Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 81 : Menemui Mr W


__ADS_3

Setelah gagal mengontak Theo berulang kali, Hansen memutuskan untuk pergi mengunjungi Mr. W, tapi dihalangi oleh Hendra Pratama yang kala itu masih menghawatirkan kondisi Hansen.


"Aku gak papa kok!"


"Lihat nih!" Hansen melompat lompat dan meninju ninju udara sembari menunjukkan bahwa fisiknya benar benar baik baik saja. Tak cukup sampai disitu, demi mendapat persetujuan ayahnya Hansen meminta Dokter mengecek tubuhnya lagi. Dan benar saja sang Dokter langsung menjawab bahwa tubuh Hansen dalam kondisi terbaiknya. Meskipun sang dokter masih bingung dengan hasil tersebut.


"Lihat kan?"


"Aku gak papa, jadi Ayah gak perlu khawatir padaku," Hansen tersenyum sembari menepuk pelan pundak ayahnya.


Hendra yang sudah kehabisan alasan untuk meminta Hansen beristirahat, hanya bisa menghela napas sembari berkata, "Setidaknya ganti pakaianmu lebih dulu. Itu sudah robek robek dan penuh dengan darah."


"Ah ... benar juga," jawab Hansen saat melihat pakaiannya.


Singkat cerita, Hendra Pratama membawa pakaian ganti untuk Hansen dan membiarkannya pergi menemui Mr W.


Di tengah tengah jalan Hansen melihat Zaskia yang saat itu sedang memandang Adi Wijaya dari kejauahan. Tinjunya terkepal erat dengan pandangan yang penuh kebencian. Dia terus enatap ke arah Adi Wijaya yang kala itu sedang berjalan menuju pintu keluar stadion dan baru selesai berdebat dengan Mr W serta para Holder yang sempat menghalangi pintu keluar.


"Kau baik baik saja, Zaskia?" tanya Hansen khawatir. Dia menepuk pelan pundak Zaskia yang kala itu tersentak karena terkejut akan kehadiran Hansen.

__ADS_1


"Ti ... tidak apa apa kok ... , Aku hanya ... ," Zaskia terdiam seakan tak mau menjelaskan. Hansen yang tahu bahwa Zaskia masih cukup tertutup padanya, hanya bisa menutup percakapan dengan berkata, "Kalau ada hal yang mengganggumu, katakan saja padaku ya?"


"Jangan paksa cerita jika kau tak mau cerita, tapi jika kau membutuhkan teman untuk bercerita akan kudengar dengan senang hati." Hansen tersenyum tulus.


"Uhmm ... " Zaskia mengangguk pelan karena hanyut dalam pikirannya sendiri, tak lama setelah itu dia pun tersentak karena menyadari sesuatu. "Kenapa kau ada disini! Bukannya tadi bilang akan istirahat dulu?"


"Aku sudah benar benar sehat kok, tak perlu beristirahat begitu lama. Lagi pula ... ada seseorang yang harus kutemui secepatnya," Hansen menatap ke arah punggung Mr W yang kala itu sedang didekati oleh salah satu perwira bintang empat angkatan laut.


"Ka ... kalau begitu ... aku permisi dulu ... ," Zaskia kembali menuju ruang perawatan untuk merenungkan diri. Hansen tak menghentikannya karena berpikir bahwa mungkin membiarkannya sendiri untuk kali ini adalah keputusan yang baik. Terlebih saat ini, dia sedang memiliki hal penting yang harus dia pastikan dari mulut Mr W. Yang mana akhirnya mendorong Hansen untuk melangkah pergi mendekatinya. Dan berakhir berpapasan dengan empat belas Holder yang baru saja membubarkan diri dari pintu stadion.


Meski samar, saat berpapasan dengan Jenderal Katrina, Hansen merasakan perasaan yang sangat familiar. Dan perasaan itu menguat saat mata mereka bertatapan satu sama lain. Sayangnya pertemuan mereka berlangsung singkat hingga Hansen tak menyadari siapa sebenarnya yang baru saja dia temui itu. Hansen yang merasa janggal membalik badannya dan terus menatap punggung jenderal Katrina dengan penuh penasaran. "Kenapa aku merasa tak asing dengannya?"


"Tentu saja kau tak asing, wajahnya kan sudah tersebar luas di layar kaca!" Mr W menyela saat mendengar gumaman Hansen.


Sementara Mr W yang sedikit tak menyukai jenderal Katrina, tak bisa menutupi kekesalannya hingga berkata, "Jangan bilang seleramu sekarang berubah menjadi wanita yang dewasa! Meski begitu ingat kau sudah memiliki dua wanita di sekitarmu!" tegas Mr W mengancam.


"Bu ... bukan itu maksudku!" Hansen menepuk pelan dahinya lalu menghela napas dengan kesal. "Ahhh, sudahlah! Sulit untuk menjelaskan perasaanku tadi!"


"Lagi pula, ada hal penting yang ingin kubahas lebih dulu."

__ADS_1


"Hal penting apa memangnya?" tanya Mr. W dengan serius.


"Bisakah kau jelaskan tentang kelompok perompak?"


"Danger Eagle membawa pergi Demon Eagle untuk bergabung dengan kelompok itu." Hansen menjelaskan dengan serius. Dia menceritakan semua hal yang dia dengar melalui telepon dengan rinci. Dimulai dari dimana Theo kali ini, dan siapa yang membawanya. Dia juga menyampaikan pesan yang Zafar titipkan terkait dengan pegacauan opererasi mereka.


"Danger Eagle ada di kelompok perompak!"


"Dan dia membawa pergi Demon Eagle untuk dijadikan anggota mereka?" Mr W tersentak kaget. "Selain mereka berdua, siapa lagi mantan anggota Red Eagle yang bergabung dengan perompak!?"


"Justrul aku mau tanya padamu, Ayah mertua. Kau kan bisa menjangkau informasi yang bahkan tak bisa dijangkau orang orangku." Hansen menepuk wajahnya pelan.


"Begitu ya ... , baiklah akan ku kirimkan orang orangku untuk menyelidiki motif kelompok perompak dan melihat siapa saja yang ada disana!" Mr W menghela napas lalu menelepon bawahannya yang bertugas di perbatasan laut selatan.


"Terimakasih atas bantuannya, Ayah mertua!" Hansen membungkuk hormat.


Drtt drtt drttt!!! ponsel Mr W bergetar tak lama setelah itu, dan muncul notif dari aplikasi berita dunia yang terinstal di ponsel pintarnya. Saat notif aplikasi teraebut diklik, ponsel Mr W segera menunjukkan berita terhangat kali ini. Dan beritanya ialah mengenai kehancuran sekelompok Yakuza, dan pengumuman dari kelompok perompak yang mendeklarasikan bahwa Demon Eagle ialah bagian dari mereka.


"Ini ... mereka benar benar berani menentang Law Breaker!" Mr W terkejut saat melihat video yang nampaknya sengaja direkam dan disebarkan oleh para perompak. Video yang terang terangan mengejek dan menentang Law Breaker.

__ADS_1


"Dasar gila!"


"Sebenarnya apa yang sedang mereka coba lakukan!" Mr W tersentak kaget.


__ADS_2