Mencintai Mu Dalam Gelap

Mencintai Mu Dalam Gelap
Hati yang tersakiti


__ADS_3

Di dalam kamar,Dion dan Amira kembali bersenda gurau sesat setelah mereka melepaskan kerinduanya.


Mereka masih dalam keadaan saling memeluk, perut Amira sangat terlihat buncit, karna kini, ia tak mengenakan sehelai benang pun, setelah percintaan yang di lakukanya bersama Dion.


Dion pun mencium lembut perut sang istri, dan langsung mendapat reaksi dari janin di dalam rahim Amira.


Janin tersebut bergerak, seolah menyambut ciuman sang Ayah yang masih muda itu.


Dan betapa senang nya hati Dion.


"Sayang, mereka bergerak," ucap Dion, ia pun kembali mencium perut Amira dan mengelusnya.


"Mereka tahu Dion, bahwa Ayahnya ada di sini, kau dan mereka juga punya ikatan batin," tutur Amira.


"Dion, Ummi sudah mendaftarkan ku pada Bank mata, dan jika sudah ada pendonor, aku akan segera di operasi Dion," papar Amira dengan bahagia.


"Dengan begitu, aku akan bisa melihat mu dan anak kita Dion," tambahnya semakin bahagia.


"Tapi sayang, jika kau melihat ku, aku takut, kau akan menjadi kecewa," canda Dion.


"Memangnya kenapa?" tanya Amira, ia pun melebarkan senyumanya.


"Karna aku, jelek, hitam, kumal lagi," jawab Dion menguji Amira.


Amira tertawa kecil.


"Benar juga ya Dion, kau pasti jelek, karna jika kau ganteng, mana mungkin kau mau dengan gadis cacat seperti ku," tuturnya.


"Tapi tak apalah, dengan demikian, tak akan ada yang merebutmu dari ku," tambah Amira lagi.


Sontak kata-kata Amira membuat Dion kaget, ia yang sudah lupa akan masalahnya, kini ia menjadi teringat kembali, ia pun merasa bersalah.


"Memang nya kalau aku jelek, kau akan menerima ku, dan tetap mencintai ku?" pancing Dion.


"Tentu saja Dion, aku tak pernah melihat mu, tapi aku jatuh cinta padamu, itu semua karna aku melihat mu, dengan mata hati, dari hati dan selamanya akan tetap di hati, seperti itulah cinta ku Dion, tak kan berubah selamanya," papar Amira.


"Benar kah sayang, kau tak kan berubah, kau tetap akan mencintaiku kan?" tanya Dion meyakinkan dirinya.


"Tentu saja, aku akan menerima mu, seperti apapun kau nantinya, selamanya aku akan mencintaimu, asal kau tak pernah berkhianat pada ku Dion," ucap Amira masih dengan tersenyum.


Mendengar itu, tanpa sadar Dion meneteskan air matanya, apa yang akan terjadi, jika Cahaya mengetahui bahwa sekarang aku sudah menikahi Tyas, batin Dion.


Untung saja, Amira tak bisa melihat Dion, jika ia bisa melihat, Amira pasti sudah curiga, karna kini Dion menangis tanpa suara, ia begitu menyesal.

__ADS_1


"Kenapa kau diam Dion?" tanya Amira, karna ia merasa Dion tak menanggapi ucapanya.


"Sayang menurut mu, hukuman apa yang pantas untuk seorang pengkhianat?" tanya Dion tanpa sadar, pertanyaan itu keluar begitu saja, ia ingin tahu reaksi Amira.


"Pengkhianat, tak pantas di beri kesempatan Dion, jika beri kesempatan dia akan mengulanginya lagi," tutur Amira.


"Maksud mu sayang?" tanya Dion, ia ingin jawaban yang lebih spesipik.


"Kalau kau mengkhianati ku Dion, selamanya aku tak kan memaafkanmu, dengan segera, aku akan pergi dari mu, dan kau takkan pernah melihat ku Dion," ucap Amira santai, tapi begitu menusuk di hati Dion.


Dion pun menahan mulutnya agar tangisan nya tak pecah.


"Dion kenapa kau diam saja?" tanya Amira curiga.


"Kau tak berkhianat padaku kan Dion?" tanya Amira.


Dion pun memeluk Amira," Tentu tidak sayang, mana berani aku berkhianat pada mu, aku takut kehilangan mu, aku sangat takut kehilangan mu," ucap Dion, ia pun menangis, tetesan air matanya jatuh mengenai pipi Amira.


"Sayang, berjanjilah pada ku, jika suatu saat aku melakukan kesalahan, kau akan memaafkan, kau tak kan pernah meninggalkan ku, Aku takut Cahaya, aku takut kehilangan mu," tutur Dion, ia menangis dan menyesal dalam hatinya.


"Dion ada apa dengan mu, kenapa kau seperti itu?" tanya Amira.


"Dion jika hanya kesalahan, tentu saja aku akan memaafkan mu, karna kesalahan terjadi karna tanpa kesengajaan."


"Satu hal, jika kau tak ingin kehilanganku Dion, jangan pernah mengecewakanku," paparnya santai.


Amira menanggapi semua obrolanya saat itu dengan santai, ia begitu percaya pada Dion, tak sedikit pun terbesit keraguanya pada Dion.


Tapi tidak Dion, kata-kata Amira terdengar seperti ancaman untuknya, Dion yang awalnya ingin bertutur jujur pada kedua orang tuanya pun, mulai mengurungkan niatnya.


Setelah sholat magrib mereka berkumpul untuk makan malam bersama.


Dion terlihat sangat berbeda, biasanya dia banyak cerita, kini ia hanya diam saja, mata nya pun terlihat sembab.


Ummi menangkap keanehan pada Dion, "Dion kamu kenapa, kok diam saja, padahal biasanyakan kamu suka godain Amira di meja makan?" tanya Ummi.


"Ngak kok Ummi, Dion capek aja," jawabnya singkat, tapi tak sedikit pun menoleh kearah Ummi.


Ummi sangat tahu tentang Dion, ia pasti punya masalah, mungkin masalah ini tak ingin ia sampaikan di depan Amira.


Hari sudah larut malam, rasa kantuk dan lelah tak juga membuat Dion tertidur, setiap memejamkan matanya, ia selalu teringat akan kesalahanya yang fatal.


Dion semakin serba salah, jika tak di beri tahu kedua orang tuanya tentang Tyas, hidupnya serasa tak tenang, jika di beri tahu, Dion takut Amira juga akan mengetahuinya, karna biasanya Ummi tak suka menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Sekali lagi Dion menyesali keadaanya, ia telah menikahi Tyas, dan pernah berhubungan badan denganya, apalagi namanya jika bukan pengkhiantan.


Tak tahan dengam semua ini, Dion pun keluar dari kamar dan menangis sejadi jadinya.


Dion berada di ruang tengah, dalam kegelapan ia terus saja meratapi kesalahanya, seperti di kejar-kehar dosa besar, rasa bersalah itu terus saja menghantuinya, sedangkan ia tak berani berbagi pada siapa pun, Dion berencana akan merahasiakan semua ini selamanya.


Hati seorang ibu tentulah lebih peka, Ummi tersadar dan hendak melaksanakan sholat tahajud, Ummi pun keluar dari kamar dan menghidupkan lampu, saat itu Ummi melihat Dion sedang menangis.


Saat itu Dion juga kaget, ia memaling kan wajahnya dan menghapus air matanya.


"Dion," Ummi pun menghampiri.


"Ada apa Nak?" tanya Ummi yang mendekati Dion dan mengusap kepalanya.


Dion hanya diam, ia sebenarnya ingin menghindar tapi tak mungkin bisa menghindar.


"Dion beberapa hari belakangan ini, Ummi selalu mengkhawatirkan kamu Dion, Ummi merasa ada sesuatu yang terjadi pada kamu Nak, hanya saja Ummi tak mau menampakan kegelisahan Ummi di depan Amira."


"Dion, jika punya masalah ceritakan semua pada Ummi, Ummi akan bantu kamu, atau paling tidak, kamu akan merasa sedikit ringgan."


Dion hanya menangis, ia juga tak sanggup mengatakannya, melihat itu, Ummi menarik tubuh Dion dan memeluknya, beberapa saat Dion hanya mampu menangis, dengan sabar, Ummi berusaha menenangkan putra, ia memeluk Dion dan mengusap bagian belakangnya, hingga Dion menjadi tenang, ia pun mengatur nafasnya agar bisa membicarakan pada Ummi.


Hangatnya pelukan Ibu, kelembutan dan kasih sayang yang Ummi curahkan padanya saat itu, mampu membuat Dion tegar, meski dengan terbata-bata Dion pun mampu melafas kan kata demi kata.


Tanpa pernah memutus kata-kata dari Dion, Ummi mendengarkan Dion, dengan sabar sampai ia selesai.


Tak ada kemarahan apalagi bentakan, meski Ummi merasa Dion bersalah, tetapi sebagai orang yang arif, Ummi akan mendengarkan dari awal sampai akhir, tanpa sedikit pun membantah, kemudian ia menasehati dan memberi solusi.


Semua Dion paparkan, setiap keluhan dan masalah yang tengah di hadapinya bersama Tyas dan juga Alice, tak satu pun terlewati oleh Dion.


Pembicaraan dari hati ke hati antara Ibu dan anak, tapi ada seseorang yang merintih menahan perih di hatinya, yang juga ikut mendengar penuturan Dion.


Sosok yang tanpa sengaja mendengar itu pun, perlahan meneteskan air matanya, dari awal hingga akhir cerita, air mata kini sudah membanjiri pipinya.


Sesorang dengan hati yang terluka, kini ia tak mampu membendung perasaanya, ia pun jatuh tak sadarkan diri.


🌷terima kasih sudah membaca karya author, mohon dukunganya


🌹 like


🌹 komen


🌹 vote juga ya.

__ADS_1


Mampir juga di novel author yang lain yuk, dengan kisah yang lebih seru dengan judul KETIKA TAKDIR MENYATUKAN AKU DAN MEREKA, ada audio book nya juga loh. Terima kasih.


__ADS_2