Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Hari Hari penantian


__ADS_3

Jerman, musim semi pertama.


Amira membuka tirai jendelanya, kali ini ia merasakan perasaan berbeda, musim semi disisi lain belahan dunia, yang sebelumnya tak pernah ia lihat, di mana bunga bunga bermekaran dengan indah, benang sari yang di bawa hembusan angin, dengan sendirinya, menuju putik pilihan, seperti cinta, sejauh apa pun ia melangkah, ia akan menemui takdirnya.


Rasa bahagia di hati Amira seperti membuka lembaran baru, setelah melahirkan kedua buah hatinya beberapa bulan yang lalu, kali ini ia akan memulai aktifitas perkuliahanya.


Seperti binatang yang terbangun setelah hibernasi di musim dinggin, Amira pun seolah bangkit dari keterpurukanya.


Amira berjalan kaki menuju halte bis, bunga-bunga mulai bermekaran seolah mengiringi langkah baru nya, dunia serasa baru lagi bagi Amira, hal yang sangat indah bisa ia nikmati dengan netranya kini.


Tak pernah puas ia mensyukuri nikmat dari yang kuasa, karna ia masih di berikan anugrah untuk melihat keindahan semesta.


Bunga, bulan, bintang, langit yang biru yang selalu ia rindukan saat dunianya gelap, tak secercah sinar pun, yang mampu menerangi kehidupanya saat itu, hanya cinta yang ia rasakan pada seseorang baru ia kenal, namun seolah seluruh hidupnya telah ia serah kan.


Begitulah cinta, kau bahkan tak pernah tahu nama panjang nya, atau apapun kebiasaanya, tapi cinta bisa datang dan pergi, seperti musim yang selalu berganti, namun cinta sejati tak kan terganti, seberapa banyak pun waktu yang kau lalui tanpanya, sebesar apa pun usahamu, untuk mengubur kenangan bersamanya, ia akan datang di mimpi mu, saat jiwa mu tlah lelah, karna menahan kerinduan tentangnya.


Hampir setahun Amira berada di negri orang, ia hanya tinggal bersama bu Atun, menjadi ibu, sekaligus mahasiswa di sebuah universitas di Berlin, membuat Amira semakin mandiri.


Bahkan keahlinya dalam melukis bisa di andalkanya untuk biaya hidupnya di Jerman, meski sebenarnya kedua orang tua Amira sangat mampu untuk menanggung hidupnya.


Tapi tidak baginya, mencari nafkah untuk dirinya dan kedua anak nya, adalah tanggung jawab nya, tak hanya melukis, ia juga menjadi tenaga pengajar di sekolah sekolah dasar dan menengah di Jerman sebagai guru ektrakulikuler melukis.


Jerman indentik dengan arsitektur nya yang bergaya klasik, mereka begitu menghargai budaya, dan seni, tak heran Jerman salah satu negara yang menghargai kesenian, para pelukis di sana bisa mengandalkan skill yang mereka miliki sebagai mata pencarian.


Hampir lima tahun Dion menjalani hidupnya tanpa cinta, baginya, hidup adalah menanti datangnya cinta sejati, cinta sejati pada sang Illahi dan Cinta sejati dari seorang kekasih, sudah lima tahun pula, Alice menanti Dion untuk membuka hati nya, tak sekali pun Dion memberi kesempatan padanya.


Wanita seperti apa yang sanggup membeku kan hati mu Dion?, meski tlah berjuta kali aku menyatakan cinta, tak sekali pun kau katakan ia, apa aku harus menyerah, seperti nya tak ada harapan lagi bagi ku, Alice pun berlalu meninggalkan cita cintanya.

__ADS_1


Setelah menjadi sarjana ilmu kedokteran, beberapa bulan lagi gelar dan profesi seorang dokter akan ia dapati, kini Dion menjalani pendidikan profesi dan ia aktif di beberapa klinik.


Hari ini, Dion piket di sebuah instalasi gawat darurat di sebuah rumah sakit, sosok Dion masih saja mempesona, bahkan banyak pasien yang menyukainya, apa lagi dari kalangan kaum hawa, Dion selalu ramah, dan bersikaf lembut terhadap pasienya, tapi berbeda saat ia tak lagi bekerja, sikaf dingin dan kaku, selalu ia tunjukan, meski banyak dokter muda dan perawat menyukainya, namun tak satu pun berani mendekatinya, ia tak ingin bicara di luar kapasitas profesinya.


Siang itu, Dion di kejutkan dengan seorang pasien wanita yang ingin melahirkan, tak hanya pasien nya, tapi seorang lelaki yang mendampinginya juga membuatnya kaget sekaligus bahagia.


Dion mendekati pasien yang baru di pasang selang infus, ia pun menyapa mereka.


Dion menepuk pundak sang lelaki muda di samping nya.


"Hai Ilham," sapa Dion, ia pun tersenyum.


"Dion," sapa Ilham, ia pun memeluk Dion, seperti tak ada lagi dendam di antara mereka, karna setelah keluar dari penjara dua tahun yang lalu, Ilham mampu menunjukan pada keluarganya, Ilham tlah menjadi orang yang baik, apalagi kini ia menikahi wanita pujaan hatinya.


Benar, Tyas kini telah menjadi istri Ilham dan yang lebih mengejutkan Dion, ternyata ini adalah anak ke dua mereka.


Dion tak bisa lama berbincang dengan mereka, karna di ruang UGD adalah ruangan yang paling sibuk.


"Ham, nanti kita lanjutkan ngobrol nya ya, aku harus pergi karna ada pasien baru yang tiba dan butuh pertolongan pertama," Dion.


"Ok Pak Dokter," ia pun tersenyum ke arah sepupunya itu.


Dion merasa senang, kini Ilham jauh berubah, ia juga bahagia Ilham dan Tyas, mereka masih berjodoh, meski seperti apapun manusia coba memisahkan mereka, maka cinta akan menemui takdirnya sendiri.


Hal yang sama sangat ia harapkan, semoga penantianya, tak kan berbuah sia-sia, cinta itu masih utuh, dan tak pudar sedikit pun untuk seseorang yang telah membuat nya menunggu selama beberapa tahun, semua peristiwa pasti ada hikmahnya, seperti Ilham yang bangkit dari keterpurukanya, ia pun memperoleh kebahagiaan, cinta dan cita-cita.


Dion berharap suatu saat Cahaya akan kembali kepadanya, Cahaya yang terang namun tak menyilaukan, bersama kedua lentera kecilnya, sepasang anak kembar, yang slalu ia tangisi, saat ia merasakan rindu.

__ADS_1


Musim gugur ke lima.


Sudah lima tahun lebih Amira berada di negri asing itu, meski tlah terbiasa hidup tanpa keluarga, namun tetap saja ia merindukan hangatnya keluarga di bumi pertiwi.


Amira sudah selesai dengan kuliahnya, gelar MBA, juga sudah ia dapatkan, kini si kembar genap berusia 5 tahun.


Musim semi, transisi dari musim panas ke musim dingin, Di mana daun daun menguning dan sapuan lembut angin seketika, merontokan dedaunan, membuat jalan jalan di penuhi dengan guguran daun kering, hal yang indah, karna tak mungkin di temui di tanah air tercinta.


Gea dan Geo juga sudah besar, Amira bermaksud membawa mereka menikmati angin musim gugur.


Berjalan diantara hembusan angin, tak henti henti nya, kedua bocah itu berceloteh, terkadang mereka tertawa, terkadang mereka menangis, karna si Geo, ia begitu usil, ia suka sekali berbuat jahil, karna merasa sedikit lelah, mereka pun duduk di bangku taman.


Banyak orang yang hilir mudik di sana, sepasang kekasih, atau bahkan sekeluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, mereka semua berjalan menikmati suasana tenang, suasana di musim gugur.


Sebuah pemandangan yang membuat Geo heran ia pun bertanya.


"Bu, lihat lah mereka, mereka bertiga ada ayah, ibu dan anaknya, kenapa Geo ngak punya ayah Bu?" tanya nya dengan polos.


Pertanyaan itu, sontak membuat Amira syok, ia tak menyangka buah hatinya akan menanyakan keberadaan Ayahnya, Amira pun binggung untuk menjawab.


Belum sempat memikirkan jawaban dari pertanyaan Geo, Gea kembali menimpali dengan pernyataan.


"Geo, pasti senangkan jika kita punya ayah, seperti di film, mereka punya ayah dan ibu, ibunya memasak, sementara Ayah bermain lari-larian dan menggendong anak nya, pasti seru kan Geo, di gendong sama Ayah," tutur Gea polos.


"Benar Gea, kenapa ya? cuma kita yang ngak punya ayah, bahkan di film kartun aja mereka punya Ayah," timpal Geo.


Celoteh dari kepolosan keduanya mampu menyentak hati Amira, bagaimana cara menjelaskan pada mereka, semakin besar, tentunya mereka akan semakin menuntut jawaban dari pertanyaan yang sama.

__ADS_1


Seketika air mata Amira, membasahi pipinya, ia tak mampu lagi menahan kesedihanya, melihat kepolosan kedua anaknya yang menahan kerinduan untuk memiliki seorang Ayah.


__ADS_2