Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Terpaksa menyerah


__ADS_3

"Sarapan sudah siap,!" seru Dion dengan suara lantang agar semua anggota keluarga berkumpul di meja makan.


Gea dan Geo berlari kecil menghampiri meja makan, sementara Amira, berjalan sedikit lambat menuju arah meja makan.


Sebelum duduk, ia menyempatkan diri mencium suaminya dan kedua anaknya.


"Bagaimana Bu, sudah merasa baikan?" tanya Dion pada istrinya.


"Mestinya sudah, jika sudah di beri suntikan vitamin lagi," Amira tersenyum kearah Dion.


"Bu, hari ini Ayah piket pagi, setelah mengantar mereka, Ayah harus bekerja," tuturnya pada Amira.


"Ngak apa, Ibu juga sudah baikan, sebentar lagi orang yang akan bekerja dengan kita datang Yah, katanya sih jam tujuh pagi ini," ujar Amira sambil meneguk susu hamil buatan Dion.


"Kalau gitu ayah tinggal, hubungi ayah jika terjadi sesuatu, sebenarnya ayah ngak tega biarin ibu sendiri, andai Ummi sudah pulang, pasti ayah akan titipin kamu sama Ummi."


"Ngak apalah Yah, Ummi kan lagi ngajar, lagian ngak enak harus merepotkan Ummi terus," papar Amira.


"Sayang habisin serealnya, nanti kita terlambat loh." Dion.


Sebelum pergi Dion mendekati Amira, "Aku pergi dulu ya sayang, sebenarnya aku mau menunggu orang yang akan bekerja dengan kita, tapi kayaknya ngak sempat, kamu jaga diri ya," ucapnya mencium kening dan mengecup bibir istrinya.


Baru saja mengambil tas anak-anaknya dan memakaikan kepada mereka, sudah terdengar bunyi bel.


Dion pun beranjak dan membukakan pintu, dan betapa kagetnya ia melihat Amanda yang datang, begitu pun Amanda yang tak menyangka jika Dion adalah pemilik rumah itu.


"Amanda kamu...?" pertanyaan Dion terhenti ketika Amira keluar menghampiri mereka.


Amanda hanya tertunduk, ia syok dengan apa yang baru saja di lihatnya.


"Dion," ucapnya sangat lirih.


"Siapa Yah," Amira berjalan mendekati mereka.


"Hai kamu sudah datang, mari masuk," ajak Amira dengan ramah.


"Yah, dia yang ibu ceritakan kemarin yah," katanya sambil menyentuh pundak Amanda, sementara Dion dan Amanda sama-sama bungkam.


"Oh iya kita belum kenalan nama kamu siapa?" tanya Amira dengan sangat ramah.


"Saya Manda Bu," jawabnya sedikit gugup, Amira pun menuntunya agar ia duduk di kursi.


"Nama saya Amira dan itu suami saya namanya Dion, kamu ngak usah panggil ibu, panggil kakak atau mbak saja." Amira memperkenalkan diri.


"Iya Mbak," sahut nya.


Dion masih memaku, ia tak habis pikir bagaimana nantinya jika Amanda bekerja di rumahnya, dan ia akan bertemu setiap hari dengannya, sedangkan ia sendiri tahu, Amanda punya perasaan berbeda terhadapnya, apalagi dulu ia juga pernah menyukai Amanda, sebelum bertemu dengan Cahaya.


"Ayah ayo kita berangkat," Gea dan Geo membuyarkan lamunan Dion.

__ADS_1


"Iya ayo," sayang aku berangkat dulu," ucapnya pada Amira.


Amira pun mendekati Dion dan mencium punggung tangan suaminya," Hati-hati ya Dion," ucapnya.


"Kamu juga hati-hati dirumah," balasnya sambil mencium kening istrinya.


Hal yang reflek bagi Dion ketika Amira mencium tangganya, ia selalu membalas kecupan di kening, tanpa bermaksud apapun.


Dan Amanda, baru beberapa detik, hatinya sudah tersakiti melihat adegan mesra yang lumrah itu.


Amanda hanya menunduk, memasuki rumah ini sama saja memasuki jeruji besi,tapi apa daya, ia harus bekerja untuk membayar hutang Mama nya pada rentenir, untuk membayar biaya pengobatanya.


Seteleh melihat suami dan anak-anak nya sudah masuk mobil, Amira pun menutup pintu.


"Manda, kau tidak sedang sakit kan?"Amira terlihat khawatir.


"Ngak kok Mbak, saya baik-baik saja," jawabnya dengan tertunduk.


Mbak Amira baik sekali, aku harus bisa mengendalikan diri ku, biar bagaimana pun aku harus tetap bekerja, kasihan Mama ia harus menanggung hutang untuk biaya pengobatanku, kamu harus kuat Amanda, ingat perjuangan mama mu, batinnya.


"Ayo kita sarapan dulu, sambil aku jelasin apa saja tugas kamu di rumah ini" Amira menarik kursi agar Amanda duduk di sebelahnya.


Amanda pun duduk di samping Amira.


"Manda, sebenarnya tugas kamu ngak terlalu berat, cuma menemani saya saat suami saya ngak di rumah, selain itu, kamu masak, cuci baju kerja saya, suami saya dan anak-anak saya, untuk baju sehari-hari biasanya kami laundry," paparnya.


"Berhubung suami saya itu rajin, pagi-pagi biasanya rumah sudah di sapu dan pel sama dia, hanya kamu bantu saya ngurus anak-anak saya, makan minumnya dan kamu mandikan, karna meski saya di rumah, tapi saya tetap bekerja, dan kadang kala saya ngak sempat ngurus mereka, apalagi keadaan saya yang seperti ini, maunya rebahan saja," paparnya lagi.


"Ayo Manda kamu sarapan dulu," Amira menarik piring roti dan selai ke hadapan Amanda.


"Terima kasih Mbak saya sudah sarapan," jawabnya.


"Kalau gitu saya antar kamu ke kamar kamu." Amira pun mengantar Amanda ke sebuah kamar.


"Kamar ini bisa kamu gunakan untuk istirahat, kamu hanya akan menginap di sini jika suami saya piket malam, selain itu, setelah kerjaan kamu beres, kamu boleh pulang." Amira menjelaskan.


"Terima kasih Mbak, jadi apa yang bisa saya kerjakan untuk saat ini?" tanyanya.


"Apa ya, tadi pagi sudah di bereskan suami saya sih, jadi nanti saja kamu kerjanya, kamu istirahat saja dulu jika anak-anak saya sudah pulang kamu, ganti pakaianya, setelah itu kamu masak makan siang untuk kita semua," tambah Amir lagi.


"Ia mbak"


"Sekarang saya harus kembali kekamar, karna sebentar lagi saya ada meeting secara daring." Ia pun kembali kekamarnya, tapi tiba-tiba Amira merasakan sakit kepala, dan hampir tumbang.


"Eh, Mbak, Mbak kenapa?" tanya Amanda sambil menyambar tubuh Amira, ia pun memopongnya menuju kamar.


"Ngak apa, saya kalau terlalu lama berdiri emang suka pusing," jelasnya pada Amanda.


Sesampainya di kamar, Amanda membantu Amira merebahkan tubuhnya, melihat Amira yang menyeringat sakit kepala, Amanda pun berinisiatif memijat pelan kepala Amira.

__ADS_1


"Ngak usah di pijat di kepala, saya sudah 3 kali kecelakaan dan selalu mendapat luka pada bagian kepala, jadi ngak heran lagi jika saya sering mengalami sakit kepala, apalagi migran."


"Maaf Mbak saya ngak tahu," ucap Amanda.


"Ngak apa-apa, sebelum hamil saya sudah sering sakit kepala, di tambah dalam keadaan hamil, jadi makin parah," tuturnya.


"Mbak Amira, maaf jika boleh saya tahu, Mbak Amira menikah sama suami Mbak kapan? kok anaknya sudah sebesar itu?" tanya Amanda menyelidik.


"Oh, saya menikah dengan suami saya sudah lebih dari enam tahun."


"Bearti Mbak menikah muda ya?" tanyanya lagi.


"Ia suami saya saja baru beberapa bulan tamat SMA, umurnya saja baru 18 tahun, dan saat itu umur saya hampir 20 tahun," paparnya lagi.


"Bearti Mbak lebih tua dari suami Mbak ya?" tanya hati-hati.


"Iya, bahkan saat menikah, aku ngak tahu nama panjang suami ku yang sebenarnya, aku ngak pernah melihat dia, dan baru beberapa bulan ini, aku tahu nama panjangnya dan wajahnya." Amira sambil tersenyum saat mengatakan hal itu pada Amanda.


"Hah...., tapi Kok bisa seperti itu Mbak, kalau Mbak Amira baru beberapa bulan ini melihat suami mbak, kok bisa lahir si kembar?" tanyanya semakin heran.


Amira kembali tertawa, "Karna saat aku menikah dengan Dion, aku sedang koma, ia menikahi ku hanya melalui ayahku, dan saat itu mata ku buta, karna kecelakaan, jadi aku ngak pernah melihatnya sama sekali," paparnya lagi.


Bukanya makin mengerti Amanda semakin penasaran.


"Maaf lagi Mbak, ini pertanyaan terakhir, bukanya kepo, saya hanya heran kok bisa seperti itu, apa kalian menikah karna di jodohkan?"


"Ngak kok, aku mencintainya meski aku tak pernah melihatnya, begitu pun Dion, ia mencintai ku dengan ketulusannya meski saat itu aku hanya gadis buta yang tengah putus asa, meski cinta kami tak mendapat restu dari keluargaku, tapi dengan sedikit pengorbanan, kami pun bisa menikah," papar Amira.


"Wah Mbak, mbak beruntung sekali punya suami yang begitu menyayangi mbak dengan sepenuh hati, tanpa melihat kekurangan dari diri mbak sendiri," tuturnya dengan lirih.


"Iya, sekarang saya juga merasa seperti itu, saya bahagia hidup denganya, meski sempat merasa kecewa terhadapnya, tapi kini saya merasakan cinta yang luar biasa yang ia berikan untuk saya dan anak saya," ungkap Amira.


Batin Amanda menangis mendengarkan penuturan Amira, dari dulu sampai sekarang, ia masih mencintai Dion, dan berharap suatu saat akan memilikinya.


Tapi dari dulu Dion selalu bersikaf acuh padanya, dan perempuan lain yang ada di sekitarnya, tapi ternyata Dion bisa bersikaf romantis terhadap wanita yang ia cintai, bahkan saat mendengar cerita Amira, Amanda seperti mendengar sisi lain dari Dion.


Amanda pernah menyatakan cintanya pada Dion saat SMA, tapi tak pernah sekali pun Dion menjawab, apalagi membalas, dan saat ia akan pergi dari kota ini untuk melanjutkan kuliah, Dion datang menyatakan cintanya dan semua itu sudah terlambat.


Amanda kembali kekamarnya dengan perasaan lemas, ia tak pernah menyangka jika Dion sudah bekeluarga bahkan tak lama ketika ia baru tamat SMA.


Dion yang cuek, yang judes, dan selalu ketus, ternyata bisa bersikaf manis dan romantis, beruntung sekali mbak Amira bisa mendapat perhatian dan cinta dari orang yang sudah lama kukagumi, Sebaiknya aku harus mengubur perasaan ku terhadap Dion selama ini, aku tak ingin menjadi perusak rumah tangga mereka, batin Amanda.


Ia pun masuk kekamarnya dan menangis menahan himpitan perasaanya saat itu.


Jangan lupa


🍎Like


🍎komentar

__ADS_1


🍎Votenya


Dukungan anda menyemangati author


__ADS_2