
Tyas masih menangis memeluk Dion, ia begitu terpukul dengan keputusan yang Dion ambil, dengan sabar Dion berusaha mengusap lembut pundaknya, seketika ia pun ikut haru, ternyata perpisahan memang menyakitkan, meski kau tak mencintainya, namun ia pernah hadir dalam hidupmu.
Beberapa saat kemudian Dion melepaskan pelukanya dan menghapus air mata Tyas, sungguh suatu keputusan berat bagi Dion, apalagi ia dan Tyas pernah berasatu, mungkin itu juga yang membuat Dion sulit untuk mengambil keputusan, bak habis manis, sepah di buang, kini dengan satu kata saja, ia telah mencampakan Tyas.
"Apa salah ku Dion, kau buat kubegini?" tanyanya dengan tersedu-sedu.
"Kau tak bersalah Tyas, aku hanya tak sanggup menjalani semua ini, aku telah berjanji pada istriku, aku akan tetap setia menunggunya hingga dia kembali," ungkap Dion dengan haru.
"Tapi kenapa Dion? kau bersedia menunggu istrimu yang telah meninggalkanmu, tapi kau sendiri meninggalkan ku, yang selalu menanti mu," ungkapnya dengan deraian air mata.
"Bukan begitu Tyas, aku memang harus memilih dan aku memilih dia."
Tyas jatuh bersimpuh, ia terus saja menangis, namun lagi-lagi Dion harus menguatkan hatinya, Dion selalu tak tega melihat Tyas menangis, ia pun bermaksud mengantar Tyas pulang, dan memberi tahu orang tua Tyas tentang keputusanya.
Beberapa Bulan kemudian.
Amira merasakan sakit pada perutnya, ini memang sudah waktu nya ia melahirkan, kedua orang tuanya dan Arkan selalu setia menunggunya.
Amira mengeluarkan keringat dingin, rasa sakit saat melahirkan, coba untuk ia nikmati, dengan tidak mengeluh, berhubung ia akan melahirkan anak kembar, kedua orang tua Amira memilih jalan operasi.
Hampir dua jam, operasi pun sudah selesai dan Amira melahirkan sepasang bayi kembar, keadaanya pun sangat stabil, meski kini ia belum sadar pasca operasi.
Kedua orang tua Amira sangat bahagia atas kelahiran cucu kembar mereka, dengan bahagia, mereka menggendong nya masing-masing menggendong satu bayi.
Tak hanya kedua orang tuanya, bahkan Oma, Paman dan Tantenya pun juga datang melawat Amira.
Oma yang awalnya tak menerima kehadiran cicitnya, justru kini ia yang bersemangat untuk menggendong nya, rona bahagia terpancar dari seluruh angota keluarga mereka, ini adalah cicit pertama sekaligus yang kedua.
Amira menangis bahagia, tak hanya karna di anugrah anak kembar saja, tapi kini semua keluarga, mendukungnya, bahkan Oma, terus menimang cicitnya secara bergantian, tak ada lagi jarak antara Oma dan cicitnya.
"Wah Amira di usia muda kamu sudah punya dua anak,"tutur sang Tante.
__ADS_1
"Ia Bu De', Amira sangat bersyukur sekali mendapat anugrah ini," tuturnya dengan bahagia.
"Jadi Arkan kamu kapan bisa kasi Mama cucu, ingat loh Arkan umur mu ngak muda lagi," tutur sang Mama kepada Arkan.
"Ah Mama, Bukanya Anak Amira juga cucu Mama," Arkan memberi isyarat, sebenarnya ia memyimpan hati untuk Amira, hanya saja ia tak berani untuk mengungkapkanya.
"Ia tapi Mama maunya kamu menikah dan punya anak, biar Mama Ngak rebutan sama Tante mu," papar Mamanya.
Arkan hanya tersenyum, ia juga tidak tahu, bagaimana harus memberi tahu kedua orang tuanya, bahwa ia ingin menikahi Amira.
Keluarga nya pasti sangat menentang, hal itu, meski sah-sah saja jika ia dan Amira menikah.
Seminggu sudah si kembar Gea dan Geo, lahir, mereka pun mengadakan acara akikahan di rumah kediaman pamanya, mereka mengundang seluruh staf KBRI dan warga indonesia yang tinggal di jerman, tentu yang mereka kenal.
Dan di Indonesia, mereka juga memotong tiga ekor kambing, acara selamatan pun di gelar di sana, meski Amira dan anaknya berada di Jerman, acara tersebut mengundang anak yatim dan orang-orang sekitar.
Baru kemarin Dion tiba di rumah orang tuanya, Dion pulang bukan karna sedang dalam masa liburan, tapi ia tahu jika dalam bulan ini, Amira akan melahirka, ia begitu berharap Amira akan pulang dan melahirkan di indonesia, ia pun menghampiri rumah orang tua Amira.
Dion langsung menangis seketika melihat foto si kembar, yang di pajang di depan pintu masuk, semua tamu yang hadir kemudian di beri bingkisan, sebagai wujud rasa syukur keluarga mereka, atas kelahiran cucu dan cicit dari keluarga itu.
Dion masuk dengan rasa haru, ia pikir Amira dan anak mereka ada di sana, Dion sudah berjanji apa pun yang akan terjadi ia akan membawa istri dan anaknya, ia juga tak masalah, jika Amira meminta ia tinggal di rumah orang tua Amira.
Apapun akan Dion lakukanu asal Amira menerima nya, Dion masuk dan menghampir salah seorang petugas yang menyerahkan bingkisan untuk anak yatim.
"Maaf Pak, Amira dan anaknya di mana ya, kok saya ngak melihatnya?" tanya Dion.
"Oh Mbak Amira dan anak-anaknya ngak ada di sini Mas, mereka masih di Jerman, di sini cuma acara santunan anak yatim dan syukuran Aqiqah anaknya."
Dion begitu kaget mendengar penuturan laki-laki tersebut, ia merasa sangat kecewa, meski Amira sudah melahirkan, tak satu pun ada yang memberitahu ia dan keluarga nya.
Setelah berbulan bulan Amira tak kunjung pulang, Dion menjadi semakin resah, ia begitu rindu untuk bertemu dengan istri dan anaknya.
__ADS_1
Dion duduk termenung di atas tempat tidurnya, air matanya terus saja menetes, batinya terasa tersiksa menahan rasa rindunya, apalagi ia sangat ingin melihat darah dagingnya.
"Harus berapa lama kau menghukumku Cahaya? tidak kah sedikit pun kau merindukan ku, pulang lah Cahaya, hidupku terasa hampa tanpamu," tuturnya pada dirinya sendiri, ia pun kembali menangis.
"Pulang lah Cahaya, aku sudah tak tahan menahan rindu ini, bagaimana aku bisa meneruskan hidup ini, jika setiap harinya aku tersiksa karna menahan rindu pada mu, di mana kau berada Cahaya ? aku rindu, sangat rindu," suaranya semakin lirih, ia pun menangis dan meringkuk tanpa suara.
Hari-hari berat terus di jalani Dion, ia seperti berada dalam kegelapan tanpa Cahayanya, setiap saat ia menatap potret Cahaya, yang tersimpan di memory hand phone nya.
Hidup memang terasa hanpa tanpa cinta, tapi itulah hukuman yang harus Dion jalani, Dion memang bebas bebas berkeliaran kemana saja, tapi hatinya terbelengu oleh cinta yang tak kunjung datang.
Punya wajah yang tampan dan bentuk tubuh yang sempurna, di tambah dengan kecerdasan pikiran dan emosi, sosok Dion mendekati kesempurnaan, banyak sekali wanita yang menaruh hati pada nya, bahkan ada juga yang sampai tergila-gila padanya.
Tak hanya Tyas dan Alice, yang masih menunggu Dion dengan sabar, mungkin suatu hari Dion akan membuka pintu hati untuk mereka.
Tapi banyak juga yang ingin mendekatinya namun urung, sejak kepergian Amira, sikaf Dion semakin dingin, tatapan matanya semakin tajam, seperti orang yang menaruh dendam kesumat, Dion bahkan tak bisa di sentuh,tak ada yang berani mendekatinya, meski banyak yang menginginkanya.
Hari bahagia kembali menyonsong di kehidupan Amira, Hari ini sejarah baru akan ia ukir lagi.
Amira sudah selesai menjalani operasi matanya, kedua matanya tertutup perban dengan senyum yang terus mengembang, bertahun-tahun ingin melihat dunia, kini harapan itu seolah akan menjadi kenyataan.
Perjalanan hidup yang berat bagi Amira selama beberapa tahun ini,derita dan lara selalu datang menguji kesabaranya, tapi itu juga yang membuat Amira semakin kuat, ia menjadi sosok tanguh, ia berhasil menaklukan dirinya sendiri, ia berhasil melawan perasaan cintanya terhadap seseorang di masa lalu yang menghianatinya, bahkan selamanya Amira tak kan pernah menyebut nama itu.
Terima kasih sudah membaca karya ini, please tinggalin jejak,
🍎Like
🐑 komen dan
🐼 vote,
Mampir di novel author yang lain ya, dengan judul:
__ADS_1
Ketika takdir menyatukan aku dan mereka