Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Mimpi buruk Dion


__ADS_3

Dion menghampiri Tyas yang menangis, ia juga tak tahu harus berkata apa, Dion tak menyangka, jika Alice bisa mengacaukan resepsinya.


Kedua orang tua Tyas pun merasa malu, karna kini Tyas tak mau melanjutkan resepsinya, ia harus menghadapi tamu dengan berbagai pertanyaan.


Resepsi pun di hentikan.


"Bagaimana ini Bu?" tanya Bapak


"Ibu ngak nyangka juga, pestanya akan berantakan, jika tahu begini, ngak usah di adakan pesta saja, sama saja, kita kini di permalukan juga."Ibunda Tyas.


"Ia Pak, ini semua gara-gara Ibu yang sudah memaksa Dion, kita kan ngak tahu latar belakang Dion, kita terburu-buru mengambil keputusan, maksud hati ingin menutup aib, tapi kini kita malah menambah aib, kasihan Tyas, Pak, ia pasti malu, Ibu juga merasa malu Pak," tutur ibu sambil menangis tersedu.


"Sudalah Bu, menyesal juga sudah tak berguna, kita pasrah kan saja kepada Tuhan," Bapak berusaha menenangkan ibu.


"Lalu bagaimana dengan Dion? bukan kah dia bilang jika ia sudah menikah? lalu bagaimana dengan nasib Tyas, anak kita Pak, jika Dion meninggalkanya."


"Tenang Bu, kita akan usahakan agar Dion tak meninggalkan Tyas, karna Bapak lihat


Tyas bahagia bersama Dion." ucap si bapak


"Ia Pak, bagaimana pun juga, kebahagian Tyas adalah yang utama."


Di dalam kamar, Tyas hanya menangis, sementara Dion, hanya diam, baru dua hari menjalani rumah tangga bersama Tyas, berbagai tragedi dan kejadian tak mengenakan terus menghampiri, apakah ini pertanda hubungan ini harus segera di akhiri, batin Dion.


Dion ingin membicarakan nya pada Tyas, saat itu juga, tapi melihat keadaan Tyas yang sedang sedih, ia pun urung.


***


Karna masih berada di rumah sakit, Ummi pun bermaksud memeriksa kandungan Amira.


Mereka pun mendaftar di prakter dokter kandungan.


Amira terlihat senang, ia terus mengelus perutnya yang kini mulai membesar.


Amira tak sabar menunggu hasil Usg, ia ingin tahu jenis kelamin anak mereka.


Meski tak bisa melihat gambar dari janinnya, tapi Amira senang.


Dokter pun mulai memeriksa dan terlihat gambar janin di monitor, meski tak jelas namun Ummi merasa senang melihat janin calon cucunya.


"Kedua janinya dalam keadaan sehat ya Bu, ucap Dokter.


"Ngak ada masalah, sehat dan semua nya Ok." tambah Dokter.


"Apa maksud ke duanya itu, menantu saya hamil anak kembar Dok? tanya Ummi, senang.

__ADS_1


"Ia tapi belum kelihatan jenis kelaminya," jawab Dokter.


Amira dan Ummi merasa senang, mendengar berita tersebut.


"Ummi, Amira senang sekali Ummi," ucap Amira bahagia, ia pun meneteskan air matanya.


"Ia sayang, Ummi juga senang sekali," Ummi yang bahagia itu pun memeluk menantunya.


"Ummi, kita pulang ya, Amira ngak sabar Ummi, memberi kabar pada Dion," ucap Amira.


"Ia sayang, kita pulang sekarang. Ummi pun membawa Amira keluar dan menuju arah parkir dan sudah ada Abi di sana.


"Abi, Amira hamil anak kembar Abi," ucap Amira senang, saking senang nya Amira, seolah ia ingin memberitahu kesemua orang.


"Alhamdullilah, Nak, Abi ikut senang," ucap Abi.


Abi membukakan pintu bagi keduanya, meski Amira hanya menantu, tapi mereka merawat dan menjaga Amira, seperti anak sendiri, itu juga yang membuat Amira lebih betah tinggal di rumah mertuanya dari pada rumahnya sendiri.


"Sayang, selain kita akan memberi tahu Dion, beri kabar juga pada kedua orang tua mu ya, mereka pasti juga senang." ujar Ummi sambil memeluk dan mengusap rambut Amira.


"Ummi, entah kenapa, Amira rindu sekali sama Dion, Amira ingin Dion pulang Ummi, Amira kangen sekali sama Dion," ujar Amira lirih.


"Ia sayang, nanti Ummi pesan tiket untuk Dion, tapi sebelumnya kita tanya pada Dion, apa dia bisa pulang," papar Ummi, ia pun meneteskan air matanya.


Sesampainya di rumah, mereka langsung menghubungi Dion.


Terdenga suara bunyi hand phone milik Dion, ia pun mengangkatnya.


"Assalamuaalakum Ummi," sapa Dion.


"Waalaikum salam Dion," Amira langsung menjawab.


Mendengar Dion mendapat telpon, Tyas menghentikan tangisnya, seolah ingin menguping pembicaraan mereka.


"Hallo Dion, kamu lagi ngapain?" tanya Amira basa-basi.


"Ngak ngapa-ngapain, lagi mikirin kamu, jawab Dion, ia sedikit menjauh dari Tyas."


Mendengar kata-kata Dion, Tyas langsung cemburu, ingin rasanya ia berteriak dan memberi tahu orang yang berada di seberang telpon, bahwa ia kini sudah menjadi istri Dion.


Dion aku punya kabar baik Dion,


"Kabar baik apa sayang?" tanya Dion semakin mesra, ia kini tak peduli perasaan Tyas.


"Dion, anak kita kembar Dion," ucap Amira dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


Mendengar berita Amira, Dion langsung meneteskan air matanya.


"Benarkah sayang," ucap Dion lirih, ada perasaan bahagia yang bercampur perasaan bersalah, Dion semakin menyesali tindakanya.


"Dion aku aku kangen sama kamu, kamu pulang ya," pinta Amira.


Dion semakin terharu," Ia sayang aku akan pulang dalam beberapa hari lagi,setelah urusan ku selesai," jawab Dion.


Setelah berbincang-bincang, melepaskan kerinduanya, Dion pun menutup telponya.


Dion menghampiri Tyas.


"Tyas, aku tak bisa lagi melanjutkan pernikahan ini, aku tak ingin semakin menyakiti istri ku, apa lagi sebentar lagi ia akan melahirkan anak kembar kami, dan saat itu aku harus berada di sampingnya," papar Dion,


"Dan beberapa hari lagi, aku akan pulang Tyas, " Dion


Mendengar jawaban Dion, Tyas semakin sedih, ia pun takut jika Dion pergi dan tak kembali lagi. Tyas hanya diam, ia kembali memikir kan cara agar Dion tak pergi darinya.


Hari sudah larut malam, Dion pun mengambil selimut dan membentangkanya di atas lantai, kali ini ia tak ingin seranjang lagi bersama Tyas, walau apapun yang terjadi, Dion ingin mengakhiri semua ini.


Melihat Dion yang tidur di lantai, Tyas pun menggampar bed covernya dan ikut tidur di samping Dion, tanpa rasa sungkan ia pun memeluk Dion.


"Tyas, tolong jangan lakukan ini," pinta Dion ia menepiskan tangan Tyas.


"Kenapa Dion ? apa kau merasa jijik pada ku?" tanya Tyas, ia seolah memancing reaksi Dion.


"Bukan begitu Tyas, tapi semua ini salah dan harus di luruskan, karna kau hamil bukan dari ku, harus nya aku tak boleh menyentuh mu, sampai melahirikan, dan aku berencana akan membatakkan pernikahan ini," tutur Dion, ia pun kembali berbaring membelakangi Tyas.


Tapi Tyas semakin agresif, ia menarik dan membalikan tubuh Dion, kemudian menciumnya, ia ingin Dion jatuh kembali dalam pelukanya, seperti sebelum nya.


"Tidak Tyas," dengan tegas Dion menolaknya, ia pun bangkit dan berdiri.


"Aku tak mau melakukan kesalahan lagi Tyas, dan jika kau masih nekat, aku ajan pergi dari rumah ini malam ini juga," tutur Dion.


"Ia Dion, aku tak kan memaksa mu, tapi aku hanya ingin tidur di samping mu Dion," pinta Tyas.


"Berbaring lah di samping ku Dion, aku janji tak kan terjadi apa-apa," ucap Tyas, ia pun kembali ke ke kasurnya dan di ikuti Dion.


Tyas memeluk Dion, sepanjang malam, mereka pun terlelap, tetapi seketika Dion tersadar, ternyata ia mimpi buruk.


Dion mengatur nafasnya, keringat dingin bercucuran membasahi wajahya, Tyas tersadar karna gerakan Dion, yang tiba-tiba.


"Uh, Alhamdullilah ini hanya mimpi buruk, tapi kenapa perasaanku tak enak, ya Allah semoga ini bukan firasat buruk," ucapnya.


Dion langsung pergi ke kamar mandi dan berwudhu, ia pun melaksanakan sholat malam, seraya berdoa, memohon perlindungan untuk orang-orang yang di kasihinya.

__ADS_1


****Terima kasih sudah membaca karya ku, mohon tekan like, komen dan vote ya, biar aurhor makin semangat up nya, bila berkenan mampir di novel author yg lain dengan cerita yang lebih seru dan mengharukan denga judul KETIKA TAKDIR MENYATUKAN AKU DAN MEREKA. Terima kasih.


__ADS_2