
Amanda membuat secangkir kopi untuk Arkan, meski masih merasa lemas, namun ia coba untuk menguatkan dirinya agar tak terlihat sakit di hadapan Arkan.
Arkan sudah siap untuk kembali ke kantor, Amanda masuk ke kamar untuk mengurus semua keperluan Arkan, dan memakainya dasi.
"Kamu bagaimana Amanda, kalau masih sakit kita ke dokter saja," kata Arkan pada Amanda yang tengah memakaikanya dasi.
"Aku ngak apa-apa Mas, minum obat juga sudah enakan," jawab Amanda.
"Kalau begitu Mas pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah, jangan lupa di minum obatnya."
"Iya Mas, tapi sebelum pergi sarapan dulu, Manda sudah siapkan semuanya." Manda.
"Ayo kita sarapan bersama,"Arkan merangkul Amanda.
Setelah sarapan Arkan pun berangkat," Mas pergi ya, jika terjadi sesuatu, langsung hubungi Mas,"
"Iya Mas," Amanda pun mencium tangan suaminya, dan di balas dengan kecupan di kening dan di bibir Amanda.
Senyum terlukis di wajah Amanda, saat mengantar kepergian Arkan, hal ini merupakan ke bahagiaan yang ia dambakan selama menjadi seorang istri, hal yang paling berat adalah mepaskan Arkan pergi dari sisinya meski hanya untuk bekerja, dan hal yang paling di nantikanya adalah menunggu kepulangan suaminya.
Setelah mobil Arkan tak nampak lagi di matanya, Amanda pun masuk ke kamar, ia terlalu bersemangat untuk meminum obat.
"Bismillah, Semoga dengan meminum obat ini bisa memperlama waktu ku, saat ini aku sedang bahagia, aku tak ingin waktu berlalu terlalu cepat, aku ingin hidup lebih lama bersamanya," kata Amanda pada dirinya sendiri.
Setelah minum obat, Amanda duduk di meja riasnya, ia kaget melihat wajahnya yang semakin pucat dan pipinya pun mulai cekung.
Amanda berlari kecil ke luar kamar dan mencari timbangan, ia pun menimbang berat badanya.
"Astaga, hanya dalam dua hari berat badan ku turun hingga tiga kilo, pantas saja wajah ku cekung," ia pun meraba wajahnya.
"Apa yang harus ku lakukan, aku tak ingin terlihat jelek di hadapan suami ku," ia pun menangis.
Bu Nita keluar dari kamarnya dan dilihatnya Amanda menangis.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Bu Nita.
Amanda pun langsung menghapus air matanya.
"Berat badan Manda turun drastis Ma, wajah Amanda terlihat sangat tirus, Amanda merasa wajah Amanda jelek Ma," tangis nya.
"Sabar Manda, kamu makan yang banyak, biar terlihat sehat, " kata Bu Nita sambil membelai rambut putrinya.
"Bagaimana Amanda bisa makan banyak Ma, Amanda ngak nafsu makan, semua terasa pahit, baru makan beberapa suap sudah muntah, Manda harus bagaimana Ma, Manda ngak mau terlihat jelek di hadapan Mas Arkan," tuturnya sambil menangis sedih.
Bu Nita hanya bisa memeluk putrinya, ia begitu kasihan terhadap Amanda, baru beberapa hari menikmati kebahagian pernikahanya, kini Amanda kembali kehilangan kepercayaan dirinya.
Arkan tiba di kantor, dan disana sudah ada Dion dan Amira.
Wajah Arkan terlihat lesu.
"Hai Kan, pengantin baru kok lesu sih ?" tanya Dion.
Arkan duduk di samping Amira.
"Kamu kenapa Kan ?" tanya Amira.
Arkan bergantian melihat keduanya.
"Mama ku meminta ku untuk menikah lagi," jawabnya lesu.
Keduanya kaget mendengar jawaban Arkan.
"Lalu apa kamu mau?" tanya Dion, tak biasanya Dion kepo.
"Aku sih ngak mau, aku ngak bisa menyakiti perasaan Amanda, saat ini saja dia sudah tersiksa dengan penyakitnya, aku ngak mau lagi menambah penderitaanya," tutur Arkan.
"Kamu benar Kan, ngak akan ada wanita yang rela di madu, apalagi Amanda sedang sakit, dia pasti menginginkan perhatian lebih dari mu," papar Amira.
__ADS_1
"Tapi aku di paksa sama Mama, jika aku tak menurutinya, aku nanti jadi anak durhaka, sementara aku sudah berjanji pada Amanda untuk membahagiakanya," papar Arkan, ia terlihat sedih.
"Menurut aku Kan, kamu bilang sama Mama kamu, jika kamu sudah berjanji untuk membahagia kan Amanda, dan sebagai seorang lelaki sejati, kamu harus menepati janji mu," saran Dion.
Arkan menyunggingkan senyum tipisnya kearah Dion.
"Mama ku tuh orangnya keras kepala Dion, kalau dia bilang A ya harus A, sejujurnya aku juga ngak ingin mengecewakanya kembali, apalagi sebelum nya aku dan Dyah gagal menikah," ungkap Arkan.
Mendengar nama Dyah, Amira dan Dion baru teringat dengan kedatangan Dyah kemaren.
"Eh iya Kan, kemaren Dyah datang kemari," cetus Amira.
Arkan kaget bukan kepalang, ia tak menyangka Dyah akan kembali secepat ini.
"Serius kamu Mira ?" tanya Arkan yang masih tak percaya.
"Ya serius lah, kenapa aku harus berbohong," sahut Amira.
Arkan terdiam sebentar, ia pun menarik nafas panjang.
"Lalu Dyah ngomong apa sama kamu ?" tanya Arkan.
Kali ini Amira dan Dion saling memandang, mereka binggung apa harus menceritakan semuanya pada Arkan, sementara mereka tahu jika Arkan masih mencintai Dyah, tapi mereka juga tak tega dengan Amanda, bagaimana jika Arkan dan Dyah kembali bersama, lalu bagaimana dengan Amanda.
"Kok diam sih ?" tanya Arkan sambil menatap keduanya bergantian.
"Gimana Yah ?" tanya Amira pada Dion.
"Kasi tahu saja Bu, biar saja Arkan yang menentukan pilihanya sendiri," jawab Dion.
Mendengar pembicaraan mereka Arkan semakin penasaran.
"Sebenarnya ada apa sih? apa yang kalian sembunyikan?" tanya Arkan mendesak.
"Kan, aku ngak bermaksud menyembunyikan nya dari mu, aku hanya khawatir sebelah pihak akan merasa tersakiti," papar Amira.
"Dyah bilang dia masih mencintai kamu, dan berharap rencana pernikahan kalian tidak di batalkan, ia sengaja melepas bea siswanya dan memilih untuk melanjutkan pernikahan dengan mu," papar Amira.
Arkan semakin kaget, bola matanya pun melotot mendengar penutura Amira.
Arkan menarik nafas panjang dan menghempaskanya dengan kasar.
Semua semakin berat jika pilihan itu antara Dyah dan Amanda, bagaimana pun Arkan tak bisa menyakal perasaan nya jika ia masih sangat menginginkan Dyah.
Amira memeluk Arkan, "Aku tahu Kan, kamu pasti sulit untuk memutuskan ini semua," papar Amira sambil memeluk Arkan.
Keduanya pun meneteskan air matanya, baik Arkan maupun Amira.
"Apa yang harus aku lakukan Amira, aku tak ingin kehilangan Dyah kembali, tapi aku juga tak sanggup menyakiti perasaan Amanda, aku melihat ia begitu bahagia dengan pernikahan kami, dan rasanya terlalu sadis jika aku menyakiti orang yang sudah berharap terlalu banyak pada ku, aku sudah sering melihatnya menderita, apa aku sanggup untuk menambah penderitaanya, aku baru saja mengobati lukanya, apa mungkin aku tega menyayatnya kembali, aku binggung Mira," ungkapnya terbata-bata sambil menahan tangisnya.
"Sedangkan aku sendiri masih sangat mencintai Dyah, dan tak menapik jika aku juga menginginkan nya," tutur Arkan, kali ini ia benar-benar menangis di pelukan Amira.
Melihat mereka berdua, Dion pun ikut menetes kan air matanya, ada rasa bersalah di hatinya, dialah menyarankan Arkan untuk menikahi Amanda, tapi itu hanya gurauan, dan Dion juga tak menyangka jika Arkan menganggapnya serius.
Bagaimana pun Dion pernah merasa dengan posisi yang hampir sama dengan Arkan, di satu sisi ada cinta, dan di sisi lainya karna rasa iba.
***
Dyah memencet bel di sebuah rumah mewah dan tak lama kemudian ada yang membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi," sapa Dyah ramah wanita yang membukakanya pintu.
"Selamat pagi, kamu Dyah kan?" tanya wanita parohbayah yang masih terlihat cantik dan elegan tersebut.
"Iya tante, saya Dyah, tante Mamanya Mas Arkan?" terkanya langsung.
"Iya Nak, mari masuk, " ajaknya sambil menarik lembut tangan Dyah.
__ADS_1
Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu.
Tanpa banyak basa-basi Dyah langsung mengutarakan niatnya untuk meminta maaf.
"Maaf tante sebelumnya Dyah..., "
"Ah kamu ngak usah panggil tante, panggil saja Mama, bukanya sebentar lagi kamu juga akan menjadi menantu Mama, sayang," ucapnya sambil mencubit pipi Dyah.
Dyah merasa tersanjung atas perlakuan baik yang di terimanya dari sang calon mertua.
"Jadi Mama ngak marah kepada Dyah, karna membatalkan rencana pernikahan Dyah dan Mas Arkan ?" tanya nya bahagia.
"Kenapa harus batal sih, Mama ingin kamu segera menikah dengan Arkan, supaya Mama bisa gendong cucu secepatnya, kamu mau kan sayang?" tanya nya dengan bahagia.
Dyah tersipu malu ia pun mengangguk dengan perasaan bahagia.
"Tentu dong Ma, Mas Arkan orang yang baik, tak mungkin Dyah menolak," tuturnya bahagia.
"Ah Mama senang mendengarnya," Ratna pun memeluk Dyah.
Ini baru calon mantu idaman, cantik, baik sopan, dan energik, batin Ratna.
Dyah pun membalas pelukan itu dengan perasaan bahagia, setelah beberapa saat mereka pun melepaskanya.
"Ma, sekarang di mana Mas Arkan, Dyah sudah rindu ingin bertemu?" tanya Dyah.
"Arkan, mungkin sekarang dia di kantornya, sekarang kamu cepat susul dia ke kantornya, Arkan juga pasti sudah rindu sama kamu" Ratna.
"Baik Ma, Dyah akan menyusul Mas Arkan ke sana."
"Kalau begitu Dyah pamit Ma,"
"Eh tunggu, Mama minta nomor kamu, biar mama bisa langsung menghubungi kamu, " Ratna.
"Iya Ma," Dyah pun memberi nomer handphonenya, kemudian dia berpamitan.
Dyah langsung menuju kantor Arkan, ia tak menyangka jika calon ibu mertuanya bersikaf baik padanya.
Dyah sangat senang, akhirnya ia bisa bertemu dengan Arkan, lelaki yang menjadi pujaan hatinya kini.
Jantung Dyah berdegub kencang, tinggal selangkah lagi, ia akan memasuki ruangan Arkan, rindu sudah begitu menggebu, apalagi restu sang calon mertua ada di genggamanya.
Dyah masuk keruangan itu dan memberi salam.
"Assalamualaikum," ucapnya sambil membuka pintu.
"Wa'alakum salam, "Amira dan Dion menjawab.
Sementara Arkan ia terbungkam seiring detak jantung berakselerasi dengan aliran darah nya yang langsung menuju pusat replek, Arkan langsung berdiri, menghampiri Dyah dan memeluknya.
Seketika mereka larut dalam haru dan kerinduan yang tak tertahankan, bahkan Arkan seolah lupa, bahwa ia kini bukanlah Arkan yang dulu, yang masih sendiri.
Arkan juga lupa jika istrinya menantinya di rumah, dan wanita yang ada di hadapanya kini, siapa wanita yang berada dalam dekapanya saat ini, Dia adalah wanita yang sangat ia cintai dan ia rindukan, tapi apa pantas seorang suami, memeluk wanita lain tanpa sepengetahuan istrinya, sejenak Arkan tersadar, ia pun melepaskan pelukanya, dan sedikit menjauh dari Dyah.
Melihat keduanya, Dion dan Amira pun pergi meninggalkan mereka.
Arkan terpaku, mulutnya terbungkam, ia binggung apa yang akan di katakanya pada Dyah, sedang kan Dyah, karna terlalu memendam rindu, ia pun kembali menghambur memeluk Arkan dan menangis di pelukanya.
jangan lupa,
like
komen
vote
hadiahnya
__ADS_1
terima kasih,