
Setelah shalat subuh Dion kembali menghubungi Ummi, Dion masih gelisah dengan mimpinya tadi malam.
Mimpi itu terasa begitu nyata, di dalam mimpi, ia mendengar rintihan seorang wanita yang memanggil namanya, saat Dion mendekati, dan mencari keberadaan suara yang memanggilnya, Dion seperti terbawa pada suatu ruangan yang gelap, Dion berjalan di dalam kegelapan, tanpa cahaya, karna gelap, ia pun menabrak sesuatu dan ternyata tempat tidur di rumah sakit, sementara, suara wanita itu masih terdengatar jelas, meski pun lirih. Dion terpaku tak kala ia melihat di hadapanya terbaring seorang wanita denga kain putih menutupinya, seperti mayat, Dion pun membuka kain putih itu dan seketika ia terbangun, dengan keringat mengucur deras, entah apa arti dari mimpi itu, Dion sendiri takut membayangkanya.
Sejenak Dion, meringkuk ketakutan, semua terasa nyata, mayat seseorang dan suara rintihan seorang wanita, memanggilnya seolah menyalahkanya atas kejadian ini.
Dion menangis ketakutan, tubuhnya genetar, entah firasat apa lagi ini, fikirnya.
Tyas terbangun dari tidurnya, ia pun kaget ketika melihat Dion, yang mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
"Dion kamu kenapa?" tanya Tyas khawatir.
Dion tak langsung menjawab pertanyaan Tyas, ia masih mengatur nafasnya yang semakin tersendat, mencoba mencerna arti arti dari mimpi buruk nya malam ini.
"Astaffirullahal azim," ucapnya berkali-kali.
"Aku berlindung pada mu ya Allah, dari godaan setan yang terkutuk," ucap Dion.
Ia pun membaca surah-surah pengusir setan, dan jin-jin yang coba mengodanya dalam mimpi.
Setelah tenang, Dion pun pergi berwudhu dan melakukan sholat malamnya, di setiap sujud, ia mohon perlindungan untuk orang orang yang di sayangi dan di cintainya, terutama kepada kedua orang tua dan istrinya.
Waktu menunjukan pukul tiga pagi, Dion tak beranjak dari duduknya, ia pun berzikir sambil memohin pertolongan Allahu hingga kumandang Azan subuh.
Dion membangun kan Tyas, untuk shalat subuh, sedangkan Dion, ia pergi sholat ke Masjid.
Saat keluar kamar, ia bertemu dengan Bapak, ayah mertuanya.
Dion hanya tersenyum dan menundukan kepala nya, sebagai rasa hormat nya kepada orang tua.
Bapak pun membalas senyuman ramah, ia begitu senang ketika melihat sang mantu adalah Pria yang sholeh, ia berharap Dion bisa membimbing Tyas menjadi istri dan wanita yang shaleha, meski ia tak tahu latar belakang dari menantunya itu.
Setelah sholat subuh, Dion langsung pulang ke rumah Tyas, rencana nya, ia akan pulang ke kos-an nya, karna hari ini Dion ada mata kuliah penting, dan ia tak mau bolos.
Dion masuk ke kamar Tyas, ia pun mengganti bajunya, setelah pernikahanya, sudah dua hari ia tak pulang ke kos-anya.
Setelah menganti baju, Dion pun keluar bermaksud pamit pada Bapak dan Ibu Tyas, dan Tyas juga tentunya.
Keluar dari kamar, Dion langsung di hampiri Tyas.
__ADS_1
"Dion ayo kita kedapur, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu Dion," ajak Tyas menggandeng tanggan Dion.
"Nanti saja Tyas, aku sudah terlambat," tolak Dion secara halus.
"Tapi Dion, semua sudah ku siapkan untukmu," kata-kata Tyas lirih terdengar.
"Baiklah, Dion pun mengikuti kemana Tyas membawanya, Dion sendiri tak tahu denah ruangan di rumah yang cukup luas itu.
Sesampainya di meja makan, Dion pun duduk, dan dengan perasaan senang, Tyas melayani suami sirihnya itu.
Iya meyendok nasi goreng dengan telur mata sapi dan ayam suir, ke piring Dion, setelah itu ia menyuguhkan secangkir susu coklat favorite Dion.
"Kamu ngak makan Tyas?" tanya Dion.
"Kamu makan saja Dion, aku masih kenyang," jawab Tyas.
Tyas tetap menemani Dion hingga Dion selesai makan, ia menatap Dion dengan mata yang sayu, mata yang selalu menyiratkan cinta pada Dion, Dion sendiri langsung mengalihkan pandanganya ketika ia melihat kearah Tyas, yang memandang nya lekat.
Selesai makan, Dion pun beranjak dari duduknya.
"Tyas aku pergi dulu," ucap Dion, kemudian beranjak pergi meninggalkan Tyas.
Dion mengkerut kan keningnya, pertanda tak mengerti, rasa nya ia tak membawa apapun, ia hanya menggunakan sehelai sepinggang pakaianya.
Tyas menghampiri Dion, ia meraih tangan Dion, dan mencium punggung tanganya.
Dion hanya tersenyum, lalu hendak pergi, tapi lagi-lagi tanganya di tarik oleh Tyas.
"Tunggu Dion, kau tak boleh pergi sebelum mencium ku," ucap Tyas, ia pun menunjuk pipinya.
Karna malas berdebat, Dion pun mencium pipi Tyas, tapi dengan cepat Tyas mengubah arah, kini ciuman Dion bukan mendarat di pipinya, tapi di bibirnya.
Tyas pun menahan kepala Dion, agar ia tak bergerak saat Tyas, memainkan bibirnya.
Tapi Dion menarik dirinya, berusaha menghenti kan kekonyolan Tyas.
"Tyas, hentikan, ucap Dion sambil melepas rangkulan tangan Tyas.
"Di sini tempat umum bagaimana jika ada yang melihat," gerutu Dion kesal.
__ADS_1
"Kau suamiku Dion, memangnya kenapa kalau ada yang lihat," sahut Tyas.
"Ia Tyas tapi tak perlu di pamerkan di tempat seperti ini, kamu ngak malu apa?" masih menggerutu.
"Ngak, kalau kamu malu. yuk kita lakukan di kamar, akan ku beri kau pelayanan plus-plus," ucap Tyas dengan mata yang menantang menatap Dion.
"Aku harus pulang, dan ngak tahu kapan aku akan kembali kesini," ucapnya datar.
"Pergilah Dion, dan aku yakin kau akan kembali secepatnya, karna aku sangat tahu, bagaimana caranya membawa mu kembali pada ku," tutur Tyas, ia pun tersenyum penuh arti.
Sesampainya di kos-an Dion langsung mengganti pakaianya, berhubung ini hari senin, mereka di wajibkan memakai almamater, Dion pun siap, ia hanya perlu berjalan kaki lima belas menit, untuk sampai ke kampusnya.
Sepanjang perjalanan menuju kampusnya, ia hanya menunduk, untuk menutupi wajah gantengnya, setiap wanita yang melihatnya, pastilah kagum dengan ketampanan wajah Dion.
Banyak sekali wanita yang kepincuk dengan pesona Dion, beberapa dari mereka bahkan berani menembak Dion secara langsung.
Tapi tentu saja Dion tak pernah memerima mereka, sikaf tenang dan diam Dion, malah makin membuat mereka tergila-gila dengan Dion.
Di dalam kelas, Dion kembali tak fokus, ia kembali teringat dengan mimpi nya semalam, suara wanita itu terngiang-ngiang di telinganya, siapa wanita yang memanggilnya namanya dengan lirih itu, batin Dion.
Dion memang berada di dalam kelas, tapi pikiranya kemana-mana, hingga kuliahnya selesai, ia tak fokus dan terus terfikir.
Dion keluar dari kelas, seketika itu, ia di hampiri oleh seorang pria paruh baya, rupanya pria itu sudah mencarinya dan menanyakanya pada setiap orang yang ia temui di kampus, tentu saja semua orang mengenal Dion, cowok paling cool dan jadi incaran banyak cewek-cewek kampus.
Tanpa bertanya lagi, pria paruhbaya itu langsung menghampiri Dion, karna Dion memang terlihat berbeda dengan mahasiswa yang lainya, ia begitu tampan dan punya karisma dan daya pikat yang kuat.
"Apa kamu yang bernama Dion?" tanya Pria asing itu kepada Dion.
Dion hanya mengangguk.
"Dion, ini tentang Alice, dia sedang di rumah sakit sekarang, Alice sekarat, karna percobaan bunuh dirinya, dan saat ia mengigau ia hanya memanggil namamu, sekarang Alice sedang koma," tutur Pria itu menjelaskan.
Dion terkejut bukan kepalang, tubuhnya lemas, lalu apa hubungan dirinya dengan percobaan bunuh diri Alice.
Apa ini ada hubunganya dengan mimpi buruknya semalam.
Begitu banyak pertanyaan di benak Dion ia pun pasrah mengikuti pria yang mengaku Ayah Alice tersebut.
๐น๐น๐นterima kasih sudah membaca karya ku, dukung author selalu dengan like, komen dan votenya, dukungan kalian sangat bearti untuk author, bila berkenan mampir di novel author yg lain, yg pastinya lebih seru loh, kisah dua pria yg tak saling mengenal, namun menjadi sahabat, karna mencinta satu wanita, mereka pun belajar arti cinta dan persahabatan secara bersama, kisah cinta penuh konplik, mengharukan dan menegangkan, dengan judul # KETIKA TAKDIR MENYATUKAN AKU MEREKA, terima kasih.๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
__ADS_1