
Amira menangis di sepanjang perjalanan pulang, ia masih mengkhawatirkan Oma.
Ada rasa bersalah di hati Dion, melihat Amira kembali di kucil kan keluarganya, Dion pun merasa sedih karna melihat istrinya yang selalu menderita.
Amira menyeringai menahan sakit kepalanya, melihat itu Dion pun panik.
"Sayang kamu kenapa?" tanya nya sambil menepi kan mobilnya.
"Kepala ku pusing Dion, aku mau pulang secepatnya" Amira masih merasakan sakit kepala.
"Ia sayang, kita pulang" Dion pun kembali melaju kan mobilnya.
"Ayah, Ibu kenapa Yah?" tanya Gea.
"Ibu lagi pusing, ngak usah di ganggu ya, kalian duduk yang manis saja," tutur nya kepada Gea dan Geo.
"Iya Yah," serempak mereka menyahut.
Sesampai nya di rumah, Amira hendak turun dari mobil, tapi di cegah Dion.
"Tunggu sayang, biar aku yang membuka kan pintu untuk kalian."
Setelah membuka kan pintu untuk anak-anaknya, ia pun membuka pintu untuk Amira.
Amira keluar tapi tubuhnya nya sempoyongan, tiba-tiba pandanganya menjadi gelap, untung saja Dion sudah bersedia menangkap tubuhnya.
Amira masih sadar saat Dion mengangkat tubuhnya dan membawanya ke tempat tidur, yang ada dalam kamar mereka.
"Sayang kamu jangan banyak mikir, kamu pasti sedang mengkhawatirkan keadaan Oma kan ?," tanya Dion.
"Ia Dion, aku khawatir tentang keadaan Oma, Amira memegang kepala sambil menyeringai kembali.
"Biar nanti aku telpon Arkan, untuk memastikan keaadan Oma."
Dion menyapukan minyak telon di kening Amira untuk mereda kan sakit pada kepalanya.
"Ayah, ibu sakit apa?" tanya Gea lagi.
"Ibu hanya pusing sayang, ibu ngak boleh capek, Gea dan Geo tidur ya, jika butuh sesuatu bilang sama Ayah saja," tutur nya kepada kedua anaknya.
Dion menanyakan keadaan Oma kepada Arkan, dan untungnya keadaan Oma tidak terlalu memprihatinkan.
Dion mengusap lembut kepala istrinya sambil sesekali menciumi rambutnya, melihat bekas jahitan di kepala istrinya Dion semakin mengkhawatirkan Amira, apalagi Amira sering mengeluhkan sakit kepala.
Dion mencium pipi Amira sebelum ia menutup mata, ia berharap ini bukan sekerdar mimpi indah, hampir enam tahun ia menunggu kebahagian ini hadir dalam hidupnya, namun belum satu hari mengarungi rumah tangga yang sempat goncang di hantam badai, biduk cinta mereka pun hampir karam, masalah kembali hadir lagi-lagi cinta mereka tak mendapat restu.
Dion ingin memejamkan matanya, tapi ia ingat jika besok, seharian ia bertugas di ruang UGD, dan istrinya hanya sendiri di rumah, belum lagi jika ia piket malam, Amira dan anak-anaknya harus ia tinggalkan.
Sepertinya aku harus cari orang untuk membantu ku mengurus rumah tangga, aku tahu Cahaya tak terbiasa dengan kerjaan rumah, ia pasti akan kerepotan mengurusi semua, apalagi aku selalu sibuk, pikir Dion.
Keesokan paginya, setelah sholat subuh berjamaah, Dion menyuruh Amira untuk kembali istirahat.
Dion memulai aktifitasnya, mulai dari membersihkan rumah, hingga mencuci piring sisa makan malam mereka, selain itu ia juga harus menyiapkan sarapan dan bekal sekolah untuk Gea dan Geo.
Pukul enam pagi semua sudah beres, si kembar juga sudah bangun, ia pun memandikan Gea dan Geo serta memakaikanya seragam, hal itu sengaja ia lakukan sendiri, karna ia sudah kelihangan banyak momen berharga bersama mereka lima tahun terakhir.
Semua sudah siap, Dion membawa anaknya menuju meja makan, segelas susu dan beberapa potong roti isi selai sudah tersedia sebagai sarapan untuk mereka.
Setelah bangun, Amira langsung menuju kamar mandi, rencananya hari ini ia akan ke kantor.
Setelah siap ia pun menemui suami dan anak-anaknya untuk sarapan.
"Selamat pagi sayang", sapanya kepada Gea dan Geo, ia pun mencium keduanya.
"Selamat pagi Ibu." balas mereka termasuk Dion.
__ADS_1
"Kok cuma Gea dan Geo yang di cium, Ayah kok ngak," tuturnya.
"Selamat pagi Yah," ia pun mencium pipi Dion.
"Wah, semua sudah siap nih, kalian berdua siapa yang mandiin. dan memakaikan seragam?" tanya Amira.
"Ayah, bekal sekolah juga sudah siap bu, semua ayah yang menyiapkannya," tutur Gea.
Amira melihat kearah Dion, "Makasih ya Yah, sudah di siapin, jadi Ibu ngak perlu repot," ujarnya sambil tersenyum.
"Ibu sudah rapi mau kemana?" tanya Dion.
"Ya mau kerja lah," jawabnya.
"Kerja bukanya masih sakit?"
"Ngak lagi kok, kan sudah di suntik vitamin sama ayah lagi," jawabnya sambil tersenyum, dan di balas senyum pula oleh Dion.
"Ya sudah kalau gitu cepat habiskan sarapan kalian, nanti Ayah terlambat, karna harus mengantar Ibu."
"Ngak perlu, ibu nanti di jemput sama Arkan, karna akan langsung menuju pabrik."Amira.
"Kalau gitu pulangnya saja ayah yang jemput."
Amira pun setuju.
***
Bu Nita menyiapkan sarapan untuk Amanda sebelum ia minum obat.
Bu Nita kaget karna melihat Obat Amanda sudah habis.
Ia melihat kantong obat itu sudah kosong, karna kesibukannya mencari uang, ia tak pernah memperhatikan obat-obatan Amanda.
Aduh mana ngak ada uang lagi, mau utang sama bu Daeng, ngak mungkin hutang ku sudah banyak dan belum dicicil sedikit pun, batinya.
"Bagaimana caranya ya aku bisa menebus obat Amanda," Bu Nita semakin binggung.
Ia masuk ke kamar Amanda dan kaget karna melihat Amanda yang sudah berdandan dengan rapi.
"Manda kamu mau kemana Nak?" tanya Bu Nita.
"Manda mau cari kerja Ma. Manda sudah sehat, "jawabnya.
"Tapi Nak, kamu mau kerja apa, nanti bagaimana jika penyakitmu kambuh, kamu ngak boleh lelah," papar Bu Nita.
"Kerja apa saja Ma, manda tahu, Mama pakai uang Bu Daeng kan? untuk biaya pengobatan manda?" tanyanya menyelidik.
"Iiya sayang, tapi dari mana kamu tahu?" tanyanya.
Belum sempat Manda menjawab, pintu sudah di gedor dengan kuat oleh seseorang.
Tok....tok....
"Bu Nita..., Bu Nita.... !"Seseorang berteriak memanggil namanya.
Mereka pun keluar dari kamar.
"Bu Daeng?" Bu Nita kaget.
"Eh Bu, kapan mau bayar hutangnya, janjinya cuma seminggu, tapi ini sudah hampir sebulan belum juga di bayar,"bentaknya.
"Maaf Bu, tanah saya yang di kampung belum laku di jual, saya akan usahakan secepatnya, untuk membatar hutang anda," jawabnya sedikit gemetar karna mendapat sorot mata tajam dari Bu daeng.
"Ok bu, jika dalam sebulan Ibu belum bisa membayar, maka rumah ini kami sita," katanya dengan penuh emosi.
__ADS_1
Bu Nita hanya menangis, "Jangan di sita, ini rumah peninggalan suami saya, kami mau tinggal di mana Bu, jika rumah ini di sita, apalagi Amanda ia sedang sakit," papar Bu Nita sedih.
"Saya tidak mau tahu, hutang tetap hutang, harus di bayar, dan jangan lupa bunganya," bentaknya, sebelum berlalu, meninggalkan Amanda dan ibunya menangis.
"Ma, bagaimana ini Ma, Mama kok berani meminjam uang sama rentenir sih, kita mau bayar pakai apa?" tanya Amanda.
"Mama berani, karna Mama pikir akan menjual tanah kita yang di kampung, sisanya mau Mama modalin, tapi ternyata, tanah tersebut sudah di gadai sama Kakak mu Nino," papar nya sambil menangis.
"Sekarang usaha Mama juga lagi seret, para pelanggan juga banyak yang belum membayar, stock baju di toko Mama juga semakin tipis, Mama sudah kewalahan untuk mutar modalnya," tambah bu Nita lagi.
"Ma, Amanda sekarang sudah sembuh, Amanda akan cari pekerjaan, biar kita bisa membayar hutang Bu Daeng tanpa harus menggadaikan rumah ini," paparnya.
"Tapi Nak mama khawatir dengan keadaan kamu," ungkap Ibunya.
"Ma, Amanda sudah sembuh, Amanda yakin bisa bekerja lagi, Amanda juga ingin seperti dulu. punya kesibukan dengan bekerja, tinggal di rumah sendiri, Amanda jadi bosan," paparnya.
"Terserah kamu sayang, tapi yang terpenting kamu harus jaga kesehatan kamu, kamu ngak boleh bekerja yang menyita banyak tenaga dan waktu kamu," papar Bu Nita.
"Iya Ma, Manda tahu kok, terima kasih ya Ma, sudah mengijinkan Manda bekerja, sekarang Manda ngantar lamaran dulu, Manda pamit ma," ucapnya ia pun mencium tangan ibunya.
Sudah seminggu Manda mencari kerja, ia sudah melamar di beberapa tempat, tapi belum juga dapat panggilan.
***
Dion membangunkan Amira untuk sholat subuh.
"Bu, bangun Bu, sholat subuh yuk," ajaknya.
Amira pun bangkit, seketika kepalanya terasa pusing, ia pun merasa mual dan hendak muntah, Amira berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, seketika tububnya lemas, ia hampir terkulai, tapi Dion sudah siaga, ia pun mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur.
"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Dion.
Amira melingkarkan tanganya ke leher Dion, "Kamu kan dokter, harusnya kamu tahu dong aku kenapa." Amira tersenyum penuh arti.
Dion tak mengerti, "Aku memang dokter, tapi ngak semua penyakit itu punya gejala yang sama," paparnya.
"Sini kamu dengar ya," Amira semakin menarik Dion lebih dekat hingga hidung mancung ke duanya saling bersentuhan.
"Aku hamil Dion," ucapnya, sambil mencolet hidung Dion.
"Hamil sayang? aku senang sekali," ungkapnya, ia pun mencium Amira berkali- kali pada bagian wajahnya.
Subuh itu kebahagian kembali menyapa keluarga kecil mereka.
"Kali ini, aku akan selalu ada di samping kamu sayang, aku bahagia sekali kita bisa punya anak secepat ini, terima kasih sayang," ia pun mengecup kening istrinya.
"Cepat dong, hampir setiap hari di suntik vitamin sama kamu," Amira mencolek hidung Dion kembali.
Mereka pun tertawa bahagia, mereka saling memeluk dan mendekap, mengungkapkan rasa cinta dan kebahagian mereka.
Setelah itu mereka sholat subuh berjamaah,
Tak henti-hentinya Dion mengucap syukur dalam sujudnya, karna ia kini di karuniai kebahagian yang melimpah dengan kehamilan istrinya.
Tak bosan mengingatkan,
Tinggalkan jejak,
🍎like
🍎komentar
🍎vote,
🍎bunga mawar juga boleh.
__ADS_1