
Amira kembali meraih diary itu, iya membuka beberapa lembaran dari tulisanya, buku itu hampir penuh di tulis oleh nya, buku yang mungkin tebalnya lebih dari tiga ratus halaman itu, semuanya bercerita tentang perasaan Amanda terhadap Dion.
Sejak pertama kalinya mereka bertemu, hingga terakhir kalinya ia tinggal di rumah ini.
Amira membuka beberapa halaman sebelum halaman terakhir.
Ia pun membaca pada lembaran sebuah halaman dengan judul, pertemuan yang membuatku kecewa, ia pun mulai membacanya.
...Hari ini aku tak pernah menyangka sama sekali, jika orang yang kutunggu selama ini, ternyata ia sudah berkeluarga dan untuk kesekian kalinya, aku merasa kecewa pada mu Dion, aku berada di rumah mu, bukan seperti yang ku harap kan selama ini, aku bukan lah istri, hanya pembantu di rumahmu, berhari-hari ku tangisi nasib ini, jika saja kau tak menyatakan cinta mu saat itu Dion, mungkin kini, aku tak pernah mengharap mu lagi, melihat kau bahagia, aku seperti tersiksa, tapi aku begitu sadar aku tak pantas untuk mu....
Amira membalik beberapa halaman, untuk mencari bukti, apa yang mereka lakukan selama mereka berada di rumah ini, jujur saja, Amira tak percaya begitu saja pada Dion dan Amanda, ia ingin bukti, agar ia bisa yakin terhadap suaminya, atau ia bisa mengambil langkah tegas kembali, jika saja Dion dan Amanda, melakukan skandal di belakangnya.
...Hari-hari berlalu di rumah ini, tak ada yang berubah, kau masih saja bersikap dingin terhadap ku, melihat kau begitu mencintai istri mu Dion, aku semakin terluka, jika boleh, aku merasakan hal yang sama, aku ingin seperti dia, seluruh cinta dan perhatian mu hanya tertuju padanya, aku ingin seperti Mbak Amira yang bisa merasakan pelukan dan kecupan hangat mu setiap hari nya, ini membuat ku semakin gila, aku tak ingin melihat ini semua, tapi aku juga tak berdaya, aku sudah terlanjur cinta, aku tak ingin jauh lagi darimu, apa lagi sekarang aku tak punya banyak waktu lagi, karna aku seorang penderita kanker, tuntutan ekonomi juga memaksa ku harus tetap bekerja, untuk melunasi hutang ibu ku, akibat pengobatan ku....
Amira kaget, dengan tulisan Amanda, sepertinya mereka memang tak melakukan apa-apa, dan mereka tak terbukti berselingkuh di belakangnya, tapi masih belum puas, ia pun mencari halaman berikutnya.
...Ya tuhan aku ingin sekali seperti Mbak Amira, punya keluarga kecil yang bahagia, aku ingin memiliki anaknya dan suami nya, meski hanya sekejab, kabulkan lah, aku ingin bersam Dion, meski harus jadi yang kedua, Ya tuhan permohonan terakhir dari ku, aku ingin punya keluarga, aku ingin menikah dan merasa bahagia, biar kan dia jadi miliku, meski sebentar saja, sebelum aku benar-benar menutup mata ini, untuk terakhir kalinya, maaf kan aku Mbak Amira, aku begitu menginginkan suami mu, meski aku tahu jika Dion hanya mencintai mu..., ...
Setelah membaca halaman terakhir dari buku itu, Amira menjerit, ia pun kembali melepar buku itu, dan menangis di pelukan Arkan.
Amira menangis sejadi-jadinya hingga membuat Arkan binggung, "Ada apa Mira?apa Dion menghianati mu lagi?" tanya Arkan.
Tapi Amira tak menjawab, beberapa detik kemudian terdengar orang mengucapkan salam, dan itu adalah suara Dion.
"Assalammualaikum," ucap Dion.
Amira pun melepaskan pelukanya pada Arkan dan menghapus air matanya, ia berjalan gontai menemui Dion.
Melihat istrinya menangis, Dion pun langsung menghampiri dan memeluknya, "Kamu kenapa Cahaya, apa kamu sakit sayang?" tanyanya khawatir, karna saat pembicaraanya yang terakhir Amira baik-baik saja.
__ADS_1
Amira tak menjawab pertanyaan Dion, ia semakin erat memeluk Dion, dan itu yang membuat Dion menjadi heran.
"Kamu kenapa sayang, apa seseorang telah menyakiti mu?" tanya Dion semakin khawatir.
"I love you Dion," ucap Amira dengan gemetar.
"I love you too, " ia pun mencium pucuk kepala istrinya.
"Maaf kan aku Dion, aku selalu meragukan mu selama ini, aku selalu curiga kepada mu," tutur nya sambil menagis tersedu-sedu.
"Iya sayang, tapi ada apa sebenarnya ini?" tanya Dion, ia pun menuntun istrinya intuk duduk di ruang tamu.
Dengan penuh kasih sayang Dion menyapu air mata yang membasahi pipi istrinya, saat itu Amira masih terisak, Dion tak memaksakanya untuk cerita, ia pun memeluk istrinya, dan mengusap lembut pundak Amira agar ia tenang.
Arkan masih berada di kamar Amanda, ia merasa penasaran, apa sebenarnya yang membuat Amira menangis seperti itu, ia sepertinya begitu terluka.
Tanpa bermaksud lancang, Arkan pun membaca halaman yang baru saja di baca Amanda, bahkan Arkan yang seorang laki-laki saja, bisa menitikan air mata.
Butuh kebulatan hati, untuk tetap menunggu sesuatu yang tak pernah pasti, setelah penantianya yang cukup panjang, cinta itu tak mampu juga Amanda miliki.
Tapi apa lah daya, manusia hanya bisa merencanakan, tapi tuhan yang menentukan.
Seperti ia dan Diah, rencana pernikahan mereka harus batal, saat perencanaan sudah matang dan hampir sempurna.
Arkan pun keluar setelah menutup buku itu, ia kembali ke ruang tamu dan duduk menghadap Dion dan Amira.
Setelah Amira sedikit tenang dan berhenti menangis, Dion pun melepaskan pelukanya.
Ia menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
"Sekarang kamu ceritakan apa yang membuat mu menangis Cahaya?" tanya Dion.
Amira mengatur nafasnya ia pun kembali memeluk Dion.
"Maaf Dion selama ini aku mencurigaimu berselingkuh bersama Amanda di belakang ku," ucapnya terisak.
Dion hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Aku tahu sayang, kesalahan di masa laluku, akan selalu membuat mu ragu, tapi aku tak pernah mempersalahkan nya, yang terpenting bagi ku, kau mau menerima ku kembali, tak peduli jika kau masih ragu akan hal itu, karna seiring berjalanya waktu aku akan membuktikan sendiri, bahwa aku tak kan pernah mengulangi kesalahan itu," tutur Dion.
"Aku percaya Dion, jika kau hanya mencintai ku, dan untuk membuktikan semua itu, sekali lagi aku minta sesuatu pada mu, agar aku benar-benar yakin akan cinta mu pada ku," ucap Amira sambil memeluk Dion.
"Apa itu sayang, akan ku lakukan apa saja mau mu, asal aku bisa dan mampu," jawab Dion.
"Dion mau kah kau menikahi Amanda,?" tanya Amira masih dalam pelukan Dion.
Tak hanya Dion, bahkan Arkan pun kaget mendengar permintaan Amira.
Dion masih terdiam, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Amira pun mengulangi pertanyaanya.
"Dion mau kah kau menikahi Amanda?" Amira mengulangi pertanyaan nya.
jangan lupa
🍎like
🍎komen dan
__ADS_1
🍎vote
🍎hadiah juga boleh.