Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Dua pilihan yang sulit


__ADS_3

Amira dan Dion pulang kerumah Ummi, di sana sudah menunggu Gea dan Geo.


"Assalamualakum" Amira


"wa'alaikum sallam." Gea dan Geo.


"Ibu, Ayah," sambut keduanya sambil berlalri memeluk mereka.


Amira dan Dion, langsung menghampiri Ummi yang lagi sibuk di dapur.


"Masak apa Ummi?" tanya Amira.


"Eh, kalian sudah pulang, kalian makan malam disini ya, Ummi sudah masak kesukaan kalian semua, ada opor ayam kesukaan Dion dan juga sop iga kesukaan kamu Amira," jawab Ummi.


"Amira bantuin ya Ummi."


"Ngak usah, kamu istirahat saja, Ummi bisa kok, ngerjain semuanya, kamu juga pasti lelah Amira karna sudah seharian bekerja di kantor," tutur Ummi.


"Iya deh Ummi, Amira kekamar dulu ya, ganti baju, sudah gerah"


Amira masuk ke kamar dan mengganti bajunya dengan daster, saat itu ia melihat perutnya sudah terlihat membesar, Amira memutar tubuhnya di depan cermin, ia merasa kehamilanya kali ini, begitu bahagia, dimana ia berkumpul dengan suami dan keluarga yang menyayanginya.


Dion masuk kedalam kamar, dan langsung memeluk Amira.


"Yah, perut ibu sudah besar yah, ibu kayaknya makin gendut ya yah?" tanyanya.


"Iya makin gendut, tapi ibu terlihat makin seksi," jawab nya sambil memeluk Amira dari belakang.


"Ayah maunya anak laki-laki atau perempuan Yah ?"


"Ayah sih maunya kembar lagi bu," jawabnya.


"Tapi kayaknya ngak deh Yah, tapi ibu senang, kehamilan kali ini kita bisa berkumpul Yah," tuturnya haru.


"Ayah juga senang, semua masalah pasti bisa kita atasi, asal kita tetap bersama Bu, Ayah harap Ibu tak kan pergi lagi," ucapnya sambil mencium pipi Amira.


"Kalau Ibu pergi, bukanya Ayah bisa dapat istri baru lagi, yang lebih cantik dan lebih muda Yah." Amira.


"Ibu juga lihat followers Ayah banyak sekali, seperti selegram aja Ayah, cantik-cantik lagi yah, kadang ibu minder sendiri melihat mereka yang cantik-cantik dan muda-muda. " tutur Amira.


"Oh kalau ibu terganggu, Ayah bisa hapus Aplikasi itu, gampang kan, apa saja akan Ayah lakukan, asal ibu bahagia," tutur nya sambil mencium kening Amira.


"Terima kasih Yah, karna selalu menjaga perasaan Ibu," ucapnya sambil membalikan badan ke hadapan Dion.


"Terima kasih juga Bu, karna ibu mau menerima Ayah kembali," balasnya sambil memeluk istrinya.


Amira meneteskan air mata, jika kehamilan sebelum nya, ia juga sering meneteskan air mata duka, tapi kehamilan kali ini, ia juga sering meneteskan air matanya karna bahagia.


"Ayo Bu kita makan malam, Ummi dan Abi pasti sudah menunggu," ajak Dion.


Mereka sudah berkumpul di meja makan, sebagai menantu Amira menyendokan nasi ke piring kedua mertuanya, dan kepada Dion.


Ia merasa senang bisa melayani keluarnya.


Mereka pun makan malam, dan selesai makan, mereka masih berbincang-bincang.


"Amira, Ummi sudah memutuskan untuk berhenti mengajar, karna Ummi ingin, setelah melahirkan kamu tinggal bersama Ummi, biar Ummi yang merawat dan mengasuh bayi kamu selama kamu bekerja," kata Ummi.

__ADS_1


"Benarkah Ummi, tentu saja Amira lebih percaya kepada Ummi dari pada siapa pun untuk menjaga anak Amira," sahutnya bahagia.


"Jadi kamu setuju Amira ?" tanya Ummi lagi.


"Setuju Ummi," jawabnya senang.


"Alhamdulilah, akhirnya Ummi bisa mengasuh bayi lagi," ucapnya sambil menadah tangan, wujud rasa syukurnya.


Mereka pun merasa bahagia, canda dan tawa memenuhi suasana rumah yang sebelumnya sepi itu.


***


Amanda menyiapkan makan malam untuk suaminya.


Setelah semua tersaji, ia pun menyendokan nasi ke piring Arkan.


Dengan tersenyum Arkan menyambutnya.


Arkan pun makan, tapi kemudian di lihatnya Amanda tak menyentuh makan itu.


"Sayang kamu ngak makan ?" tanya Arkan.


"Ngak nafsu makan Mas," jawabnya.


"Ngak boleh gitu sayang, kamu harus makan, bagaimana kamu bisa sembuh,"


"Sini, kamu duduk lebih dekat lagi," iya pun menarik kursi yang di duduki Amanda.


Amanda duduk di samping Arkan, Arkan pun menyuapkan Amanda makanan yang ada di piring nya, sesuap untuk dirinya, dan sesuap lagi untuk Amanda, secara giliran.


Amanda merasa ada yang berbeda saat Arkan menyuapinya, makanan tersebut tak lagi terasa pahit baginya.


Bu Nita yang melihat semua itu, ikut haru dan bahagia karna melihat Amanda yang lebih semangat untuk makan.


Selesai makan. Arkan mendengar suara panggilan dari telpon nya.


Ia pun bergegas menghampiri handphone yang ia letakan tak jauh dari meja makan.


Arkan melihat, panggilan tersebut dari Dyah, ia ragu untuk menganggkatnya, tapi kemudian ia memutuskan untuk menjauh dan menyambut sambungan telpon tersebut.


Amanda heran melihat Arkan yang tiba-tiba menjauh saat mendapat telpon, biasanya siapa pun yang menelpon, ia tak pernah menjauh dari Amanda.


Ada rasa curiga di hati Amanda, tapi coba ia tepiskan, ia lebih percaya pada Arkan, di banding prasangkanya sendiri.


Setelah cukup jauh, Arkan mengangkat telpon itu.


"Hallo Dyah, ada apa ?" tanya Arkan.


"Mas, besok kamu temani aku kesalon ya" Dyah.


"Kesalon?" tanya Arkan ragu.


"Iya, kamu juga ikut dong, bukanya minggu depan kita sudah menikah," paparnya.


"Minggu depan, kamu tahu dari mana ?" tanya Arkan lagi.


"Dari mama kamu lah, tadi mama datang kesini bersama Papa kamu, mereka melamar ku kembali, masak kamu ngak tahu sih Mas?" tanya Dyah heran.

__ADS_1


"Oh, iya besok kita bicara lagi ya Dyah, Mas Arkan hubungi Mama dulu," Arkan pun mematikan sambungan telponya.


Arkan menghubungi Mama nya dan tersambung.


"Hallo Ma," sapa Arkan lebih dahulu.


"Hallo Arkan, Mama sudah hampir sampai di rumah kamu." jawabnya jutek.


"Tapi kenapa tiba-tiba mama datang ke rumah Arkan ?" tanyanya khawatir.


"Karna Mama mau memberi tahu pada istrimu, jika minggu depan kamu harus menikah dengan Dyah, Mama dan Papa ngak punya cukup waktu untuk berlama-kama di sini," tukasnya.


"Apa Ma ?" kenapa tidak tanya Arkan terlebih dahulu sih."


"Eh Arkan, Mama tahu kamu pasti ngak tegakan ijin menikah lagi dengan istrimu, kalau begitu Mama yang akan bilang sendiri padanya, bahwa kamu dan Dyah akan menikah minggu depan, sudah, mama sudah berada di depan rumah kamu sekarang," tuturnya tanpa jeda.


Arkan kaget, karna ia melihat mobil mama dan papanya sudah terpakir di depan rumahnya.


Arkan pun berlari kebawah untuk membuka pintu, tapi Amanda sudah membukakan pintu untuk mertuanya.


"Mama, kenapa datang ngak telpon dulu Ma," sapa Amanda sopan iya pun menyalami kedua mertuanya dengan hormat.


"Silah kan duduk Ma," tuturnya dengan sopan.


Tapi sang mertua terlihat jutek, dan menatap matanya dengan sinis.


"Ada apa Ma sepertinya ada hal yang penting?" tanya Amanda sambil duduk, dan Arkan pun duduk di samping Amanda.


"Begini ya Amanda, saya type orang yang ngak suka basa-basi, saya kesini cuma mau beritahu kepada kamu, jika minggu depan Arkan akan kami nikahkan Dengan Dyah," tuturnya tanpa jeda.


Amanda Bagai disambar petir berkali-kali, airmatanya langsung menetes mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan.


Sementara Arkan juga tergaman tak tahu harus berkata apa, semua terjadi begitu cepat, semudah itu sang ibu mengucapkan kata-kata yang menyakiti istrinya.


"Ma, kenapa masalah ini tidak mama tanya langsung pada Arkan, kenapa mama putuskan sendiri?" tanya Arkan terbata-bata, ia pun memeluk Amanda yang sudah tak bisa menahan tangisan nya.


"Arkan kamu itu putra mama satu-satunya, dan mama ingin yang terbaik untuk mu,"


"Dan kamu Amanda, jika kamu mencintai Arkan, kamu harus rela, jika Arkan menikah lagi, karna kamu sendiri sakit-sakitan dan ngak bisa memberi keturunan kepada kami kan?" ucapnya dengan nada sedikit tinggi.


Amanda menguat kan hatinya, ia menghapus air matanya, beberapa kali Amanda menarik nafas untuk mengatur keseimbangan oksigen yang kini perlahan menipis di dadanya.


"Mama benar, Amanda sangat mencintai mas Arkan, dan Manda juga rela jika Mas Arkan menikah lagi," ucapnya gemetar sambil menghapus air matanya.


Amanda begitu terluka, hanya saja tak ada darah goresan luka dan darah yang tampak oleh mata.


"Sayang kenapa kamu bicara seperti itu, aku tak akan menikah dengan wanita lain lagi, bukan nya aku sudah berjanji pada mu untuk selalu membahagia kan mu," tutur Arkan sambil menghapus air mata Amanda.


"Arkan istri kamu sudah setuju dan tak ada alasan lagi, jika kamu tidak mau menuruti Mama, maka besok Mama akan langsung pulang ke Jerman dan anggap saja kamu sudah tidak punya orang tua," Sahutnya lagi.


Arkan hanya diam, ia binggung untuk memilih.


"Penuhi saja permintaan Mama Mas, mama benar, kamu akan bahagia dengan wanita pilihan orang tua mu, lagi pula umurku juga tidak lama lagi," tuturnya haru, ia pun berlari kekamar dan menangis.


Sementara Arkan, ia binggung antara orang tua dan Istrinya sendiri, apalagi di lihatnya Amanda begitu terluka, dan Mamanya adalah orang yang keras kepala, Mama akan benar-benar pulang ke Jerman dan tak tak menganggapnya anak lagi, masalah semakin rumit bagi Arkan, iya pun binggung harus bagaimana


please bantu Arkan memilih dong, tulis di kolom komentar ya, hihi jangan lupa like dan komenya, juga dukunganya.

__ADS_1


Ngak sama lah Bu,


__ADS_2