
Dion sudah bersikukuh untuk pindah dari rumah Mami, sepertinya Ilham memang tak menyukai kehadiran nya, selain itu iya tak ingin terlalu dekat dengan Tyas.
Setelah berkompromi dengan ummi dan istrinya, Dion pun menyatakan maksud nya kepada Mami.
Dion menghampiri Mami, "Mi Dion mau pindah ke kos-an Mi," ijin Dion.
"Tapi kenapa Dion? kamu ngak senang di sini?" tanya Mami.
"Bukan gitu Mi, Dion hanya ingn fokus belajar, karna jarak kampus dan rumah sangat jauh jadi Dion, kesulitan membagi waktu, apa lagi di semester dua Dion sudah aktif di laboratorium dan rumah sakit," Dion memberi alasan.
"Kalau begitu terserah kamu Dion," yang mana baiknya," ujar Mami.
Dion pun membereskan barang-barang nya, kemudian datang Yuni menghampirinya,
"Dion kenapa kamu pindah, pasti karna Ilham kan Yon?" tanya Yunita.
"Ngak kok Yun, aku merasa lelah dengan kegitan kampus yang semakin padat saja, jika tinggal di kos, dekat kampus kan, bisa lebih punya banyak waktu luang," Paparnya.
Setelah membereskan barang nya Dion, pun langsung pamit, dan di lihatnya Ilham sepertinya senang dengan kepergiannya.
Tiga puluh menit waktu berlalu, Dion sampai di tempat kos-an nya dan di sana ternyata sudah ada Alice.
"Alice kamu sudah lama nunggu di sini?" tanya Dion.
"Sudah setengah jam Dion," jawab Alice.
"Ya sudah ayo masuk," ajaknya.
Alice pun masuk, setelah merapi kan barang-barang nya, Alice keluar sebentar, dan tak berapa lama kembali.
Azan Dzuhur terdengar mengalun di Masjid dekat tempat tinggalnya, dengan menggunakan baju koko, peci dan sarung Dion pun keluar dari kamar, dan tak ketika itu Alice pun datang membawa kotak makan siang untuk mereka.
"Dion, mau kemana?" tanya Alice.
"Ya, mau sholat lah ngak dengar ya suara Azan," ucap Dion dan berlalu meninggalkan Alice.
Alice semakin kagum dengan sikap Dion, ternyata Dion orang yang taat pada agamanya, dalam hati Alice ada keraguan apa Dion akan mau menerimanya, sedangkan keyakinan mereka berbeda.
Sejak pertama bertemu, Alice memang suka dengan Dion, Dion yang selalu diam, tapi ramah ketika di ajak bicara, banyak sekali yang kagum dengan Dion, dan banyak juga yang kecewa karna di acukan olehnya.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Dion pun kembali dari Masjid.
Dengan segera ia mengganti bajunya koko nya dan menggantinya dengan kaos oblong dan celana pendek.
__ADS_1
Alice semakin terpesona ketika tak sengaja meliat kulit tubuh Dion yang putih, tak seperti lelaki pada umumnya, Dion terlihat bersih, karna ia memang menyukai kebersihan.
Sementara Amira, ia senang karna saat memeriksa kan ke bidan detak jantung bayi nya sudar terdengar, kini Amira mengandung selama 4 bulan, karna senang ia pun menelpon sang suami.
Dion tengah makan kala itu, bersama Alice, mendengar telponya berbunyi Dion langsung menghampiri, Dion yang terlihat senang, kemudian menjauh dari Alice.
"Halo sayang," Sapannya
"Halo Dion," suara Amira lembut.
"Kamu kemana saja Yon?" kok ngak nelpon.
"Ada kok, kemarin aku sibuk, karna harus pindah dari rumah Mami, dan hari ini aku mulai tinggal di kos-kosan."
"Oh ya sayang bagaimana kabar kamu dan bayi kita?" tanya Dion.
"Alhamdullilah sehat, "
"Setelah kamu melahirkan aku akan bawa kamu kesini, rasanya aku ngak betah lagi jauh dari kamu." Dion.
Alice yang mendengar percakapan itu, tak percaya ternyata Dion sudah punya istri, batinya.
Pantas saja Dion bersikaf acu pada wanita,
Setelah selesai bicara pada Amira di sabungan telpon, ia pun kembali pada Alice.
Dan di sana di lihatnya wajah Alice yang tampak sedih," Kamu kenapa Alice?" tapi Alice tak menjawab malah balik bertanya.
"Kamu nelpon siapa Yon," tanya Alice memcoba memastikan.
"Oh tadi Istriku," jawab nya Santai.
Alice kaget mendengar penuturan Dion yang jujur, padahal ia berharap Dion berbohong agar ada alasanya untuk bertahan pada perasaanya.
"Jadi kamu sudah punya Istri Dion?" kembali menegaskan.
"Iya dan sebentar lagi kami punya anak, jawabnya santai," sambil menikmati santapan makan siangnya.
Alice semakin kecewa, Lalu kamu anggap apa hubungan kita Dion, apa kamu hanya mengganggap ku sebagai teman, tapi berbeda sekali dengan ku, aku ingin menjadi milikmu Dion, bahkan aku rela mengganti keyakinan ku, andai kau mau menjadikan ku istrimu, batin Alice.
Alice tak dapat menyembunyikan perasaan nya, ia pun langsung berpamitan pulang, dan saat di mobil ia menumpahkan air mata nya kembali di dalam mobil.
Mulai sekarang aku akan belajar melupakan kamu Dion, batin Alice.
__ADS_1
Lain Alice, lain pula Tyas, mengetahui Dion sudah pindah dari rumah Mami, ia gelisah, dengan kepindahan Dion, ia merasa tak akan bisa menemui Dion lagi.
Keesokan hari nya,
Dion berjalan menuju Aula kampus nya di sana akan di adakan simposium tulang belakang, Dan kebetulan ia melihat Alice.
"Hai Alice," seru nya.
Alice pun menoleh, "Dion, Kamu ikut seminar juga?" tanya Alice.
"Iya, siapa tahu bisa untuk tambahan nulis skipsi," jawab nya santai sambil berjalan.
"Kuliah baru beberapa bulan sudah mau nulis skipsi," ucap Alice heran.
"Perencanaan itu harus di mulai dari sekarang, karna aku ingin sekali cepat menyelesaikan kuliah ini," ujar Dion.
Alice sudah mencoba untuk menjauhi Dion, tapi tatapan mata nya selalu mengarah ke Dion, rasa itu begitu kuat, hingga tak mampu untuk di tolak, Alice hanya bisa pasrah dengan keadaan, bukankah cinta tak harus memiliki.
Sementara Ilham menjemput Tyas, Tyas berusaha menolanya, tapi karna Ilham sedikit memaksa ia jadi dengan terpaksa ia pun pergi.
Tyas tak tahu jika sekarang ini, Ilham punya rencana jahat untuk Tyas, melihat Tyas yang sepertinya menyukai Dion, Ilham cemburu dan mulai timbul niat jahat untuk memiliki Tyas.
Ilham membawa Tyas ke rumah kecil di pinggir kota, rumah itu biasanya di gunakan untuk Pak Dadang, penjaga kebun Ayahnya untuk beristirahat.
Saat itu, ia tahu bahwa Pak Dadang pulang kampung, karna ada acara pernikahan adik nya, jadi rumah tersebut kosong.
Ilham kenapa kamu bawa aku kesini, tanya Tyas curiga.
"Aku ada perlu," jawannya ia pun masuk.
Tyas tak masuk ke dalam rumah itu, ia hanya menunggu di luar, keadaan sepi membuat Tyas takut menunggu di luar, sementara Ilham, setelah beberapa kali di panggil oleh Tyas, ia tak menyahut.
Tyas pun masuk kedalam rumah tersebut sambil memanggil-manggil Ilham.
Tapi tiba-tiba saja ada tangan yang membungkam mulutnya, tubuhnya pun di seret masuk kedalam kamar, Tyas tak bisa berteriak.
Ternyata Ilham yang membungkam mulutnya, dengan sedikit memaksa Ilham menarik tubuh Tyas dan menghempas kan nya ke atas kasur.
Tyas coba berontak tapi ia tak berdaya, Ilham kini menindih tubuh nya, dan dengan gerakan sedikit kasar ia coba melepaskan pakaian Tyas.
Tyas memnerontak sambil menangis, berkali-kali ia memohon agar Ilham tidak melakukanya, tapi sia-sia.
Kini ilham berada di atas tubuh nya yang sudah bugil, Ilham tinggal membuka segitiga pengamanya maka tak ada batas lagi antar mereka.
__ADS_1
Ilham bergerak dengan kasar, turun naik di atas tubuh Tyas, sementara Tyas mengerang kesakitan karna kini Ilham berhasil merobek kegadisannya.