
"Apa dokter? Leukimia," Ibu Amanda kaget mendengar penuturan dokter tentang penyakit yang di derita putrinya, seketika sekujur tubuh nya terasa lemas.
"Lalu apa bisa putri saya di sembuhkan dokter?" tanya nya sambil menahan sesak di dada.
"Untuk kesembuhan saya tidak bisa memastikan Bu, tapi untuk pengobatan bisa dengan kemoterapi."
"Semua juga tergantung dari pasien, jika si pasien, rajin dan terartur minum obat, maka penyakit ini bisa di sembuhkan, apa lagi teknologi kedokteran saat ini sudah sangat maju, jadi masih ada harapan untuk penderita kanker," papar dokter.
Meski masih syok, namun Ibunda Amanda berusaha untuk tetap tenang.
"Lalu apa yang harus saya lakukan dokter untuk menyembuhkan penyakit yang di derita anak saya dokter?"
"Ya, seperti yang saya sebutkan, salah satunya dengan Kemoterapi."
Bu Nita, ibunda Amanda keluar dari ruangan dokter dengan tubuh yang terasa lemas, pandanganya jauh kedepan menatap ruang hampa di hatinya.
Hingga ia tak memperhatikan keadaan sekeliling nya, ia terus saja berjalan namun dengan tatapan mata kosong.
"Bu, Ibu, " seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Ibu Nita pun kaget dan menoleh ke belakang.
"Eh dokter, ada apa dokter?" tanya nya kepada Dion.
"Bu, saya perhatikan seperti nya ibu ada masalah ya?" tanya Dion, karna ia melihat ibu Nita berjalan dengan tatapan mata kosong.
Bu Nita meneteskan air matanya, "Amanda dokter...," kata-katanya terhenti ia pun menangis.
"Amanda kenapa Bu?" Dion semakin heran.
"Amanda menderita Leukemia dokter," jawab nya dan kembali menangis.
Dion kaget, tapi ia tak terlalu syok, ia sendiri sebenarnya sudah curiga dengan hasil tes laboratorium Amanda.
"Bu sabar ya, segala sesuatu penyakit yang Allah ciptakan, pasti ada obatnya, yang penting kita berusaha dan bertawaqal, sisa nya kita serah kan saja sama Allah," tutur Dion.
"Terima kasih dokter," Bu Nita pun berlalu.
***
Amira membacakan dongeng tidur untuk Gea dan Geo, ia berada di antara kedua anaknya itu.
"Bu, Gea kangen deh sama Om dokter, kapan-kapan kita liburan lagi ya Bu, ajak Om dokter," pinta nya dengan manja.
Amira hanya diam, ia tak tahu harus berkata apa, sebenarnya ia tak ingin mengecewakan anaknya, tapi tak baik juga jika ia berkata bohong.
"Kita ngak bisa liburan bersama lagi sayang dengan Om dokter, jika Gea dan Geo kangen sama Om dokter, nanti Om dokter yang akan bawa kalian liburan."
"Tapi ibu ikut kan?" tanya nya lagi.
__ADS_1
"Ibu ngak bisa ikut sayang, Ibu sibuk," jawab nya berbohong.
"Ibu, Ibu marahan ya sama Om dokter, Om dokter itu kan baik bu, apalagi Om dokter janji mau nikah sama ibu, kalau Om dokter nikah sama ibu, Om dokter kan bisa jadi ayah Gea." Gea terus saja nyerocos tanpa melihat ada bulir air di sudut mata Amira.
Saat sadar ibu nya bersedih, Gea pun bangkit dan menghapus air mata di pipi Amira.
"Ibu, Ibu putus ya sama Om dokter?"tanya Gea dengan polos.
Amira kaget mendengar ucapan Gea, anak sekecil itu tahu dari mana arti kata putus, tapi Amira diam saja, ia juga tahu, Gea seperti itu, pasti dari film yang ia tonton.
Kini giliran Gea yang menangis, Amira pun bangkit dan duduk sejajar dengan Gea.
"Kamu kenapa nangis sayang?" tanya Amira.
"Kalau ibu putus sama Om dokter, Gea batal punya ayah dong," tangis nya hingga tersedu-sedu.
Amira memeluk Gea, ia pun ikut menangis, ternyata keputusannya tak hanya melukai dirinya dan Dion, tapi juga anak-anaknya, mereka sudah lama mengidamkan sosok ayah di samping mereka, tapi lagi-lagi ia memutuskan ikatan antara ayah dan anak dan semua karna sifat egonya.
"Ngak kok sayang, Gea memang punya ayah, dan Om dokter adalah ayah kandung Gea," papar Amira, ia pun ikut bersedih.
Gea melepaskan pelukan Amira," Bener Bu, Om dokter itu Ayah Gea," wajahnya kembali berseri.
"Hore, Sekarang Gea dan Geo punya ayah," ia pun melompat kegirangan hingga membanggunkan Geo.
"Gea !!!!! berisik banget sih, Geo mau tidur nih," teriak Geo, ia pun menarik selimutnya.
Alangkah bahagianya jika mereka semua bersatu dalam sebuah keluarga, tapi semua kini tak mungkin lagi.
"Sekarang Gea tidur ya," Amira menarik tubuh Gea dengan lembut dan merebahkan nya keatas kasur.
"Bu, jika Om dokter Ayah Gea, kenapa Om dokter ngak tinggal dengan kita saja?" tanyanya kembali.
"Sudah malam Gea, sudah waktu nya Gea tidur, besok mau sekolah kan?" tanya Amira.
Setelah dibelai rambut nya, Gea pun tertidur, setelah tidur Amira pun keluar dari kamar dan berpapasan dengan Ibunya.
"Amira, ada Pak Dedy dan Revan di luar sedang bicara pada Ayah mu, mereka bermaksud melamar mu Amira."
"Iya Bu, Amira akan langsung menemui mereka, " Amira pun berlalu dari ibunya.
Di sana semua keluarga nya sudah berkumpul, termasuk Arkan.
Amira duduk di samping Arkan.
"Amira, kedatangan Bapak dan Revan kesini untuk melamar kamu, sekirananya kamu bersedia menerima Revan sebagai calon suami kamu," ucap Pak Dedy dengan penuh harap.
Amira menatap sekelilingnya berharap mendapat jawaban, tapi semuanya hanya diam, mereka semua menyerah kan keputusan penuh di tanganya.
"Baik Pak saya terima lamaran Revan," ucapnya dengan tenang, meski dalam hatinya berkecambuk.
__ADS_1
Amira berharap dengan menerima lamaran dari Revan, ia bisa melupakan rasa cintanya terhadap Dion.
"Jadi kamu menerima aku Amira?" tanya Revan ia begitu senang,
Revan pun mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya, ia pun mendekati Amira.
Revan berlutut di hadapan Amira untuk mengenakan cincin.
"Kalau begitu, saat ini juga aku mengikat mu dengan cincin ini Amira," Revan menarik lembut tangan Amira kemudian menyemarkan cincin di jari manisnya.
"Dengan menerima cincin ini, berarti kau sekarang adalah tunangan ku Amira," ucapnya sambil menatap wajah Amira.
Amira mengangguk dan tersenyum simpul, senyum yang terlihat di paksakan.
Semua orang yang ada di ruangan itu, terlihat bahagia, hanya ia dan Arkan yang tak merasa bahagia.
Arkan menggenggam erat tangannya sendiri, karna geram dengan keputusan yang diambil Amira, Arkan sangat tahu jika Amira hanya ingin move on dari Dion, tapi kenapa harus menerima Revan, menurut Arkan, Revan itu pria yang licik dan kasar, Arkan sangat menyayangkan keputusan Amira, tapi apa mau dikata, ia tak berhak mengatur hidup Amira, Apalagi kedua orang tua Amira sudah sangat setuju.
"Kalau begitu besok malam kita makan malam bersama ya, aku juga akan menunjukan rumah yang akan kita tinggali setelah kita menikah nanti," ujarnya kepada Amira dan di hadapan semua orang di rumah itu.
Amira pun mengangguk setuju.
Selesai acara lamaran singkat itu, Amira langsung masuk ke kamarnya, tak ada rona bahagia yang terlihat di wajahnya.
Arkan membuntuti Amira hingga ke kamarnya, setelah masuk kamar, Arkan yang menutup pintu kamar Amira.
"Amira, kenapa kau mau saja menerima lamaran lelaki itu?" tanya nya dengan sedikit emosi.
"Memangnya kenapa Kan?" balik bertanya.
"Amira aku tidak mau kau disakiti lagi, jika memang di hati mu masih mencintai Dion, kenapa kau tak menerima Dion saja, untuk menjadi suami mu, lagi pula ia adalah Ayah kandung dari anak-anak mu."
Amira hanya diam.
Arkan mendekati Amira, ia memegang kedua lengan Amira.
"Amira aku tahu apa yang kau mau, dan yang kau butuh kan, dan itu adalah Dion."
"Kau sengaja kan menerima Revan, agar kau bisa move on dari Dion, tapi kali ini, aku pastikan kau mengulangi kesalahmu lagi Amira."
Amira hanya diam, ia hanya meneteskan air matanya.
"Amira, kau tak perlu menyiksa perasaan mu hanya untuk membuktikan jika kau wanita yang kuat, yang tangguh, kau salah Amira, semua ini hanya menjerumuskan mu kembali Amira, sekali-kali buanglah sikaf angkuh dan egois mu Amira, berpikir lah dengan jernih, di saat seperti ini, kau harus mengedepan kan logika, bukan emosi, aku takut kau akan menyesal nantinya Amira, Aku sangat menyayangi mu Amira." Arkan langsung memeluk Amira, tapi Amira hanya diam saja.
Please like dan komenya ya, untuk melumasi otak author yang suka ngadat, karna kekurangan dukungan dari para raider.
Mampir juga di novel author yg lain dengan cerita yang lebih seru dan menarik di jamin ngak ngecewain reader ( terlalu yakin)
Dengan judul: Ketika takdir menyatukan aku dan mereka.
__ADS_1