Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 97 : Pertarungan maut Mr W vs Adi Wijaya


__ADS_3

Sejak warna biru tua menghiasi iris mata Adi Wijaya, Mr W terjebak dalam adu tinju dan tendangan yang berkepanjangan. Sangat jarang bagi keduanya untuk menghindar tanpa menggunakan tangkisan atau serangan yang mengincar ke titik yang sama.


Saat Mr W atau Adi Wijaya memilih untuk fokus menghindar, maka Medan pertempuran serta apapun yang ada di atasnya lah yang bisa menjadi korbannya.


Dikala Mr W dan Adi Wijaya bertarung layaknya Monster. Hingga tak ada yang dapat memperhatikan gerakan keduanya.


Pasukan bersenjata dari kedua belah pihak sudah banyak yang berguguran. Baik karena senapan Laras panjang, maupun senapan mesin yang dimiliki kedua belah pihak.


Awalnya kedua belah pihak bertarung dengan seimbang, namun kaseimbangan perang perlahan goyah karena hadirnya bala bantuan yang menaiki pesawat tempur dan menjatuhkan bom.


Meski beberapa pasukan memiliki bazooka untuk menembak jatuh pesawat, mereka tetap mengalami kesulitan untuk meladeni serangan dari atas udara yang terus berdatangan.


Satu demi satu, Jeep milik pasukan angkatan laut diledakkan oleh bom yang terlempar dari atas udara. Sementara pesawat pesawat yang menjatuhkan bom bom itu, hanya bisa ditangani beberapa oleh bazooka saat sudah mencapai jarak serang.


Rombongan pasukan angkatan laut perlahan dipojokkan oleh situasi, tapi Mr W tak menunjukkan kekhawatiran akan kondisi tersebut. Membingungkan Adi Wijaya yang merasa sudah di atas angin.


"Hosh hosh hosh!" Sembari sesekali tersenyum Mr W menyeka keringatnya dengan terengah-engah.


"Nampaknya amarahmu sudah terlalu banyak menggerogoti kewarasanmu ya? dalam kondisi terdesak seperti sekarang, bisa bisanya kau tersenyum seperti itu," Adi Wijaya bernapas dengan normal seperti masih dalam kondisi prima. Walaupun masih dapat terlihat bahwa dia juga mendapat dampak dari serangan fisik.


Sekilas luka ditubuh Adi Wijaya nampak tak jauh berbeda dengan yang diderita Mr W, tapi serangan serta caranya bernapas tak mengalami perubahan sedikitpun seperti saat awal dia menunjukkan mata biru tuanya.


"Kau pikir aku kemari tanpa persiapan?" tanya Mr W sembari menunjuk ke atas langit. Tak lama setelah itu banyak pesawat yang terbang cukup tinggi dijatuhi oleh serangan nuklir dan misil yang melesat jatuh jauh dari atas langit.


'Dari mana semua nuklir dan misil itu datang? Bukankah angkatan laut tak memiliki fasilitas itu?' Adi Wijaya terbelalak kaget saat mendongak ke atas langit.


'Dasar bocah kasar, jadi ini bantuan yang dia maksud? Sejak kapan dia memiliki senjata seperti itu?' Mr W nampak sedikit terkejut meski tahu bahwa Theo akan membantunya keluar dari situasi terdesak.

__ADS_1


Drone elang merah terbang keluar dari mobil Mr W kemudian hinggap di atas pundaknya yang lebar. "Bagaimana? Apa bantuan dariku sudah cukup?"


"Berapa banyak yang bisa kau tembakkan?" tanya Mr W sembari melirik ke arah drone.


"Yah aku tak tahu pastinya, karena fasilitas ini aku dapatkan dari meretas sistem persenjataan number waktu itu," jawab Theo melalui drone elang merah.


'Drone itu ... ,' Adi Wijaya menatap dengan sedikit tersentak.


"Hahahaha, awalnya aku hanya berpikir kalau kau mungkin hanya sedikit gila karena emosi. Tapi tak kusangka kalau kau sudah benar benar segila ini!"


"Bisa bisanya kau berhubungan dengan kelompok perompak! Bukankah dulu mereka musuh bebuyutanmu!?" tanya Adi Wijaya sembari tersenyum menghina.


"Sama halnya kau yang bisa berubah dari teman menjadi musuh, para perompak itu juga bisa berubah dari musuh menjadi teman. Persis seperti yang kau lihat sekarang," Mr W kembali melayangkan serangan yang terfokuskan oleh tendangan kaki serta pukulan tangan kiri. Dia terpaksa mendiamkan tangan kanan karena memiliki cukup banyak luka yang dapat mencegahnya melakukan serangan penuh.


Adi Wijaya dibuat sibuk oleh serangan serangan gila Mr W. Dia terus menulis atau menghindar tanpa diberi kesempatan untuk menyerang balik.


"Cepat tapi tak berdampak, kau hanya menyiapkan nyiakan tenagamu W!" Adi Wijaya sengaja menerima pukulan di wajah, saat serangan Mr W sudah semakin melemah dan berjeda.


"Apa tenagamu sudah habis, W!"


"Gigitan semut bahkan jah lebih sakit dari pada pukulanmu!" Adi Wijaya memukul mundur Mr W dengan kekuatan penuhnya. Mendorong jauh dirinya hingga terguling penuh luka. Anehnya Mr W sempat terlihat tersenyum saat terkena serangan tersebut.


Adi Wijaya curiga dengan senyuman yang dia lihat sekilas, dan benar saja tak lama setelah Mr W terpukul mundur, pukulan misil melesat cepat menuju ke arahnya. Sementara Adi Wijaya yang terlambat menyadari, tak sempat menghindari misil misil tersebut.


" Cih! " Adi Wijaya terbelalak kaget saat terlambat menyadari keberadaan misil yang ditargetkan kepadanya. Dia hanya bisa melirik sejenak sebelum misl misil tersebut mengenai tubuhnya.


Woosh woosh woosh!

__ADS_1


Duarrr!! Beberapa misil berjatuhan meledakkan tubuh Adi Wijaya.


"Rasakan itu, A!" Mr W menyeringai sembari menyeka darah di bibirnya.


"..." Tampang khawatir terlihat jelas di mata semua bawahan Adi Wijaya saat melihat momen meledaknya misil misil saat menghantam tubuh Adi Wijaya.


"Cih!"


"Tak kusangka, ternyata perompak punya senjata yang cukup berhaya. Kalau aku masih aku yang dulu, aku pasti sudah mati sekarang!" Suara Adi Wijaya terdengar normal saat asap ledakan misil masih menyelimuti tempatnya berdiri.


"Bagaimana bisa dia masih hidup!" Mr W terkejut bukan main saat melihat bayangan hitam dari sosok yang dia pikir akan terluka parah atau tiada. Sosok musuh merepotkan yang kini sedang diselimuti kabut tebal yang tercipta dari ledakan.


Adi Wijaya melesat maju dalam balutan kabut. Memanfaatkan tebalnya kabut itu untuk terhindar dari incaran misil. Menjatuhkan Mr W dengan hujan pukulan yang tiada henti.


Karena sudah menghabiskan banyak tenaga, Mr W dibuat kewalahan hingga tak dapat membalas ataupun menghindar setiap serangan. Hingga akhirnya, tulang tulangnya pun retak satu demi satu. Untuk pertama kalinya, Adi Wijaya benar benar berhasil mengalahkan Mr W dengan telak.


Setelah cukup lama waktu telah terlewati, kabut yang Adi Wijaya manfaatkan perlahan sirna. Memunculkan sosok Mr W yang kini sudah lemas dicekik Adi Wijaya.


Brugg!!! Adi Wijaya melepaskan cekikannya, saat sudah puas memandangi wajah rival yang sudah kalah telak olehnya.


"Uhuk uhuk!" Mr W terbatuk batuk sembari terkapar penuh luka.


"A .... kau!?" Mr W terkejut saat melihat sosok Adi Wijaya yang kini tak berbusana memiliki fisik yang perlahan menua.


"Cih, jadi kau masih hidup ya?" Adi Wijaya mendecih kesal, sembari melangkah maju dengan tangan yang terkepal seakan hendak memukulnya hingga tiada.


"Ah ... sepertinya perjalananku hanya berakhir di sini ya?" Mr W tersenyum sejenak sebelum kemudian menutup matanya karena tak dapat melakukan apapun lagi.

__ADS_1


Duarrr! pukulan yang cukup keras menghancurkan aspal yang menjadi pijakan keduanya. Mengejutkan semua pasukan angkatan laut yang berpikir bahwa atasan mereka telah tiada. Semua keterkejutan mereka nampak jelas dari cara mereka berekspresi. Mata yang melotot dan berkedut sembari melirik ke arah atasan mereka diserang.


__ADS_2