
Dion dan Amira saling mendekap, tubuh pun mereka pun basah oleh keringat, baru saja mereka meluap kan rasa kerinduan mereka.
"Rasa nya aku tak ingin beranjak dan meninggalkan mu, Cahaya."
"Aku terlalu nyaman di posisi ku saat ini, bersama mu selalu," ucap Dion.
"Tapi Yon, kita punya mimpi bersama, dan kau lah yang mewujut kan nya, aku ingin kau menjadi dokter yang dapat menolong semua orang, "ujar Amira menyemangati Dion.
"Tapi aku bukan Tuhan, yang bisa menolong semua orang, aku merasa rapuh sendiri tanpa kau bersama ku, aku ingin membawa mu kesana, Cahaya."
"Rasa nya aku tidak kan tahan jika harus berpisah dengan selama lima tahun," ucap Dion.
"Dion, setelah melahir kan aku akan ikut dengan mu,kita akan memulai rumah tangga kita sendiri." tutur Amira.
"Cahaya, apa kau tidak takut kehilangan ku saat aku jauh dari mu,?" tanya Dion.
"Tidak Dion, aku selalu percaya pada mu, meski pun kau berbohong pada ku." ucap Amira.
Dion kembali mencium bibir tipis Amira, dan kembali mereka pun beradu melepas kan semua rindu.
Amira menangis haru karna kini iya kembali merasakan hangat nya pelukan Dion, setelah sebelum-sebelum nya iya merasakan kesepian.
Begitu pun Dion setiap saat iya harus menghitung waktu untuk bisa bersama Amira.
**
Sore itu Tyas, datang kerumah Yuni bersama Ilham, iya pun duduk di kursi ruang tamu, sambil celinga -celingu mencari sesuatu.
Yunita baru keluar kamar, iya baru saja bangun dari tidur siang nya, iya pun menghampiri Tyas.
"Hai Tyas, sapa yuni iya pun duduk di samping Tyas."
"Yun, kok aku ngak melihat Dion," tanya Tyas.
"Kangen ya," ledek Yuni.
Dan Tyas hanya tersipu malu.
"Jadi kamu kesini untuk bertemu Dion, bukan Ilham," tanya Yunita.
Dan tanpa malu Tyas pun mengangguk.
"Tyas, kalau ketahuan Ilham bisa bahaya nih," ujar Yunita.
"Maka nya Yun, jangan sampai Ilham tahu, nanti dia cemburu," bisik Tyas.
__ADS_1
Ok, asal ada uang tutup mulut nya, pasti beres," ujar Yunita.
"Tenang aja Yun, nanti aku beliin kota, dan traktir kamu makan." ujar Tyas.
"Ok setuju." jawab yuni.
"Jadi Dion kemana Yun," tanya nya sambil berbisik.
"Dion pulang kerumah orang tua nya," jawab Yunita.
"Kok pulang, kan dia kuliah?"
"Mungkin kangen sama istri nya," jawab Yunita jujur.
"Istri? "tanya Tyas tak percaya.
"Jadi Dion punya Istri Yun, "Tyas kecewa mendengar nya, iya sama sekali tak menyangka jika Dion sudah menikah.
"Tapi Yun, bukan nya Dion masih muda?" tanya Tyas.
"Iya? trus kenapa? bahkan kini istri nya sedang mengandung buah hati mereka." papar Yunita.
Tyas bagai tersambar petir, iya merasa sangat kecewa padahal iya begitu mengagumi Dion dan bergarap agar bisa menjadi pacar nya.
"Kenapa Tyas, "tanya Yunita.
"Bahkan Dion mau melanjut kan kuliah nya dan menjadi dokter ,karna iya ingin menjadi dokter spesialis mata yang terbaik, untuk menyembuhkan kebutaan yang di alami istri nya saat kecelakaan," papar Yunita.
"Istri Dion buta, yun? "tanya Tyas lagi.
"Iya tapi Dion sangat mencintai nya, dan kadang aku lihat sendiri, Dion bahkan menangis ketika iya merindukan istri nya." jawab Yunita.
Tyas semakin kagum pada Dion, iya tetap mencintai istri nya, meski keadaan istri nya yang tak sempuna, bahkan Dion terkesan dingin dengan wanita, tapi saat Tyas melihat bagaimana wajah Dion yang dingin menjadi berseri saat iya menelpon istri nya.
"Sebelum kamu terlambat mencintai nya Tyas, lebih baik kamu kubur perasaan kamu pada Dion, mulai dari sekarang." saran Yunita.
Tyas menatap kosang ke tempat yang jauh angan nya melalang buana, baru saja iya mengkhayal menjadi pacar Dion.
"Tyas jangan kecewa Tyas, bukankah Ilham juga menyukai mu."
"Tapi aku ngak cinta sama Ilham Yun, aku hanya mengganggap nya teman, tapi Ilham yang sedikit memaksa ku untuk mencintai nya." curhat Tyas.
"Tyas kalau kamu ngak suka sama Ilham, kamu harus jujur padanya, cinta itu ngak bisa di paksain."
"Tapi Ilham selalu marah saat aku bilang aku hanya mengganggap nya teman, iya selalu berbuat kasar Yun, dan dia pernah memaksa aku untuk melakukan hubungan suami istri tapi aku menolak nya."
__ADS_1
"Aku tertekan menjalani hubungan dengan nya, iya begitu posesif dan tak mau melepas kan ku," curhat Tyas
"Sampai sejauh itu Tyas, Ilham memang kelewatan, "ucap Yunita.
"Bahkan aku adik nya sendiri tidak menyukainya, Tyas."
**
Dion memasak bersama Amira, setelah itu mereka makan bersama.
"Dion kapan kamu pulang ke sana lagi , Dion." tanya Amira.
"Besok aku harus pulang karna hari senin, aku sudah mulai kuliah, Cahaya, aku tak kan lama, setiap ada kesempatan aku akan pulang, nanti aku cari kontrakan di sana dan membawa mu."
"Iya yon aku juga ngak bisa, jika harus jauh dari mu, aku ingin selalu bersama mu," ucap cahaya.
Maaf cahaya harus meninggal kan mu lagi, Dion memeluk erat istri nya.
"Jangan menangis Dion, nanti aku juga ikutan sedih," tutur Amira.
Keesokan hari nya Amira mengantar Dion pergi ke bandara, Amira memegang erat tangan Dion, dan mungkin Dion akan kembali enam bulan lama nya.
Amira hanya bisa pasrah karna harus jauh dari suami nya, sedangkan keluarga juga tak menganggap anak dalam rahim adalah darah daging mereka.
Mereka pun sampai di bandara, dan saling berpamitan.
Amira menitikan air mata nya baru saja iya merasa bahagia dengan kedatangan Dion, kini dia kembali harus mengantar Dion, kembali dan setidak nya enam bulan kedepan mereka baru akan bertemu.
Rasa sedih tentu saja terasa di hati kedua nya, namun mereka saling menutupi nya.
Setelah turun dari bandara, Dion langsung menuju rumah Mami nya.
Dion tak memberi tahu siapa pun jika iya akan pulang hari ini.
Saat sampai, Mami kaget karna Dion tak memberitahu mereka.
Selain Mami Tyas juga kaget dengan kedatangan Dion, iya merasa senang.
Dan hanya Ilham yang tak menyukai kehadiran Dion, Karna Ilham mulai curiga jika Tyas menyukai Dion.
Mami sudah menyiap kan makan malam, Mereka duduk berhadap hadapan. Dan Tyas seolah tak bisa menutupi perasaan nya, iya terus memandang kearah Dion.
Dion selalu menundukan pandangan nya dan tak sedikit pun iya tahu bahwa kini Tyas
sedang memandang nya.
__ADS_1
Ilham yang melihat semakin geram, iya beranggapan jika Dion akan merebut Tyas dari nya.
Ilham pun memikir kan cara nya agar Dion keluar dari rumah tersebut, dan perhatian Tyas kembali tertuju pada nya.