, maka kecurigaanku dan kecurigaan ibu salah besar dong!' Amelia nampak bersalah karena sering mengumpat kepada ayahnya, dan sering berburuk sangka terhadap kepergian ayahnya yang tak tentu kapan pulangnya.
Sembari menarik pakaian ibunya dengan tampang malu, Amelia pun berbisik, "Kapan ibu tahu status ayah sebagai orang negara!?"
"Jangan bilang kalau ibu juga menyembunyikannya dariku selama ini!"
__ADS_1
Rosa Riyadi yang mendengar bisikan putrinya, segera mendekatkan mulutnya ke telinga Amelia dan berbisik, "Ibu juga baru tahu saat kamu dan Andini menghilang."
"Ayahmu menjemput ibu secara diam diam, lalu menceritakan semua rahasianya saat dalam perjalanan menuju markas rahasianya."
"Kalau begitu, aku membenci ayah karena salah paham dong ... ," gumam Amelia sembari melirik Mr W dengan rasa bersalah.
"Oh ... ada apa dengan pandangan itu?"
"Mungkinkah kau ingin dipeluk juga?" tanya Mr W sembari tersenyum tulus.
"A .. ayah!" Amelia berlari ke pelukan Mr W dengan tangis di wajahnya. Rasa kesalnya selama ini perlahan runtuh dan digantikan oleh rasa rindu yang telah lama dia pendam.
"Hei hei ada apa dengan air mata itu!?"
"Biasanya kau cukup galak pada ayah!"
"Kenapa kau berubah menjadi secengeng ini!?"
"Mungkinkah kakak iparmu mengganggumu!?" tanya Mr W dengan tampang khawatir.
Melihat ayahnya juga bisa menunjukkan tampang khawatir terhadap kondisinya, Amelia tersenyum lepas di hadapan ayahnya. Pemandangan yang tak pernah dapat terlihat sejak sebelas tahun yang lalu.
"Senang melihatmu tersenyum lagi, Amelia," ucap Mr W sembari tersenyum lepas.
"Ternyata seorang monster sekalipun bisa lembut terhadap keluarganya ya?" gumam Jenderal Besar Hanan saat melihat kedekatan Mr W dengan keluarganya.
"Kok pada meluk ayah semua sih!?"
"Ibu kan juga ingin dipeluk!" tanya Rosa Riyadi sembari memasang muka cemberut.
__ADS_1
Saat menyadari ibu mereka merasa diabaikan, Andini dan Amelia menarik tangan Rosa Riyadi dan memaksanya masuk ke dalam pelukan mereka. Akhirnya keluarga yang sempat berpisah dimasa lalu pun bersatu di hadapan Hansen untuk kedua kalinya.