Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Bab 37 : Serangan di gedung putih


__ADS_3

Kring kring! ponsel Andini berdering cukup kencang di dekat dudukan kaca depan mobil andini.


'...' Andini melirik sejenak, lalu lanjut menyetir mengabaikan panggilan itu.


Kring kring! ponsel Andini terus berdering hingga mulai membuat Andini terganggu.


"Cih!"


"Siapa sih yang nelpon terus!?"


"Aku kan sedang buru buru!?" Andini melirik ke arah ponsel yang dia letakkan tepat di sebelah kiri dan mendapati nama Amelia tertulis jelas di sana.


Ciiitt! Andini menghentikan mobilnya secara mendadak dengan reflek.


"Dimana kamu!?"


"Kenapa baru meneleponku sekarang!?" Andini bertanya dengan nada kesal saat baru menerima panggilan Amelia.


"A ... anu kak, aku sedang terlibat masalah saat di jalan dan Dion ... ," Amelia terdiam sejenak dan membuat Andini menjadi semakin khawatir.


"Ada apa dengan Dion?"


"Apakah masalahnya cukup serius?" Andini mulai kehilangan rasa kesalnya dan mulai diselimuti rasa khawatir. "Dimana kalian sekarang!?" Andini bertanya tanpa henti dengan penuh kekhawatiran.


"Di ... Dion terluka berat karena aku ..., dia dipenuhi luka tembak karena mencoba melindungiku ..."


" Jadi ... jadi ... ," Amelia tak sanggup menahan tangisnya hingga kesulitan mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.


Andini yang sudah diselimuti oleh rasa khawatir, tentu saja segera mengakhiri ucapan Amelia dengan berkata, "Dimana kalian sekarang!?"


"Rumah sakit Mayapada, di Jakarta Selatan," Amelia menjawab dengan lemas, sedangkan Andini langsung mematikan ponselnya. Setelah itu, dia memanggil pihak kantor dan berkata, "Aku tak bisa menemui klientnya sekarang, ada hal yang lebih penting dan mendesak!"


"Jika klient komplain atau semacamnya, katakan saja kalau aku akan bertanggung jawab dan siap memberikan kompensasi!" Andini langsung menutup ponselnya tanpa memberikan kesempatan untuk lawan bicaranya menjawab sepatah kata pun.


Woooshhhh!!!


Andini menginjak pedal gas secepat yang dia bisa dan dengan penuh rasa kecemasan.


..........


Sementara itu, di gedung putih nampak kacau balau karena bentrokan senjata api antara kelompok peniru pembunuh bayaran Scorpion, dengan pihak militer yang beranggapan bahwa kelompok pembunuh yang mereka hadapi saat ini adalah kelompok Scorpion yang asli.


Beberapa kelompok peniru, menggunakan senjata api jenis bazooka, dan sebagian besar lainnya bersenjatakan senapan laras panjang berjenis Ak - 200 yang merupakan produk upgrade dari Ak - 103 dengan lensa bantuan yang dapat membantu penglihatan seorang sniper. Sedangkang di punggung mereka, nampak tas besi bersimbolkan elang mekanik.

__ADS_1


Beberapa pula terdapat beterbangan di atas langit menaiki lima buah helikopter bersimbol kalajengking merah yang sama persis seperti helikopter pribadi kelompok Scorpion.


"Tak hanya menyerang warga sipil, kalian juga sudah berani menyerang gedung putih!"


"Apa bedanya kaliam dengan kelompok ******* seperti Number!" presiden nampak berkomentar terhadap tindakan Scorpion melalui panel digital yang terpasang lebar di sekitar jalanan di dekat gerbang gedung putih.


Darr!!!! seorang anggota kelompok peniru scorpion melemparkan granat tepat ke panel digital tersebut hingga meledakkannya begitu saja.


"Berhentilah melawan dan terima tuntutan kami!"


"Jika tidak .... !" Pria muda berambut hitam dan panjang, berteriak dengan toa di tangannya.


Ceklek ceklek!!! para bawahan scorpion yang berdiri tepat di sampingnya mempersiapkan pelatuk bazooka mereka.


Pria itu menjentikkan jarinya, dan beberapa bazooka pun diluncurkan hingga memporak porandakan ratusan elit pemerintah.


Duar!!! Duarr!!! Duarrr!!! beberapa pesawat militer angkatan udara nampak meledak satu persatu, tepat disaat baru mencapai jarak puluhan ribu kaki dari helikopter para scorpion.


Ledakannya nampak cukup mencolok hingga memerahkan seisi langit.


Sementara itu, di dalam gedung putih, presiden nampak duduk sembari didampingi beberapa elit pemerintah dan ditemani seorang Marsekal Besar Angkatan Udara.


Sedangkan Jenderal Besar Hanan, sedang berada di ujung sekat ruangan utama sembari menghadap salah satu bawahannya.


"Elang mekanik!?"


Tap tap tap .... Marsekal besar yang memiliki rupa garang dan memiliki banyak luka di wajahnya berjalan mendekati sang jenderal dan berkata.


"Didunia ini hanya ada dua yang bisa kita curigai sebagai dalang dibalik meningkatnya persenjataan mereka."


"Mantan Petinggi red Eagle, atau seluruh bawahannya," ucapannya nampak ketus dan dipenuhi hawa kebencian.


"Mereka bahkan rela dihukum mati demi dibebas tugaskan dari militer. Dan kau masih mencurigai mereka?" Jenderal Besar Hanan nampak tak setuju dengan ucapan sang marsekal besar.


"Cih!"


"Sampai kapan kau akan terus melindungi para penghianat negara itu!"


"Jika saja mereka masih di militer, mungkin hal ini tak akan terjadi."


"Fakta bahwa senjata buatan kelompok red Eagle ada di tangan kriminal saja, sudah membuktikan bahwa mereka patut dicurigai," sang marsekal besar mendecih pergi.


........

__ADS_1


"Tes tes!"


"Apakah kau mendengar suaraku?" suara Theo terdengar jelas ditelinga Hansen yang nampak terpasang alat bantu komunikasi berukuran cukup mini.


"Apakah ada sesuatu?" Hansen menjawab sembari duduk di atas helikopter pribadi bersama beberapa anggota scorpion termasuk pria berhoodie. Total helikopter yang terbang menuju gedung putih yaitu sebanyak lima buah, dan diisi oleh lima orang termasuk sang pemegang kendali.


"Beberapa pesawat tempur pemerintah telah dihancurkan oleh ledakan nuklir skala kecil, tepat sebelum mencapai angka ribuan kaki mendekati gedung putih."


"Sebelumku memberi aba aba, tolong jaga jarak aman kalian!" Theo memperingatkan semua orang melalui alat bantu komunikasi.


"Siap pak!" jawab para anggota scorpion dengan penuh semangat juang.


.........


"Berapa lama yang kau butuhkan?" Hansen bertanya memastikan.


"Apa kau sedang mengujiku, Komandan?" Theo tersenyum senang. "Meretas sistem adalah keahlianku!"


........


Disebuah ruang bawah tanah rahasia yang penuh akan layar komputer dan tombol tombol digital nampak dipenuhi beberapa ilmuan bertatokan angka di salah satu bagian tubuh mereka. Ada yang di punggung lengan, di sekitar pipi, dan juga dibagian yang tersembunyi.


Semuanya saat itu nampak sedang mengamati suasana gedung putih dari layar satelit di hadapan mereka.


"Kau memang luar biasa, tuan Zero."


"Para pion itu benar benar bekerja tanpa perlu dibayar, hanya dengan mengatakan beberapa kata hasutan saja, mereka langsung menyerang gedung putih bahkan tanpa diminta!"


"Dan semua senjata itu bahkan mempermudah aksi mereka!" seorang ilmuan bertatokan angka lima belas di lehernya nampak tersenyum mengagumi pencapaiannya. Dia terus mengagung agungkan nama junjungannya sembari menikmati pemandangan saat meledakkan ratusan pesawat tempur hanya menggunakan tombol kendali di ruangan itu.


Tet tet tet ..... tepat disaat sang ilmuan nampak begitu bangga atas pencapaiannya, semua layar tiba tiba saja memunculkan tulisan peringatan disertai sistem error. Alarm di seisi ruangan pun turut berbunyi keras.


"Ada apa ini!?" semua orang nampak panik dan tiba tiba .....


Booommm!!!!! suara ledakan terdengar cukup dekat dan menggetarkan seisi ruangan.


Dan tak lama setelah itu, wajah Theo yang sedang memakai masker pun terekspos.


"Tes tes, apa kalian menyukai hadiahku?" Theo tersenyum sembari menyipitkan matanya. "Brengsek!"


"De .... Demon Eagle!?" para anggota number terkejut bukan main.


#Note

__ADS_1


Maaf ya kemarin2 gak update, lagi ada masalah duniawi😔. Kesibukan HQQ yang membuatku tak bisa meluangkan waktu bahkan satu menit.


terimakasih atas dukungannya selama ini.


__ADS_2