
Setelah hampir seminggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Pak willy di perbolehkan pulang.
Sebelum pulang, Pak Dedy datang menjenguknya, ia pun menghampiri Pak Willy dengan wajah masih terlihat pucat.
"Bagaimana kabar anda Pak Willy?" tanya Pak Dedy.
"Sudah mendingan, tapi rasanya aku tak sanggup lagi untuk memimpin perusahaan ku lagi, karna aku tak bisa terlalu lelah, sepertinya akan pensiun" papar Pak Willy.
"Jika anda pensiun siapa yang akan meneruskan perusahaan anda?"
"Aku akan meminta Amira untuk memimpin di perusahaan ku," jawabnya lagi.
"Amira? apa Amira ada di sini?" tanya Pak Dedy.
"Iya, mendengar kabar aku terkena serangan jantung, ia langsung pulang," tambahnya lagi.
Bagus, jika Amira yang jadi penerus perusahaan Willy, aku bisa dengan mudah menguasainya, Akan ku jodohkan evan dan Amira kembali, batinnya.
Pak Dedy pun mencoba untuk mendekatkan diri dengan keluarga Pak Willy lagi, dan mengatur sebuah rencana perjodohan untuk Amira dan Evan.
Amira mengurus administrasi perawatan Ayahnya yang akan pulang, karna kasir berada di samping ruang UGD, ia pun menyempatkan diri untuk menyapa sang dokter yang selama seminggu ini, membuat hatinya berbunga bunga, rumah sakit mungkin merupakan momok yang menakutkan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Amira, cintanya yang telah mati, kini tumbuh subur di tempat ini.
Amira sengaja melewati ruang UGD, untuk bisa melihat Dion, Saat Amira lewat, pandangan mata Dion langsung tertuju padanya, seketika Amira melemparkan senyum manis kearah dokter sang pujaan hatinya itu, yang kemudian di balas dengan kedipan sebelah mata oleh sang dokter dan senyum termanisnya.
Melihat isyarat dari sang dokter, Amira seperti terkena panah asmara oleh dewi Amore, seketika jiwa nya melayang dan terbang, hingga langit ke tujuh.
Bayangkan lah seperti apa rasanya, seseorang yang terlihat acu terhadap semua orang, tapi ia begitu perhatian hanya terhadapmu, Seorang yang terlihat dingin terhadap orang di sekitarnya, tapi ia begitu romantis terhadapmu, ya, hanya kamu, kamu dan kamu yang ada di hatinya, semua waktu dan semua hal yang indah ia curah kan hanya kepadamu, hati wanita mana yang tak luluh terhadap sikap manis seorang dokter yang menjadi pujaan banyak wanita, tapi ia hanya memuja kepada mu, bagaimana pula yang kau rasakan, jika kau adalah pilihanya, di antara sekian banyak wanita yang menanti cintanya. tentulah perasaan mu akan sama dengan apa yang Amira rasakan.
Amira merasa tersanjung, terbuai, ia tak mampu lagi untuk berpura-pura tak ingin merasakan cinta.
Belum sampai di kamar perawatan Ayahnya, handphone Amira bergetar, ia pun membuka pesan dari Aplikasi WAnya.
Sebuah pesan singkat dari dokter tampan pujaan hatinya.
Kau cantik hari ini, dan aku suka.
Pesan yang sangat singkat, tapi mampu membuat Amira kembali melayang, ia belum pernah mendapat perlakuan romantis seperti ini, baik dari Raihan atau Dion sekalipun, Amira seolah tak mampu menolaknya. meski baru seminggu ini ia menganal dokter tersebut.
Amira berjalan dengan perasaan bahagia di setiap langkah kakinya, ia tak menyangka jika di tempat ini, ia kembali merasakan cinta, ia pun perlahan melupakan rasa sakitnya terhadap pengkhianatan Dion.
Arkan memang benar, cara mudah melupakan seseorang yang pernah menyaktimu adalah, membuka hati untuk orang lain, biarkan orang itu menyembuhkan luka mu, karna jika rasa itu sudah memudar terhadapnya, seperti apa pun ia telah melukaimu, kau tak kan pernah merasa sakit lagi, karna sesungguhnya, rasa sakit itu adalah rasa cinta terhadapnya, yang coba untuk kau inggkari, biar kan semua nya berlalu, coba lah melangkah tanpa melihat kebelakang, biar kan semua menjadi masa lalu, anggaplah, hal itu sebagai batu lonjakan bagimu, untuk sampai ke tempat yang lebih tinggi.
Sesampainya di kamar, Amira bertemu dengan seorang pria yang mungkin seumuran Ayahnya,
Pria itu pun menyapa Amira.
"Amira, kau makin cantik saja," ucapnya sambil mengulurkan tangan unjuk berjabat, Amira pun menjabat tangganya dan tersenyum.
"Om siapa?" tanya Amira, ia tak kenal dengan Pria itu.
"Om adalah Om dedy, teman Bapakmu, ayahnya Revan," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Oh, Ayahnya Revan, " ucap Amira dengan perasaan tidak senang.
"Eh Amira, sampai sekarang Revan belum menikah, karna masih setia menunggu kamu lho, " ujarnya berbohong, mendengar perusahan Pak Willy akan di ambil alih oleh Amira, Pak Dedy bermaksud menjodohkan Amira dengan Revan kembali.
"Revan Om, bukanya Revan tidak pernah mencintai Amira Om," jawab nya santai, Amira semakin tidak nyaman dengan keberadaan Dedy di sana, ia merasa Dedy ada rencana yang tidak baik terhadapnya.
Setelah menemui Pak Willy di rumah sakit, Dedy langsung pulang kerumah, dan menemui putranya Revan yang masih mendengkur di atas tempat tidur.
"Evan! Evan!" serunya berkali-kali tapi tak ada jawaban dari Evan.
Ia pun masuk ke kamar Revan, menarik selimutnya dengan kasar, hingga Revan sendiri jatuh berguling di bawah tempat tidur.
Bruk...,
Revan langsung tersadar seketika pinggangnya menjadi sakit.
"Papa apa-apan sih, bangunin orang pakai cara kasar kayak gitu, kan pinggang Evan jadi sakit," keluhnya ia pun mengelus pinggangnya.
"Kamu ini tidur saja kerjanya, apa ngak mikir apa, hidup kamu itu gitu-gitu aja, kerja ngak mau, keluyuran jalan terus, malam kamu jadikan siang, siang kamu jadikan malam," tutur Dedy dengan emosi.
"Alah... Pah, masih muda, mumpung masih bujangan, kapan lagi senang-senangnya, kalau kayak Papa wajar aja udah insaf, ngak pantes lagi senang-senang, udah bau tanah," tuturnya santai, ia pun kembali ke tempat tidurnya.
"Apa kata kamu Van, kamu bilang Papa bau tanah, kamu nyumpahin Papa," Dedy tersulut emosi.
"He, he bercanda Pa, Papa belum bau tanah kok, bau minyak jelantah saja," katanya dengan santai, ia pun menertawakan Papanya.
"Sudah bercandanya Van, kali ini kamu harus turuti perintah Papa," ucapnya tegas.
"Van, kamu masih ingat Amira kan," suara Dedy merendah berusaha membujuk Evan.
"Ya ingat lah, Amira si gadis buta itu kan?" tanyanya ingin memastikan.
"Ia Van, tapi sekarang Amira sudah bisa melihat," ucap Papanya.
"So what, gitu loh," balasnya santai.
"Van, bisa ngak sih serius, Papa ini mikirin masa depan untuk kamu, Van,"
"Lalu apa hubungannya dengan Amira Pa, Ngak mungkin kan, Papa jodohin Revan dengan Amira lagi ? "tanyanya mengejek.
"Van, kamu harus mau, Papa jodohkan dengan Amira kembali, ini semua untuk masa depan kamu Van," tuturnya lagi.
"Why!!!, Papa, Amira itu sudah menikah, kenapa masih mau Papa jodohkan dengan Revan, " balasnya.
"Revan, Amira sudah berpisah dengan suaminya, dan sekarang ia punya anak kembar, ia pasti mau Van, di jodohkan sama kamu, kamu ganteng, masih muda lagi,"
"Pa, Amira waktu gadis aja Revan ngak mau, apalagi sekarang sudah janda, punya anak dua lagi. Papa kira Revan ngak laku apa." gerutunya kembali.
"Eh Van, selera kamu itu, ngak usah sok ketinggian deh, kamu ngak liat Amira yang sekarang, ia jauh lebih cantik, dan sekarang ia bisa melihat, dan yang terpenting adalah, ia adalah pewaris perusahalan Willyam Sakti Van, kamu bisa hidup enak tujuh turunan," berusaha membujuk Revan.
"Masa' sih...., terserah Papa deh, pokoknya sekarang jangan gangguin Revan, masih ngantuk " ia pun kembali ke tempat tidur dan kembali mendengkur.
__ADS_1
Dedy hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya.
Di rumah Amira berada di atas tempat tidurnya sedang rebahan, ia pun bangkit karna mendengar suara handphonenya berbunyi, ia langsung mengangkat panggilan masuk,
"Hallo," sapa Amira lembut.
"Assalamualaikum sayang," suara di sebrang telpon.
"Wa'alaikum salam," jawab Amira sambil tersenyum, mengambarkan suasana hati nya yang sedang bahagia.
"Sayang kamu lagi ngapain," suara Dion di telpon.
"Ngak, lagi rebahan aja," jawab Amira,
"Dokter lagi ngapain? "Amira balik bertanya.
"Lagi mikirin kamu," jawab nya spontan.
"Massa sih," tanyanya ragu, kembali lagi ia tersanjung dengan jawaban dokter,
Baru saja memulai pembicaraan, pintu kamar Amira di ketuk oleh Ibunya.
"Amira buka pintu," suara dari luar,
"Sebentar Bu," ucap Amira,
"Maaf Dokter, ngobrolnya nanti aja ya, aku di panggil sama Ibu," Amira.
"Ia ngak apa-apa, asal udah dengar suara kamu, aku sudah merasa senang kok,kalau gitu selamat malam sayang, mimpikan aku ya, " tutur Dion.
"Mulai lagi deh, selamat malam Pak dokter, " Amira pun menutup telponnya.
Amira membuka kan pintu, "Amira ada yang ingin menemui mu, ayo ikut ibu sekarang." Lastri pun membawa Amira ke ruang tamu.
Amira penasaran dengan siapa yang mencarinya, ia menebak jika pak dokter yang menemuinya, seketika hatinya pun senang, tapi ternyata...,
Pak Dedy Pria yang di temuinya tadi pagi di rumah sakit, kini ia bersama Pria muda, sepertinya pria itu adalah Revan, batin nya.
Revan terpukau ketika melihat Amira, sekarang penampilanya berubah, Amira kini semakin cantik, modis, di tambah dengan iris yang berwarna coklat muda, semakin menambah daya tariknya.
Revan pun mulai menyukai Amira, tanpa di perintah lagi Revan langsung menjabat tangan Amira.
"Hay Amira, aku Revan, kau masih ingat dengan ku kan?" tanya Revan ramah.
"Oh Kau Revan, apa kabar Van," tanyanya basa-basi.
"Baik, aku kesini mau ngajak kamu makan malam, kamu mau kan?" tanya Evan semangat, dan Dedy pun senang, karna kini ia tak perlu memaksa Evan untuk mendekati Amira, sepeetinya Revan juga suka dengan Amira.
"Maaf Van, aku ngak bisa," tolak Amira langsung.
"Baik lah akan aku tunggu sampai kamu bisa, " balas Revan, ia pun tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Please, like, komen dan votenya, mampir juga di novel author yang lain dengan judul; Ketika takdir menyatukan aku dan mereka.