
Diah mendekati Arkan dan Mirna, karna di lihatnya wanita yang bicara pada Arkan itu mulai meneteskan air matanya.
"Kamu jangan menangis seperti itu, nanti orang kira aku menyakiti kamu," katanya pada Mirna, karna Mirna semakin jadi menangis.
"Ada apa ini Mas?" tanya Diah mengejutkan Arkan, Arkan pun di buat gugup dengan kedatangan Diah yang tiba-tiba.
Bagus, akhirnya calon istri mu sendiri yang menghampiriku, jadi aku tak perlu repot lagi menemui nya, batin Mirna.
"Mbak tolongin saya Mbak, saya hanya ingin menuntut pertanggung jawaban Pak Arkan, karna kini saya telah mengandung anaknya," papar Mirna dengan air mata buayanya.
Tak hanya Diah, Arkan juga kaget mendengar pemaparan Diah.
"Sayang , jangan percaya sayang," kata Arkan dengan suara gemetarnya, ia berusaha untuk meyakinkan Diah.
Diah diam sejenak ia tak tahu harus berkata, tubuhnya gemetar, antara percaya dan tidak, titik air mata pun perlahan turun menetes meluncur mulus di pipinya.
"Mbak, jika Mbak tak percaya, saya punya bukti," ucapan Mirna itu mampu membuyarkan kehampaan yang Diah rasakan saat itu, iya pun terperangah menatap gadis di hadapanya.
Sementara Arkan, melihat Mirna yang sepertinya akan menunjukan videonya di handphone, ia pun berusaha merampas handphone tersebut dari Mirna, tapi terlambat handphone tersebut sudah ada di tangan Diah sekarang, al hasil Arkan hanya bisa pasrah.
Mirna memutar video rekaman tersebut di hadapan Diah, Air mata Diah perlahan membanjiri pipinya, hingga video tersebut selesai di putar, matanya seperti tak berkedip.
Mirna pun membuka pesan yang barusan ia kirim ke Arkan.
"Ini Mbak, pak Arkan berusaha menghindari saya," tutur Mirna.
"Dan ini juga pesan dari m-banking, Pak Arkan, mentransper uang lima puluh juta, agar saya tak membeberkan rahasianya,"
Mirna semakin meyakinkan Diah, Diah seolah tak mampu berkata-kata lagi, ia kini hanya terpaku menatap Arkan dengan sorot mata tajam, dengan pipi yang telah basah oleh air mata.
"Mbak, bantu saya, agar pak Arkan, mau bertanggung jawab kepada saya Mbak," ucap Mirna kepada Diah.
Arkan hanya terpaku, ia tak bisa membela diri, karna menurutnya bukti yang di tunjukan oleh Mirna sangat kuat, bagi orang yang tak mengetahui secara pasti, duduk permasalahanya.
"Mas, kamu harus bertanggung jawab kepada gadis ini, dan aku mau kita batalkan pernikahan kita, aku tak ingin memiliki suami yang bejat seperti diri mu," Diah pun berlalu dengan perasaan bercampur baur, ia pergi meninggalkan Arkan.
Diah berjalan dengan cepat, Arkan pun berusaha mengejarnya," Diah tunggu Diah, dengar penjelasan ku dulu Diah," Arkan menarik tanggan Diah, agar ia berhenti berjalan.
"Lepaskan Mas, aku muak melihat lelaki bejat seperti kamu, pernikahan kita batal, untung saja aku mengetahui kelakuan kamu, sebelum kita menikah," Diah melepas cincin tunangan Arkan dan melemparnya,
"Diah tunggu Diah, kamu jangan gegabah," Arkan kembali menarik tanggan Diah, tapi Di tepis oleh Diah, ia pun berlari menuju jalan raya, Arkan coba mengejar tapi dia di panggil oleh Amira.
"Arkan!", seru Amira dari kejauhan.
Arkan pun menoleh dan menunggu Amira menghampirinya.
Amira dan Dion berjalan ke arah Arkan.
"Arkan ada apa ini, kenapa kau bisa lakukan hal ceroboh ini?" tanya Amira.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" tanya Arkan, sambil menatap heran kearah Amira.
"Kan, apa yang sudah kau lakukan terhadap gadis yang bernama Mirna?" tanya Amira kesal.
"Dari mana kau tahu?" tanya nya heran.
"Mirna yang menunjukan video dan pesan singkat itu kepada ku," papar Amira.
"Lalu apa kau percaya begitu saja?" tanya Arkan.
"Tentu ngak Kan, meski aku sempat emosi mengetahui hal itu, tapi aku tak menarik kesimpulan secara langsung, karna aku tahu, kamu bukan pria seperti itu Kan."Amira.
"Aku ingin dengar langsung penuturan dari kamu Kan,"
Arkan hanya diam, ia pun tertunduk.
Melihat Arkan yang terlihat binggung, ia pun menepuk pelan pundak Arkan.
"Ayo Kan kita bicara di kantor saja, "ajak Amira ia pun menarik lembut tanggan Arkan.
"Sayang aku beli makan siang untuk kalian saja, kalian bicara saja," Dion.
"Sabar saja Kan, setiap masalah pasti ada solusinya, aku beli makan siang untuk kita dulu, nanti kita bicara di kantor saja," Dion menepuk pundak Arkan.
Amira dan Arkan berjalan beriringan dan di sudut ruangan Mirna tersenyum puas, paling tidak, kini tak ada penghalang antara dia dan Arkan.
Wow, jika rencana ku berhasil, maka aku akan bisa hidup, enak karna bisa menjadi istri Bapak Arkan yang ganteng dan banyak duit, huh seperti dapat jackpot, batin Mirna,
Ibunya yang melihat putrinya bersedih ia pun mengikutinya.
"Diah ada apa Nak?" tanya ibunya.
Diah pun langsung memeluk sang Ibu, "Pernikahan Diah batal Ma," ucapnya sambil tersedu-sedu.
Sang ibu sangat kaget mendengar penururan Diah.
"Tapi kenapa Diah, bukan kah semua angota keluarga kita sudah mengetahui rencana pernikahan mu, kenapa dengan tiba-tiba kau memutuskan rencana pernikahan yang tinggal menghitung hari," tutur ibu nya, yang juga ikut menangis.
"Mas Arkan, ternyata tak sebaik kelihatanya Ma, Mas Arkan telah menghamili seorang gadis, dan ia memberi gadis itu dengan sejumlah uang untuk menutup mulut gadis tersebut," ucapnya sambil terisak.
"Tapi apa kamu punya bukti Nak, jangan-jangan itu hanya fitnah," tutur ibunya berusaha menenangkan Diah.
"Ngak Ma, gadis itu bicara langsung pada Mas Arkan, dan ia juga punya bukti transper sejumlah uang dari rekening Arkan, dan juga video mereka tengah berbuat musum Ma, Diah benci sama Mas Arkan Ma," Diah semakin memeluk erat ibunya, tubuh nya berguncang karna menahan isak tangis.
"Terserah kamu saja Diah, Mama juga ngak mau punya menantu seperti itu, Mama ngak mau nasib kamu seperti Mama, yang sudah di bohongi oleh papa mu, kamu yang sabar ya Nak," ucap ibunya.
"Apa rencana kamu sekarang Nak?" tanya ibunya.
"Diah, Malu Ma, untuk sementara Diah akan pergi ke jakarta, untuk melanjutkan kuliah disana," ucap Diah, ia pun duduk dengan tegak,
__ADS_1
"Diah akan lanjutkan cita-cita Diah, sebelumnya Ma," tambahnya lagi.
"Apa kamu sudah yakin Nak ?" tanya ibunya.
"Yakin Ma, besok Diah akan urus semua keperluan Diah, termasuk surat mutasi di tempat yang baru, dan rencananya lusa Diah akan berangkat," tuturnya.
"Kenapa secepat itu Nak? apa itu tak terlalu terburu buru?" tanya ibunya.
"Semakin cepat semakin baik, Ma" ucapnya.
"Baik lah, Nak jika itu memang sudah menjadi keputusan mu, Mama hanya bisa mendoakan semoga semuanya lancar, dan kau bisa mengejar cita-cita mu."
Sementara Di kantor.
"Pada waktu itu, aku melihatnya jatuh di bawah tangga, karna iba, aku pun menolong nya, dan mengantarnya pulang, sesampainya di sana aku di suguhi secangkir teh dan meminumnya, tak berapa lama kepala ku terasa pusing, akhirnya aku pun memutus kan untuk pulang, dan setelah itu aku tak ingat lagi," papar Arkan.
"Aku rasa kau di jebak Kan," sahut Dion sambil menguyah makanan di mulutnya, kebetulan waktu itu mereka sedang makan siang.
"Aku rasa juga begitu, " Arkan mengkerutkan keningnya.
"Lalu setelah itu bagaimana lagi ?" tanya Amira ia juga sedang makan saat itu, mereka berdua terlihat lahap, hanya Arkan yang tak menyentuh makanan nya sedikit pun.
"Paginya saat aku bangun wanita itu sudah manangis, dan ia bilang jika aku yang memaksanya, ia pun menunjukan foto dan video nya, sebenarnya aku ngak yakin dengan ucapanya, tapi aku panik saat itu, jadi aku menawarinya uang, agar ia tak mengganggu ku lagi," papar Arkan.
"Harusnya kamu ngak terburu-buru Kan, kamu bisa lakukan visum, hasil ****** yang menempel pada tubuh nya, juga bisa jadi bukti, apa itu milik mu atau milik orang lain, bisa jadi, orang yang makan nangkanya kamu yang getah nya, lagi pula jika saat itu kamu pingsan, maka burung mu ngak akan hidup, dan ngak akan mengeluarkan cairan ******, karna saat itu ngak ada rangsangan di otak mu," papar Dion.
"Masak sih, Yah, waktu ayah tidur, burung Ayah hidup kok, saat bunda ngak sengaja tersentuh," sahut Amira santai.
Mendengar perkataan Amira, Dion yang sedang menegak minumanya, langsung tersedak, ehek..ehek,
Dion pun tersenyum kearah Amira," Itu sih bukan ngak sengaja Bu, tapi sangat sengaja biar ayah bangun kan?" Dion menyenggol tubuh Amira yang di sampingnya, dan di balas senyuman oleh Amira.
"Kalian gimana sih, aku lagi pusing, masih sempat aja bercanda," tutur Arkan kesal.
"Sory Kan, biar ngak terlalu tegang, kamu makan dulu, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," tambah Dion.
"Bagaimana bisa tenang, pernikahan ku terancam batal, karna Diah sudah memutus kan pertunangan kami, padahal aku sudah tak sabar menanti hari itu," tutur Arkan, mata nya pun mulai memerah, karna menahan sedih.
"Rencana pernikahan sudah matang, undangan, gedung dan Wedding organizer juga sudah mempersiapkan semua, kurang dari sebulan resepsi akan di gelar dan dua minggu lagi, papa dan mama ku, akan datang ke Indonesia, aku harus bilang apa pada mereka, jika rencana pernikahan ku batal, mereka pasti akan kecewa, sedangkan Mama ku, ia ingin sekali melihat ku menikah dan mempunyai anak, "tuturnya sedih, ia pun tak bisa menahan tangisnya.
Melihat Arkan seperti itu, keduanya saling berpandangan, Dion pun mendekati Arkan, dan menepuk pundak nya," Sabar ya Arkan, biar nanti aku bantu untuk menjelaskan nya pada dokter Diah"
"Iya Dion, sebaiknya bantu aku bicara padanya, sementara itu, aku akan menyelidiki, tentang perempuan itu, apa mau dan maksud nya," katanya sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya.
Di tunggu
🍓Like
🍓komen
__ADS_1
🍓vote nya