
Tyas menangis sejadi-jadi nya saat Ilham menarik tubuhnya, tak hanya sekali Ilham bahkan dua kali melakukanya.
Melihat Tyas yang menangis, Ilham kesal,
"Sudah diam Tyas! aku akan bertanggung jawab pada mu," dengan sedikit membentak.
Tyas semakin menjadi jadi menangisnya, karna ia tak mencintai Ilham, dan ia hanya mencintai Dion.
Tyas memakai kembali pakaianya, dengan hati yang hancur, ia tak menyangka jika, Ilham bisa sekeji itu padanya.
Harapanya untuk memiliki hidup bersama dengan orang yang di cintainya kini, perlahan mulai sirna, tak kan ada pria yang mau mencintai gadis yang sudah ternoda.
Sementara bukannya semakin mencintai Ilham, kini Tyas semakin membencinya.
Tyas masih menangis meringkuk, yang terbayang saat ini hanya wajah Dion. Batinya menjerit, rasa nya, ia tak pantas untuk hidup lagi.
Tyas berlari kearah dapur, ia mencoba untuk mencari piasu dapur untuk melakukan upaya percobaan bunuh diri.
Ketika akan menusukan pisau itu ke perutnya, Ilham berteriak dan menggagetkan Tyas, hingga pisau itu terjatuh.
"Apa yang kau lakukan Tyas," Ilham memeluk Tyas.
"Aku tak ingin hidup lagi." Tyas kembali menangis.
"Maaf Tyas, apa yang kulakukan ini, karna aku terlalu mencintaimu, aku hanya ingin kau menjadi miliku." Ilham memeluk Tyas.
"Aku berjanji akan segera menikahi mu, Tyas," tambahnya lagi.
Sementara Tyas hanya menangis, ia tak kuat menahan batinya, Tyas pun berlutut.
Tapi Ilham kembali meyakinkan Tyas, setelah keadaan Tyas agak tenang, ia pun mengantar Tyas pulang.
Ilham berfikir bagaimana caranya ia memberitahu Maminya, jika ia ingin menikahi Tyas.
Tiba saatnya makan malam keluarga, semua sudah berkumpul, Mami, Papi dan Yunita.
Setelah makan malam, Ilham bermaksud menyatatakan keinginan nya untuk menikahi Tyas.
Meski dengan gugup, ia pun langsung mengutarakan niatnya.
"Mi, Ilham mau menikah," ujarnya dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"Apa Ham, kamu bercanda ya?" Mami sedikit kaget, ia pikir Ilham hanya bercanda.
Semua mata tertuju pada Ilham, termasuk Papinya.
"Ilham ngak bercanda Mi, Ilham serius ingin menikahi Tyas," tegasnya.
"Ham, kamu itu masih muda, kuliah saja belum selesai, mau kawin, udah Mami ngak ngijinin, kamu kuliah dulu, baru kerja, bagaimana mau memberi makan anak orang, kamu saja masih makan sama kami," ucap Mami ketus.
"Mami benar Ham, menikah bukan perkara yang gampang, kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya pada istrimu, belum lagi kalau kalian punya anak, lagi pula, kamu mau kerja apa, Sarjana saja susah cari kerja apalagi kamu, hanya tamatan SMA, kamu selesaikan dulu kuliah kamu, Baru Papi akan melamar Tyas, tenang saja Tyas ngak akan kemana-mana kok." Papi
"Tapi Ilham ngak sabar Mi, Ilham janji Ilham akan cari kerja sendiri, dan dengan uang yang Ilham kumpulkan, Ilham akan melamar Tyas," ucapnya ketus sambil berlalu dari mereka.
"Ilham kenapa ya, Pi? Kok ngak biasanya ia seperti itu," tanya Mami Khawatir.
"Yuni tahu Mi, kenapa Ilham ingin segera menikahi Tyas, karna Tyas kini menyukai Dion, dan Yuni yakin, Ilham pasti takut kehilangan Tyas," Papar Yuni.
"Oh, jadi itu sebabnya Dion pergi dari sini, ternyata ia menghindari Ilham dan Tyas."
"Mungkin Mi," balas Yuni.
Ilham pergi tapi ia binggung harus kemana.
Ilham pun teringat dengan seorang temanya yang bernama Jack, Jack itu teman SMA nya, hanya saja Jack tak menyelesaikan sekolah nya hingga lulus.
Jack pernah menawarkan Ilham untuk suatu pekerjaan kurir, namun dengan gaji yang besar, tapi Ilham menolaknya, ia tak berani menanggung resiko.
Ilham merasa shock dengan penampilan Jack yang sekarang, jack yang dahulu gelandangan, kini punya motor yang bagus dan penampilanya kini semakin trendy, hampir saja Ilham tak mengenalinya.
Dan Ilham tahu kemana harus mencari Jack, Jack sering nongkrong di sebuah warung kopi langgananya, maklum saja, Jack tak punya orang tua, ia hidup gelandanggan dan hanya numpang sana-sini dengan teman-temanya.
Dan ternyata benar, Jack sudah ada di tempat nongkrongnya, Ilham pun menghampiri.
"Hai Jack," sapa Ilham.
"Hai Ilham, " lama ngak ketemu nih, ujarnya.
"Wah, makin macho saja kamu Jack, "puji Ilham, karna ia memang melihat begitu banyak perubahan yang terjadi pada Jack.
"Iya dong, aku sekarang banyak duit Ham, jadi ngak di pandang sebelah mata sama orang-orang lagi,"tutur Jack yakin.
"Wah aku mau dong Jack seperti kamu, aku ingin punya penghasilan sendiri, biar bisa melamar pacar ku," ucap Ilham dengan yakin.
__ADS_1
Jack tersenyum," Bukanya dari dulu aku nawarin kamu, malah kamu menolak, kamu bilang bahaya lah, resikolah, dan banyak saja alasan kamu, Ham."
"Tapi kamu lihat aku Ham, dengan mudahya kini aku punya uang, tanpa susah payah bekerja, aku sudah bisa hidup enak," tutur Jack meyakinkan Ilham.
"Iya Jack, aku mau dong ikut kamu kerja, aku butuh duit secepatnya untuk melamar kekasih ku," ujar Ilham.
"Ok nanti aku jelaskan sama kamu Ham, cara kerjanya, sekarang kamu pesan kopi, makan, atau apa saja, biar aku yang bayar, silahkan pesan sesukanya."Jack semakin meyakinkan Ilham bahwa kini ia punya banyak uang.
Alice kembali ke kos-an Dion, seperti biasa Alice menggunakan rok mini dan tanktop. Alice tak bisa memungkiri perasaannya terhadap Dion.
Semakin ia mengenal Dion, ia semakin menginginkanya.
Alice mengetuk pintu.
Tok..Tok..Tok..
Tak lama berselang, Dion membuka pintu dan kaget dengan kedatangan Alice.
"Astafirullahal Azim," ucap Dion, ketika melihat Alice.
Dion pun menundukan pandanganya dan kembali kekamarnya, sementara Alice heran dengan kelakuan Dion.
Tak lama berselang, Dion keluar dengan membawa kemeja panjang dan Kain sarung.
"Alice Pakai ini," ucap Dion sambil menyerahkan pakaian yang di tangganya.
Alice hanya diam,. tapi ia menuruti saja, ia kenakan kemeja Dion dan sarung nya, baru lah Dion mau melihat ke arah nya.
"Kenapa sih Dion, biasa aja kali, aku sudah terbiasa dengan pakaian seperti ini," ujar Alice ketus dan tersinggung.
"Kalau kamu mau menemui aku, ya pakaian kamu harus seperti ini, Lain kali jika kamu pakai baju begitu lagi, aku ngak akan bukakan pintu," ujar Dion tegas.
"Oh, maksud kamu, aku harus pakai hijab agar bisa bertemu kamu, tapi akukan bukan muslim Dion," papar Alice.
"Alice menutup aurat bukan hanya kewajiban seorang muslim, menutup aurat baik untuk dirimu sendiri, itu akan melindungi kamu dari mata yang jelalatan.
"Apa kamu ngak sayang Lis, wajah kamu yang cantik, dan tubuh kamu yang molek, kamu umbar kesana- kemari, kan sayang Lis." tambah Dion lagi.
"Selain itu, kamu harus menghormati aku Lis, sebagai seorang muslim aku ngak boleh melihat aurat wanita, nanti aku yang berdosa," papar Dion.
Alice seperti mendapat tamparan keras dari kata-kata Dion, Dion memang benar, tak seharusnya ia berpakaian seperti itu di depan Dion, karna ia tahu sendiri Dion seorang muslim yang taat, Alice semakin mengagumi Dion.
__ADS_1