Menantu Terhebat

Menantu Terhebat
Chapter 109 : Sampai di Shelter


__ADS_3

Seorang pria asing nampak sedang duduk sembari menempelkan ponsel ke telinganya. Pria itu berambut pirang dan berpakaian serba hitam. Di atas kepala pria itu terlihat ratusan drone yang melayang di atas udara. Sementara salah satu matanya nampak kuning keemasan menyerupai tampilan pencahayaan pada mata setiap Drone.


"Aku yakin kau tahu apa alasanku menghubungimu!" tegas suara dari balik speaker dengan menggunakan bahasa inggris melalui ponsel pria asing itu.


"Sky ... , harus berapa kali kukatakan padamu! Bukankah kita sudah sepakat untuk mengabaikan suatu tempat apabila tempat itu sedang ditempati oleh salah satu dari kita?" Pria asing itu membalas sembari bangkit dari tempat duduknya. Kemudian melangkahkan kaki mendekati sebuah dinding transparan yang berisi mayat Adi Wijaya. Tubuhnya yang sudah tak berdaya nampak sedang diteliti oleh puluhan tenaga medis yang nampak sibuk dengan urusan masing masing.


"Jadi kau akan apakan mereka?" tanya suara di balik speaker ponsel.


"Itu bukan urusanmu!" Pria pirang itu mengakhiri panggilan ponselnya.


"Jadi ... mau kau apakan tubuh itu?" tanya sosok bertopeng yang tiba tiba saja menunjukkan eksistensinya.


'Sejak kapan dia ada di belakangku!' Pria pirang itu nampak tersentak sejenak, sebelum kemudian berusaha menutupi keterkejutannya dengan bertanya, "Apa yang anda lakukan di sini tuan?"


"Bukankah seharusnya anda mengirimkan orangmu sesuai kesepakatannya?" tanya pria pirang itu.


"Orang yang ingin kupinjamkan padamu sedang memiliki urusan lain, jadi bisakah kau lanjutkan saja pekerjaanmu dengan mengurus tubuh itu?" tanya pria bertopeng joker dengan aura yang mendominasi.


"Apa anda sedang mencoba menekanku?" tanya pria berambut pirang dengan mata yang berubah menjadi ungu muda.


"Haruskah kuratakan saja organisasimu?" tanya pria bertopeng itu dengan nada mengancam.


"Yah lakukan saja jika itu memang maumu! Lagi pula sejak awal aku juga tidak terlalu menyukai mereka. Yah ... itupun jika kau sudah tak peduli lagi dengan kesepakatan kita .... ," sambung pria berambut pirang dengan nada mengejek.


"Apa kau baru saja mengancamku?" tanya pria bertopeng dengan tekanan yang semakin mendominasi.


"Meski kekuatan organisasimu memang cukup untuk meratakan seluruh organisasi kami hanya dalam sekali komando, jangan lupa kalau nyawa wanitamu ada di genggaman kami! Bukankah karena keberadaannya yang sulit kau temukanlah alasan dibalik keputusanmu menarik semua bisnis legalmu? Tuan Jaya Chandra!" tegas pria asing itu dengan mata ungu mudanya.


Duak kretakkk bruakkk!!! Jaya Chandra menghancurkan dinding kaca yang berada di dekatnya untuk meluapkan emosinya.

__ADS_1


"Hei hei hei, apa kau gila! Subjek di ruangan ini sangatlah penting untuk organisasi kami tahu! Kalau kau merusak ruangannya seperti ini, para ilmuan tidak akan bisa fokus lagi! Bukankah tertulis jelas di kesepakatanya! Selain menarik semua bisnis dan pengaruhmu, kau harus membantu kami mendapatkan formula untuk terus hidup dalam tubuh muda dan abadi?" tanya pria berambut pirang dengan sedikit penekanan dalam setiap kata katanya.


"Pindahkan saja dia ke ruang yang lain, dan lanjutkan sesukamu! Ron akan menyusul kemari setelah urusannya selesai!" Jaya Chandra berbalik pergi.


"Dan kapan tepatnya itu?" tanya pria berambut pirang dengan nada yang ditekankan.


"Paling lambat tiga hari dari sekarang, urusannya sangatlah penting dan tak dapat diganggu! Lagi pula kau tidak akan mati hanya karena menunggu tiga hari lebih lama kan?" tanya Jaya Chandra dengan nada menekan.


"Jika memang seperti itu, maka aku akan mencoba untuk bersabar. Oh iya ... apa kau tak ingin mengurus kekacauan di atas sana? Negaramu sudah diambil alih pihak lain loh?" tanya pria berambut pirang dengan nada meledek.


"Itu bukan urusanku! Karena aku hanya akan bergerak jika itu berhubungan dengan nyawa keluargaku!" tegas Jaya Chandra sembari melangkah pergi.


"Bukankah kata keluarga kurang cocok untukmu? Wanitamu kan belum sepenuhnya menjadi keluargamu, kan?" ledek pria berambut pirang.


"Sekali lagi saja kau ucapkan omong kosong dari mulut licinmu itu! Aku pasti akan menghabisimu sekarang juga!" Jaya Chandra nampak begitu emosi hingga memancarkan tekanan yang meluap luap.


'Law Breaker, awas saja kalian! Jika orangku sudah tahu pasti di mana kalian menyembunyikan wanitaku, akan kubuat kalian tersiksa hingga mendambakan yang namanya kematian!' Jaya Chandra pergi begitu saja dengan tangan yang terkepal erat.


Sementara itu di markas tersembunyi yang terhubung dengan Shelter, Theo dan kelompok Scorpion baru saja turun dari dalam helicopter mereka. Di susul oleh Hansen dan Ron, yang segera mendarat dengan mengunakan sebuah jet pribadi.


"Komandan? Kemana saja kau selama ini! Aku benar benar kesulitan untuk menghubungimu!" Theo segera berlari mendekati Hansen yang baru saja keluar dari sebuah jet pribadi yang tak dikenali.


Theo tak begitu memperhatikan orang di belakang Hansen, sehingga mengabaikan kehadirannya.


"Jika ingin mengobrol lebih lama dengan tuan Hansen, tolong jangan lakukan sekarang! Karena waktuku yang berharga tidak layak untuk dibuang buang dengan ocehan tak bergunamu!" Ron mengomel kesal.


"Hah! Siapa pria botak ini? Bisa bisanya dia menyela pembicaraanku!" Theo nampak kesal.


"Nak ... apa kau baru saja memanggilku botak!" Ron menyuntikkan sebuah serum ke lengan kanannya. Seketika mata memerah layaknya seorang subjek.

__ADS_1


"Wah wah wah, mata merah ya? Jadi ternyata kau juga seorang subjek! Kebetulan tanganku sedang gatal karena mengabiskan banyak waktu di dalam helicopter!" Theo menunjukkan mata merahnya.


"Bisakah kalian berhenti berkelahi! Ada hal penting yang harus ku urus saat ini!" Hansen menunjukkan mata hijau tuanya yang kemudian memberikan tekanan tersendiri terhadap dua orang yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Komandan ... kau ... ! Sejak kapan kau sekuat ini! Dan apa apaan matamu itu! Bukankah terahir kali itu berwarna merah!" Theo nampak tersentak.


"Ceritanya sangat panjang, dan aku tak bisa menceritakannya saat ini. Karena ada hal penting yang harus kami kerjakan secepat mungkin!" Hansen berkata demikian karena panggilan mendadak Jaya Chandra yang meminta Ron kembali dalam waktu tiga hari.


"Jika boleh tahu, urusan apa yang begitu penting hinga tak dapat kau tunda?" Theo melangkah maju mengikuti Hansen yang segera melanjutkan langkahnya menuju ke lokasi rahasia menuju Shelter.


"Menyembuhkan adikku!" Hansen menjawab dengan singkat.


"Apa kau yakin pria ini bisa melakukannya?" tanya Theo ragu.


Hansen mengabaikan sejenak sembari mengambil sepuluh buah batu kerikil. Melemparnya ke belakang secara terpisah tanpa berbalik badan. Kemudian mengenai sepuluh sosok orang orang yang bersembunyi. Lalu orang orang itu segera meledak tak lama setelah terkena serangan batu.


Duarr!!


Ledakannya mengejutkan Theo hingga segera membalikkan badannya.


"Percaya atau tidak, orang yang nampak tak meyakinkan di sampingku ini, ialah orang yang berhasil menjadikanku sekuat ini!" Hansen melangkah pergi mengakhiri perbincangannya.


'Bom peledakan diri, bisa dipastikan bahwa mereka adalah mata mata Number! Sepertinya tak lama.... Shelter akan menjadi medan perang!' Theo membalikan badan sembari melihat ke arah sumber ledakan.


"Awasi sekitar dengan cermat! Jangan lewatkan celah sedikitpun untuk musuh bersembunyi!" Theo memberi perintah kepada para bawahannya.


"Baik pak!" Segera setelah perintah diucapkan, kelompok Scorpion membubarkan diri mereka untuk menjadi mata yang menjaga wilayah yang tak terjangkau CCTV. Sementara Drone Red Eagle yang Theo bawa kabur beberapa dari markas perompak, dia gunakan untuk mengawasi area yang sulit diakses bawahannya, seperti halnya lorong atau lubang sempit, serta langit.


'Aku bahkan tak menyadari kehadiran mereka, lokasinya juga sangatlah jauh dari kami berdiri. Bagaimana bisa komandan mengenai mereka bahkan tanpa menengok ke belakang? Mungkinkah ininkarena mata hijau itu?' pikir Theo penasaran.

__ADS_1


__ADS_2