
Sebulan kemudian.
"Minum obat dulu sayang," Arkan menyuapi Amanda dengan pil yang sudah di larutkan kedalam air, keadaan Amanda semakin memprihatin kan, kini ia sudah tak bisa menelan dengan baik.
Tubuh Amanda kini hanyalah tulang yang terbungkus dengan kulit kering nan pucat.
Tak ada lagi rona kecantikan di wajah Amanda, tubuhnya pun melemah, ia hanya bisa duduk di kursi roda, tanpa bisa berjalan.
Meski tak ada lagi yang bisa di harapkan dari Amanda. namun Arkan selalu setia menjaga dan merawatnya.
Sudah tiga hari ia tak bisa menelan, hanya sari buah dan makanan yang berkuah yang dapat masuk melalui mulutnya.
Sudah sebulan Arkan tidak bekerja, ia selalu berada di samping Amanda.
Arkan memakaikan Amanda baju, dan kerudung, rambut Amanda kini perlahan mulai tumbuh, tapi kanker itu semakin tak terkendali dan menyerang tubuh Amanda yang membuatnya semakin tak berdaya, mungkin hanya kekuatan cinta yang besar terhadap suami nya, Amanda sanggup bertahan hingga saat ini.
Arkan tengah membereskan tempat tidur, ia menganggkat tubuh Amanda ke atas kursi roda.
"Mas," panggil Amanda lirih.
"Ada apa sayang ?" tanya Arkan yang mendekati Amanda.
"Mas, aku ingin ke pantai dan melihat matahari terbenam untuk terakhir kalinya," ucapnya lirih dan hampir tak kedengaran.
Arkan menelan salivanya, apakah ini artinya sudah waktunya Amanda pergi.
Arkan meneteskan air mata dukanya, "Tentu sayang, apa saja yang kamu minta, pasti Mas turuti," ucapnya sambil mengecup kening Amanda.
Amanda kini seperti tengkorak yang terbungkus kulit. tak ada lagi kecantikan di wajahnya, tapi itu tak memudarkan cinta Arkan padanya.
Cinta yang terjadi di waktu yang sangat singkat, bahkan Arkan lebih memilih Amanda yang tak berdaya itu, dari Dyah seorang wanita yang mendekati kesempurnaan.
Setelah mengganti pakaian istrinya dengan pakaian tertutup, ia juga menggekan Amanda kerudung, untuk menutupi rambutnya yang perlahan mulai tumbuh.
Bu nita masuk kedalam kamar dan melihat Arkan tengah mengganti pakaian Amanda.
"Arkan kamu mau bawa Amanda kemana ?" tanya bu Nita.
"Amanda, ia ingin melihat matahari terbenam ma," jawab Arkan.
Bu Nita melihat ada yang berbeda pada putrinya, meski enggan untuk mengakuinya, tapi ia curiga jika waktu Amanda sudah tidak banyak lagi, ia pun mencium putrinya.
Amanda meraih tangan sang mama, dan menciuminya.
"Ma, maafkan Amanda ya, Amanda belum bisa berbakti pada Mama," ucapnya sangat lirih.
Arkan yang tengah membereskan baju Amanda ia pun menitikan air matanya.
"Bu Nita pun menangis, Ia sayang maafkan mama juga ya," ucapnya sambil menahan tanggis.
"Ma, jika Amanda pergi, mama ridho kan ya, apa yang sudah mama berikan pada Amanda," ucapnya semakin sedih.
Mendengar hal itu, Bu Nita semakin sedih, tapi apalah daya, setiap yang bernyawa memang pasti akan merasakan kematiaan, ia juga tak tega jika harus menahan Amanda untuk bertahan lebih lama.
Setiap hari bu Nita melihat betapa sang putri menderita, karna melawan penyakit yang semakin mengganas di tubunya.
Amanda begitu menderita dengan penyakitnya, tapi di sisi lainya, ia bahagia, karna memiliki suami yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus, bahkan Arkan tak mengeluh sedikit pun.
Arkan menangis, meringkuk di sisi lain dari ruangan tersebut yang tak terlihat oleh Amanda.
__ADS_1
Di belakang Amanda ia selalu menangis melihat keadaan istrinya, namun saat di depan Amanda, tak sedikit pun ia menunjukan kesedihanya, ia terlihat sanggat kuat dan bersemangat, itu semua agar Amanda juga ikut bersemangat.
"Ma, Arkan akan bawa Amanda ke pantai."
Bu Nita mengerti.
"Iya Nak, mama mengerti, "jawab bu Nita.
Arkan pun mengankat tubuh Amanda dan membawanya kedalam mobil, setelah berpamitan pada Bu Nita, mereka pun langsung menuju pantai.
Bu Nita menangis tersedu-sedu saat melihat mobil Arkan perlahan menjauh dan menghilang dari penglihatanya.
Sepanjang perjalanan Amanda terus tersenyum, ia sepertinya bahagia, Amanda menyandarkan tubuhnya di samping Arkan, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya nya, hanya senyum yang terlukis di wajah.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Arkan yang juga ikut tersenyum melihat Amanda.
"Aku bahagia Mas," ia tersenyum kembali.
Namun beberapa detik kemudian ia pun meneteskan air matanya.
Arkan tak ingin bertanya mengapa ia begitu sedih, ia hanya mencium pucuk kepala sang istri.
Sepanjang perjalanan Arkan heran melihat Amanda yang terkadang tersenyum, kadang juga ia menangis.
Saat tersenyum Amanda memutar kembali memory indah dalam hidupnya, termasuk kisah cinta singkatnya bersama Arkan, dan saat ia menangis, ia teringat jika tak lama lagi ia akan pergi dari dunia ini dan meninggalkan Cinta sejatinya.
Sesampainya di pantai Arkan langsung menganggkat tubuh Amanda di tepi bibir pantai yang sepi itu.
Gulungan ombak yang hempasan di tepi karang, terdengar nyaman dengan di telinga Amanda, suasana begitu tenang dan nyaman.
Amanda merebahkan tubuhnya di samping Arkan.
Sang surya perlahan tenggelam, langit indah bewarna senja, menjadi saksi, kepergianya.
"Mas, sepertinya waktu ku sudah tidak lama lagi, aku ingin melihat keindahan senja saat mahahari terbenam, seperti kisah hidupku, sebelum kematian ini datang menjemputku, aku ingin menghabis kan waktu berdua dengan mu, suara Amanda semakin pelan."
Arkan hanya diam, dan hanya menarik nafas panjang.
"Mas, aku menyesali waktu, kenapa tidak sejak dulu saja kita bertemu, mungkin kebahagiaan ini bisa sedikit lama ku rasakan," suaranya semakin lirih dan terputus-putus.
Arkan menggenggam tangan Amanda, "Biarlah sayang jika di dunia ini kita bersama hanya sementara, mungkin di akhirat nanti kita akan bersama lagi, di keabadian."
Amanda menarik nafas panjang, lalu menghempaskanya semakin berat, nafas itu semakin lama, semakin menjauh, ia pun merasa kesulitan untuk bernafas.
"Mas a..ku..ak..u cin...ta..kamu.., "ucapnya tersendat-sendat.
Air mata Arkan mengalir tak terbendung.
"Aku juga cinta sama kamu," balas Arkan.
"A...ku... per...gi Mas," ucapnya semakin sulit kata demi kata yang keluar dari mulutnya.
Arkan hanya mampu menahan tangisnya.
"Re..le kan a..ku Mas, " ucapnya.
"Ia aku rela dan iklas sayang, mungkin ini yang terbaik untuk mu, di sana kau pasti bahagia, karna ia lebih menyayangi mu," ucap Arkan terbata-bata.
Amanda pun mengucapkan dua kalimat sahadat, sebelum menutup matanya,
__ADS_1
Tubuhnya terkulai layu, saat hempasan nafas terakhirnya.
"Akhhhhhh, "Arkan tanpa sadar menjerit, ketika tubuh Amanda, terkulai lemah tak bernyawa.
* Seusai itu,
Senja jadi sendu,
Awan pun mengabu,
Kepergian mu, menyisakan luka dalam hidupku,
Ku memintal rindu,
Menyesali waktu, mengapa dahulu,
Aku tak mengucap,
Aku cinta padamu, Sejuta kali sehari.
Kamu dan segala kenangan,
menyatu waktu yang berjalan,
Aku kini sendirian,
Menatap matamu hanya bayangan,
Tak ada yang lebih perih dari pada kehilangan diri mu*
Arkan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan kesedihan atas kehilangan seseorang yang di cintainya.
Arkan mencium pipi Amanda berkali- kali, meski berat namun ini lah kenyataan yang harus di hadapinya.
Ia mengangkat tubuh Amanda, yang tebujur kaku, dan membawanya pulang.
* Kamu dan kenangan.
Hai reader, jangan lupa dukung author,
mampir guys di novel keren berikut ini
Yalisa adalah siswi SMK yang kerap mendapat bullyan dari teman-teman sekelasnya, bullyan yang ia terima bukan sekedar ejekan melainkan tindakan fisik.
Hanya Mei sahabat yang membelanya di dalam kelas.
Sekolah yang tahu akan masalah Yalisa juga tidak perduli, malah menutup-nutupi agar sampai tidak di ketahui orang di luar sekolah.
Karena kemiskinan lah yang membuat Yalisa bungkam.
Perasaan Yalisa campur aduk, marah,emosi,benci,stres, pecundang, dan tak berarti membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya.
Apakah Yalisa akan mati begitu saja?
Atau rasa dendam dan benci akan menjadi cinta?
Atau malah membawa pertumpahan darah?
Manakah yang akan terjadi?
__ADS_1
Ikuti terus alur cerita Save Yalisa.