
Alice pulang dalam keadaan marah, bahkan ia kebut-kebutan di jalan, beberapa kali ia hampir menabrak, dan beberapa kali juga ia di caci maki oleh pengendara lainya.
Tapi ia tak peduli, sesampainya di rumah, Alice masuk kamar, ia pun berteriak, menjerit dan menangis.
"Akhhh," Teriakan Alice, membuat gempar seisi rumah.
Mereka berlari menghampiri kamar Alice, dan menggedornya.
"Non, Non Alice, Bibik mengetuk pintu kamar Alice, berkali kali.
Mang Slamet datang dan menghampiri bi Jum,
"Ada apa mbok, kok teriak teriak di kamar Non Alice."
Belum sempat si mbok menjawab, terdengar lagi suara jeritan dan tangisan, Alice.
"Mbok, Non Alice, kenapa?" tanya Mang slamet, kepada Bik Jum.
"Ngak tau Met, baru pulang Non Alice masuk kamar dan teriak-teriak, si mbok takut terjadi sesuatu, mana tuan dan nyonya lagi keluar negri."
Alice mengambil gunting di kamarnya, ia pun mengunting gunting rambut indahnya secara tak beraturan.
setelah puas, ia melempar botol parfum ke cermin yang ada di meja riasnya.
Prank... terdengar suara kaca pecah, Alice pun kembali menjerit dan menjambak-jambak rambutnya.
Mang Slamet dan Bik Jum, panik ia tak tahu harus berbuat apa.
"Mbok telpon nyonya dan tuan, bisa bahaya nih, kalau terjadi sesuatu pada Non Alice, kita bisa mati Mbok." Mang Slamet semakin panik.
"Non sadar, Non ," ucap si mbok,
__ADS_1
" jangan gegabah Non, nanti Non menyesal," ucap si Bi Jum berkali-kali di depan kamar Alice.
Mang Slamet mencari linggis, ia pun memanggil Satpam dan beberapa orang yang ada di runah itu, mereka membantu Mang Slamet untuk membuka pintu.
Alice melihat pecahan kaca, ia pun mengambil pecahan kaca tersebut kemudian ia sayatkan ke tangganya.
Alice prustasi, melihat Dion menikah dengan wanita lain, padahal ia begitu mencintai Dion.
Karna tak sanggup menanggung himpitan hatinya, ia pun melakukan hal yang nekat.
Alice merasa hidupnya tak bearti tanpa cinta Dion, apalagi sebelumnya, ia selalu ditinggalkan sendiri oleh kedua orangtuanya, Alice tak pernah dapat kasih sayang yang sangat ia dambakan, saat tubuhnya dingin, hanya selimut tebal yang menghangatkanya, tanpa pernah ada pelukan dari kedua orang tuanya, Alice dari kecil terbiasa mandiri, semua serba sendiri, sampai mengambil keputusasan pun ia lakukan sendiri.
Kini Alice sendiri lagi, ia ingin merasakan cinta dari orang yang di cintainya, tapi itu sepertinya sulit terjadi, Alice selalu merindukan keberadaan orang tuanya, tapi mereka selalu sibuk dengan mengumpulkan harta, orang tua Alice, selalu memberi hadiah, tapi mereka lupa mencurah kan kasih sayang, hal yang kelak menjadikan Alice sosok yang rapuh.
Nafas Alice terengah-engah ia kesulitan bernafas karna baru ia sadari, darah segar mengalir pada pergelangan tanganya, Alice merasa kan perih yang luar biasa, seketika itu pun ia menutup matanya.
Mang Slamet dan beberapa orang laki-laki yang berada di rumah itu, mereka berusaha mencungkil pintu kamar Alice, agar bisa terbuka.
"Non, Jawab Bibik Non, Non Alice baik-baik saja kan Non?" tanya Bibik dengan suara gemetar.
Berkali kali memanggil, namun tak ada jawaban dari dalam kamar, dan Bibik semakim khawatir.
Mang Slamet dan beberapa rekanya, berhasil mencongkel kunci kamar Alice, dan mereka kaget ketika melihat Alice, tak sadarkan diri, darah terus mengalir di pergelangan tangan nya.
Bik Jum sampai histeris melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Mang slamet merobek kain dan membebatkanya di pergelangan tangan Alice.
"Non sadar Non," pangil Mang slamet, sementara Bi jum ia menangis sejadi-jadinya.
Tubuh Bi jum lemas, ia melihat Alice tak sadarkan diri, keadaanya pun sangat berantakan, rambut Alice di potong acak-acakan tak beraturan.
__ADS_1
"Non kenapa Non lakukan ini, Non, apa yang yang akan Bibik katakan kepada Tuan dan Nyonya," rintih Bibik menyesali perbuatan Alice.
"Panggil Dwi, suruh dia siapkan mobil, Non Alice harus di larikan ke rumah sakit," perintah Mang Slamet, meski panik, namun mereka menuruti semua perintah Slamet.
Mobil sudah siap, Alice pun di larikan ke rumah sakit.
Bi Jum langsung menelpon kedua orang tua Alice.
Sesampainya di rumah sakit, Alice langsung mendapatkan penangganan, keadaanya semakin mengkhawatirkan, detak jantungnya semakin melemah, Alice juga kehilangan banyak darah.
Mendengar kabar dari Bi jum, kedua orang tua Alice, langsung bertolak dari Singapura mereka sampai menyewa helikoper agar sampai lebih cepat.
Ibunda Alice, sudah menangis sejadi-hadinya, bahkan ia sudah tidak kuat untuk berdiri, dan beberapa kali ia pingsan mendengar berita putri satu-satunya kini sedang sekarat, akibat percobaan bunuh diri yang ia lakukan.
"Ma, sudah Ma," ujar Halim pada istrinya.
"Papa yakin Alice, akan baik-baik saja Ma."
Ayah Alice kembali menenangkan Mamanya,
"Bagaimana Mama bisa tenang Pa, anak kita dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan, sedangkan kita tak pernah ada bersamanya, kita selalu sibuk, kita tak pernah ambil tahu, perasaan anak kita, kita tak pernah ambil tahu, permasalahan apa yang kini di hadapi nya, Alice mungkin menderita selama ini Pa, tapi kita tak pernah peduli, bagi kita dengan memberi Alice uang yang banyak, kita bisa nembahagiakanya, tapi semua salah, Alice tak bahagia dengan apayang kita berikan, ia membutuh kan kasih sayang yang tak pernah kita berikan," sesal Ibunya, ia pun kembali menangis.
Setelah sampai, mereka pun syok melihat keadaan Alice, rambut Alice berantakan dengan luka di pergelangan tanganya, selain itu, tampak sekali penderitaan di wajahya.
Bu Tika langsung memeluk Alice yang belum sadar, ia terus mencium putri semata wayangya, dan beribu -ribu kata sesal terus terucap di mulut nya.
Sementara Ilham, ia sangat terpukul dengan berita pernikahan Tyas, Ilham semakin dendam pada Dion.
Ilham terpuruk dalam luka yang paling dalam, membayangkan kekasih hati kini, dalam rangkukan orang lain.
Keputusan yang tergesa-gesa, dan pernikahan yang di paksakan, ternyata harus menyakiti banyak hati, tak hanya Amira, Ilham, Alice, bahkan Dion dan Tyas pun ikut terluka, bahkan kedua orang tua Tyas, juga ikut menanggung semua kesalahan yang mereka buat sendiri.
__ADS_1