Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 112 : Campur tangan pihak lain


__ADS_3

"Ini aneh ... , Law Breaker yang terkenal begitu menjaga namanya itu mengabaikan kita terlalu lama! Apa alasan mereka tak merespon provokasi kita? Apakah mereka terlalu takut untuk berperang di wilayah kita?" Number two terlihat bingung. Dia masih mengenakan topeng wajah seperti halnya para petinggi Number lain. Hanya Zero yang tak pernah menutupi wajah aslinya dengan topeng.


"Mustahil mereka takut! meski kita memiliki kekuatan tersembunyi di bawah lengan kita, mereka tak mungkin tahu karena kita menyembunyikannya dengan cukup baik!" Zero menyela dengan dingin.


"Hanya ada satu alasan mengapa mereka tak turut campur tentang urusan negara kita!" Zero terlihat begitu serius.


"Jangan bilang kalau ... ," Number two sedikit tersentak.


"Ya ... kemungkinan ada satu dari lima pendiri Law Breaker di tempat ini!" Zero kembali menyela. "Beritahukan kepada unit pengintai! Cari informasi mengenai hal hal yang berhubungan dengan Law Breaker di seluruh penjuru negri!" Zero meninggikan suaranya.


"Tapi pak! Jika kita mengirim semua unit pengintai, kita akan kekurangan orang untuk menjaga tempat ini!" Number two menyanggah tak setuju.


"Sudah jelas Law Breaker tak menanggapi kita! Jado percuma mengumpulkan semua orang di tempat ini! Lagi pula, hanya dengan mengetahui betul tidaknya pemikiran kita tentang kemungkinan adanya salah satu pendiri Law Breaker di negara ini, merupakan hal paling penting yang bisa menjadi patokan atas rencana kita berikutnya!" Zero membalas tanpa ragu.


"Tcih! Kau terlalu membuang waktu Zero! Dari pada menunggu mereka menyerang, bukankah lebih masuk akal jika kita duluan yang menyerbu mereka!" Number One nampak tak setuju.


"Ada alasan mengapa kita mengincar untuk mengambil alih istana merdeka sebagai pusat perang, dan kau pun tahu akan hal itu!" Zero membalas dengan kesal.


"Bicara soal itu, aku jadi penasaran. Apa benar jika benda itu sanggup menahan serangan nuklir?" Number two nampak penasaran.


"Singkirkan rasa penasaranmu itu! dan fokus saja dengan perintahku tadi!" Zero menekan dengan tegas.


"Cih, baiklah aku akan memimpin unit pengintai untuk menyebar ke seluruh penjuru negri!" Number two mendecih kesal.


"Menyebalkan, kupikir musuh akan datang dan membuat keributan bisa bisanya kita ... " Saat Number One belum menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan memecahkan perhatiannya.


Duarrr .... suara ledakan terdengar begitu kencang dan jelas dari luar gerbang istana merdeka.


"Zero! Lepaskan keluargaku dasar makhluk hina!" Gibran mengamuk dengan mata hijau tuanya. Dia ditemani beberapa prajurit rahasia dari keluarga jaya Chandra yang bertugas untuk mengawalnya.


Sedangkan, Hendra Pratama dan ke sepuluh rekan lamanya, tak turut campur dan hanya mengamati dari kejauhan.

__ADS_1


"Apa kita benar benar tak perlu untuk ikut campur?" tanya salah seorang pria tua dengan jenggot putih panjang dan tubuh yang teramat kekar.


'Kalau kau ingin bertemu dengan Saviour Eagle, jangan ikut campur dalam urusan Number! Misalkan kau terpaksa untuk terlibat sekalipun, ingatlah untuk menyembunyikan mata hijaumu dan ini juga berlaku untuk orang orangmu!' Hendra Pratama teringat soal suara Jaya chandra yang memperingatinya melalui panggilan ponsel beberapa saat sebelum dirinya sampai ke istana merdeka.


'Cih, siapa juga yang mau menggunakan kekuatan kotor yang kau paksakan pada tubuhku! Aku yang sekarang sudah cukup melawan mereka tanpa bergantung dengan mata itu!' Hendra Pratama berpikir dengan suasana hati yang kesal.


"Apa kalian bisa berperang tanpa menggunakan mata hijau kalian?" tanya Hendra Pratama memastikan.


"Apa kau meremehkan kami panglima!?"


"Ada alasan mengapa kami dipanggil sebagai legenda!" Ke sepuluh pensiunan militer yang berbadan kekar dan besar melebihi Hendra Pratama menjawab dengan penuh percaya diri.


"Sialan, berhenti memamerkan otot otot itu!" Hendra Pratama merasa sedikit kurang nyaman dengan pemandangan fisik kawan kawan lamanya yang kini jauh lebih sangar dan besar dibandingkan dirinya.


"Jika kau mau fisik seperti kami, berlatihlah meski kau sudah pensiun!" ejek salah satu dari sepuluh kelompok naga emas.


"Siapa juga yang mau fisik seperti kalian! Mata ini saja cukup untuk mengubah hidupku!" Sambung Hendra Pratama dengan mata biru cerah. Tekanan yang dia pancarkan tak kalah kuat dengan tekanan seorang mata hijau tua.


"Yah, kesampingkan soal prestasiku, kuharap otot ototmu tak akan mengurangi kelincahanmu, Dragon beard!" Hendra Pratama menyeringai senang.


"Oh, ternyata kau masih mengingat julukanku ya, panglima, ah maksudku Dragon Commander!" Dragon Beard menanggapi dengan seringaian.


"Ah ... aku jadi bernostalgia! Sudah lama aku tak mendengar nama nama itu!" Seorang pria berambut dan berjenggot pirang panjang dihiasi warna putih menunjukkan ketertarikannya. Tubuhnya tak kalah kekar, dengan kaos yang bertuliskan Blonde Dragon.


"Bisa bisanya kau menggunakan kaos itu di saat ingin melakukan perang," Hendra Pratama menepuk wajahnya karena tak sanggup menhan tingkah kawan lamanya.


"Naga pirang, maksudku Blonde Dragon apa kau yakin tak ingin mengganti pakaianmu?" tanya Dragon Beard dengan wajah datarnya.


"Apa kau bahkan pantas untuk menceramahinya? Tidak ada satupun dari kalian yang terlihat serius menanggapi peperangan ini!" Hendra Pratama menegaskan kekesalannya dengan mengingatkan penampilan kawan kawan lamanya. dimana semuanya kecuali Blonde dragon, selain hanya menggunakan kaos polos dan celana pendek mereka juga menggunakan sandal jepit sebagai alas kaki.


"Sebenarnya kalian ingin perang gak sih!" Bentak Hendra Pratama yang berseragam lengkap.

__ADS_1


"Setidaknya aku memakai sepatu dan celana tentara," Blonde Dragon menanggapi.


"Ah sudahlah! Terserah kalian saja! Dari pada lama lama, ayo kita mengamuk untuk mengambil alih kembali kendali atas negara!" Hendra Pratama berbalik membelakangi rekan rekannya.


"Ayo tunjukkan kepada para pemula itu, rasanya dihancurkan oleh seorang legenda!" Dragon Beard menyeringai tajam.


Di sisi lain, Hansen sedang dalam perjalanan menuju titik kumpul terakhir yang Theo ketahui.


"Semoga saja mereka belum pergi terlalu jauh!" Theo bergumam dengan penuh harap.


'Adik ... bersabarlah ... kakak pasti akan mendapatkan serumnya dari kelompok Number,' pikir Hansen sembari melihat ke belakang yang terarah ke arah di mana Shelter berada.


Ketika sudah berada cukup tinggi di dalam helicopter, Hansen menerima pesan singkat melalui Ear Pieacenya. Suaranya terdengar seperti suara Ron. Dengan nada dingin Ron berkata, "Jika kau serius ingin mengambil serum x termurni untuk adikmu, ambillah itu dari Number One! Karena dia adalah petinggi selain Zero yang berkemungkinan besar memilikinya!"


Hansen diam sejenak sebelum kemudian menanggapi,


"Aku tak tahu betul apa tujuanmu memberitahuku, tapi karena ini cukup membatu kuucapkan terima kasih!"


Sementara itu di sisi lain, di dalam jet pribadi Jaya Chandra. Ron nampak sedang melakukan panggilan video dengan orang lain. Dan pria itu tidak lain ialah si pirang dari five Foundation of Law Breaker.


"Apa itu cukup untukmu tuan?" tanya Ron memastikan.


"Sangat cukup, dengan begini kita akan melihat perseteruan antar ibu dan anak! Kira kira siapa yang akan menghabisi siapa ya? Hahahahah!" si pirang tertawa dengan pikiran kejinya.


'Kudengar dia juga melibatkan tuan Hendra Pratama dalam keributan kali ini, jangan bilang kalau dia sudah mengetahui bahwa tuan Hendra pernah dan bahkan masih memiliki hubungan khusus dengan tuan JayaChandra!' Ron sedikit tersentak.


"Oh iya, andai saja anak dari tuanmu masih hidup, mungkin sia memiliki cucu seumur Hansen bukan? Sayang sekali dia tak memiliki ikatan selain mantan pacarnya yang kini telah menua di tangan kami. Sungguh pria yang malang," sambung si pirang sembari menghela napasnya.


'Nampaknya dia belum tahu betul hubungan darah antara tuan Hendra, tuan muda Hansen dan tuan besar Jaya Chandra. Syukurlah, jika tidak bisa bisa Law Breaker mengambil sandra lain untuk mengekang tuan besar!' Ron sedikit khawatir karena mengira Hendra Pratama, Hansen dan Cindy bisa menjadi titik lemah bagi Jaya Chandra yang begitu mengindahkan nama keluarga. Meski memiliki kelainan berupa hobi menyiksa makhluk hidup, loyalitasnya terhadap keluarga Jaya Chandra tidaklah kecil. Jauh di lubuk hatinya, Ron sangat merindukan masa masa emas keluarga Jaya Chandra yang menguasai dunia bawah tanpa melakukan hal keji yang melibatkan nyawa manusia.


'Kuharap kau segera menemukan lokasi Nyonya besar, tuanku,' pikir Ron dengan gigi yang menggertak dan tangan yang terkepal. Dia melakukan hal tersebut tak lama setelah si pirang mengakhiri panggilan videonya.

__ADS_1


__ADS_2