
Beberapa hari telah berlalu, Amira pun kembali ke kantornya, ia dan Arkan masuk dalam ruangan Preseden direktur, ruangan nya sendiri.
Amira sedikit kaget, ketika ia masuk sudah ada bunga mawar merah yang tergelatak di atas mejanya, kartu kecil bertulis I love you.
Kata yang universal, semua orang tahu artinya, dan Amira sendiri juga tahu siapa pengirim bunga itu.
Amira menjadi senang, ia pun meletakan sekuntum bunga indah itu di dalam vas, yang di letakanya di atas mejanya.
Amira melihat ke arah Arkan, yang masih sibuk berkutat dengan handphonenya.
"Emhm, Ehm, waktunya bekerja, bukan sibut dengan berbalas chat." Amira menyindir Arkan.
"Siap Ibu bos." Arkan pun mengambil beberapa file, untuk ia pelajari.
"Oh ya, besok jadikan kita ikut rapat bersama Raihan, ada dokter Diah dan Dion juga loh," tutur Arkan.
"Emang harus ya, aku ikut?" tanya Amira.
"Ngak harus sih, tapi setidaknya kamu harus menghargai orang yang telah mengundang kita."
"Lihat nantilah Kan, aku masih lelah, banyak sekali masalah yang ku hadapi akhir-akhir ini, apalagi kamu jarang ngajak aku bicara, kamu sibuk dengan dokter cantik itu kan?" gerutu Amira.
"Ia aku lagi pe-de-ka-te sama dokter Diah, Kan lumayan juga, dapat istri seorang dokter, kalau sakitkan ngak perlu kerumah sakit, ada yang mengobati," Arkan menaik turunkan alisnya.
"Modus," jawab Amira ketus.
"Mira kamu yakin ngak mau menerima Dion kembali?" tanya Arkan.
"Belum tahu Kan, biarin saja aku ngak bisa mikir lagi, setiap kali berfikir, kepala ku pusing, jadi timbul strees, aku jalani saja apa adanya, jodoh di tangan tuhan, aku yakin, ia pasti memberi yang terbaik untuk ku," Papar Amira.
Arkan merasa kasihan pada Amira, belakangan ini ia memang jarang sekali menemani Amira bicara, ia sibuk ngobrol dengan dokter Diah.
Padahal saat ini, Amira hanya punya dirinya, tempat ia mencurahkan keluh kesah nya.
Amira membaca sebuah file, tapi tiba-tiba saja ia merasa pusing.
"Aduh, sakit kepala lagi," keluh nya, ia pun menutup file dan duduk bersandar pada kursi kebesaranya yang empuk.
"Kau kenapa Amira?" kalau sakit aku antar pulang ya?" tanya Arkan.
"Ngak Kan, hanya sakit kepala biasa, semakin hari, beban ku semakin berat saja, aku rasanya tak sanggup menanggung semuanya ini."
"Masalah kerjaan, masalah perjodohan, belum lagi permintaan Gea dan Geo terhadapku, aku benar-benar pusing Kan."
"Emang Gea dan Geo minta apa sama kamu?" tanya Arkan.
"Apalagi kalau ngak minta aku balikan sama Ayahnya, belum lagi Oma dan Ibu yang menuntut ku untuk segera menikah dengan Raihan, aku benar-benar pusing, aku bisa strees jika seperti ini," tuturnya dengan menghempas nafas panjang.
Arkan mendekati Amira, Ia pun memeluknya.
"Maaf Mira, jika aku sekarang sibuk dengan urusan pribadi ku, aku sedikit mengacukan mu, padahal aku tahu kau sangat membutuhkan ku saat ini, cinta memang membuat orang lupa diri, aku jadi lupa pada mu, aku seperti bersenang-senang di atas penderitaan mu," tutur Arkan memeluk saudara sepupunya itu.
"Bukan begitu Kan, tapi masalah ini semakin rumit saja, apalagi orang tua Raihan dan Oma sudah menetapkan tanggal pernikahan ku Kan, mereka mengambil keputusan sendiri, tanpa bertanya dahulu pendapat ku"
"Sudalah Amira, kau duduk dengan tenang, biar aku yang mengurus semua berkas ini."
Arkan pun menelpon seseorang.
Amira memijit ringan kepalanya, karna memang ia merasa pusing, selain karna trauma kepala yang ia alami, masalah hidup membuatnya stress, dan tak bisa berfikir dengan jernih.
Amira duduk termangu di kursi kebesaranya. ia pun mengoyang-goyangkan kursi itu, agar dia bisa merasa relax kembali.
__ADS_1
Lamunan nya terhenti, ketika suara agak berisik mendekati ruanganya.
"Ibu !!!!" seru Gea dan Geo, mereka pun berlari menghampiri Amira.
"Hai sayang sama siapa kemari?" tanya Amira.
Dan belum pun pertanyaan itu di jawab oleh keduanya, seseorang datang menghampirinya, dan itu cukup membuat nya kaget.
"Dion," ucapnya lirih.
"Kami datang untuk mengajak ibu jalan-jalan Bu, kita ke mall, ayo bu ikut," ajak Gea dan Geo sambil menarik tangan Amira.
"Ke Mall?" Amira memandang kearah Dion.
"Iya, Cahaya, kita bawa mereka jalan-jalan yuk," ajak Dion.
Amira kaget, ia pun mengalihkan pandanganya ke Arkan.
"Iya Amira, pergilah, mungkin ini semua bisa membuat mu rilex kembali, masalah kantor serahkan saja pada ku", kata Arkan meyakinkan Amira.
"Iya Bu ayo kita ke Mall," Gea dan Geo menarik paksa tangan Amira.
Amira masih ragu, ia pun melihat ke arah Dion.
"Iya Bu, ayo dong Bu, kita jalan sama Ayah," ucap Dion, yang menyebutnya dengan Ibu.
Amira tersenyum," Ayo" , ia pun bangkit.
"Yeee asik ibu mau ikut," sorak Gea dan Geo.
"Ih seneng banget, Om Arkan boleh ikut ngak?" canda Arkan.
"Ngak boleh, Gea dan Geo cuma mau jalan sama Ayah dan Ibu, Om Arkan jaga di sini saja ya," tutur Gea.
"Dadah Om, Om jangan nakal ya," tambah Gea, mereka pun berlalu.
Arkan hanya tersenyum melihat tingkah pola keponakanya, Arkan tak pernah melihat Gea dan Geo sebahagia ini, tawa mereka lepas sekali, akhirnya selama bertahun-tahun mendambakan sosok Ayah, kini mereka bisa bersama kembali.
Setelah keluar dari kantor, Dion membukakan pintu untuk Amira.
"Ayo Bu, masuk," ucapnya sambil membuka pintu.
Gea dan Geo duduk di bangku belakang.
"Kita kemana nih, mau ke Mall atau kita makan dulu nih?" tanya Dion.
"Kita makanya di Mall aja yah," jawab Geo.
"Ok pak bos, " sahut Dion.
"Bu, ibu makan apa Bu?" tanyanya menggoda Amira.
"Apaan sih, ngak usah panggil ibu deh," cetus Amira, ia pun tersenyum malu, karna sebelum nya Dion tak pernah memanggilnya dengan sebutan Ibu."
"Ya ngak apa juga, untuk membiasakan diri, nanti kalau kita nikah lagi kan udah ngak canggung," ucapnya sambil melirik Amira dengan tersenyum.
Melihat lirikan Dion, tanpa sadar Amira tersenyum sendiri, ia sudah tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, saat bersama Dion dan anak-anaknya, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.
Hanya suara canda dan tawa di dalam mobil itu, sepanjang perjalanan.
Sesampainya di Mall, mereka pun langsung mencari restoran yang ada di Mall.
__ADS_1
"Kalian mau makan di mana?" tanya Dion pada Gea dan Geo.
"Di situ Yah," mereka pun menunjuk restoran ayam goreng cepat saji.
Mereka pun menuju menuju restoran cepat saji itu.
Setelah memesan, beberapa saat kemudian makanan pun terhidang.
Selain memesan Ayam goreng, mereka juga memesan menu lainya, seperti kentang goreng, dan soup jamur.
Dion mencolet kentang goreng dengan sedikit saus, kemudian menyuapkanya kearah Amira.
Amira menolak, ia pun menghindar.
"Ayo Bu, ngak usah malu di suapin sama Ayah," tutur Dion, dengan perasaan sedikit sungkan Amira pun membuka mulutnya, agar Dion bisa menyuapinya kentang goreng.
"Ye!!!!" sorak Gea dan Geo.
Amira pun jadi malu.
"Ibu sekarang ibu dong suapin Ayah," cetus Gea.
"Ngak ah," sahut Amira.
"Ngak apa sayang, Ibu masih malu, biar saja, nanti kalau malunya udah ilang, nasi goreng asin juga di suapin sama Ayah," tutur Dion.
"Iya kan Bu, masih malu," ledek Dion.
Amira hanya tersenyum, ia merasa sangat bahagia saat itu, seolah beban hidup yang membelenggunya, lepas secara perlahan.
Ternyata cara mudah untuk bahagia adalah dengan jujur pada diri sendiri, tak membohongi dan berbohong tentang apapun, termasuk perasaan yang di rasakan saat itu.
Perlahan dan pasti kebahagian akan kita raih, andai saja kita bisa bersyukur, dan tak pernah mengingat dendam yang hanya akan merampas kan kebahagian diri sendiri.
Setelah makan siang, mereka pun bermain di Mall, berbagai permainan pun mereka coba.
Amira dan Dion berada di luar ruangan, karna ruangan tersebut, khusus tempat bermain anak-anak.
Mereka duduk di kursi sembari mengawasi Gea dan Geo, Dion berinisistip membeli eskrim mangkok.
Ia pun duduk di samping Amira dan menyuap es krim tersebut ke mulut Amira, kali ini tanpa penolakan, Amira dengan suka rela menerima eskrim yang di suapkan Dion padanya.
Secara bergantian, Dion menyuapkan es tersebut untuk dirinya dan Amira, hingga es krim tersebut habis, Gea dan Geo belum juga selesai main, mereka terlihat senang dan ceria.
Karna rasa lelah, Amira menyandar kan kepalanya pada bagian belakang kursi.
Melihat Amira yang bersandar pada kursi, Dion semakin mendekatinya, hingga tak ada jarak lagi amtara mereka.
Dion merangkul bahu Amira dan menyandarkan kepala Amira ke bahunya, Amira kaget, tapi kali ini ia menutut saja.
Dengan penuh perasaan Dion membelai rambut panjang Amira, dengan tangan kirinya, dan dengan tangan kanannya ia meraih jari jemari Amira dan menciumnya dengan penuh perasaan.
Amira tak sanggup lagi menolaknya, semua perlakuan Dion saat itu membuatnya bahagia, membuat hatinya tentram dan nyaman.
Akhirnya keduanya pun saling menatap mesra.
Silah kan tinggalkan jejak like komen dan vote ya, bunga juga boleh, biar author semakin semangat upnya.
Mampir juga di novel author yang lain, sudah tamat, dengan kisah yg lebih seru
dengan judul:Ketika takdir menyatukan aku dan mereka
__ADS_1