Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Meski berat, tetap harus memilih


__ADS_3

Arkan kembali memeluk Dyah, mulut nya seolah tak bisa mengatakan yang sejujurnya.


"Mas kok kamu diam saja sih? "


"Kamu ngak seneng ya aku kembali lagi?" tanya Dyah yang heran melihat Arkan ke bingungan.


"Ngak kok, sayang " jawabnya gugup.


Arkan belum berani untuk jujur, iya tak ingin Dyah emosi, lalu pergi untuk ke dua kali dari dirinya, ia bermaksud menjelaskanya dengan perlahan.


"Mas aku sudah ketemu sama mama kamu, dan dia bilang dia akan kembali mempercepat pernikahan kita," tutur nya dengan bahagia.


"Pernikahan, emang kamu mau menerima segala kekurangan yang ada pada ku?" pancing Arkan.


"Tentu saja Mas, bukan kah kita sebelumnya sudah berjanji akan menerima kekurangan dan akan saling mengerti satu sama lain" Dyah.


Arkan hanya tersenyum, ia masih belum berani mengungkapkan fakta sebenarnya, ia pun menikmati waktunya bersama Dyah.


"Mas kita makan siang di luar ya, habis itu kamu temanin aku belanja, untuk persiapan pernikahan kita," tukas nya.


Dan tanpa berani menolak Arkan pun menemani Dyah sepanjang hari.


Masih ada waktu untuk kembali ke kantor, karna jam masih menunjukan pukul tiga sore, saat itu Amira dan Dion sudah ingin meninggalkan ruangan tersebut, tapi melihat Arkan yang datang dengan wajah yang lesu, mereka pun memuskan untuk bicara pada Arkan terlebih dahulu.


"Bagaimana Kan? kamu sudah bilang ke Dyah tentang hal yang sebenarnya?" tanya Amira.


Arkan menggelengkan kepalanya," Belum, aku belum berani," jawabnya datar.


"Lalu sampai kapan kamu akan sembunyikan semua ini Kan?" tanya Amira.


"Aku ngak tahu, aku takut Dyah pergi lagi, dan aku tak kan pernah bertemu denganya lagi. "


"Aku masih harus berpikir, ngak bisa memutuskan secara langsung." Arkan.


"Aku kesini cuma mau minta pendapat kalian, menurut kamu bagaimana Amira ?" tanya Arkan pada Amira, ia pun menatap wajah Amira dengan dalam.


Amira binggung, ia mencoba berfikir sejenak, "Kalau aku sebagai perempuan, jika aku jadi Amanda, aku ngak akan mau di madu, dan jika posisi ku seperti Dyah, aku tak kan merebut milik orang lain, meski sebesar apa pun cinta yang ku rasa kan, tapi entalah mungkin itu karna aku pernah merasa di khianati, jadi aku juga merasa seperti yang di rasakan Amanda," tutur Amira dengan lirih.


Mendengar pernyataan istrinya, Dion seolah teringat kembali dengan kesalahanya, ia pun memeluk dan mencium Amira saat itu juga.

__ADS_1


"Kalau menurut aku Kan, bagaimana pun kau harus jujur, kau tak bisa menyembunyikan semua kenyataan ini, semua pasti akan terbongkar." Dion.


"Setiap keputusan pasti ada konsikuensinya, dan itu harus kau terima, tapi percayalah , jika Dyah memang jodohmu, maka Dyah akan kembali pada mu, dan Amanda dia adalah istrimu saat ini, kau punya tanggung jawab penuh padanya, seandainya kau memilih untuk polygami pun, apa kau sanggup bersikaf adil pada keduanya, Kan." Dion.


"Mungkin saja kau bisa membagi waktu mu, tapi bagaimana dengan hatimu, kau pasti akan lebih cenderung pada salah satu diantara mereka." Dion.


Sejenak Arkan terdiam memikirkan pendapat dari mereka.


"Memang benar kata kamu Dion, jika aku polygami, aku pasti tak kan mampu bersikaf adil, jujur saja aku menikahi Amanda karna aku kasihan pada nya, dan saat itu juga aku sedang merasa kecewa pada Dyah, sedangkan Dyah, aku menikahinya karna aku memang mencintainya dan menginginkannya, tapi aku harus bagaimana sekarang," keluhnya sambil menghempaskan nafas dengan kasar.


"Kan, menurut ku kau harus meyakinkan Mama mu terlebih dahulu, karna dialah yang menginginkan mu untuk menikah lagi, masalah Dyah biar aku yang akan menjelaskan semuanya padanya, jika saja dia benar-benar mencintaimu, maka dia akan tetap menunggu kamu Kan, lagi pula kau menikahi Amanda bukan karna kau berkhianat pada nya, tapi kau mencoba untuk membahagiakan seseorang yang hampir kehilangan kesempatan untuk merasakan bahagia dalam hidupnya, dan kau harus jaga perasaan istri mu Kan, karna ini semua pilihan mu, dan Amanda tak pernah meminta dan mengharapkan mu sebelumnya, tapi kau yang datang padanya dan menawarkan harapan itu padanya, apa yang akan terjadi padanya Kan, jika kau menikahi Dyah, pastinya ia akan merasa lebih sakit, karna ia tahu kau mencintai Dyah dan bukan dirinya," papar Amira sedih.


Arkan lagi-lagi menarik nafas panjang dan menghempaskanya berkali-kali.


"Kan kau tak merasa menyesal kan ?dan ku rasa kau tak perlu menyesali semua perbuatan baik yang tlah kau berikan pada orang lain Kan", tambah Amira lagi.


Mendengar hal itu, Arkan pun menjadi sedih, "Menyesal apa aku harus merasa menyesal, sedang kan aku melihat sendiri dia selalu bahagia dalam pelukan ku, dan apa dia juga akan menyesal karna telah menyerahkan kesucian nya sebagai istri kepada ku, kami melewati malam-malam indah berdua sebelum ini, apa aku bisa bilang aku menyesal Amira." balas Arkan dengan menatap mata lawan bicaranya.


Kata-kata Arkan terbata-bata dan matanya pun memerah, Dion yang duduk di sebrang Arkan, kini mendekatinya dan duduk di tepat samping Arkan.


"Kalau begitu kau sudah tahu jawabanya Kan, Amanda adalah istrimu, kau bertanggung jawab untuk membuatnya bahagia, lagi pula dia tak punya banyak waktu Kan, jika kau harus membagi waktumu lagi untuk ke lain hati, maka itu sama saja, kau mempercepat kepergianya," tutur Dion sambil menepuk pundak Arkan.


Arkan memeluk Dion, "Kau benar Dion, aku harus memilih mana yang harus di utama kan, dan istriku adalah yang utama, meski berat bagi ku untuk melepaskan Dyah kembali, tapi aku juga ngak sanggup untuk menyakiti istri ku, apalagi Amanda adalah istri yang baik, ia selalu melayaniku dengan baik, dan tanpa banyak mengeluh, dan masalah Dyah, aku juga yakin jika memang dia di takdirkan untuk ku, seberapa jauh pun dia akan pergi, maka dia akan kembali untuk ku," papar Arkan menagis di pelukan Dion.


"Benar Kan, kau jangan sampai melakukan kesalahan yang akan membuat mu menyesal, seperti apa pun istri mu, dia adalah istrimu dan Tuhan sudah mentakdirkanya untukmu, ketika Tuhan sudah memilih, maka itu adalah yang terbaik untuk mu, aku dan Amira berpisah selama lima tahun, tapi aku selalu yakin, suatu saat dia akan kembali pada ku, aku tetap menantinya, karna aku yakin dia hanya untuk ku, begitu pun kau Kan, bersikaf baik lah pada Amanda, jika kau menginginkan Dyah, kau bisa memintanya pada Tuhan dalam setiap doa mu, kau nyatakan saja apa yang tersembunyi dalam hati mu, niscaya dia akan mendengar setiap kelus kesah mu, dengan demikian Amanda tak tersakiti, begitu pun Dyah, aku rasa untuk sebuah perasaan cinta, tak akan memudar begitu saja, aku yakin Dyah akan menunggu mu sampai kau benar-benar sendiri, dan saat itu tiba, kalian akan benar-benar menikmati perasaan bahagia tanpa merasa bersalah pada siapa pun," tutur Dion.


"Ya Dion sekarang aku tahu, seperti apa keputusan yang akan ku ambil, terima kasih atas saran kalian, kalian memang the best," Arkan sedikit lega.


"Experience is the best teacher, pengalaman mengajari ku untuk bisa mengambil keputusan berdasarkan kebenaran, bukan emosi atau hati nurani, terkadang hati nurani juga menuntun kita untuk bersikaf tidak adil, karna akan lebih condong dengan apa yang lebih kita cintai, sedangkan emosi, itu hanya perasaan yang sesaat, tapi bisa menghancurkan kita seumur hidup, " papar Dion kembali.


"Sekarang kembali lah pada istrimu Kan, di pasti sedang menunggu mu dirumah," kata Dion sambil menepuk pundak Arkan.


***


Amanda sudah menunggu di rumah, ia sudah berdandan dengan cantik, dan mengikuti tutorial make up di youtube.


Amanda menggunakan lebih banyak conceler untuk menutupi lingkaran hitam wajah nya, ia pun menambah perona pipi agar terlihat segar, semua demi menybut kedatangan suaminya yang sebentar lagi pulang bekerja.


Tapi setelah selesai merias wajahnya, Amanda malah sedih, wajahnya bukannya terlihat semakin cantik, tapi malah terlihat menyeramkan.

__ADS_1


Iya pun kembali menangis di depan meja riasnya.


Amanda kembali menghapus riasan wajahnya," Seperti apa pun aku berusaha menutupinya, sama saja, aku tetap begini, penyakit ini membuat wajah ku tak berseri, padahal aku ingin selalu tampil cantik di hadapan suami ku," katanya pada diri sendiri sambil menangis.


Tak lama berselang, Amanda mendengar suara mobil Arkan, ia pun berjalan dengan langkai lungkai menuju pintu untuk membukakan pintu suaminya.


Perasaan yang awalnya bahagia menyambut kedatangan sang suami, kini berubah murung setelah melihat wajahnya di cermin.


Dengan perasaan tak menentu, antara suka dan duka ia membuka pintu rumah bagi suaminya.


Tret... pintu terbuka, dan Amanda melihat seikat bunga mawar di tangan Arkan, Arkan pun menyodorkan bunga tersebut ke Amanda.


"Mas bunga ini untuk ku?" tanya Amanda haru.


"Tentu saja sayang, bunga ini untuk mu, untuk siapa lagi?" tanya Arkan.


Amanda meraih bunga itu dan memeluknya, tapi saat itu Amanda hanya menunduk, ia malu untuk memperlihatkan wajahnya.


Arkan mengankat dagu nya, "Kau kenapa Amanda, sepertinya kau menangis?" tanya Arkan.


Amanda kembali menunduk," Jangan lihat wajah ku Mas, aku malu, aku merasa aku sudah tak cantik lagi," tuturnya sedih.


Arkan tersenyum sambil kembali mengangkat dagu Amanda," Tak perlu malu sayang, karna bagi ku, kau adalah wanita yang paling cantik di dunia ini." ucap Arkan.


Mendengar semua penuturan suaminya, Amanda pun menghambur memeluk Arkan, perasaanya saat itu bercampur baur, bahagia, haru, dan tersanjung, ia kembali menangis di pelukan Arkan.


"Terima kasih Mas, seumur hidup aku tak kan pernah menyesal menjadi istri mu, kau terlalu sempurna untuk ku Mas", tuturnya sambil kembali memeluk Arkan, dan kali ini semakin erat.


"Aku juga tak kan pernah menyesal, karna memilih mu sebagai istri ku," balas Arkan, mereka pun kembali memeluk haru.


*Bagaimana aku bisa membuat mu menangis lagi Amanda, kau terlalu banyak menangis, biar aku lah yang akan menghapus air matamu, dan akan ku coba untuk membuat mu tak lagi menetes kan air mata, batin Arkan.


Jangan lupa ya,


Like


komen


vote atau pun hadianya,

__ADS_1


semoga terhibur*.


__ADS_2